
Hari itu kembali terjadi pertengkaran hebat di rumah kediaman Mahesa. Saka benar-benar marah atas apa yang sudah dilakukan oleh Airin pada Ze, begitupun dengan Oma yang sedang sempat memaki Airin tadi.
Namun, tidak ingin masalah semakin melebar, Saka yang masih dikuasi emosi segera menarik tangan Aira ke kamar mereka.
"Kau memarahi ku hanya demi membela gadis itu?" teriak Airin yang sejak tadi sudah mulai menangis karena dimarahi Oma.
"Apa kau gak sadar juga, kalau yang kau lakukan itu salah? Kau bisa saja membunuh Ze!" Saka semakin kencang berteriak. Ingin rasanya menampar Airin agar gadis itu sadar kalau dia sudah salah.
"Aku gak peduli. Aku bahkan bisa membunuh kalau ada wanita yang coba mengambil mu dariku!"
"Kau bicara apa?"
"Jangan berpura-pura. Aku tahu kau suka pada pelayan itu!" Tangis Airin pecah, histeris lalu memilih meninggalkan kamar. Di ruang tengah dia berpapasan dengan Ze dan emosinya kembali meledak.
"Dasar pelayan brengsek! Wanita gak tahu malu!" umpatnya berlari ke arah Ze lalu menjambak rambut Ze.
Tentu saja Ze tidak tinggal diam, dia juga kembali menjambak rambut Airin, bahkan sempat mencubit lengan Airin hingga gadis itu mengaduh kesakitan.
Teriakan Airin seolah akan dibunuh membuat Saka bergegas keluar dari kamar dan berlari mencari sumber suara.
Melihat keduanya wanita itu saling baku hantam, Saka menarik salah satu dari mereka.
__ADS_1
"Apa yang kalian lakukan? Kenapa bertengkar?"
Saka sudah berdiri di tengah mereka. Kedua wanita itu tampak aut-autan dengan rambut acak kadut.
"Aku tidak ingin melihatnya lagi. Kau wanita busuk, yang mengharapkan suamiku menjadikanmu simpanannya, ya?"
"Airin, cukup! Kata-kata mu keterlaluan!" bentak Saka hilang kendali. Istrinya benar-benar wanita gila!
"Aku tahu dia juga menyukaimu!" lanjut Airin menatap hina pada Ze, lalu meludah ke lantai. Ze hanya bisa diam, tak bisa berkata apapun lagi, karena tidak semua yang dikatakan Airin itu salah.
"Kenapa kau diam? Kau mau membantah omonganku kalau kau mencintai Saka?" umpatnya.
Wajah Ze memerah, Saka menatapnya wajah Ze, dia pun ingin mencari kebenaran atas tuduhan Airin.
"Kau gadis tak tahu malu, kalau kau punya sedikit saja harga diri tinggalkan rumah ini!" bentak Airin yang sudah tidak tahan lagi.
Harga diri Ze terbakar, dia tidak terima berulang kali Airin menghinanya.
"Oke, baik. Aku akan pergi dari rumah ini!" jawabnya dengan suara lantang, lalu menoleh pada Saka. Dia benci pria itu karena tidak mengatakan apapun saat Airin mengusirnya.
Ze segera meninggalkan mereka hingga tidak sempat mendengar Saka marah bahkan hingga menampar Airin.
__ADS_1
"Kau malah memukulku? Aku istrimu!"
"Kalau kau mau tahu, aku menyesal menikah denganmu! Aku pikir cinta yang dulu aku rasakan padamu masih ada, kini sudah hilang dengan sikap buruk mu ini. Aku peringatkan kau, jangan pernah menyakiti Ze apa lagi mengusirnya dari rumah ini!" bentak Saka lalu berlalu meninggalkan Airin yang memegangi pipinya yang terasa perih.
***
Dengan air mata, Ze mengepak semua barang-barangnya. Kali ini dia benar-benar pergi dari rumah ini dan tidak ingin kembali lagi. Cukup sudah Airin menghinanya. Kalau bukan karena Oma yang menahannya untuk tidak pergi dari sini, sejak hari pernikahan Saka dengan Airin, Ze sudah mengajukan diri untuk meninggalkan rumah ini.
Namun, lagi-lagi Oma melarang memohon padanya untuk tetap tinggal, hingga Ze mengalah. Namun, tidak untuk kali ini.
Dalam hatinya dia sudah bertekad, besok pagi dia akan bicara dengan Oma, pamit dengan baik-baik. Dia akan pergi meninggalkan rumah ini dengan restu Oma. Dia datang dengan keadaan baik dan pergi juga harus dengan keadaan terhormat.
Sisa malam itu Ze habiskan dengan menangis. Dia sama sekali tidak bisa tidur, seolah berlomba dengan jarum jam menunggu pagi datang. Hatinya begitu sakit, air matanya tidak mau berhenti menangisi keadaan ini.
Satu sisi hatinya tidak rela untuk pergi dari tempat itu, rumah yang sudah dianggapnya seperti rumah sendiri, terlebih ada Oma dan teman-teman yang lain yang begitu menyayanginya. Namun, dia sudah mengatakan akan pergi, Ze tidak ingin menjilat ludah sendiri. Lagi pula tidak ada seorangpun bisa menghinanya walaupun itu adalah istri dari pemilik rumah ini!
"Oma, ada yang ingin aku bicarakan," ucap Ze saat wanita itu sudah bersiap untuk jalan pagi dengan Ze seperti biasa.
"Ada apa? Mana sepatu olahraga mu?" tanya Oma yang mendelik memperhatikan Ze. Ada sesuatu yang disembunyikan gadis itu terhadapnya. Wajah Ze terlihat sangat sedih dan terluka. Pasti kalau Oma memeluknya, gadis itu akan kalah, menangis di pelukannya.
Gadis itu hanya tersenyum kecut. Tampaknya Oma tidak mendengar pertengkaran mereka tadi malam.
__ADS_1
"Maaf, Oma, aku tidak bisa menemani Oma lari pagi lagi. Hari ini aku mau izin untuk pergi dari rumah ini. Aku ingin berhenti bekerja, Oma. Aku pamit," ucap Ze dengan suara bergetar dan air mata yang ditahannya agar tidak turun.