
Desakan Airin semakin menjadi-jadi. Dia menangis hingga mengancam lebih baik mati saja kalau tidak segera menikah karena malu pada teman-temannya.
Berulang kali Saka memberi penjelasan dan agar Airin bisa bersabar, tapi kenyataannya, gadis itu tetap tidak terima.
Saka yang tidak tega akhirnya luluh. Lagi pula pada hari kedua dirawat, ayah Airin sudah siuman.
Oma bersikeras tidak akan datang. Dia mengendus ada niat terselubung dalam niat Airin. Awalnya memberi restu meski terpaksa, kini Oma benar-benar tidak ingin merestui hubungan mereka.
Pernikahan itu akhirnya dilangsungkan di rumah sakit, tepat di ruangan ayahnya. Mereka hanya mengucapkan janji suci di depan penghulu dan juga tentu saja orang tua Airin. Sementara Saka mengundang kedua sahabatnya untuk menjadi saksi.
Setelah pernikahan itu, Airin tidak serta merta dibawa ke rumah keluarga Mahesa karena Saka tahu Oma pasti tidak akan setuju.
"Kamu harus sabar. Aku akan bicara dengan Oma. Tapi kalau Oma tetap menolak keberadaan mu di rumah itu, maka sebaiknya kita tinggal di rumah lain aja. Aku punya apartemen atau kita bisa beli rumah sederhana, yang nyaman meski tidak sebesar rumah Oma," tukas Saka menenangkan istrinya.
Namun, Airin segera menolak usul itu. Dia tidak akan mau tinggal di tempat lain selain di rumah mewah keluarga Mahesa. Dalam benaknya, sebagai istri Saka yang sah, dia seharusnya tinggal di rumah itu, dan berhak penuh atasnya.
"Aku ngak mau. Kita harus tetap tinggal dengan Oma. Dia sudah tua, kasihan kalau kita jauh darinya. Pasti beliau akan sedih. Kamu bicara dengan Oma, kasih pengertian. Lagi pula, itu juga rumahmu, kau lah yang nantinya akan menguasai rumah itu!"
Saka tidak punya pilihan lain selain menurut. Dia pulang dari rumah sakit dengan menebak kalau Oma pasti tidak mau bicara dengannya.
"Oma ada dimana?" tanya Saka yang berpapasan dengan Ze. Beberapa hari ini Ze tampak menghindarinya.
"Ada di kamar, Tuan," jawabnya lalu berlalu begitu saja. Dua langkah kaki Ze, kesadaran Saka muncul. Segera dia berbalik dan menarik tangan Ze dan menyeret gadis itu ke balik tembok ruang tengah agar tidak terlihat oleh siapapun.
"Ada apa? Kenapa kau menghindari ku? Bukannya kemarin aku udah minta maaf? Aku juga sudah mengizinkanmu pacaran dengan Revan, lalu apa lagi?"
"Kenapa bawa-bawa Revan? Gak ada apa-apa, Tuan. Aku sama sekali gak menghindari Anda. Mana berani, aku cuma seorang pelayan!" tukas Ze sewot.
"Gak usah ngomong gitu deh, jangan bawa-bawa profesi kerja. Aku bisa merasakan kau menghindari ku lagi!"
__ADS_1
"Oh, selamat atas pernikahan, Anda!" seru Ze, mencoba mengalihkan topik pembahasan. Sikap cueknya kembali, meski setelah seminggu lalu pria itu meminta maaf padanya. Hal itu bukan tanpa alasan.
Ze kecewa pada Saka. Setelah yang terjadi di malam itu, Saka tidak mengatakan apapun pada Ze, bahkan sebentuk penyesalan. Hellow, bukan main-main, pria itu sudah merenggut kehormatannya!
Ze pikir, setelah keluar dari kamar mandi dan mendapati ranjangnya sudah kosong, mungkin Saka akan bicara keesokan harinya, tapi ditunggu punya tunggu, Saka bersikap biasanya aja.
Malah yang paling menyakitkan, pria itu justru sibuk mengurus pernikahan dadakannya itu.
"Kau tahu? Dari siapa? Oma?" tanya Saka merasa tidak enak. Entah kenapa dia ingin sekali menjaga perasaan Ze, karena Saka tahu, gadis itu tidak berlaku suka pada Airin setelah insiden fitnahan Airin selama ini.
"Oma? Beliau tidak berkata apapun. Istri Anda yang menghubungiku, hanya sekadar memberi info," tukas Ze yang berhasil buat wajah Saka memerah karena malu.
"Ze, itu... Pernikahan kami,"
"Maaf, Tuan. Kerjaan ku banyak, dan aku gak pernah buka layanan curhat. Aku permisi dulu!"
Ze kembali berusaha pergi, tapi dicekal kembali oleh Saka. Pria itu tidak terima karena Ze mengabaikannya.
Suara napas Saka yang beraroma min menyeruak tertangkap oleh indra penciuman Ze. Bercampur dengan wangi parfum mahal yang selalu dipakai pria itu yang menjadikan ciri khas dimana pun Saka berada, di rumah ini, pasti Ze bisa menebak.
"Lepaskan. Untuk apa aku cemburu!"
Lagi-lagi harga diri Saka tergores. Inilah salah satu alasan kenapa Saka membulatkan tekadnya untuk menikahi Airin, karena pada kenyataannya, harapannya untuk disukai oleh Ze, kandas, layu sebelum berkembang.
"Benarkah? Lantas, kenapa setiap kami berdua, kau selalu melayangkan tatapan tidak suka. Bahkan kala memergoki kami sedang berciuman, riak wajahmu tampak menderita, sedih, tidak terima dan benci. Kalau bukan cinta, lalu apa?"
Ze diam. Pandangannya terkunci pada tatapan Saka. Dia benci keadaan seperti ini. Napasnya yang naik turun, membuat dadanya juga ikut naik turun setiap hentakan napas yang ditarik dan dihembuskannya, dan sial, Saka menikmati kepanikannya, setiap dada itu menempel di dadanya maka dia akan melihat netra Ze dan melukis senyum di bibirnya.
"Aku mohon lepaskan aku, Tuan!"
__ADS_1
"Aku tidak akan melepaskanmu, sebelum kau menjawab pertanyaan ku!"
"Pertanyaan apa?"
"Apa sedikitpun kau tidak punya perasaan untukku?" Saka menekan, memangkas habis jarak diantara mereka.
"Ti-tidak. Lepaskan aku!"
"Bagaimana dengan ciuman yang pernah kita lakukan, apa kau juga tidak merasakan apapun?" Saka masih dalam suara stabil, dia yakin ini cara terbaik untuk mendapatkan kebenaran, meski mungkin status yang kini disandangnya tidak memerlukan pengakuan Ze lagi.
"Gak... Sama sekali tidak berarti!" sambar Ze. Jangan sampai pria itu bisa mendengar debar jantungnya yang begitu kencang.
"Baiklah, kalau begitu, aku ingin kau membuktikannya!"
"Membuktikan apa?"
"Cium aku, kalau memang kau sama sekali tidak merasakan apapun, maka aku akan melepaskanmu, tidak akan pernah mengganggu mu lagi. Di rumah ini kita hanya akan jadi dua orang asing!"
Benarkah Ze harus menerima tantangan ini? Mampukah dia? Ze takut, pria itu akan dengan mudahnya mengetahui kebenaran.
Namun, Ze pikir kembali. Ini jalan satu-satunya untuk membuat Saka sadar kalau diantara mereka tidak ada hal khusus yang terjadi, tidak ada rasa dalam hati untuk satu dengan yang lain.
"Kenapa? Kau tidak berani? Aku anggap kau kalah. Aku anggap kau memang menyukaiku!"
"Kau terlalu percaya diri, Tuan. Aku tidak pernah menyukaimu!"
"Kalau begitu lalukan!" Saka memundurkan sedikit wajahnya, agar tercipta ruang. Kau akan mudah melakukan hal itu karena tidak punya perasaan apapun, kan? Ciuman itu hanya sekedar bibir ketemu bibir, hanya sebuah gumpalan daging!"
Merasa tertantang dan muak dengan kesombongan Saka, emosi Ze menutup akalnya. Apa yang dia lakukan sedetik kemudian adalah hal paling tidak rasional dalam hari itu.
__ADS_1
Ze menarik kerah baju Saka, membawa kembali wajah pria itu untuk mendekat, lalu tanpa sempat menguasai dirinya, Ze sudah menyatukan bibir mereka.