
Ze terbangun mendengar suara adzan magrib. Seolah menyadarkannya akan kesalahan yang sudah dia perbuat.
Dengkuran halus dari pria yang berbaring di sampingnya membuatnya menoleh, mengamati wajah yang tidur dengan nyenyak nya. Terlihat wajahnya tampak puas.
Perlahan Ze mengangkat tangan Saka yang melingkar di perutnya lalu mulai menurunkan kakinya. Denyut sakit terasa di bagian inti tubuhnya. Bibirnya meringis.
Kini dia sudah menjadi wanita dewasa sesungguhnya, tapi sayangnya dia melaluinya dengan dosa.
Benci pada Saka setelah semua yang mereka lakukan?
Tidak mungkin, karena mereka melakukannya tanpa ada paksaan dari Saka. Bahkan salah satu diantara mereka masih sadar, dan seharusnya bisa menghentikannya, tapi dia tidak melakukannya. Artinya Saka dia tidak memaksanya.
Ze memaksakan diri untuk beranjak, mengabaikan rasa perih yang menyiksa. Bekas noda darah terlihat di atas seprei biru mudanya. Hanya sedikit, tapi cukup menjelaskan keadaannya saat ini yang sudah tidak perawan lagi.
Ze membasuh wajahnya, menyirami tubuhnya dengan air dingin, membersihkan tubuhnya dari perbuatan dosa yang sudah dia lakukan. Alih-alih air itu bisa menyucikan kembali dirinya, tapi rasa bersalah itu kembali meremat hatinya.
Sengaja dia berlama-lama di dalam kamar mandi. Hatinya mengetuk agar dia segera berbicara dengan sang pemilik kehidupan, meminta maaf atas khilaf nya, tapi dia merasa tidak pantas akan dosa besar yang dia perbuat.
Air mata menetes di pipinya lagi, bercampur dengan derai air mata. Meringkuk di bawah curahan air dingin.
"Ya Tuhan, apa yang sudah aku lakukan? Kenapa aku bisa melangkah sejauh? Kenapa aku bisa sebodoh ini?" Ze terus mengutuk dirinya, meratapi yang sudah terjadi, berteman dengan air mata.
Lelah dengan tangisnya, Ze keluar dari dalam kamar. Perasaannya campur aduk, tak ingin melihat Saka, tapi sudut hatinya yang terdalam justru ingin dipeluk pria itu. Saka yang sudah memetiknya, menimbulkan rasa sakit, tapi justru ingin pria itu yang mengobatinya.
Bergelut dengan kebimbangan, akhirnya dia memilih untuk keluar. Nelangsa hatinya semakin menjadi kala melihat ranjang itu sudah kosong.
Tubuhnya serta merta merosot di dinding kamar hingga terduduk di lantai. Terhempas dalam kepedihan yang amat sangat. Apa yang dia harapkan dari Saka? Sikap apa yang dia harapkan akan ditunjukkan pria itu? Siapa dirinya? Dia bukan siapa-siapa, bahkan setelah apa yang mereka lakukan beberapa jam lalu!
Tangis Ze pecah. Terbuang dan merasa hina. Bisakah bayangkan kalau dia sehancur apa saat ini? Kepingan kehancuran itu menyakitinya, menusuk relung hatinya yang terdalam yang akan sangat sulit pulih.
***
Saka mengerjapkan matanya. Beberapa saat mencoba menjernihkan pikirannya. Matahari di balik tirai kamarnya sudah naik ke atas, menyinari seluruh dunia dan seberkas cahaya mencoba mengintip dari celah-celah jendela.
Kembali sering telepon yang sejak setengah jam terus berdering mencoba membangunkannya. Tanpa melihat, Saja mengulurkan tangan ke atas nakas lalu mengambil ponselnya, membaca nama di layar.
__ADS_1
Airin!
Kembali Saka memijit pelipisnya. Dia masih ingin tidur, kepalanya sangat sakit, tubuhnya terasa pegal seolah tulang-tulang ditarik dari tubuhnya. Tapi dia sadar, Airin tidak akan menyerah sebelum dia menjawab panggilan itu.
"Rin..."
"Kamu kemana aja, sih? Kenapa gak angkat teleponku?" tanya Airin sedikit membentak. Dia kalang kabut memikirkan Saka. Ingin terbang ke rumahnya, tapi dia masih dipingit.
Besok mereka akan menikah, wajar kalau dia khawatir Saka menghilang.
"Sorry. Aku ketiduran. Ada apa, Rin?" Saka mengusap wajahnya dengan satu tangan. Mendengarkan wanita itu mengomel tampaknya semakin membuat kepalanya sakit.
"Gak ada. Hanya mau mastikan kamu gak kabur!"
Saka menjauhkan ponselnya dari telinga, menatap takjub ke arah layar seakan dengan begitu dia bisa melihat wajah calon istrinya itu.
Bisa-bisanya Airin memikirkan hal sepicik itu. Apa setipis itu rasa percayanya?
"Airin, hentikan pikiran aneh mu itu!"
Memikirkan hal itu membuatnya semakin kesal. Tapi dicoba ulang, tetap saja tidak menemukan pecahan memori yang hilang itu.
***
"Kamu kenapa? Dari tadi bengong?" tanya Wati menyikut lengan Ze. Keduanya berjalan beriringan menyusuri para penjual di pasar. Sudah setengah jam berbelanja, tapi masih belum selesai membeli semua bahan yang mereka cari.
"Gak papa. Cuma sedikit pusing dan gak enak badan," jawab Ze coba tersenyum.
"Kalau gitu kita pulang aja. Kamu juga belum sarapan, mungkin kamu masuk angin." Wati menyeret lengan Ze, mempercepat langkah mereka. Ze harus menggigit bibir bawahnya kala perih pada miliknya kembali menyentak karena gerak langkah yang cepat.
"Tapi, Wat, masih ada yang harus kita beli. Seenggaknya beli wortel pesanan Oma," tukas Ze.
"Kamu tunggu di sini dulu sarapan. Aku beli wortel ke dalam." Wati meninggalkan Ze disebuah warung dekat jalan besar.
Ze hanya mengangguk. Ini lebih baik, dari pada dia ikut berkeliling lagi. Ze benar-benar tidak selera makan meski perutnya sangat lapar.
__ADS_1
"Pesan apa, Neng?" tanya pemilik warung lontong.
"Minta teh manis hangat aja, Bu."
Ze kembali hanyut dalam pikirannya, tidak menyadari seseorang sejak tadi memperhatikannya.
"Nara... Kamu Zenara, kan? Lagi apa di sini?"
Seketika wajah Ze memucat. Kalau tadi sudah terlihat seperti seseorang yang mengidap penyakit anemia, kini saat saling tatap dengan pemilik suara itu, Ze semakin memucat seperti mayat.
"Max!"
"Kamu ngapain di sini? Kenapa makin kurus dan terlihat lusuh?" Max mengambil tempat di depan Ze hingga gadis itu tidak bisa lari demi menghindar dari pria itu.
"Aku... Aku...." Apa yang harus Ze katakan? Dia bingung. Kenapa harus bertemu Max sekarang? Di tempat ini? Sungguh Ze tidak siap!
"Zenara, hei! Kamu kenapa? Kok kayak orang linglung? Kamu kok bisa ada di sini?" Max menyentuh pipi Ze lembut, tapi gadis itu segera menarik diri.
"A-aku yang harusnya nanya, kenapa kamu ada di sini?" Ze sudah bisa menguasai diri meski hatinya masih berdebar.
"Aku? Memangnya aku gak bisa di sini? Aku lagi temani Mama belanja dengan bi Inem."
"Maksud aku, kenapa bisa di kota ini? Bukannya kamu lagi di Singapura?" Sial! Jantung Ze semakin berdebar. Setelah sekian lama menunggu pertemuannya kembali dengan Max, kenapa justru di saat dirinya sangat terpuruk?
"Aku lagi libur. Kamu kenapa, sih? Kenapa bisa ada di sini? Kemarin aku ke rumah mu, kata ibu tiriku kamu sedang liburan dengan teman-teman mu ke Hawai."
Ze menarik napas berat. Saking lamanya jauh dari rumah, dia sampai lupa punya rumah.
"Dia bohong, aku kabur dari rumah!" ucap Ze terus terang. "Aku mohon kamu jangan beritahukan pada siapapun, terlebih keluargaku kalau kita bertemu di sini!" Ze sampai memelas agar dikasihani Max.
Max hanya menatap tajam ke arah Ze. Dia sangat merindukan gadis itu, pulang hanya ingin bertemu dengan cinta pertamanya itu.
"Nara, aku kangen banget sama kamu." Max menggenggam tanga Ze yang ada di atas meja.
"Benarkah itu, Max? Apa kau pikir aku tidak tahu kemesraan mu dengan Nura?"
__ADS_1