
Wajah pucat Ze masih belum sirna, seolah aliran darahnya berhenti mengalir dalam tubuh. Dia coba mengurut semua kalimat yang dikatakan bidan barusan. Sulit dipercaya, tapi tenaga medis itu tidak mungkin tengah bercanda dengannya.
Sejam lalu Ze pingsan di kamar kosnya yang disewa Max. Pria itu menawarkan bantuan saat Ze mengatakan tidak ada tempat tujuan. Max sudah mengajaknya pulang, tapi dia menolak, dan sesuai perjanjian, dia ingin diberikan waktu dua hari untuk berpikir. Jadi, Max berinisiatif untuk menyewa kamar kos yang sudah lengkap dengan perabot di dalamnya, untuk ditinggali Ze selama dua hari ini.
Ze setuju. Dia juga tidak punya tujuan, lagi pula tempat ini cukup jauh dari rumah Oma, tempat yang dia yakini cukup aman untuk sembunyi.
Namun, pagi tadi, saat akan menunggu Max datang menemuinya, Ze yang bermaksud membeli sarapan jatuh pingsan di depan gerbang kos, hingga dilarikan ke klinik bidan terdekat untuk pertolongan pertama.
"A-pa Ibu tidak salah?" tanya Ze meremas sisi gaunnya. Berharap sang bidan bersedia mengecek ulang.
"Saya sangat yakin, Mbak. Memang benar adanya, Mbak hamil enam Minggu. Kekurangan asupan makanan dan juga kurang cukup beristirahat membuat Mbak pingsan. Tekanan darah rendah, sebaiknya Mbak banyak istirahat, dan jaga pola makannya, biar dedek bayinya sehat-sehat. Apa papanya sudah dikabari kalau Mbak ada di sini?"
Tidak satupun pertanyaan dari bidan itu yang ingin dijawab Ze. Dia bahkan memilih untuk menjungkirbalikkan meja bahkan ranjang yang ada di ruangan itu.
Berita itu benar-benar mengguncang jiwanya. Hamil katanya? Ya, Tuhan, yang benar saja. Apa yang harus dia lakukan? Hamil?
Remasan tangannya di sisi bajunya semakin mengencang, mosi melanda jiwanya. Dia tidak menginginkan bayi ini, sama sekali tidak mengharapkannya! Terlebih di saat ini hidupnya tidak jelas arah tujuannya.
Bagaimana mungkin dia bisa membesarkan anak itu sementara dirinya belum menikah tidak memiliki pekerjaan, uang, ataupun tempat tinggal.
"Mbak? Apa masih ada yang ingin ditanyakan?" tegur bidan berparas keibuan itu menghempas lamunannya.
Perlahan Ze menggeleng, bahkan tidak ingin membahas mengenai janin yang saat ini sedang berkembang di rahimnya.
Tak ada yang bisa membantunya saat ini. Satu-satunya cara agar semangatnya kembali muncul adalah dengan menghilangnya bayi itu.
"Baik, kalau begitu, saya buatkan resep dan obatnya dulu. Nanti akan ada vitamin penguat janin, dimakan ya, Mbak," lanjut sang bidan tersenyum sebelum berlalu.
__ADS_1
Pertahanan Ze hancur. Sendiri di ruangan itu memberinya ruang untuk mengutuk semua perbuatannya yang lalu. Hanya terbuai rasa cinta pada pria itu, dia menyerahkan dirinya hingga ada janin di perutnya.
Tangisnya pecat. Menggigit keras selimut putih yang menutupi setengah tubuhnya saat dia pingsan tadi. Bingung dan juga putus asa.
"Apa yang harus aku lakukan? Apa ini hukuman dari yang Kuasa?" batinnya menghapus air mata yang tumpah, tapi tetap saja mengucur deras.
Seandainya mamanya masih hidup, dia yakin mamanya akan menenangkannya saat ini.
Sempat terbersit pikiran untuk pulang ke rumah Mahesa, meminta pertanggung jawaban Saka, tapi ingat Airin, rasanya tidak mungkin.
Hal itu membuat rasa frustasinya itu semakin sempurna. Dadanya sesak, hingga susah bernapas, ditambah lagi cairan di hidungnya menyumbat saluran pernapasannya.
Atau, apa dia kembali saja ke rumah ayahnya? Meminta maaf dan menceritakan semua keadaannya saat ini? Biarlah dia dimarahi bahkan dimaki, asal ayahnya mau menerimanya kembali. Saat ini rasa takut dibunuh Mira sudah menjadi rasa takut kesekian saat ini.
Namun, dia ingat perkataan Max, ayahnya sedang sakit saat ini. Datang dengan membawa berita ini pasti membuat kesehatan ayahnya semakin memburuk.
Pantulan di cermin membuatnya sadar, tidak punya waktu untuk menyesali dan meratapi semua yang sudah terjadi. Ini adalah perbuatannya, jadi harus bertanggung jawab atas hasil perbuatannya itu.
"Lebih baik aku kembali ke rumah Oma, meminta tanggung jawab Saka. Terserah dia mau mengatakan apa pada istrinya, yang jelas, dia harus bertanggung jawab. Anak ini ada hasil perbuatan berdua, kenapa hanya aku yang menanggung?" desisnya memantapkan hatinya.
Setelah membulatkan tekadnya, Ze pamit setelah membayar dan menebus obat dari sang bidan. Dengan taksi dia pergi menuju rumah Mahesa.
Tepat saat dia tiba di depan rumah itu, Ze turun. Dari depan gerbang yang tidak dijaga Pak Komar, Ze menatap nanar bangunan megah itu.
Dia rindu Oma, Wati, bahkan Tuti. Dan di atas semuanya, dia rindu pada pria itu yang sudah berhasil menanam janin di rahimnya, meski saat kepergiannya dari rumah ini, dia benci dan marah pada Saka.
Tatapannya menangkap sosok Saka keluar dari dalam rumah. Refleks, Ze mundur, bersembunyi di balik pagar, sedikit jauh dari pintu gerbang tapi bisa melihat dengan jelas sosok pria itu.
__ADS_1
Tampaknya Saka mau pergi, terlihat rapi dan menyeret kopernya.
"Ini kesempatan buatmu bicara, sebelum Saka pergi," batin Ze.
Baru akan melangkah maju, tiba-tiba sosok Airin menyusul, dia menarik tangan Saka hingga pria itu berbalik melihat ke arahnya.
Tanpa ragu, Airin menangkup kedua pipi Saka, dan menyatukan bibir mereka. Lama dan dalam.
Hati Ze kembali tergores. Hatinya hancur berkeping-keping. Tidak ada lagi yang dia harapkan di sini.
Membayangkan dia menyampaikan perihal kehamilannya, pasti Saka tidak akan menerima kehadiran anak itu. Bahkan mungkin, dia tidak mengakui anak yang dikandung Ze sebagai darah dagingnya.
Ze memalingkan wajahnya, tidak sudi melihat adegan yang menyayat hati itu.
"Terkutuklah kau, Saka! Aku tidak akan memaafkanmu!" pekiknya segera berlari dari sana.
Apa yang disaksikan Ze tidak semua sesuai dengan apa yang ada dalam benaknya. Saka berencana untuk pergi dari rumah itu, karena tidak tahan dengan Airin.
Beberapa hari ini juga dia sudah mencari Ze ke sudut kota ini. Tanpa istirahat, tanpa mengenal lelah, tapi tetap hasilnya nihil, seolah Ze berhasil sembunyikan diri di sudut kota yang tak bisa ditemukan.
"Lepaskan!" seru Saka menarik dirinya dari kungkungan Airin yang memaksa menciumnya. Gadis itu pikir dengan memberikan ciuman pada Saka, maka pria itu akan luluh dan tidak jadi pergi.
Pertengahan hebat terus terjadi diantara mereka. Airin tidak terima karena Saka menghabiskan waktunya mencari Ze.
"Aku gak mau. Aku mohon jangan tinggalkan aku, Saka! Aku sangat mencintaimu," rengek Airin. Hidupnya hampir diujung tanduk.
"Aku perlu mengambil waktu sendiri, Airin. Aku ingin sendiri. Kau tinggallah di sini bersama Oma, atau kalau kau tidak suka, kau boleh kembali ke apartemen, tinggal bersama orang tuamu!"
__ADS_1
Hanya itu kata terakhir dari Saka sebelum pergi meninggalkan wanita itu dengan seonggok penyesalan dalam hatinya.