
Para tamu undangan sudah memenuhi kediaman Candra Regan. Atas permintaan Ze acara itu hanya dilangsungkan di rumah mereka.
Saka, Revan dan Bima pun tiba di kediaman Regan. keduanya langsung disambut oleh Chandra dan juga Mira seperti tamu lainnya.
Untuk ukuran konglomerat seperti Candra, undangan ini terlalu sedikit. Seolah dari pernikahan ini ada yang disembunyikan. Menurut Bima sekelas Candra, pernikahan anggota keluarganya sudah layak dilangsungkan di sebuah hotel mewah karena pastinya undangan dan kenalan Candra sangat banyak.
"Mungkin pengantinnya hamil duluan jadi pernikahan ini agak sedikit disembunyikan dari khalayak ramai agar reporter juga tidak meliput beritanya," bisik Bima mengamati para tamu undangan yang datang.
Hanya segelintir orang yang dia kenal sebagai pengusaha ternama di kota itu yang artinya Regan memang hanya memilih beberapa orang dari koleganya untuk datang ke pesta pernikahan ini.
Saka kembali mengamati undangan yang dia pegang bukankah Putri Regan hanya ada satu dan garis itu bernama Kinan yang yang pernah sempat ingin dijodohkan dengannya lalu ini pernikahan siapa? Lantas siapa itu Zenara?
Belum sempat menemukan jawaban, tiba-tiba saja keributan terdengar dari arah dalam, tempat acara ijab kabul dilangsungkan.
Bima segera menarik tangan Saka dan Revan untuk mendekat rasa penasarannya membuatnya tidak peduli jika banyak pasang mata wanita yang menatap kesal ke arahnya karena menerobos masuk dari lingkaran tamu undangan yang juga ingin mengetahui apa yang terjadi.
"Kalian keluarga Hutomo mau menikahkan putra kalian dengan wanita yang tidak tahu malu ini? Apa kalian tahu bahwa saat ini calon istri anak Kalian sedang mengandung anak dari pria lain?" teriakan Aldo begitu kuat hingga dipastikan dari ruang itu semua tamu undangan pasti mendengar sampai keluar.
Chandra yang tidak menduga bahwa Aldo akan merusak rencana pernikahan Nara, begitu terkejut hingga pria itu mendapat serangan jantung.
Tubuhnya merosot, dan segera ditangkap oleh Toni membawanya duduk di salah satu sofa, Tangannya memegangi dadanya yang terasa begitu sakit.
"Ringkus segera pria brengsek itu!"teriak Tony dan beberapa anak buah yang berpakaian jas menghampiri dan segera mengamankan Aldo dari tempat itu.
Namun sayang, semua tamu undangan sudah menyaksikan pertunjukan dadakan yang diciptakan oleh Aldo. Bisikan-bisikan lirih bahkan yang terang-terangan diperbincangkan oleh para tamu mulai terdengar dan tentu saja sampai ke telinga Ze. Air matanya merembes membasahi wajahnya.
"Max apa benar yang dikatakan oleh pria itu kalau saat ini Nara hamil, mengandung benih pria lain? Apa yang kau lakukan? Mengapa kau begitu bodoh mau menikahi dan mengambil tanggung jawab ini?" umpat Kasidah, menarik tangan Max agar berdiri dari duduknya. "Kita pulang!"
Ze bangkit, tidak peduli pada apapun. Saat ini yang terpenting adalah keselamatan ayahnya. Toni sudah sigap membawa Candra ke dalam mobil untuk dilarikan ke rumah sakit.
__ADS_1
Saat itulah dia berpapasan dan saling bersitatap dengan Saka. Revan yang ada di belakang Saka pun ikut terkejut melihat Ze yang mengenakan gaun pengantin.
"Tunggu!" Saka segera tersadar menarik pergelangan tangan Ze menahan langkah gadis itu.
"Lepaskan aku!" hardik Ze menyentak tangannya namun Saka lebih kuat.
"Aku akan menemanimu ke rumah sakit," ucap Saka menarik tangan Ze ke dalam mobilnya.
Di dalam mobil keduanya hanya diam tidak mengatakan apapun sesekali seakan memang mencuri pandang ke arah Ze yang mengenakan gaun pengantin.
Bolehkah dia mengatakan bahwa Ze sangat cantik saat ini? Oke, dia tahu ini bukan waktu yang tepat untuk memuji Ze, terlebih saat ini keadaannya sangat panik.
Namun, siapa yang menyangka mereka akan bertemu hari ini dia datang ke pernikahan gadis yang selama ini dia cari.
"Boleh aku bertanya sebenarnya apa hubunganmu dengan Tuan Regan?"
Ze tidak mau menjawab, dia tetap menutup mulutnya dengan rapat. Pikirannya kacau, malu, dan juga marah. Kini semua orang tahu bahwa dia putri Regan dan saat ini sedang hamil. Dia sudah berhasil mencoreng nama baik ayahnya di depan para tamu undangan.
"Sial!" umat Ze. Dia menyadari kebodohannya harusnya dia meminta ayahnya untuk tidak mengundang Saka. bagaimanapun Saka adalah pengusaha yang diperhitungkan di kota ini tentu saja asisten ayahnya akan memilih Saka sebagai salah satu tamu undangan di acara pernikahannya.
"Apa kau mengumpat ku? Ze, aku mohon kita harus bicara. Aku tahu saat ini tidak tepat tapi apapun keadaannya aku akan selalu ada di sisimu."
"Aku tidak mau bicara padamu!" Hanya Itu jawaban yang dikatakan sebagai balasan dari kalimat Saka.
Saka akan memilih untuk diam saat ini. Memang bukan waktu yang tepat untuk mengungkapkan perasaannya. Dengan waktu setengah jam akhirnya mereka tiba di rumah sakit.
Candra sudah masuk ke ruangan dan beberapa tim dokter segera memeriksa pria itu.
Ze duduk di kursi ruang tunggu. dalam hati berdua untuk keselamatan dan kesembuhan ayahnya. dia tidak ingin terjadi hal buruk kepada ayahnya dia harus meminta maaf atas semua yang sudah dia lakukan.
__ADS_1
"Jawab aku sih apa sebenarnya hubunganmu dengan Tuhan Regan?"
Pertanyaan itu mengambang di udara. Bima dan Revan juga tiba di rumah sakit itu dan segera bergabung bersama mereka.
Revan mengambil tempat duduk di samping Ze, mencoba memberikan dukungan kepada wanita itu. "Kamu yang tak bayar, Ze. Tuan Regan pasti sembuh," ucapnya yang membawa pandangan Ze ke arah wajah Revan.
"Makasih, Revan," desis Ze yang kembali menangis.
Revan bermaksud untuk menghapus air mata di pipi Ze, namun dengan cepat tangan Saka menampar jari Revan.
"Jangan sentuh dia!"
"Saka, bisakah kau lebih tenang sedikit bukan waktunya kau harus cemburu saat ini!" Bentak Revan yang merasa kesal melihat sifat kekanak-kanakan sahabatnya itu.
Pandangan Ze terangkat menatap tajam ke arah Saka dengan penuh kebencian. Pria itu berjongkok di hadapan Ze, menatap gadis itu dengan penuh rindu dan haru.
"Sebaiknya kau pergi dari sini, semua ini terjadi karenamu. Aku membencimu Saka Aku sangat membencimu!" pekik Ze memukul dada Saka.
Namun, Saka justru menarik kedua tangan Ze hingga tubuh gadis itu terjatuh dalam pelukan Saka.
"Aku membencimu, aku sangat membencimu!" ujar Ze di tengah rasa sedihnya. Namun, kenyataannya dia tidak mencoba lagi melepaskan diri dari pelukan Saka.
Justru dia merasa nyaman dan kehangatan yang ditawarkan pria itu membuatnya merasa tenang.
Bima memaksa Revan untuk pergi meninggalkan mereka berdua. Bima tahu bahwa keduanya membutuhkan waktu untuk bicara dari hati ke hati.
Dengan rasa enggan, Revan pun akhirnya mengikuti permintaan Bima. Dia tahu seberengsek apapun sikap Saka, dia tidak akan pernah mau bersikap kasar terhadap wanita, jadi dia tidak perlu khawatir bahwa pria itu akan memukul Ze.
Saka mengambil tempat duduk tepat di samping membiarkan garis itu terus menangis memuaskan rasa sesak di dadanya di dalam pelukan Saka akhirnya zim menuangkan segala bentuk kesedihan emosi dan juga kekesalannya hingga terasa plong di dada.
__ADS_1
Ze akhirnya diam dia menghapus jejak air mata di pipinya, menarik napas dalam lalu menghembuskannya. Untuk sesaat dia tersadar dan merasa malu kalau saat ini posisinya berada dalam pelukan Saka.
Pria yang sudah membuatnya menderita dan salah satu penyebab mengapa ayahnya harus masuk ruangan itu, tapi anehnya justru orang yang memberi luka ini yang dia inginkan untuk membalut lukanya.