
Berita yang paling menggemparkan sekaligus sangat dinanti oleh Airin dan mungkin juga Saka, Bram sudah tertangkap dan saat ini berhasil di tahan. Sejurus dengan itu, urusan perceraian mereka juga sudah mulai di proses. Bram tentu saja tidak bisa hadir karena kasus yang saat ini menimpanya, dan hal itu justru membuat pihak pengadilan semakin yakin untuk memutus perceraian mereka.
"Sampai kapanpun aku tidak akan mau menceraikanmu!" teriak Bram saat dibawa ke dalam persidangan. Dia akan diadili karena berkasnya sudah lengkap dan dilimpahkan ke pengadilan.
"Terserah apa katamu, aku tidak ingin bersamamu lagi. Suka atau tidak, kita harus bercerai!" pekik Airin. Dia datang melihat persidangan bukan karena prihatin, tapi lebih ingin mengingatkan pria itu bahwa tidak ada gunanya lagi mempertahankan kebersamaan mereka.
Hari berlalu, pengadilan sudah memberi putusan. Airin dan Bram sudah diputuskan sah bercerai. Tidak ada hal yang paling membahagiakan bagi Airin selain mendengar putusan final dari hakim pengadilan agama.
Digenggamnya dengan erat tangan Saka, keluar beriringan dengan senyum lega.
"Kau gembira?" Saka menoleh pada wajah cantik Airin yang sejak tadi tidak pernah melepaskan senyum bahagianya.
"Tentu saja. Rasanya seperti mimpi. Aku tidak pernah membayangkan bahwa pernikahan yang aku kutuk selama ini akhirnya bisa berakhir juga dan itu semua karena berkat bantuanmu. Terima kasih, Saka. Terima kasih sudah kembali dalam hidupku untuk menyelamatkanku." Airin membawa tangan Saka ke bibirnya, lalu mengecup lembut punggung tangan pria itu. Saka bergeming, dia ikut merasa gembira untuk Airin.
"Kau menangis?" Saka mengangkat wajah Airin, tersadar gadis itu menangis karena tetesan air matanya membasahi punggung tangan Saka.
"Ini air mata bahagia. Biarkan aku menangis," bisiknya masuk dalam pelukannya.
***
__ADS_1
Airin memaksa Saka untuk tinggal makan malam bersama Airin dan keluarganya di apartemen. menit sudah menyiapkan makan malam istimewa demi merayakan kebebasan Airin. Mereka bukan senang putrinya menjadi janda, tapi jika ini adalah jalan yang terbaik yang bisa membuat Airin bahagia menjalani hidupnya, maka sebagai orang tua tentu saja Menik dan juga Darmo ikut senang.
"Semoga Nak Saka suka ya sama masakan Ibu." Menik menyendokkan nasi piring lalu memberikannya untuk Saka.
"Aku pasti suka, Bu. Terima kasih."
Berempat mereka menikmati acara makan malam itu dengan canda tawa. Saka juga merasa nyaman berada di tengah-tengah mereka, terlebih bisa melihat kedua orang tua Airin kini bisa hidup dengan tenang tanpa ada rasa takut dihantui oleh kekuasaan Bram.
"Jadi kapan kalian akan menikah?" pertanyaan itu dilempar oleh Darmo, mengunci pandangan Saka karena ingin mendapatkan jawaban dari calon mantunya itu.
Saka hampir tersedak oleh makanan yang baru di sendok ke mulutnya, karena dilempar pertanyaan krusial seperti itu. Dia tentu ingin menikah dengan Airin, tapi kapan rencana mereka ke pelaminan, Saka belum membicarakannya dengan Airin juga dengan Oma.
Setelah selesai makan malam dan berbincang sekitar 30 menit, Saka akhirnya undur diri. Jarum jam juga sudah menunjukkan pukul 10.00 malam, tidak enak dia bertamu lebih lama lagi.
Mengingat perihal pernikahannya dengan Airin, dia perlu segera membicarakannya dengan Oma. Jika nanti sampai rumah, orang tua itu belum tidur maka Saka akan memutuskan untuk membahasnya sejenak.
Airin mengantar hingga ke pintu lift. Begitu terbuka, dia menarik wajah Saka dengan kedua tangannya lalu mencium bibir pria itu penuh perasaan cinta dan rasa damba.
"Selamat malam, Pangeranku, Cintaku," bisik Airin sebelum membiarkan Saka masuk ke dalam lift.
__ADS_1
***
Harapan Saka terkabul. Saat tiba di rumah, Oma baru akan beranjak naik ke kamarnya, segera dia menahan wanita itu untuk meminta waktunya berbicara sejenak.
"Oma, hari ini Airin sudah resmi bercerai dengan Bram. Dia sudah bebas, tidak ada lagi orang yang akan menyakitinya," tugas Saka memulai pembicaraan dengan Oma Ros.
"Baguslah kalau begitu. Oma ikut senang." Jawaban itu tulus dari hati Oma. Sebagai sesama wanita, dia tentu tidak setuju dengan kekerasan yang dialami oleh Airin.
"Karena itulah Oma, aku ingin membahas sesuatu yang penting mengenai hubungan kami. Setelah semua ini, kali ingin melangkah lebih serius lagi," tukas Saka, meremat tangannya.
Ini kali kedua dia mengutarakan niatnya untuk melamar Airin. Disaat kali pertama dulu, Oma hanya menanyakan apakah dirinya sudah yakin Airin mampu memberinya kebahagiaan dan merupakan gadis yang tepat untuk menemani sisa hidupnya.
Namun, sekarang Saka menerka apa yang akan dikatakan Oma? Apakah penolakan atau seperti sebelumnya memberikan wejangan dan memastikan bahwa pilihannya sudah tepat.
Oma tampaknya sudah bisa menarik benang merah dari pembahasan ini. Dia tebak, cucunya itu ingin dirinya menyetujui rencana pernikahan mereka, merestui gadis pilihannya.
Oma tidak tahu harus berkata apa. Kalau hati kecilnya ditanya, tentu saja dia berharap Saka mendapatkan gadis yang lain. Namun, jika hanya Airin yang mampu memberikan kebahagiaan pada cucunya, maka kali ini pun dia akan mengalah.
"Jadi kapan kalian berencana akan menikah?"
__ADS_1