
Ze pergi! Tangis Oma tidak berhenti meski sudah setengah jam berlalu. Gadis itu meneguhkan hati untuk meninggalkan rumah itu di saat beberapa orang di rumah itu masih terlelap. Pertengkaran sengit yang terjadi pada Saka dan Airin membawa pria itu menyentuh minuman, mabuk hingga pukul empat pagi, beru terlelap di sofa ruang kerjanya.
Saat bangun, kepala Saka sakit sekali, seakan palu gadang menghantam keras hingga kembali membuatnya jatuh ke sofa saat berusaha untuk bangkit.
Jarum jam sudah menunjukkan pukul 10 pagi. Dia ingat pertengkaran yang terjadi tadi malam. Tiba-tiba tersentak kala mengingat Ze. Dia mendatangi kamar gadis itu semalam, ingin meminta maaf atas sikap Airin, sekaligus, Saka ingin mengatakan isi hatinya. Dia kini sudah yakin kalau dirinya memang menyukai Ze, lebih dari apa yang dia bayangkan.
Namun, Ze tampaknya sudah tidur, karena berulang kali mengetuk kamar gadis itu, tetap tidak dibukakan. Saka akhirnya kembali ke ruang kerjanya, memutuskan untuk mengajak Ze bicara besok.
"Wati, apa kau melihat Ze?" Saka yang berjalan sempoyongan, menghampiri pelayannya itu, tapi karena sakit yang luar biasa, Saka memilih untuk duduk di sofa saja.
"Ze? Dia sudah pergi, Tuan," jawab Wati masih menunggu apa ada pertanyaan dari majikannya lagi yang perlu dia jawab.
"Pergi kemana?" sambung Saka, tebakan pria itu paling ke pasar.
"Saya gak tahu, Tuan," jawab Wati jujur. Dia memang tidak tahu kemana gadis itu pergi karena tidak mengatakan pada siapapun juga kemana tujuannya.
Melalui jarinya, Saka memberi isyarat agar Wati pergi. Kepalanya kembali dihantam rasa sakit yang membuatnya kembali roboh bahkan tak sadarkan diri.
Airin lah yang pertama mendapati Saka tidak sadarkan diri hingga dilarikan ke rumah sakit. Teriakan Airin membuat Oma yang baru membasuh wajahnya segera keluar melihat apa lagi yang terjadi sekarang.
"Oma, Saka pingsan. Bagaimana ini?" Wajah panik Airin juga membuat Oma jadi ikut bertambah cemas.
***
Dokter baru saja keluar dari ruang inap Saka, setelah memberi keterangan mengenai keadaan Saka pada Airin yang juga didengar Oma.
"Pola makan yang tidak teratur, serta kurang tidur ditambah oleh asupan minuman keras dengan dosis tinggi membuat asam lambungnya naik hingga mengakibatkan pasien pingsan. Kalau begini terus, bisa-bisa lambungnya bocor," terang sang dokter tadi yang membungkam mulut Airin.
Kenyataan itu seolah menjelaskan betapa dia tidak becus jadi istri yang seharusnya memperhatikan keadaan suaminya.
Malamnya, Saka siuman. Dia menyadari dirinya sedang dirawat di rumah sakit. Pandangannya mengabur, saat membuka mata melihat gadis yang merebahkan kepalanya di sisi ranjangnya. Bibirnya menyunggingkan senyum gembira. Dia mencoba menyentuh puncak kepala itu karena menganggap gadis itu adalah Ze.
__ADS_1
Perasaan bergemuruh menyelimuti hatinya. Begitu gembira karena gadis itu peduli padanya dan mau menjaganya di sini.
Namun, saat jemarinya berhasil menyentuh rambut gadis itu, si pemilik rambut mengangkat wajahnya. Seketika senyum Saja hilang.
"Kau sudah siuman, Saka?" Pekik Airin histeris.
Saka hanya menatap kosong pada Airin. Jelas-jelas gadis yang muncul dalam benaknya tadi adalah Ze, kenapa bisa berubah jadi Airin?
"Hanya kau yang menjagaku?" tanya nya datar. Rasa gembira tadi menguap dan hilang.
"Apa kau mengharapkan seseorang di sini?"
***
Begitu siuman, Saka memaksa untuk pulang. Dia ingin bertemu dengan Ze. Lagi-lagi harapnya kandas, kala Oma memberitahu kalau Ze sudah pergi untuk selamanya dari rumah ini.
Tubuh Saka terhempas. Dia tidak bisa menerima kepergian Ze. Dirabanya sebelah dadanya, sakit, perih. Kenapa gadis itu pergi diam-diam?
"Lepaskan!" Oma menyentak tangan Saka, mundur mengambil kursi yang lain untuk duduk, tidak sudi dekat dengan Saka.
"Ini semua salahmu. Kalau kau tidak membawa Airin ke rumah ini, maka Ze pasti tidak akan pergi dari sini!"
Saka hanya bisa terdiam. Menyalahkan dirinya karena apa yang dikatakan Oma benar.
Sementara, orang yang mereka bicarakan sudah mulai dengan kehidupan barunya. Tidak punya pilihan lain, Ze menerima bantuan Max yang harus itu berulang kali mengunjunginya.
Mereka bertemu di sebuah cafe, dan Ze mengatakan niatnya untuk pergi dari kota itu. Dia tidak ingin bertemu dengan Saka lagi.
"Kalau begitu kau ikut aku ke Singapura?"
Ze menarik kepalanya, terkejut oleh usul Max. Ke Singapura? Mungkin itu jalan yang terbaik, tapi mau apa dia di sana? Tidak mungkin dia menumpang hidup dengan Max.
__ADS_1
"Gak usah deh, Max. Aku mau tetap di Indonesia. Mungkin aku ingin ke Jogja aja," lanjutnya.
"Mau apa kau di sana? Kenapa gak kembali saja kau ke rumah orang tuamu? Kau ragu Papa mu jatuh sakit, dan kesehatannya semakin drop. Kemarin aku menjenguk Om Candra, dia memohon padaku untuk mencarimu. Pulang lah, Ze," pinta Max menggenggam tangan gadis itu.
Perlahan, Ze menarik tangannya, ada perasaan tidak nyaman, bahkan risih.
Pulang? Benarkah aku harus pulang? Tapi bagaimana dengan Tante Mira?
Ze bergidik ngeri kala mengingat peristiwa malam itu. Dia jelas mendengar kalau Mira lah yang menyuruh menculiknya dari dalam kamarnya, lalu membawa ke tepi jurang untuk dibuang.
Tidak menyangka ibu tirinya bisa setega itu. Kalau hanya karena masalah Max, kenapa dia sampai ingin menghabisinya? Max jelas-jelas menolak Kinan saat itu, dan mengatakan kalau dia memilih Ze.
"Apa kau tahu, selama ini ternyata Om Candra membenciku? Menganggap aku lah yang membawamu lari dari rumah? Saat aku datang ke rumahmu, aku sempat dipukuli oleh anak buah ayah mu, memaksa mengatakan di mana keberadaan mu saat ini," terang Max yang membuat Ze terbelalak lagi.
Banyak potongan misteri yang terjadi di rumahnya. Kala bertengkar dengan Mira yang bermaksud untuk mencelakai nya, wanita itu mengatakan kalau anak buah yang ingin menghabisinya adalah orang suruhan ayahnya, dengan alasan malu punya anak itu yang tidak bisa diatur dan lebih baik menghabisi nyawanya.
Ze memang tidak pernah dekat dengan ayahnya. Selama ini dibesarkan oleh Oma dan Opanya. Setelah ibunya meninggal, Candra bersikeras mengambil kembali putrinya.
Begitu, Candra dengan sikap otoriternya membuat hidup Ze terkekang. Bahkan untuk keluar negeri melanjutkan kuliahnya saja tidak diperbolehkan.
Kehidupan Ze semakin hancur kala Candra menikah dengan Mira, membawa kedua anaknya, Al dan juga Kinan ke dalam kehidupan mereka.
"Lalu?" Ze semakin penasaran atas cerita Ze.
"Aku menjelaskan kalau selama ini, kita pacaran jarak jauh, aku kuliah di Singapura, dan akan melamarmu setelah kita lulus kuliah. Saat itulah, Om percaya bukan aku yang membawamu kabur. Kini justru memohon agar membawamu pulang."
Sedetik kemudian, Ze dibuat galau oleh perkara Max. Di satu sisi dia rindu pulang, rindu pada ayahnya, satu sisi dia merasa malu karena sudah kabur dari rumah.
"Ze, kasihan papamu. Beliau lagi sakit. Kalau kau pulang, Om pasti gembira," tukas Max, berharap pintu hati Ze melembut, dan mau pulang bersamanya.
"Kasih aku waktu untuk memikirkannya, Max. Datanglah dua hari lagi ke sini," ucap Ze memutuskan.
__ADS_1