Kalau Cinta Jangan Marah

Kalau Cinta Jangan Marah
Chapter 24


__ADS_3

Ze hanya diam, membuang pandangannya ke arah luar kaca mobil di samping sisinya. Selama perjalanan menuju rumah, keduanya hanya diam, tampak gugup dan grogi.


Jantung Ze masih berdegup kencang kala mengingat tangan Saka yang terulur memegang pipinya, dilengkapi dengan suara lembutnya, meminta Ze jangan menangis. Hatinya terasa bergetar.


Selain itu, Saka juga mengucapkan janji pada Ze, bahwa dia tidak akan. berkata kasar lagi pada Ze, setiap meminta sesuatu atau menyuruh melakukan apapun, pria itu harus mengatakan kata tolong, dan yang terakhir setiap pria itu mau keluar, dia akan mengabari Ze, kalau tidak Saka harus mengabulkan permintaan Ze, apapun itu!


Tampaknya Saka juga merasakan hal yang sama, begitu gugup. Perjalan yang hanya kurang satu jam itu jadi terasa lama sekali.


"Akhirnya kau pulang juga, Nak. Oma begitu mengkhawatirkan mu," ucap Oma memeluk erat tubuh Ze. Rasa khawatir lenyapnya, kini dia merasa sangat lega melihat Ze ada di depannya.


"Aku minta maaf, Oma. Seharusnya aku gak pergi diam-diam, harusnya aku pamit," ujarnya dengan terisak. Air matanya merembes di pipi. Kalau tadi dia bisa menahan diri untuk tidak menangis di depan Saka, tidak di depan Oma, wanita yang sangat dia sayangi, dah juga menyayanginya.


"Gadis bodoh, jangan ulangi sekali lagi. Kalau ada hal yang tidak mengenakkan di hati, kamu cukup bicara sama Oma. Kalau ada yang menjahatimu, Oma yang akan memberinya pelajaran!" seru Oma mendelik ke arah Saka yang sejak tadi hanya duduk diam mengamati mereka bicara.


Merasa disindir, Saka bangkit menuju kamarnya. Lelah sekali bermain drama hari ini. Dia perlu istirahat. Saka bahkan tidak jadi pergi ke kantor, hanya demi mencari Ze.


Sisa hari itu, Oma menghabiskan waktunya mendengarkan cerita Ze selama pergi dari rumah mereka yang hanya beberapa jam saja.


Mendengar penuturan Ze, Oma semakin salut pada Ze yang punya prinsip dan mau bekerja keras.


***


"Aku pergi dulu, Oma," pamit Saka ketika bertemu dengan neneknya yang baru pulang jalan pagi ditemani Ze.


Pagi ini gadis ini, Ze menyiapkan nasi goreng kesukaan Saka, meletakkan di atas meja makan sebelum pergi dengan Oma.

__ADS_1


"Apa nanti, Ze juga mengantar makan siangmu?" tanya Oma menaikkan sebelah alisnya. Saka melihat ke arah gadis itu, lalu menimbang sesaat dan kemudian mengangguk.


Ze tanpa sadar tersenyum. Dia masih diharapkan pria itu untuk melayani makan siangnya.


***


Setelah menyiapkan semua bekal, Ze bergegas berangkat ke kantor Saka. Beberapa jenis masakan baru yang dia coba sudah dia siapkan, dan semoga Saka suka. Walau menyebalkan, Ze senang kalau pria itu menikmati masakannya dan memakannya dengan lahap hingga habis.


"Eh, Mbak Ze sudah datang. Pak Saka lagi keluar, cuma kata beliau tadi kalau Mbak datang, suruh masuk aja, nunggu di dalam. Pak Saka juga akan segera kembali," ujar Anita mempersilakan Ze masuk.


Sekian lama mengantar makan siang bagi Saka, Anita sudah kenal baik, dan dia pun menghargai Ze, meski dia tahu gadis itu hanya sebatas pelayan. Tapi jelas, pelayan bukan sembarang pelayan.


Ze segera masuk setelah mengucapkan terima kasih. Dia nanti akan menuntut janji Saka, setiap pergi tidak memberi kabar, maka pria itu wajib memenuhi permintaan Ze.


Ze menghabiskan waktunya di ruangan Saka dengan membuka akun media sosialnya. Sudah lama dia tidak aktif lagi. Dengan jari gemetar, dia mencoba membuka akun Instagram milik Max. Banyak foto-foto pria itu diberbagai tempat di luar negri. Dia iri.


Sampai matanya melihat satu foto di akun pria itu. Foto itu membuatnya menegakkan punggung, menatap serius. Dalam foto itu Max berfoto bersama sahabatnya.


Sepintas foto biasanya, tapi cara Nura memeluk Max seolah bukan hanya sekedar pelukan teman biasa. Dia seorang gadis, memiliki perasaan yang kuat, instingnya juga mengatakan ada sesuatu diantara mereka. Tapi kalau Ze ingin menanyakan hal itu juga sulit, dia tidak punya lagi nomor Max, semuanya tersimpan di ponselnya yang lama, begitupun dengan Naura.


Mungkin selama beberapa bulan terakhir ini, Max sudah berulang kali menghubunginya, tapi karena tidak bisa, jadi mereka benar-benar lost contacts!


Sesak di dada melihat kemesraan antara mereka berdua. Harusnya dirinya yang menemani Max di Singapura. Tiba-tiba air matanya mendarat lagi di pipi. Hatinya remuk. Sejak masih remaja, dia sudah menyukai Max, yang selalu baik dan juga menjaga Ze.


Kalau cintanya bertepuk sebelah tangan, mungkin dia tidak akan merasa sesakit ini, tapi karena Max lah yang lebih dulu menyatakan perasaan cinta kepadanya, sehingga membuat Ze juga jatuh cinta pada pria itu.

__ADS_1


Tidak ingin merasakan sakit lebih dari yang saat ini dirasakannya, Ze menutup aplikasi sosial medianya, tidak ingin mengetahui apapun tentang Max dan Nura.


Bosan menunggu Saka yang tidak kunjung tiba. Sudah setengah jam lebih dia menunggu, jam makan siang pun sudah berlalu dan batang hidung pria itu belum juga muncul. Ze benar-benar kesal merasa dipermainkan dan waktunya tidak dihargai. Dia tahu bahwa dia adalah seorang pelayan bagi keluarga Mahesa, tapi setidaknya kalau memang Saka tidak ingin makan siang dengan menu masakannya, kenapa pagi tadi dia meminta untuk diantarkan?


Rasa kesalnya kian bertambah. Berawal dari kenyataan yang dia lihat tentang Max dan Nura, kini ditambah dengan Saka yang melanggar janjinya, tidak memberitahukan keberadaannya kepada Ze, seperti pada perjanjian mereka. Gadis itu memutuskan untuk menenangkan hati dan juga pikirannya yang kalut, masuk ke kamar istirahat dan tidur di sana menunggu sampai Saka kembali.


***


"Aku senang kau bisa datang ke sini," ucap Saka girang, memeluk erat pinggang ramping Airin. Ini masih sulit dipercaya oleh Saka karena Airin mau datang ke tempanya. Saat tiba di lobby kantornya tadi, pria itu dikejutkan karena diberitahu ada seorang gadis yang menunggunya.


Setelah mencari ke ruang lobi, tempat para tamu menunggu untuk bertemu dengannya, Saka begitu gembira mendapati Airin lah orangnya.


Dengan penuh rasa gembira Saka menggenggam tangan Airin dan membawa gadis itu naik menuju ruangannya. Sepanjang jalan senyum Saka mengembang, begitu pun dengan Airin.


Sialnya Anita tidak berada di tempatnya hingga tidak bisa memberitahukan bahwa Ze ada di dalam ruangan menunggunya sejak tadi.


"Aku ingin ke toilet dan ingin berganti pakaian sebentar. Apakah kau punya ruangan untuk ku?" tanya Airin yang ingin melepaskan penyamarannya. Bagaimanapun, dia sudah berusaha keras untuk mengelabui para anak buah Om Bram, agar dia bisa sampai ke tempat Saka.


"Itu ada ruangan, kau bisa mengambil waktumu sebanyak yang kau mau. Kau juga bisa beristirahat di sana," ucap Saka membelai pipi Airin yang lembut.


Gadis itu pun bergegas membuka pintu ruangan yang ditunjukkan oleh Saka. Betapa terkejutnya dia mendapati ada seorang gadis yang sedang terlalu tidur di dalam ruangan itu.


Airin Kembali keluar dengan wajah tidak senang dan penuh kecewa, berdiri di hadapan Saka yang saat itu juga baru menyadari kalau Ze tadi datang ke ruangannya.


Matanya masih lekat melihat ke arah tas box yang biasa digunakan Ze untuk membawa bekal makanan untuknya. Tas itu tergeletak begitu saja di atas meja, tempat mereka biasa makan siang bersama.

__ADS_1


__ADS_2