
"Kenapa tiba-tiba kamu meminang putriku?" Tanya Candra, menarik tubuhnya ke belakang. Dengan santai mengamati perubahan wajah Saka. Feeling-nya sudah mencapai titik puncak. Dia yakin kalau Saka lah pria yang sudah menanam benih dalam rahim Ze.
Mengingat hal itu tentu saja amarahnya memuncak, tapi dia tidak menunjukkan. Ingin tahu sejauh mana Saka berani membuka kartunya.
"Iya, Om. Aku ingin menikah dengan Ze. Aku mencintai Ze, dan ingin menghabiskan sisa hidupmu hanya untuk membuat Ze bahagia," ujar Saka memandang belahan hatinya yang duduk menunduk di samping Oma.
"Kenapa kau baru datang sekarang? Setelah semua yang terjadi? Maaf, Saya tidak bisa mengizinkan Ze menikah denganmu. Sebaiknya kalian pulang!" Tegas Candra yang membuat Oma kaget, begitupun dengan Saka.
Dia tidak menyangka kalau ayah Ze akan menolaknya. Apa mungkin karena saat itu Saka akan menolak untuk menikahi saudara perempuan Ze hingga Candra tidak memperbolehkan putrinya yang lain untuk dipinangnya?
"Tapi Om, Apa penyebab Om tidak memperbolehkan aku menikahi Ze? Kalau karena salahku yang sudah menolak lamaran Om yang pertama, aku minta maaf, tapi kali ini aku serius dengan Ze. Aku sangat mencintainya, Om. Aku mohon jangan pisahkan kami," pinta Saka memelas. Bisa gila dia kalau sampai dilarang menikahi Ze.
Candra mendengus kesal, menampilkan wajah muak nya. "Kau bilang cinta? Kemana saja kau selama ini? Setelah semua penderitaan yang kau sebabkan dan terjadi pada Ze, kau datang mengatakan cinta? Kalau hanya karena bayi yang ada dalam kandungannya, kau tidak perlu khawatir, aku yang akan mengurus cucuku!"
Semua ucapan Chandra tentu membuat bola mata Oma dan juga Saka terbelalak, terlebih Saka yang terdiam menelaah ucapan Candra.
"Cucu, Om? Ze, kau hamil?" tanya Saka kini menoleh ke arah Ze. Gadis itu terlihat panik, melayangkan tatapan sendu. Dia yang salah, harusnya dia mengatakan tentang keberadaan bayi itu sebelum Saka datang ke rumah menemui ayahnya.
"Kau tidak berhak mengintrogasi putriku! Kau juga tidak berhak atas bayi itu karena sudah membuang mereka, tidak ada kesempatan kedua untukmu. Sekarang kau pergi dari rumahku atau aku akan memanggil anak buahku untuk menyeretmu keluar dari sini!"
Ze memberanikan diri menoleh pada ayahnya. Amarah Chandra benar-benar tidak main-main, bahkan dia sendiri pun takut menatap wajah Candra.
Bagaimana ini, apa yang harus dia lakukan? Dia tidak ingin ayahnya menolak dan mengusir Saka. Dia dan bayinya membutuhkan Saka karena hanya pria itu yang bisa memberikan mereka kebahagiaan.
"Aku mohon, tolong pertimbangkan lagi permohonan kami yang ingin melamar Ze. Aku tahu cucuku sudah bersalah, bukan bermaksud untuk membela, tapi dia sendiri tidak tahu keadaan Ze yang sedang hamil. Kalau Saka tahu, tentu dia tidak akan, menikah dengan Airin," tukas Oma ambil bagian. Sejak tadi dia hanya menyimak dan mendengarkan perdebatan kedua pria itu. Namun, penjelasan Oma justru membuat Candra semakin berang, dia merasa tertipu dan semakin tidak menyukai Saka.
__ADS_1
"Apa? Jadi, kamu sudah menikah? Dasar brengsek! Kau menghamili putriku, disaat kau sudah menjadi suami wanita lain?"
Candra berdiri dengan kekuatan tersisa yang dia miliki, melayangkan pukulan yang tidak terduga oleh Saka. Rahang pria itu menjadi santapan bogem mentah Chandra.
"Awwwu...," pekik Mira.
"Papa...," teriak Ze, dia segara bangkit ke arah Saka, memegangi wajah Saka. "Apa yang Papa lakukan? Kenapa mukul Saka?" pekik Ze belum hilang dari keterkejutannya.
"Ze, kamu masuk! Pria seperti ini tidak perlu dikasihani pria brengsek yang tidak bertanggung jawab!"
"Aku gak mau, Pi. Saka ayah dari anak yang aku kandung. Aku juga cinta sama Saja, Pa." Rengek Ze memekik pinggang Saka, agar bisa ditarik oleh anak buah ayahnya yang diperintahkan untuk membawa Ze ke dalam kamarnya.
"Papa tetap tidak setuju! Kamu mau menikah dengan suami orang? Dia sudah menikah. Apa kau tidak punya harga diri lagi sampai mau menjadi istri kedua?"
Candra terdiam. Dia akui, walau sangat marah pada Saka, dia masih menghormati Oma, jadi dia tidak mengatakan apapun lagi.
Namun, tepat saja, penjelasan Oma tidak membawa pengaruh apapun. Candra tetap pada pendiriannya tidak merestui hubungan Ze dengan Saka.
"Kalian berdua, bawa Ze ke kamarnya!" perintah Candra tab segera membuat kedua anak buahnya bergerak.
"Saka...," panggil Ze yang masih berusaha ditarik. Saka pun memeluk tubuh Ze, agar jangan terpisahkan dari dirinya. Namun, saat salah satu anak buah Candra memukul pundak Saka, membuat pegangannya mengendor hingga salah satu ajudan itu mampu menarik Ze dari tubuhnya.
"Pertunjukan usai. Maaf Nyonya Mahesa, saya tetap pada keputusan di awal, tidak akan merestui pernikahan mereka."
Oma hanya mengangguk, tidak mengatakan apapun sebagai bentuk kekecewaannya. Malam itu mereka pulang dari rumah keluarga Regan dengan perasaan hampa.
__ADS_1
Saka sama sekali tidak merasakan sakit di tubuhnya akibat pukulan itu, justru rasa sakit dalam hatinya jauh lebih menyiksa dan semua itu karena dia tidak bisa mendapatkan gadis yang dicintai.
Namun, jangan harap Saka akan menyerah. Dia akan tetap berjuang sampai Candra memberi restu.
Tiba-tiba senyum melengkung di bibir Saka, meskipun sedikit terasa sakit karena bekas pukulan dari anak buah Candra. Hatinya begitu gembira mengingat bahwa anaknya sedang tumbuh dalam rahim wanita yang sangat dia cintai.
Keberadaan anak itu membuatnya semakin semangat. Besok dia akan datang kembali menemui Candra sampai pria itu bosan dan mau merestui mereka.
Sesuai dengan ucapannya, keesokan harinya dan hari-hari seterusnya, Saka akan datang ke rumah Regan untuk menemui Chandra.
Baik hujan turun dengan derasnya pun, Saka tetap datang, berdiri di depan gerbang. Dari jendela balkon kamarnya, Candra melihat Saka berdiri di tengah hujan. Namun hingga hari ketujuh dia mendatangi rumah itu, tidak juga mendapatkan kesempatan untuk bertemu dan bicara dengan Candra. Hati pria itu masih membatu.
Namun, setelah seminggu berlalu dan Saka masih akan terus datang, sebuah kabar mengejutkan justru datang dari Candra.
"Kamu bisa datang ke rumah sakit? Ze dirawat di rumah sakit Golden Heart!"
Seketika Saka melesat menuju rumah sakit. Jantungnya seakan terbang. Keringat dingin mengucur deras, dan ketakutan jelas tergambar di wajahnya.
"Ze, aku mohon sayang, bertahanlah. Jangan tinggalkan aku, Ze!" Cicit Saka selama di balik setir. Hanya perlu setengah jam, dan dia sudah tiba di rumah sakit.
Setelah bertanya pada bagian informasi, segera Saka meluncur ke ruangan Ze. Di pintu kamar Candra duduk dengan raut wajah cemas.
"Bagaimana keadaan, Ze, Om?"
"Berdoalah, semoga Ze bisa bertahan. Kata dokter, dia mengalami banyak pendarahan."
__ADS_1