Kalau Cinta Jangan Marah

Kalau Cinta Jangan Marah
Chapter 53


__ADS_3

Pertengkaran di antara keduanya tidak terelakkan, lagi tentu saja Airin tidak mau berpisah dengan Saka.


"Apa yang kau katakan? Aku tidak suka dengan caramu bercanda! Pernikahan bukan untuk main-main, kau ingin bercerai denganku? Jangan harap!" ucap Airin setengah berteriak.


"Tidak ada gunanya mempertahankan rumah tangga ini, lebih baik kita berpisah. Aku minta maaf karena baru menyadarinya sekarang. Perasaanku terhadapmu tidak nyata, selama ini aku pikir cinta itu masih ada. Aku begitu terobsesi denganmu dan rasa tidak terima karena kau meninggalkanku, tapi kini aku menyadari bahwa ternyata aku tidak mencintaimu lagi, Airin. Aku mohon mengertilah, kalau kita terus menjalani hubungan ini, yang ada hanya akan menyiksa diri kita sendiri, tidak akan pernah menemukan kebahagiaan."


Penjelasan Saka tentu saja tidak bisa diterima oleh Airin, apapun itu!


Baginya hanya ada Saka dalam hidupnya. Hanya Saka yang bisa membahagiakannya sekaligus memberikan kenyamanan untuknya dan juga keluarganya, mana mungkin dia sebodoh itu, mau melepaskan tambang emasnya.


"Lupakan keinginanmu itu! Aku tidak akan pernah melepaskanmu selamanya. Apa kau pikir aku sebodoh itu? Kau menceraikanku karena kau ingin kembali kepada pelayan itu? Tidak semudah itu, Saka!" sambar Airin menghapus jejak air mata di pipinya lalu tanpa mengatakan apapun lagi pergi meninggalkan rumah sakit itu dengan perasaan hancur dan terhina.


Dia tidak pernah menyangka keadaannya akan berbalik seperti ini. Dulu dia menganggap hina pada Ze, memandang sebelah mata dan menganggapnya hanya pantas di bawah telapak sepatunya, kini rumah tangganya hancur. Pria yang dicintainya justru mencintai wanita yang tidak dianggapnya itu.


Saka kembali ke ruangan Oma. Wanita itu sedang disuapi oleh Wati. Begitu dia masuk, Oma menyetop suapan yang disodorkan oleh Wati. Oma ingin tahu apa yang dibahas Saka dengan Airin, pastilah mereka bertengkar kalau tidak mengapa gadis itu tidak kembali bersama Saka ke ruangannya.


"Mana istrimu? Kalian bertengkar lagi?" tanya Oma yang sudah biasa melihat mereka bertengkar. Terkadang Oma merasa kasihan kepada Saka karena tersiksa selama berumah tangga dengan Airin. Tidak pernah sehari pun dia merasakan kebahagiaan. Airin terlalu banyak menuntut dan sangat licik.


"Dia sudah pulang, Oma," jawab Saka dengan suara pelan. Dia terduduk lemas di sisi ranjang menggenggam tangan Oma dengan begitu erat.


Ada rasa bersalah di dalam hatinya, mengapa tidak mendengarkan nasehat dari wanita itu, jelas-jelas Oma sudah mengatakan rasa tidak suka dan menunjukkan padanya bahwa Airin bukanlah wanita yang tepat untuk mendampinginya, tapi dia menuntun keinginannya, tetap menikahi Airin meski tidak mendapat restu dari wanita itu.


Kini seolah dia menerima karma dari perbuatannya yang tidak mau mendengarkan nasihat orang tua, rumah tangganya pun hancur.

__ADS_1


Satu hal yang disesali Saka mengapa dia terlambat menyadari perasaannya terhadap Ze, di saat gadis itu telah pergi meninggalkannya untuk selamanya.


"Oma merasa sudah sehat. Oma ingin pulang ke rumah hari ini," ujar Oma terus memandang wajah sendu Saka, wanita itu tahu banyak hal yang sedang dipikirkannya saat ini.


"Besok saja ya, Oma. Aku janji akan membawa Oma pulang. Sekarang aku ingin mencari Ze, dan membawanya pulang ke rumah," ucap Saka mengusap lembut punggung tangan Oma.


***


Tampaknya pencarian itu akan sulit karena Saka tidak tahu harus mencari Ze ke mana. Gadis itu tidak pernah mengatakan di mana tempat tinggalnya ataupun tempat tinggal keluarga yang bisa dihubungi ketika mencarinya.


Ze datang dalam kehidupan mereka dengan tiba-tiba dan pergi pun dengan tiba-tiba juga. Tidak ada yang bersisa hanya sebentuk kenangan yang mengikat.


Saka memutuskan untuk meminta bantuan Revan, mungkin saja pria itu sudah mendapatkan kabar tentang keberadaan Ze karena keduanya memang dekat.


Pada awal kepergian Ze, Saka sempat bertanya kepada Revan, apakah mereka sudah pacaran, dan Revan tahu dimana Ze berada, tapi jawab Revan membuatnya sedikit tenang. Ternyata, Ze pergi tanpa pamit pada Revan.


"Apa kau sudah mendapatkan kabar dari Ze?"


Revan menggeleng sebagai jawaban atas pertanyaan Saka. Kenyataannya memang dia tidak dihubungi oleh Ze. Dia sendiri sudah berusaha mencari keberadaan gadis itu, tapi tidak berhasil. Satu-satunya caranya berkomunikasi dengan Ze melalui nomor teleponnya, juga tidak membuahkan hasil. Tampak nya gadis itu sudah mengganti nomor ponselnya.


"Aku ingin bertanya, bagaimana perasaanmu terhadap Ze?" tanya Saka to the point. Dia harus memastikan bahwa apa yang akan dikatakannya nanti pada Revan tidak membuat persahabatan mereka benar-benar usai.


"Untuk apa kau bertanya mengenai perasaanku? Kau tahu sendiri bahwa aku sangat menyukai gadis itu!"

__ADS_1


"Kau sudah pernah mengutarakan perasaanmu padanya?" susul Saka semakin ingin tahu. Kalau memang keduanya sudah punya hubungan serius, mungkin lebih baik Saka mundur, meski berat dirasanya.


"Tentu saja sudah, tapi sayangnya dia tidak menerimaku, yang terpenting dari semuanya adalah kebahagiaan Ze. Siapapun yang dia cintai, asal mampu membuat Ze bahagia, aku akan mendukungnya. Cinta tidak harus selamanya memiliki, bukan? Bisa saja aku tetap memilih berada di sisinya sebagai sahabat," ucap Revan mengambil gelas yang ada di hadapannya, lalu menghabiskan isinya, melewati tenggorokannya yang terasa tercekat. Perasaannya masih tidak rela sebenarnya, tapi dia tidak ingin memaksa gadis itu untuk menerima cintanya.


Revan adalah pria yang paling realistis. Dia mencintai Ze, itu kebenaran, tapi jika dia tidak membalas perasaannya, maka gadis itu tidak bisa disalahkan. Haknya untuk menerima atau menolak perasaan seseorang.


"Baguslah kau sudah mengutarakannya kepadaku mengenai hubunganmu dengan gadis itu, jadi aku tahu harus bersikap. Satu hal yang perlu kau ketahui, aku mencintai Ze dan aku bertekad untuk mencari gadis itu dan membawanya pulang, untuk segera aku menikahinya."


Tentu saja perkataan Saka menarik minat Revan, dia tidak menyangka bahwa sahabatnya itu pada akhirnya mau mengakui tentang perasaannya terhadap Ze.


Revan sudah menebak sejak dulu, hanya saja tidak berani menanyakannya kepada Saka. Setiap tindakan pria itu yang selalu marah setiap ada pria yang mendekati Ze, menandakan kalau pria itu memang menyukai Ze, hanya termakan gengsi.


Kalau mau jujur, Revan juga tahu bahwa selama ini Ze menyimpan rasa kepada Saka. Bukan tidak pernah dia mendapati Ze yang menangis atau memperlihatkan wajah murung dan penuh kesedihan ketika memergoki Airin dan juga Saka bermesraan.


Sorot mata Ze cukup menjelaskan mengenai perasaannya terhadap pria itu dan Revan cukup bijaksana untuk tidak memojokkan dengan menanyakan hal itu kepada Zee.


"Kenapa kau diam? Aku ingin mendengar pendapatmu!" pinta Saka dengan tegas.


"Aku tidak mengerti, kau bilang kau menyukai Ze, sementara kau sudah menikah dengan Airin. Jika kau berhasil menemukan Ze, lalu di mana posisinya akan kau buat? Kau ingin membuatnya menjadi simpanan? Picik sekali!" umpat Revan melayangkan tatapan sini.


"Ketahuilah Saka, kita memang berteman tapi aku tidak akan membiarkan kau menyiksa Ze dengan alasan apapun, terlebih dengan menggunakan kuasa yang kau miliki!" peringat Revan serius. Dia akan menjadi orang pertama yang berdiri di baris depan untuk melindungi Ze.


Saka tertawa mendengar penuturan Revan. Dia senang memiliki sahabat seperti Revan, yang mau berterus terang bahkan ketika keputusan Saka salah. Revan dengan berani menentang, tidak takut akan dipecat atau bahkan kehilangan koneksi penting dengan Saka, sangat berbeda dengan Bima yang terlalu menjaga perasaan Saka, tidak berani mengatakan hal buruk kepadanya hanya demi menjaga posisinya di perusahaan Saka.

__ADS_1


"Kenapa kau tertawa? Aku serius, Saka! Aku mohon padamu sebagai teman, tolong hargai Ze, jangan membuat yang menderita hanya karena keinginanmu semata!"


"Apa yang kau bicarakan? Apa kau pikir Ze wanita yang bisa menerima dirinya dijadikan sebagai simpanan? Berarti kau tidak mengenal Ze. Meskipun dia seorang pelayan, tapi gadis itu punya pendirian dan juga harga diri. Dia lebih baik kehilangan cintanya daripada harus menjadi orang ketiga. Aku akan menceraikan Airin terlebih dulu, sebelum menikahi Ze!"


__ADS_2