Kalau Cinta Jangan Marah

Kalau Cinta Jangan Marah
Chapter 25


__ADS_3

"Siapa wanita yang ada di dalam sana?" bentak Airin. Dia jelas tahu kalau tidak sembarang orang bisa masuk ke ruangan Saka. Kalau dia bisa beristirahat di dalam sana, berarti dia bukan gadis sembarang. Dia punya akses untuk masuk, dan Saka harus menjelaskan siapa gadis itu!


Saka bergegas melihat ke dalam ruangan. Walaupun dia sudah tahu dia bisa menebak siapa gadis yang ada di dalam sana.


"Ze, ayo, bangun! Hei, bangun," ucapnya menepuk pipi Ze pelan. Airin yang berdiri diambang pintu, merasa tercengang melihat cara Saka memperlakukan gadis itu. Siapa sebentar gadis yang ada dalam ruangan itu?


Kenapa Saka memperlakukannya dengan begitu lembut? Airin mengenal keluarga Saka. Dia hanya punya Oma, tidak ada saudara kandung, lantas siapa gadis itu?


Pertanyaan itu terus berulang dalam benaknya.


"Ayolah, Ze, bangun!" Kali ini Saka menepuk pipi Ze lebih keras hingga berhasil membuat bola mata gadis itu terbuka lebar.


Airin tidak sabar. Dia tidak suka kalau kekasihnya itu memperlakukan wanita lain selembut itu. Dia cemburu!


"Tuan, kau sudah pulang? Kemana aja? Kenapa lama sekali? Kau juga tidak mengabari ku seperti janjimu!" celoteh Ze yang mencoba menstabilkan penglihatannya.


Lalu bola matanya tertuju pada Airin. Sisa ngantuknya tadi seketika hilang. Ze menegakkan tubuhnya, perlahan bangkit dari duduknya.


Saka menoleh pada Airin, melihat wajah menyeramkan gadis itu, dia segera keluar dari ruangan.


Airin lebih dulu pergi, lalu mengambil tempat di salah satu kursi di ruang itu. Kini pandangannya dikurung oleh tas berisi bekal makanan. Aroma nikmat menusuk hidung Airin.


"Ai, ini, Ze," ucap Saka yang tidak ingin kekasih hatinya salah sangka. "Dia..." Saka diam, dia tidak tahu harus memperkenalkan Ze sebagai siapa, takut Ze jadi berkecil hati, padahal dia kan memang pelayannya.

__ADS_1


"Siapa dia? Kenapa dia bisa seenaknya masuk dan tidur di dalam itu?" sosor Airin judes. Siapa pun yang coba merebut Saka darinya akan dia habisi.


Ze yang mengerti dengan keadaan menegangkan ini segera ambil alih, memperkenalkan dirinya kepada Airin agar gadis itu tidak salah sangka dan marah kepada Saka.


Ze menebak kalau Airin adalah kekasih Saka. Namun, yang jadi pertanyaan kalau memang gadis itu adalah pacar Saka, kenapa oma mencarikan jodoh untuk Saka? Kenapa Oma begitu getol ingin menikahkan Saka dengan Kiara kalau ada gadis secantik ini di sisi Saka?


"Maaf, Mbak. Aku Ze, pelayan di rumah Oma. Setiap siang datang ke sini untuk mengantar makan siang Tuan Saka. Maaf, tadi saat menunggu tuan datang, aku mengantuk sekali. Maaf, karena sudah lancang ke ruangan itu," ucap Ze dengan nada tegas. Dia coba kuat, jangan sampai menoleh pada Saka, nanti dia jadi cengeng lagi.


"Lancang benar kau sebagai pelayan, tidur di tempat bosmu?" hardiknya tidak senang. Dalam hatinya lancang sekali pelayan ini.


"Sudahlah, Airin. Tidak usah kita perdebatkan. Aku yang mengizinkan Ze untuk beristirahat saat menunggu ku. Apa kau sudah makan? Kita makan, ya?" Saka berusaha untuk mengalihkan tapi pembahasan agar Airin tidak terus menyerang Ze.


"Kamu belum makan ini lewat jam makan siang! Udah hampir jam tiga?" pekik Airin merasa kasihan pada Saka. Dia pasti bekerja keras sehingga tidak memiliki waktu hanya untuk makan saja.


"Kasihan banget kamu. Ini makan siangnya?" tanya Airin melunak dan segera membuka isi tas itu, lalu mengeluarkan bekal makanan dan segera menghidangkan nya di atas meja.


Ze yang melihat dirinya tidak dibutuhkan lagi, memilih untuk pamit keluar dia tidak ingin mengganggu sepasang kekasih itu.


"Hei, kok bengong? Lagi apa? Kenapa duduk di sini sendirian?" tegur Revan, mengambil tempat tepat di sebelah Ze. Sofa tempat Ze menunggu Saka saat pertama kali datang ke kantor ini.


"Hei, Mas Revan," ucapnya tersenyum melihat ke arah pria itu, lalu kembali melihat ke depan.


"Kamu kenapa duduk di sini? Biasanya nungguin Saka di dalam? Mana pria itu? Apa dia mengusirmu keluar?"

__ADS_1


Kalau benar Saka mengusir Ze, Revan benar-benar akan protes pada Saka. Dia tidak akan membiarkan pria itu semena-mena kepada Ze. Mungkin di mata Saka, Ze adalah gadis biasa, seorang pelayan yang bekerja di rumahnya, tapi tidak bagi Revan. Untuk pria itu, penilaiannya terhadap Ze sangat tinggi. Dia bahkan sangat menyukai gadis itu.


"Bukan... Bukan begitu, Mas. Aku yang memilih keluar, nggak enak ganggu orang pacaran. Lagi pula tadi aku ketiduran saat menunggu tuan Saka datang, pacarnya tampaknya nggak senang karena aku menggunakan ruang beristirahat Tuan Saka. Jadi, sempat terjadi pertengkaran kecil dalam sana. Daripada semakin runyam, dan amarah non Airin semakin besar, lebih baik aku yang keluar Ze," terang Ze santai. Dia juga gak keberatan kalau harus meninggalkan mereka berdua. Hanya di bagian hatinya kenapa ada rasa tidak ikhlas?


"Apa? Pacar? Siapa katamu namanya? Airin?kamu gak salah mendengar nama gadis itu?" tanya Revan yang mulai tertarik dengan topik yang mereka bicarakan. Tidak mungkin Airin yang dia kenal. Airin yang bertahun-tahun lalu pacaran dengan Saka lalu dikabarkan meninggal yang membuat hidup Saka terguncang, menjadi pria pemabuk, frustasi dengan hidupnya tidak punya semangat.


"Benar kok, tuan Saka aja manggil Airin, Mas. Aku gak salah dengar. Memangnya kenapa?" tanya airnya yang kini jadi penasaran.


Revan semakin penasaran. Dia ingin sekali mendatangi Saka ke ruangannya, tapi hal ini lebih serius dan kalau Revan menganalisa kalau ini bukanlah kali pertama Saka bertemu dengan Airin setelah kabar kepergian di atas itu.


Dari kejadian ini, Revan mengerti bahwa Saka sudah berubah. Dia tidak menceritakan apapun kepadanya dan juga Bima, menyimpan rahasia dan masalah sebesar ini hanya untuk dirinya sendiri.


Memangnya apa pernah mereka menghakimi Saka ketika berhubungan dengan Airin, yang walau pada kenyataannya dia susah dekat dengan Revan dan Bima. Saka menyimpan rapat berita tentang kepulangan Airin. Kenapa setelah gadis itu, Saka tidak memberitahukan mereka tentang hal ini?


"Kamu tunggu di ruanganku aja, ya. Nanti kalau dia tidak menghantar mu pulang, biar aku yang antar," tawar Revan yang tidak tega melihat Ze duduk sendiri di lobi ruang tunggu ini.


Ze menimbang, mungkin Saka juga akan lama bersama dengan Airin. Dia tidak ingin pulang terlalu malam lagi. Mereka yang enak-enakan pacaran di dalam ruangan, tapi Ze yang terlantar.


Dengan penuh keyakinan, Ze ikut dengan Revan ke ruangannya.


"Masuk, Ze. Anggap ruangan sendiri," goda Revan menawarkan Ze duduk. Tak lama dari kulkas mininya, dia mengambil softdrink, lalu menyuguhkan pada Ze.


"Diminum ya, Ze. Kalau kurang tinggal bilang, nanti kita pesan online, yang penting kau senang dan nyaman, oke?"

__ADS_1


Ze menatap kagum dan penuh hormat pada Revan. Pria itu begitu baik hatinya dan sangat ramah. Sangat berbeda dengan Saka. Andai sedikit saja Saka punya hati sebaik Revan, pasti Ze bisa jatuh cinta.


__ADS_2