
Dalam hitungan kurang dua Minggu lagi, Airin akan menikah dengan Saka. Ya, gadis itu akhirnya berhasil mencapai tujuannya.
Airin terus mendesak Saka agar mau mempercepat pernikahan mereka. Satu tujuannya, ingin mengamankan posisinya. Airin tidak akan bisa tenang kalau Ze masih ada di rumah itu, di dekat Saka.
Berulang kali Airin sudah mencari cara agar Ze dikeluarkan dari sana, tapi tidak berhasil juga. Berulang kali memfitnah gadis itu, tapi tetap saja tidak berhasil. Dia bahkan sudah menumbalkan dirinya, mulai tersiram minyak goreng panas tidak sengaja, hingga pura-pura terjatuh ke kolam berenang, dan menuduh Ze yang saat itu berpapasan dengannya mengatakan mendorongnya, tapi Oma dan Saka tetap mempertahankan Ze.
Jadi, jalan satu-satunya menguasai Saka adalah dengan menikah dan menjadi istrinya. Secepat mungkin! Nanti kalau dia sudah menjadi Nyonya di rumah itu, segera mungkin dia akan mengeluarkan Ze dari sana.
"Sebentar aku buatkan minuman dingin," ucap Airin mengecup pundak Saka yang terlihat begitu kelelahan, duduk di sofa panjang yang ada di ruang tamu. Keduanya baru tiba di kediaman Mahesa, setelah seharian ini berkeliling mencari cincin pernikahan.
Tiba-tiba saja, Airin ingin cincinnya diganti, karena melihat Ze pernah memakai cincin yang diberikan Revan kepadanya dan hampir sama dengan cincin pernikahan mereka.
Airin tidak ingin diimbangi. Mana mungkin dia mau mengenakan cincin pernikahan yang sama dengan dikenakan oleh seorang pelayan.
Padahal seharusnya tidak jadi masalah karena cincin yang melingkar di jari Ze, hanya satu hari dipakai. Itu pun karena ia terpaksa mengenakannya. Revan memohon agar Ze mau menerima pemberiannya, tapi entah kenapa hatinya tidak tenang, terlebih ketika Saka melihat jari manisnya hari itu. Gumpalan kesedihan terlihat jelas di mata pria itu. Harusnya Ze tidak peduli, tapi entah mengapa ada dorongan untuk menyingkirkan cincin itu hanya demi membuat perasaan Saka tenang.
Sungguh tindakan yang aneh. Mereka sudah memutuskan jalan masing-masing, lagi pula selama ini Saka juga tidak pernah mengatakan tentang perasaannya kepada Ze, begitupun sebaliknya, hanya karena pernah tidur satu ranjang, dan itu pun tidak terjadi apa-apa. Tentu saja tidak perlu ada yang diingat akan hal itu oleh keduanya.
Saka belum sempat beranjak untuk mengganti pakaiannya, ketika terdengar suara mobil Revan. Sahabatnya itu kini sudah merintis usahanya sendiri dan dalam hitungan bulan usaha itu maju pesat. Saka mengakui bahwa Revan adalah orang yang pintar melihat peluang. Dia mengerti bisnis mana yang harus dia garap di saat sekarang ini.
Sayup-sayup telinga Saka mendengar suara tawa dari Ze dan Revan yang berjalan memasuki rumah dan ketika melihat Saka duduk sendiri di ruang tamu, Revan memberi instruksi kepadanya untuk masuk sementara dia akan bicara dengan Saka.
__ADS_1
"Apa kabar?" Revan lebih dulu menyapa Saka, mengambil tempat di depan pria itu.
Saka dengan angkuhnya tentu saja tidak ingin menggubris pertanyaan temannya itu, tapi setelah diam beberapa detik dan menyadari bahwa dia tidak seharusnya menyimpan dendam pada Revan. Mengapa mereka harus bermusuhan? Dia tidak boleh egois, tidak bisa menahan Ze selamanya berada di rumah itu tanpa ada seorang pria pun yang meliriknya, hanya karena rasa cemburunya. Akhirnya Saka melembut dan mau menjawab pertanyaan Revan.
"Baik. Kalian dari mana?" tanya Saka masih dengan intonasi di atas rata-rata. Sampai kapanpun dia tidak akan terima, tidak akan ikhlas kalau Ze jalan dengan Revan atau pria manapun itu. Dia sadar, sangat egois memang, padahal hitungan hari dia akan menikah dengan Airin. Hatinya sulit berkompromi.
"Dari toko buku, Ze ingin membeli beberapa novel dan juga buku bacaan lainnya. Tampaknya kalian juga baru datang?" tanya Revan dengan mengamati penampilan Saka yang masih mengenakan kemeja.
"Kami baru saja mengambil cincin nikah."
Kembali hening. Suasana mendadak canggung. Keduanya saat ini memikirkan Ze, dan seolah sama-sama tahu apa isi pikiran masing-masing.
"Kau harus mengadakan bachelor party!" Revan mengukir senyum di sana.
"Gak usah lah!" balas Saka tidak bersemangat. Baginya hanya pesta membosankan yang dihadiri para pria hidung belang yang berdansa sampe teler dengan wanita yang disewa sebagai performer dalam pesta lajang itu. Dia masih ingat jelas, saat pesta lajang Bima, malah saat itu Bima bercinta dengan salah satu gadis yang disewa untuk memeriahkan acara itu.
"Jangan menolak! Aku dan Bima sudah merencanakan pesta itu bersama teman-teman terdekat kita," sambar Revan memutus pembicaraan.
Suara derap langkah Airin terdengar dari dalam, menghentikan pembahasan itu sampai di sana saja. Tak lama muncul dengan secangkir teh. "Sayang, barusan ibu menghubungiku, katanya aku diminta segera pulang, karena orang yang akan mendekor apartemen itu sudah di rumah," ujar Airin dengan tergesa meletakkan cangkir di atas meja.
"Sorry, Airin. Kamu pulang bareng sopir aja, ya. Kepalaku sakit. Butuh istirahat."
__ADS_1
Airin ingin protes, tapi dia memang melihat wajah Saka yang tampak lelah. Bayangkan saja lebih lima jam mereka memutari beberapa mall.
"Sebenarnya aku gak mau diantar sopir, Sayang," rengeknya, tapi untuk memaksa pun tidak enak hati.
"Ya sudah, biar aku yang antar Airin pulang," timpal Revan. Tepat dengan Ze yang juga muncul membawa minuman untuk Revan.
"Loh, mau pulang?" tanya Ze yang begitu meletakkan cangkir lengkap dengan tatakannya, Revan juga bangkit dari duduknya.
"Iya. Besok aku ke sini lagi. Sekalian ngantar Airin," ucap Revan menatap Ze, mencari tanda, apa gadis itu akan cemburu, bahkan Revan sempat berharap dalam hatinya, kalau Ze akan keberatan kalau Revan mengantar Airin. Namun, semua itu hanya ada dalam angan. Ze mengangguk dan mengembangkan senyum yang mendukung niat Revan.
Hanya Ze yang mengantar Revan dan Airin hingga sampai ke mobil, lalu saat dia kembali masuk dan berniat untuk terus melangkah tanpa menoleh ke arah Saka, rintihan pria itu yang mengadu kesakitan akhirnya membawa pandangannya pada Saka.
"Tuan kenapa? Apa yang sakit?" Ze mendekat, melupakan rasa kesalnya pada pria itu. Tampaknya rasa panik yang melanda hatinya, dan menguasai pikiran saat ini.
"Bisakah kau membantuku naik ke kamar kepalaku sakit rasanya mau pecah," jawab Saka terbata. Memijat keningnya yang seperti mau meledak.
Ze segera membantu Saka bangkit dan memapah pria itu menuju kamarnya. Rasa ibanya muncul, tidak tega melihat rasa sakit yang tampaknya benar-benar dilanda Saka.
Ze keluar dan tak lama kembali dengan membawa minyak angin di tangannya. Penuh rasa segan, dia mengutarakan maksudnya kepada Saka, meminta izin terlebih dahulu agar pria itu tidak beranggapan lain padanya.
"Apa Tuan mau saya oleskan minyak ini di punggungmu? Tampaknya Tuan masuk angin."
__ADS_1