Kalau Cinta Jangan Marah

Kalau Cinta Jangan Marah
Chapter 44


__ADS_3

"Oma kenapa tidak fokus yoganya hari ini?" Tania berulang kali mendapati Oma melamun, wajahnya juga tidak sedap dipandang.


Oma hanya menghela napas. Dia memang tidak mood mengikuti kelas yoga hari ini. "Tania, kita sudah saja sampai di sini," jawab Oma terdengar lesu.


Sebulan sudah Airin tinggal di rumah itu, dan selalu membuat huru hara. Anehnya selalu yang menjadi sasarannya adalah Ze. Fitnahan dan juga perintah yang mencoba menyinggung profesi Ze, menjelaskan posisinya seorang pelayan.


Tiga hari setelah Airin tinggal di rumah, dia sudah bertingkah sebagai nyonya rumah, tidak mengizinkan Ze menggunakan dapur, apalagi kalau sampai memasak untuk Saka.


Oma tentu saja protes, tapi Airin selalu memutar balikkan fakta, seolah menjadi korban karena tidak diinginkan di rumah itu.


Oma juga sudah menyampaikan keberatannya atas sikap Airin pada Saka. Malamnya terdengar keributan dari dalam kamar mereka. Pastinya Airin tidak terima amarah Saka.


"Aku cuma mau mengambil hak ku. Sebagai istrimu. Apa salah kalau aku ingin melayani suamiku? Aku ingin kau hanya memakan masakan ku? Apa itu salah? Aku nyonya di rumah ini! Atau apa kau ingin makan masakan pelayan itu?" Airin memulai dramanya. Air matanya mengucur deras hingga Saka tidak bisa berkata apapun lagi.


Dia coba mengerti, Airin hanya coba mempertahankan yang menjadi hak nya. Walaupun hasil masakannya buruk, sebagai suami yang baik dia seharusnya tidak menuntut, menghargai hasil kerja keras Airin.


"Kalau begitu, biarkan Ze masak untuk Oma, karena selama ini memang begitu."


"Lantas kau?"


"Aku akan makan apa yang kau masak!"


Sejak itu semua tak sama. Demi mendekam amarah Airin, dia terpaksa menikmati apa saja yang disuguhkan Airin, sementara Oma, menikmati makanan yang dimasak Ze.


Saka juga memilih untuk menjaga jarak dengan Ze agar tidak terjadi lagi pertengkaran di antara mereka.


***


"Kau melihat Ze?" tanya Oma mendatangi Bi Ijah yang sedang mengolah adonan kue. Oma ingin dibuatkan bakpao isi gula merah.


"Tadi aku dengar diminta nyonya Airin bersihkan kolam renang, Oma," sahut Bi Ijah. Sejak tadi menunggu Oma selesai yoga, tidak sabar untuk memberitahu wanita itu. Kasihan Ze, belakang ini gadis itu tampak tidak sehat, dan lemas, juga tidak berselera makan.


"Bersihkan kolam? Memangnya kemana Joko?" Oma melihat ke arah kolam yang bisa diintip lewat jendela dapur.

__ADS_1


"Gak masuk, Oma. Tapi kayaknya digantikan sama anaknya," jawab Bi Ijah. Oma tidak lagi mengulur waktu, segera mendatangi Ze.


Terlihat gadis itu membantu membersihkan kolam yang memang jarang digunakan. Mengambil dedaunan yang mengotori air kolam dengan gala panjang.


Di tepi kolam juga ada seorang pria yang sedang bercengkrama dengan Ze.


"Kamu sedang apa?"


"Oma, bersihkan kolam. Oma ada perlu sama ku?"


"Wajah kamu pucat, kamu udah makan?"


Pertanyaan dibalas dengan pertanyaan. Ze jawab apa, dia memang belum makan. Tidak selera. Rasanya perutnya sulit untuk menerima makanan yang masuk.


"Udah, Oma," jawab Ze berbohong.


"Selamat siang, Oma." Galih, anak Joko menyapa. Oma sudah beberapa kali bertemu Galih, anaknya sopan dan juga ramah. Dia anak pesantren pula. Mungkin karena hampir seumuran, hanya beberapa tahun di bawah Ze, keduanya bisa berkomunikasi tanpa canggung.


Pria itu tampak mengangguk. Dia tadi juga sudah meminta Ze untuk meninggalkannya, karena memang membersihkan kolam itu tugas ayahnya yang digantikan dirinya hati ini. Namun, Ze tetap memaksa, karena sudah diperintah Airin. Dia tidak mau timbul masalah baru dengan Airin.


"Oma masuk dulu, nanti aku nyusul," jawab Ze. Wanita itu mengalah. Mungkin membiarkan Ze mengobrol dengan Galih ada baiknya, agar Ze bisa sedikit terhibur.


Keduanya melanjutkan ceritanya. Ze dengan serius mendengarkan cerita Galih. Dan dari dalam rumah, seseorang mengamati mereka dengan wajah tidak suka. Bahkan mengepal tangannya ingin segera memukul Galih.


Saka melihat tawa gembira di wajah Ze, dan dia benci, karena gadis itu berbagi tawanya dengan pria asing. Tahukah Ze, bahwa dia sangat merindukan pria itu?


Rasanya baru sekarang timbul penyesalan kenapa dia menikahi Airin. Padahal baru sebulan menikah.


Yang paling sialnya, sebulan menikah, Saka tidak bisa memberikan nafkah batin pada Airin. Hanya saat mereka tiba di rumah ini setelah menikah, dan itu bukan satu pencapaian yang sempurna.


Ada yang aneh dalam benak Saka. Setiap dia akan bercinta dengan Airin, maka satu sosok yang sulit dia ingat wajahnya akan muncul dalam benaknya. Gadis itu tidak menunjukkan wajahnya, membelakanginya dengan punggung seputih gading. Namun, saat dia meminjamkan mata ******* dan era*ngan gadis itu terngiang di telinganya. Dan dia yakin itu bukan suara Airin!


Dia coba mengingat siapa sosok gadis itu, tapi tidak berhasil, hingga dia tidak bisa mencapai puncaknya saat bercinta dengan Airin. Akhirnya dia menyerah, setiap Airin memberi tanda ingin meminta haknya, Saka akan menghindar dengan memberikan alasan lelah atau banyak pekerjaan.

__ADS_1


Sementara, dalam benak Airin, dia yakin, Saka tidak menyentuhkan karena menyukai Ze, alasan utama mengapa dia harus mengusir gadis itu dari sini.


Saka membuang muka, tidak ingin melihat tontonan yang menyakiti mata dan hatinya. Cukup sudah! Bisa-bisa dia membuat keributan nantinya.


Airin yang memergoki suaminya sedang memperhatikan Ze dan Galih, ikut kesal dan menyimpan amarah pada Ze. Dia cemburu karena Saka marah hanya karena Ze dekat dengan pria lain. Namun, Airin juga sedikit terhibur, rencananya untuk menyiksa Ze berhasil, dan dengan dilihat bersama pria lain, setidaknya Saka mengerti kalau dia tidak akan bisa bersama Ze.


"Kau sedang apa? Bukannya aku bilang kau ikut membersihkan kolam?" hardik Airin yang sudah berdiri di belakang keduanya yang tengah duduk di tepi kolam.


Sontak Ze menoleh dan segera berdiri dari duduknya, bersitatap dengan Airin. Entah apa lagi yang diinginkan wanita itu darinya.


"Sudah, Nyonya. Baru saja kami selesaikan," jawab Airin datar. Dia sama sekali tidak pernah menganggap Airin majikannya, tapi karena dia tidak ingin Oma mendapat masalah, makannya dia mencoba mematuhi perintah Airin. Walau Oma sudah pernah memberi nasihat kalau dia boleh melawan Airin jika wanita itu memerintahkannya, karena sejatinya Ze bekerja untuk Oma bukan pada Saka, apalagi Airin.


"Banyak cerita kamu. Memangnya saya gak lihat kamu lagi merayu anak pelayan ini!" bentak Airin dengan tiba-tiba mendorong keras tubuh Ze ke dalam kolam.


Ze berusaha naik ke atas, tapi sedikit sikit karena dia terlempar ke kolam dengan posisi wajah ke atas, air kolam segera masuk dalam hidung yang membuatnya sulit bernapas.


"Aduh, Ze... Kenapa Ze ditolak ke kolam, Nyonya?" ucap Galih terkejut sekaligus khawatir. Dia ingin menolong tapi dia juga tidak bisa berenang.


Namun, demi Ze dia rela lompat ke dalam kolam, tapi sebelum semua itu terjadi, Saka yang sudah lebih dulu terjun untuk menarik tubuh Ze keluar dari sana.


Setelah berhasil mendapatkan gadis itu, Dengan menggendong Ze, Saka membawa gadis itu dan membaringkan di tepi kolam.


Saka sempat melemparkan tatapan mematikan pada Airin, nyaris setajam pisau yang akan menyayat lehernya.


Kali ini giliran Airin yang terkejut, karena sedetik kemudian, suaminya sudah memberikan napas buatan pada Ze.


Dua kali meniupkan udara di mulut Ze, tapi gadis itu belum siuman.


"Ayolah, Ze, kembali kepadaku. Jangan buat aku mati ketakutan," cicit Saka di luar sadarnya, yang dengan jelas didengar orang-orang yang sudah berkerumun, termasuk Oma dan Airin.


Lalu kembali memencet hidungnya dan kembali memberikan napas buatan hingga gadis itu tersedak dan memuntahkan banyak air.


"Ze...!" pekik Oma yang akhirnya bisa bernapas lega.

__ADS_1


__ADS_2