
Mungkin Saka merasa dirinya pintar, tapi Revan lebih cerdik. Paginya saat akan berangkat ke kantor polisi, Revan sudah terlebih dulu menghubungi Oma, menjelaskan keadaannya. Hanya akal-akalan Saka saja mengajaknya ke Bandung, karena jadwal mereka ke sana justru Minggu depan karena baru beberapa hari lalu mereka mantau lapangan.
"Kau tidak susah khawatir, Oma akan meminta pada Saka untuk membatalkan niatnya ke Bandung."
"Caranya Oma? Jangan sampai dia tahu kalau aku yang ngadu sama Oma," ujar Revan jadi merasa bersalah.
"Jangan ajari ikan berenang!"
***
Semua bukti sudah dilampirkan oleh Saka, begitupun hasil visum dirinya setelah dipukuli. Polisi sudah menerima laporan, dan mengetahui siapa yang buat laporan, tentu saja pihak yang bersangkutan tidak akan berani mengabaikan laporan itu.
"Loh, Bos, kenapa Bos yang nyetir?" tanya Revan menahan senyumnya. Dia sudah curi dengar tadi Oma menghubungi Saka. Wanita itu memintanya segera pulang setelah urusan selesai karena tiba-tiba merasa kedinginan.
"Oma sedang tidak sehat, kau cepatlah pulang!"
Hanya itu yang Oma katakan, jadi dia tidak bisa membantah lagi dan berniat pulang saja.
"Kau pulang lah. Kita ke Bandung lain waktu!" Saka masuk lalu melajukan mobilnya. Bahkan tidak sudi untuk mengantar Revan pulang. Tapi, tidak masalah, justru itu yang diinginkan Revan.
"Oma kenapa? Apa yang terjadi Oma?" tanya Saka menerobos kamar Oma. Dengan kecepatan tinggi dia membelah jalanan. Tidak mempedulikan keselamatannya karena merasa khawatir pada Oma.
Namun, apa yang dia dapati? Oma nya justru dengan santainya makan rujak bersama Wati di kamar wanita itu. Duduk santai di balkon dengan begitu banyak menu makanan yang terhidang di atas meja.
__ADS_1
"Apa yang Oma lakukan? Bukannya Om mau bilang sedang sakit dan memintaku untuk buru-buru datang kemari?" pekik Saka yang tidak menyangka mendapati dirinya sudah dibohongi oleh wanita itu.
"Oma minta maaf, bukan bermaksud untuk membuatmu khawatir. Tadi Oma memang sakit tapi, alhamdulillah sekarang sudah baikan. Sini temani Oma makan rujak." Tangan Oma melambai ke arah Saka yang semakin membuat pria itu kesal.
Rasanya kepala Saka ingin pecah. Mau marah tapi tidak enak hati, takut dikata tidak sopan pada orang tua. Tidak marah, dia yang jadi bersungut-sungut dan begitu mengubah mood-nya menjadi sangat tidak baik. Tidak tahu apa yang harus dilakukannya, akhirnya Saka memilih untuk pergi dari sana.
"Oma bilang berhenti! Kamu tidak sopan. Oma sedang mengajakmu bicara tapi kau justru pergi begitu saja!" hardik Oma berang.
"Oma sadar nggak sih kalau apa yang sudah Oma perbuat ini membuatku kesal setengah mati? Oma nggak tahu, kan, berapa besar kecepatan yang aku ambil hanya untuk bisa sampai di rumah dengan cepat untuk melihat keadaan Oma? Tapi begitu sampai, Oma malah asyik-asyik kan makan rujak di sini!" Umpat Saka meremat sisi celananya. Hanya Omanya saja yang bisa membuatnya marah.
"Loh, kok, marah? Salah Oma di mana? Tadi waktu Oma hubungi, memang lagi sakit Apa kamu nggak senang kalau Oma ternyata sudah sembuh?" Kali ini Oma ingin memutar keadaan. Tentu saja dia tidak mau disalahkan, jadi lebih baik menyalahkan orang lain saja.
"Aku malas berdebat!" lanjut Saka, lalu pergi dari kamar itu, tidak peduli walau Oma terus memanggil-manggil namanya.
Saka tidak tahan lagi. Rasa sakit di kepalanya benar-benar semakin memperparah keadaannya. Mungkin juga efek karena dia memang kurang tidur. Jadi, ia memutuskan untuk menenangkan hatinya dan mendinginkan kepalanya dengan berbaring di kamar.
Anehnya, hal pertama yang dia ingat adalah Ze. Bukan tanpa alasan karena dia baru saja memimpikan gadis itu.
Dalam mimpinya Revan datang menjemput Ze dan mereka pergi dengan wajah yang tampak sangat gembira, menoleh ke belakang melihat Saka yang berdiri mengamati langkah mereka sembari melepaskan senyum mengejek padanya.
Bergegas Saka segera menghambur keluar. Dia segera mengetuk pintu kamar Ze, ingin mencari gadis itu, tapi tampaknya ruangan itu kosong. Lalu dia mencari Ze di dapur, tapi tetap juga tidak menemukan sosok yang dia cari.
Satu tempat lagi yang harus dia cek dan diyakini pasti menemukan Ze di sana, yaitu ruang perpustakaannya. Sejak diberi izin untuk menggunakannya, Ze lebih sering menghabiskan waktu luangnya untuk membaca buku di sana. Tapi, lagi-lagi dia tidak menemukan gadis itu.
__ADS_1
"Kau mencari siapa?" tanya Oma yang sudah berdiri di belakangnya.
"Oma kemana Ze? Aku ada perlu dengannya!" tanya Saka yang tidak ingin dicurigai oleh Oma karena bermaksud untuk menghalangi gadis itu pergi dengan Revan.
"Oh, sejak pukul 06.00 sore tadi, Revan sudah datang menjemputnya. Mereka ada kencan malam ini. Nanti saja kalau sudah kembali, tapi jam berapa dia akan kembali, Oma juga gak tahu. Lebih baik besok saja kau mencarinya!" tukas Oma dengan penuh kemenangan.
Wajah Saka memerah. Dia bisa menebak bahwa ini adalah siasat Oma dan Revan.
Saka tidak mengatakan apapun lagi kepada Oma. Dia berlari menuju kamar guna mencari ponselnya. Dia akan meminta ze untuk kembali pulang, saat ini, detik ini juga!
Sial! Rasanya amarah Saka sekolah digulung bak ombak yang siap menghantam batu karang. Panggilan yang berulang kali dia lakukan ke nomor gadis itu tidak mendapat jawaban. Entah sengaja atau tidak, Ze tidak mau mengangkat teleponnya.
Kembali dia membuka kontrak di ponselnya, memilih nomor yang ada di layar ponselnya. Segera Saka mengalihkan panggilan itu pada Revan. Kalau Ze tidak menjawab, Revan tidak mungkin berani untuk mengabaikannya. Tapi sial, ponsel Revan tidak aktif!
"Sial!" pekiknya melemparkan ponsel itu ke atas ranjang, lalu dengan geram menendang dipan ranjang.
Saka memutuskan untuk mendinginkan kepalanya. Dia benci dengan semua orang yang berusaha untuk mempermainkannya. Mungkin mandi adalah solusi terbaik, setelahnya dia akan pergi keluar untuk mencari Ze.
"Kau sudah rapi? Memangnya kau mau ke mana?" tanya Oma mencegah langkahnya yang ingin keluar dari pintu rumah.
"Ada urusan, Oma. Mungkin aku akan pulang terlambat," ucap Saka.
"Oma tidak mengizinkanmu untuk pergi malam-malam begini, sendirian pula! Apa kau tidak ingat bahwa beberapa hari lalu, kau baru diserang? Kau mau dikeroyok lagi dan babak belur?*
__ADS_1
"Oma tenang saja, itu tidak akan terjadi lagi padaku," jawab Saka segera keluar dari sana.
"Kau di mana, Bim? Cepat temui aku di bar biasa. Aku ingin kau membantuku menemukan keberadaan Ze, karena tampaknya Revan sudah membawa kabur gadis itu dan aku pastikan Revan akan menerima bogem mentah dariku!" salaknya menutup sambungan sepihak, tanpa mendengar jawaban Bima.