
Amarah Aldo tidak bisa dibendung lagi. Dia tidak memperdulikan apakah setelah tindakannya Candra akan membunuhnya, yang terpenting dia bisa meluapkan emosinya saat ini. Meja yang ada di sisinya sudah hancur dia tendang, bahkan guci mahal dia lempar begitu saja hingga pecah berserakan di lantai.
Dia tidak terima ketika Chandra mengatakan bahwa pernikahannya dengan Ze dibatalkan. Tentu saja tidak hanya Aldo yang keberatan, Mira yang saat itu juga ada di sana mendengar penuturan suaminya berubah pucat. Dia pikir satu langkah lagi mereka akan bisa berada di titik puncaknya, tapi kenyataan belum sampai di atas mereka sudah harus terjun bebas.
"Apa yang membuatmu membatalkan rencana yang sejak awal sudah kau setujui Mas kau tidak bisa membatalkannya sepihak kau harus menjaga perasaan Aldo juga dia sudah berniat baik untuk membantu Nara!" pekik Mira habis kesabaran.
"Aku kan sudah mengatakan kepadamu bahwa kekasihnya Max bersedia untuk menikah dengan Nara, mereka saling mencintai, jadi aku rasa tidak ada masalah lagi yang perlu dikhawatirkan. Dia akan menikah dengan orang yang dia suka dan Max mau menerima keberadaan bayi itu, jadi Aldo tidak harus mengorbankan dirinya menikah dengan Nara!"
"Tapi aku mau, Om! Aku mau menikah dengan Nara. Aku mohon pilihlah aku untuk menjadi menantu. Om sudah mengenalku, aku tidak mungkin menyakiti Nara tapi berbeda dengan pria itu, kita tidak tahu apa yang sudah diperbuatnya di luar negeri sana. Apa Om yakin dia setia atau jangan-jangan dia memiliki penyakit menular. Om tahu sendiri kan bagaimana pergaulan anak muda di luar negeri, kita jangan mengambil resiko, Om," ucap Aldo yang semakin ngelantur.
Apapun akan dia lakukan agar pernikahannya dengan Nara terjadi. Dia sudah hampir sampai di garis finish, tidak akan sudi kemenangannya digantikan oleh orang lain.
"Sudahlah tidak perlu dibahas lagi. Awalnya kamu menawarkan diri untuk menyelamatkan keluarga ini dan sekarang keadaan sudah terselamatkan jadi tidak ada gunanya kita memperdebatkan tentang pembatalan pernikahanmu dengan Nara," ujar Candra dengan tegas.
Cara Aldo memaksanya menimbulkan pemikiran baru di benak Candra bahwa Aldo memiliki niat terselubung sehingga mau menikahi putrinya.
Tony bukan tidak memberi laporan bagaimana perangai Aldo di luar sana. Selain tidak berguna dan tidak mau bekerja pria itu menghabiskan hari-harinya hanya dengan bersenang-senang di klub ataupun dengan banyak wanita.
"Kau memang tidak pernah menghargai ku sebagai istri meskipun aku bukan ibu kandung Nara, tapi setidaknya kau mendengarkan pendapatku!" jerit Mira. Kali ini dia sudah muak untuk bersikap lembut dan berperan sebagai istri penurut.
Chandra harus tahu bahwa dia sanggup melakukan apapun untuk menghancurkan pria itu. Mira wanita yang penuh obsesi, jika dia tidak mendapatkan keinginannya maka sebaiknya dia menghancurkan semuanya.
__ADS_1
"Terserah apa katamu, keputusan sudah bulat! Nara akan menikah dengan Max!" Chandra berdiri dari duduknya menyudahi perdebatan yang tidak masuk akal ini, dan segera meninggalkan mereka.
"Ibu bagaimana ini? Aku akan membunuh pria itu dan memaksa Nara untuk menikah denganku!" ucap Aldo dengan penuh emosi, tangannya mengepal ingin sekali rasanya menyerang pria itu dari belakang, menghabisi nyawanya agar tujuannya bisa tercapai.
"Kau jangan gila, Aldo! Kalau kau menghabisinya maka kau akan dipenjara. Lantas apa gunanya semua pengorbananmu kalau kau tidak bisa menikmati harta kekayaannya? Kau harus bersabar, kita akan cari cara untuk membalas perbuatan mereka," ucap Mira dengan sorot mata penuh dendam.
***
Saka belum berhasil menemukan Ze. Beberapa anak buahnya juga sudah dikerahkan tapi tidak menemukan keberadaan gadis itu. Dia kehabisan akal, haruskah dia menyerah?
Hari itu di tengah memikirkan ke mana lagi dia harus melangkah mencari wanita yang dicintai, Saka juga harus mengurus Oma dan membawa wanita itu pulang dari rumah sakit.
Sampai di rumah dia tidak melihat keberadaan Airin. Walaupun tidak memiliki perasaan apapun terhadap Airin lagi, tapi sebagai suami Saka tentu mengkhawatirkan keberadaan gadis itu. Airin tidak pulang ke rumah sejak pertengkaran mereka Saka sudah bertanya pada para pelayan dan mengatakan bahwa Airin sama sekali tidak pulang.
Nomor gadis itu pun tidak bisa dihubungi. Saka semakin bingung harus mencari Airin kemana. Mertuanya menuntut agar Saka segera menemukan putri mereka.
"Kalau sampai terjadi hal buruk terhadap Airin, kami akan menyalahkan mu! Sebagai suami seharusnya kau tahu keberadaan istrimu. Kalian pasti bertengkar hingga membuat Airin pergi dari rumahmu!" bentak Darmo tidak bisa menyembunyikan emosinya.
"Aku minta maaf, Om. Aku akan mencari Airin, tapi sebelum aku pamit pulang, izinkan aku bicara kepada Om dan Tante."
Saka memutuskan berbicara kepada kedua mertuanya saat ini juga. Mungkin berat, terlebih ketika Airin tidak berada di tempat dan keberadaannya juga belum diketahui. Namun, semakin lama ditunda juga tidak ada gunanya, jadi lebih baik dia terus terang pada mertuanya.
__ADS_1
"Om, Tante, aku minta maaf sebelumnya namun aku ingin mengatakan bahwa pernikahanku dengan air yang tidak berjalan dengan baik kami tidak cocok satu dengan yang lain selama menikah terjadi pertengkaran di antara kami hingga menyadarkanku bahwa kami tidak cocok dan aku memutuskan untuk segera mengakhiri hubungan ini. Aku akan menceraikan Airin!"
"Apa katamu? Kalian akan bercerai? Sebenarnya ada masalah apa di antara kalian berdua? Mengapa sampai mengambil keputusan separah itu? Apa tidak bisa dibicarakan? Pertengkaran itu hal yang lumrah terjadi di rumah tangga, jangan mengambil keputusan gegabah," ucap Darmo. Menik sudah menangis di sudut ruangan mendengar penuturan menantunya.
Menik bukannya tidak tahu putrinya sering bercerita kepadanya mengenai mereka yang sering cekcok, bahkan kadang kala Airin menangis berjam-jam karena merasa hancur dengan sikap Saka yang dingin padanya.
"Aku sudah beberapa kali bicara dengan Airin, Om. Memintanya untuk berubah, tapi dia tidak pernah mau mendengarkan ku. Apa Om tahu, dia tidak pernah mengurusku, dia tidak pernah berada di rumah, menghabiskan waktunya bersenang-senang dengan teman-temannya bahkan terkadang tidak pulang dan mabuk-mabukan?"
Penuturan itu tentu saja membuat Darmo menunduk malu. Dia tidak menyangka putrinya bisa berubah seperti itu. Dari dalam ruangan, Menik datang menghampiri mereka.
"Semua dia lakukan karena putus asa. Airin mengatakan bahwa kau tidak mencintainya lagi. Apa kau tahu Saka bahwa Airin sangat mencintaimu? Tapi sikapmu yang dingin membuatnya berubah sikap, mencari kesenangan di tempat haram seperti itu!" Air mata Menik terus merembes.
Suasana kembali hening. Saka mengakui kesalahannya. Selama pernikahan mereka, hanya sekali dia menyentuh Airin, selebihnya sama sekali tidak bernafsu kepada gadis itu.
Dia tidak membenarkan sikapnya ini salahnya juga karena tidak mendengarkan kata hatinya seharusnya dia memang tidak menikahi Airin namun Kenapa nikahan mereka masih baru seumur jagung lebih baik segera mengakhiri karena jika dipaksakan akan menyakiti keduanya.
"Aku minta maaf Om Tante atas sikapku. Aku tahu aku salah," ucap Saka dengan sepenuh hati. Dia bangkit lalu berlutut dihadapan kedua mertuanya itu meminta permohonan maaf yang sebesar-besarnya karena sudah mengecewakan mereka. Dia bersalah karena membiarkan Airin menderita karenanya.
Baik Menik ataupun Darmo tidak bisa berkata apapun lagi. Mereka jelas-jelas tahu bahwa Airin lah yang memaksa Saka untuk secepatnya menikah dengannya. Seharusnya mereka bersyukur Saka mau menyelamatkan Airin dari tangan suaminya yang terdahulu.
Saka akhirnya pamit dan berjanji akan segera mencari Airin dan membawanya pulang menemui mereka.
__ADS_1
"Tante minta kalau pun kalian harus berpisah, maka berpisah lah dengan baik-baik. Kembalikan Airin pada kami dengan baik."