
"Terimakasih sudah mengantarkan ku pulang, ya, Mas. Maaf terus saja merepotkan," ucap Ze setelah turun dari mobil Revan. Untung saja Revan mengajaknya menunggu di ruangannya, kalau tidak, Ze pasti terlantar lagi.
Bagaimana tidak, saat jam bubar kantor tiba, Revan segera bergerak menuju ruangan Saka. Dia cuma ingin memastikan pria itu, kalau memang tidak bisa mengantarkan Ze pulang, maka dia dengan senang hati mengantar gadis itu.
Namun, saat pintu akan dibuka Revan, Anita yang juga tangan bersiap-siap untuk pulang, mengatakan kalau setengah jam lalu, Saka dan juga Airin pergi dari sana. Lagi-lagi dia mengabaikan Ze.
"Mereka sudah pulang, Ze. Kamu aku antar aja ya," ujar Revan saat kembali ke ruangannya. Dia bisa menangkap raut kesedihan dia wajah gadis itu. Ze hanya bisa mengutuk Saka karena sudah meninggalkannya lagi. Ze menerima tawaran Revan untuk mengantarnya pulang.
"Gak merepotkan, kok. Justru aku yang senang karena bisa jalan bareng denganmu. Dengar Ze, kalau nanti aku ajak kamu nonton, mau, ya?" desak Revan.
"Nonton? Mas gak malu jalan sama pelayan?"
"Sama sekali gak. Semua kita ini sama, bedanya hanya akhlak saja. Lagi pula ini sebatas pekerjaan. Udah deh, Ze, jangan minder, kamu itu cantik dan sangat baik hati," nasehat Revan yang buat Ze menunduk, tersipu malu.
"Jawab dong, Ze!"
"Iya deh, tapi ntar tanya Oma dulu, boleh apa gak."
"Kalau Oma gak izinkan, aku yang akan minta restu dari Oma, pasti dikasih," terang Ze, lalu setelahnya Revan pamit pulang. Dia memang gak mau masuk ke rumah, malas ketemu Saka saat ini.
***
"Mana Saka? Apa dia membiarkan kau pulang sendiri lagi?" Oma menyambut kepulangan Ze. Sudah sedikit telat dari jam pulang mereka biasanya. Oma ada perlu dengan Ze. Dulu, gadis itu sempat mengurut badan Oma, dan hasilnya sangat memuaskan.
"Iya, Oma. Tapi biarin aja lah, Mas Revan mau kok nganterin aku, Oma," jawab Ze memeluk pinggang Oma. "Apa masih sakit pinggangnya, Oma?" tanya Ze mengalihkan topik.
"Masih sakit. Makanya mau minta kamu untuk mengurut pinggang Oma lagi," lanjut Oma yang dengan cepat diangguk Ze.
__ADS_1
"Eh, tunggu dulu, kau belum kasih tahu kenapa Saka meninggalkan mu? Kemana dia pergi?"
Ze awalnya tidak ingin membahas atau pun mengatakan perihal kedatangan gadis itu ke kantor, tapi Ze merasa itu bukan ranah dia menjelaskan hal itu.
"Tadi tuan Muda ada tamu. Dia pergi sama gadis itu," terang Ze seadanya. Jangan sampai Oma berhasil menang mancingnya untuk bicara. Hingga saat ini masih belum bisa berhasil keluar dari perangkap Oma. Wanita itu begitu pintar mengolah kata hingga tanpa sadar oleh lawan bicaranya yang akan membukakan hal yang ingin diketahui.
"Katakan siapa orangnya? Aku tahu kau mulai menyembunyikan sesuatu dari ku sejauh ini. Katakan Ze, ada apa? Siapa nama gadis itu?"
"Airin!"
Seketika raut wajah Oma berubah. Matanya melotot tanpa sadar dan bibir menganga. Oma sama sekali tidak memasukkan nama itu sebagai tebakannya. Hanya ada beberapa nama yang melintas dalam benak Oma, tapi bukan dia.
"Kau bilang siapa nama gadis yang bersama Saka?"
Kali ini Ze yang merasa terkejut. Sejak dia menyebutkan nama gadis itu pada Revan dan Oma, bola matanya mereka membulat dan wajah terkejut, sebenarnya ada masalah apa ini? Kenapa nama Airin begitu berpengaruh pada semua orang yang ada di sekeliling Saka.
"Kalau Airin yang kau lihat bersamaan dengan Saka itu adalah Airin yang selama ini dicintai Saka, maka hal itu perlu dipertanyakan. Bagaimana mungkin orang yang sudah dikabarkan meninggal bisa hidup lagi?"
"Maksudnya gimana, Oma? Jadi bingung!"
"Airin kekasih Saka, bisa dibilang pengendali hidup Saka karena pria bodoh itu sangat mencintai Airin. Mereka akan menikah, walau Oma kurang suka pada pribadinya, tapi demi kebahagiaan Saka, Oma akhirnya menyetujui rencana mereka yang akan menikah. Seminggu setelah bertunangan, Airin menghilang. Saat itu Saka lagi ada di Swiss. Karena rasa cintanya yang begitu besar dan sangat khawatir pada keberadaan Airin, Saka pulang meninggalkan pekerjaan demi mencari Airin. Seminggu mencari, Saka mendapatkan kabar kalau Airin mendapat kecelakaan dan dinyatakan meninggal. Saka mendatangi keluarganya, tapi mereka hanya bisa menunjukkan makam Airin. Sejak itu dunia Saka hancur. Dia membenci dan menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi pada Airin!"
Oma berhenti pada kata Airin. Penjelasan wanita itu cukup jelas dipahami oleh Ze, dan dia sangat mengerti apa arti Airin bagi kehidupan Saka. Kembali ada denyut sakit di hatinya menyadari hal itu.
"Aku yakin pasti itu dia, Oma. Aku lihat cara Tuan Saka memperlakukan Mbak Airin."
Oma melihat sendu di wajah. Sulit untuk memutuskan, apa itu rasa cemburu atau memang Ze hanya sekedar berempati.
__ADS_1
Sudah pukul 11 malam, tapi Saka belum juga kembali. Oma dengan sabar menunggu pria itu pulang dengan setumpuk pertanyaan di benaknya. Apa sebenarnya yang terjadi, kenapa tiba-tiba saja sosok Airin kembali muncul?
15 menit berlalu, barulah suara mobil Saka memasuki halaman rumah. Seperti biasa cahaya mulai dari ruang depan hingga ruang tengah dipadamkan, hanya lampu hias yang menerangi ruangan itu.
Oma bersiap, dia menegakkan tubuhnya untuk menyambut Saka yang diperkirakan sudah mulai memasuki rumah.
"Astaga, Oma. Sedang apa di kegelapan malam begini? Bersemedi?" pekik Saka yang terkejut. Dia berjalan santai memasuki rumah sembari bersiul, tiba-tiba saja dikejutkan sosok Oma yang berdiri di tengah ruang tamu yang akan dilewatinya.
"Kau masih ingat pulang? Jam berapa sekarang? Apa kau pikir rumah ini adalah kos-kosan?" Oma tidak bisa menyembunyikan rasa kesalnya. Dia sudah berjanji akan bersikap baik pada Ze, tapi belum sehari, udah berulah lagi.
"Sorry, Oma. Aku banyak kerjaan. Apa Ze sudah pulang?"
"Kau gila atau apa. Jam segini baru kau pertanyaan keberadaan Ze? Kemana saja kau?" Oma benar-benar terpancing amarahnya.
"Aku, kan, udah minta maaf, Oma. Udah ya, aku mau ke kamar, capek kau istirahat. Oma juga tidur, jangan begadang terus, gak baik buat kesehatan," ucapnya melangkah. Dia dia tidak ingin memperkeruh suasana, beban pikirannya juga sudah banyak saat ini.
Airin merengek, meminta untuk segera menikahinya. Saka bukan tidak mau, hanya saja dia ingin semua sesuai aturan yang berlaku. Bagaimana mungkin dia menikahi dengan Airin bulan ini, sementara status gadis itu masih istri orang.
Saka sudah menjelaskan pada gadis itu. Dia akan berupaya menyiapkan orang yang mengerti hukum pernikahan, dan membantu menyelesaikan masalah Airin dan suaminya, melayangkan gugatan cerai, baru setelah sah menjanda, baru Saka akan menikahi Airin.
Gadis itu ngambek. Dia mengancam tidak akan mau bertemu Saja lagi.
"Kalau kamu gak mau nikahi aku dalam waktu dekat ini, sebaiknya kita gak usah bertemu lagi!" ancam Airin.
Alasan Saka lama pulang karena harus membujuk Airin, hingga gadis itu mau mengerti.
Langkah kaki Saka terhenti kala Oma angkat bicara lagi. "Oma ingin bicara tentang Airin!"
__ADS_1