Kalau Cinta Jangan Marah

Kalau Cinta Jangan Marah
Chapter 40


__ADS_3

Hiruk pikuk suara puluhan pria saling memburu dengan suara musik yang sedang diaminkan oleh DJ pada bachelor party Saka.


Dia sudah menolak stag party itu, tapi Bima dan Revan memaksa. Lusa dia akan menikah dengan Airin. Semua sudah disiapkan, tidak bisa lagi mundur jika Saka menginginkannya.


Dua orang gadis yang ditugaskan untuk menemaninya malam itu tampak berusaha semaksimal mungkin untuk melunakkan saraf Saka yang tegang, tapi setiap sentuhan dan pijitan nakal yang mereka lakukan di tubuh Saka membuat pria itu justru mengabaikan, bahkan sampai marah, meminta mereka pergi dari hadapannya.


"Ayolah, Saja, rileks. Nikmati pestamu, karena setelah menikah nanti, jangan harap kau bisa menghadiri acara menyenangkan seperti ini," ujar Bima menepuk pundak Saka lalu menarik salah satu gadis yang ditolak tadi untuk menemaninya berdansa.


Saka mengamati tingkah teman-temannya, tapi hanya dia yang tahu kalau saat ini pikirannya tertuju pada Ze. Dua hari tidak bertemu Airin karena gadis itu dipingit, Saka justru tidak merindukannya. Sementara Ze yang tinggal satu atap dengannya justru terus saja bermain dalam khayalannya.


"Kau tidak menikmati pestamu?" Suara Revan muncul, begitupun dengan pemiliknya. Di tangannya membawa dua botol minuman baru, meletakkan satu diantaranya dan membuka yang lainnya.


"Minumlah," ucap Revan menyodorkan gelas kristal yang sudah berisi cairan bening tapi memiliki rasa yang menyengat.


Ya, Saka butuh itu. Dia memerlukan minuman itu untuk mengumpulkan keberanian membuang Ze dari benaknya.


Teringat kembali kala gadis itu memijat punggungnya dan kembali merawat dirinya yang sakit saat itu, mampu membuat bagian tubuhnya mengeras, dan bodohnya menginginkan gadis itu.


Kembali Saka meneguk habis minuman yang terasa membakar tenggorokan setiap melewatinya. Tapi lagi-lagi dia tidak peduli. Dia butuh menyingkirkan Ze dari pikirannya!


Pukul tiga pagi, Revan dan Bima mengantar Saka yang sudah mabuk berat. Keduanya memapah masuk ke dalam dan berniat mengantar hingga ke kamar.


"Kalian pulang aja! Aku bisa. Jangan pikir aku mabuk!" teriaknya kepada kedua temannya dan juga pak Kus yang saat itu berjaga di pos satpam.


"Kau mabuk dan jelas sekali tidak bisa jalan!" seru Revan yang kembali ingin menarik tangan Saka guna mempawah pria itu, tapi dengan cepat, Saka menolak dan kembali memerintahkan mereka pulang. Kali ini perintah itu pada Kus.


"Segera seret mereka pergi dari rumahku!"


Kus yang jadi serba salah, hanya bisa memandang kedua teman Saka. "Sebaiknya mas-mas kooperatif, pulang saja. Biar saya yang urus Tuan Saka kalau memang tidak bisa ke kamar sendiri," pinta Pak Kus yang tidak ingin mendapat teguran keesokan harinya dari Saka.


Bima pun menyeret Revan meninggalkan rumah itu. Separah-parahnya Saka teler dan tidak bisa ke kamar, pria itu sudah berada di rumahnya, jadi sudah aman lah untuknya.


Saka berjalan menuju anak tangga, setelah sempat melihat Pak Kus mengantar tamu mereka. Lalu berjalan sempoyongan, tapi tepat saat anak tangga pertama, Saka ingat akan pada Ze hingga melipir ke arah kamar gadis itu.

__ADS_1


"Aku harus bicara dengannya. Kenapa dia selalu ada dalam pikiranku? Kenapa dia menggangguku? Padahal aku dan Airin akan menikah!" sungutnya tetap menyeret langkahnya.


Tangan Saka hendak mengetuk pintu, tapi entah mengapa dia batalkan dan ternyata dugaannya tepat, Ze tidak mengunci pintu kamarnya.


Seringai muncul di bibirnya. Dengan santai dia masuk ke dalam kamar kecil itu, mendapati Ze yang tengah tertidur pulas di ranjang.


"Ze... Ze... Bangun!" ujarnya sembari mengelus pipi Ze yang lembut. Rasa dingin yang mendarat di pipinya membuat Ze membuka mata.


Begitu kagetnya hingga gadis itu berteriak, tapi sigap tangan Saka menutup mulut gadis itu.


"Ini aku, Saka."


"Ngapian Tuan ke sini? Kenapa bisa masuk?" protesnya setelah mengenai penyusup yang masuk ke dalam kamarnya.


"Kau tidak mengunci pintu kamar mu. Untung aku yang masuk, kalau orang lain, gimana?"


Ze jadi serba salah menjawab. Dia menelan saliva dengan terasa susah. Kerongkongannya kering. Ini salahnya juga kenapa sampai lupa mengunci pintu, padahal biasanya dia kunci, kok! Padahal tadi dia sedang bermimpi indah, berjalan bergandengan di taman bersama Saka. What???


Kenapa justru mimpi itu jadi nyata? Orangnya justru muncul di sini!


"Sebaiknya Tuan keluar. Katakan saja apa yang Tuan butuhkan?"


"Aku mau bicara. Sebaiknya kau tutup saja pintunya. Bagaimana kalau ada yang melihat kita pagi ini?" tanya Saka masih bisa berpikir waras. Ze pun menurut, menutup pintu kamarnya yang tidak sempat ditutup Saka.


"Jadi, Tuan mau bicara apa?" Tanya Ze menjaga jarak, dia hanya berdiri di dekat Saka.


"Kemarilah. Apa kau pikir aku rabies hingga kau menjauhiku?"


Lagi-lagi Ze menurut. Biar cepat selesai!


Saat mendekat barulah Ze sadar kalau Saka sedang mabuk, bau alkohol menyeruak dengan bebasnya ke dalam indra penciumannya.


"Anda sedang, mabuk, Tuan?"

__ADS_1


Ze jadi menyesal menutup pintu dan menanggapi perkataan pria itu soal mau bicara dengannya, lebih baik tadi dia segera membawa Saka ke kamar pria itu saja.


"Aku gak mabuk! Jangan katakan aku mabuk!" tangkisnya dengan marah. Padahal siapapun yang melihat ketidakstabilan nya, akan sepakat mengatakan kalau Saka saat ini mabuk berat.


"Baiklah, katakan!" Ze jadi ikut kesal, tidurnya jadi terganggu.


"Atas dasar apa kau masuk dalam pikiran ku? Kau selalu bermain di sana, menyiksaku. Kau tidak pernah beranjak, terus menjajah ku, dengan melengkungkan senyum seperti ini!"


Saka mengangkat garis bibir gadis itu dengan jemarinya hingga membentuk sebuah senyum yang terpaksa.


"Ayo, Tuan, aku antar ke kamar Tuan," ucap Ze yang kini menyadari tidak ada keuntungan mendengarkan celotehan orang mabuk.


Saka menangkis tangan Ze yang hendak memapahnya, dan sejurus kemudian justru menarik tangan gadis itu ke arahnya hingga tubuh langsing Ze jatuh menimpa tubuh Saka.


Keduanya saling menatap. Saka kembali mengagumi netra gadis itu. Entah siapa yang memulai, bibir mereka sudah saling bertaut. Ze yang malu-malu, kini muka berani mengeluarkan lidahnya yang segera dihi*sap Saka. Masih berlanjut, bahkan semakin panas, keduanya berpagutan dengan memainkan lidah.


Saling membelit, mencercap dan menjelajah di dalam rongga mulut masing-masing.


Desa*han lembut keluar dari bibir Ze yang gak dawai yang begitu indah di telinga Ze. Pria itu membalikkan tubuh Ze lalu menindihnya.


Tangan Saka sudah mulai tidak terkontrol, dia ingin membebaskan hasratnya yang sudah selamanya ini membelenggunya. Beberapa kali Saka bahkan sampai mimpi basah hanya karena Ze yang singgah ke dalam mimpinya.


Ini bukan mimpi. Dia bisa merasai Ze secara nyata saat ini.


Saka menarik dirinya. Mengamati wajah cantik Ze yang sudah memerah. Dia tampak sangat cantik dimata pria itu. Dorongan itu datang lagi, Saka yang sudah tidak ingat apapun, melepas baju tidur Ze yang bermotif panda.


"Tuan...," bisik Ze yang kini juga sudah terbakar.


"Secepat yang tidak bisa dibayangkan Ze, seluruh pakaiannya sudah terhempas jauh dari tubuhnya, begitupun dengan Saka. Setelah kedudukan imbang, Saka kembali naik ke atas tubuh Ze, mencium gadis itu mulai dari bibir dan turun ke leher hingga menyelusuri dua gundukan indah yang menantang ingin dirasain.


Saka tidak ingin menyia-nyiakan waktu. Dia mengambil yang kiri untuk dijilat dan dimasukkan ke dalam mulutnya. Bibirnya yang panas membakar puncak itu, sementara yang satu, berhasil ditaklukan oleh tangan kanan Saka.


Pengaruh minuman membuat Saka tidak bisa menahan lebih lama lagi. Dia menyelipkan kedua pahanya diantar tubuh Ze hingga paha gadis itu semakin terbuka lebar.

__ADS_1


"Ze, kau sangat cantik. Sangat. Dan aku sangat menginginkan mu sekarang!" ucap Saka perlahan memasuki tubuh Ze yang lemas.


__ADS_2