Kalau Cinta Jangan Marah

Kalau Cinta Jangan Marah
Chapter 27


__ADS_3

"Oma gak setuju! Apa-apaan kamu mau menikah dengan istri orang! Belum lagi suaminya itu mafia! Jangan cari masalah, Saka, Oma bisa mati berdiri kalau begini!" teriak Oma. Wanita itu terkejut setelah mendengarkan semua penjelasan dari Saka.


Cinta sudah membutakan mata hati Saka. Dia tidak bisa lagi memilah mana yang baik dan yang salah.


Apa sih, yang sudah dicekoki oleh Airin kepada cucunya itu? Hingga membuat Saka sampai tidak bisa berpikir rasional lagi, dia memilih untuk mengorbankan hidupnya, harga dirinya hanya demi untuk mendapatkan wanita itu.


"Jangan begitu, Oma. Aku sangat mencintai Airin. Lagi pula bukannya Oma ingin aku cepat nikah?"


"Iya, tapi gak harus dengan Airin! Insyaf, Saka! Dia istri orang!" Oma tarik napas. Dia bingung harus berkata apa lagi untuk menyadarkan Saka.


"Sudahlah, Oma, jangan membuatku tambah pusing. Aku naik dulu, sebaiknya Oma juga segera beristirahat!" Saka tidak mengatakan apapun lagi, segera meninggalkan Oma dengan rasa kesalnya.


Di tengah ruang tengah, di dekat anak tangga, dia berpapasan dengan Ze yang sejak beberapa menit lalu berdiam diri di sana. Mendengar semua pembicaraan Oma dan juga Saka. Dia bukan berbuat mencuri dengar, hanya saja teriakan Oma membangunkannya.


Ze mengkhawatirkan keadaan Oma. Dia ingin tahu mengapa Oma teriak, dia takut terjadi apa-apa hal buruk terhadap wanita itu itu malam-malam begini.


Tanpa sengaja dia mendengar pembahasan mereka. Ze sudah memerintahkan pikirannya untuk segera meninggalkan tempat itu, jangan menguping, tapi kakinya tidak bisa bergerak. Saat kenyataan demi kenyataan dibuka, hatinya justru menolak, ada rasa sakit di dadanya.


"Ze, aku minta maaf. Aku kembali melanggar perjanjian kita. Besok, sepulang kerja, aku akan menemanimu membeli apapun yang kau inginkan," ucap Saka terlihat menyesal.


Dia tidak mengatakan apapun lagi, melewati Ze menuju kamarnya. Reflek saja, Ze menangkap pergelangan tangan Saka. "Mau kah kau berjanji untuk memikirkan apa yang dikatakan Oma? Itulah permintaanku atas pelanggan janjimu kemarin," ucap Ze. Dia memutuskan untuk menukar kesempatannya meminta sesuatu yang dia inginkan demi keselamatan Saka.


Ze dengar perkataan Oma kalau suami Airin adalah seorang mafia. Ze takut kalau hal buruk sampai menimpa Saka. Keduanya saling tatap, mata sendu Ze mempu membuat hati Saka menghangat.

__ADS_1


Namun, kembali dia ingat perasaannya pada Airin hingga perlahan menarik tangannya. Melepaskan tangan dan ketulusan Ze.


***


"Aku lapar sekali. Kenapa kau lama?" tanya Saka mulai menggulung lengan kemejanya ke atas. Bersiap menyantap menu makan siangnya.


Ze menyiapkan semua makanan di atas meja. Memperhatikan pria itu menyantap makannya. "Kau gak makan?" tanya Saka menghentikan menyuap makanan ke mulutnya, memperhatikan gadis itu yang masih tampak sedih.


"Aku gak lapar. Nanti saja di rumah," jawabnya singkat.


Ze benar-benar senang memperhatikan Saka yang makan dengan lahap, seraya kerja kerasnya dihargai.


Tiba-tiba ponselnya berdering. Saka segera merogoh sakunya lalu menjawab panggilan telepon itu.


Saka mengamati layar ponselnya, lalu buru masukkan ke dalam saku celananya kembali.


"Tuan mau kemana?" tanya Ze panik. Dia padahal tidak mendengar apapun perkataan orang itu, tapi dia yakin ada sesuatu hal buruk yang buta Saka harus segera pergi.


"Aku ada perlu. Kamu pulang aja duluan."


"Tapi kau belum selesai makan," ujar Ze ingin menahan Saka. Firasatnya berkata kalau ini ada hubungan dengan Airin.


"Aku udah kenyang!" Saka bergegas menuju pintu, disusul oleh Ze.

__ADS_1


"Aku ikut!"


"Ze! Kau sebaiknya pulang. Ini urusan kerjaan. Untuk apa kau ikut? Kau pikir aku mau mai"


"Aku tahu ini ada hubungannya dengan Airin. Aku ikut, aku gak akan ganggu, hanya ingin memastikan kalau Anda aman," sambarnya masih mengekor.


"Jangan uji kesabaran ku! Ingat batasanmu, Ze. Kau hanya pelayan!"


Pikiran kalut membuat Saka mengatakan apapun untuk menghentikan niat Ze yang ingin mengikutinya. Dia tahu tidak seharusnya dia berkata seperti itu, tapi dia tidak punya waktu lagi untuk memohon pada Ze untuk tetap tinggal, tidak mungkin dia membawa Ze bersamanya.


"Tangan Ze bergetar, tidak jadi memegang tangan Saka. Membatalkan niatnya untuk menghentikan langkah pria itu. Perkataan Saka sungguh menyakitkan, padahal niatnya hanya ingin memastikan bahwa Saka baik-baik saja.


***


Blum!


Satu pukulan lagi mendarat di wajah Saka. Ini sudah kali ketiga bogem mentah mengenai tubuhnya Dua di wajah satu di perutnya.


Om Bram tidak main-main atas perkataannya. Dia akan menghabisi siapapun yang mengganggu istrinya.


"Kau ternyata punya nyali juga, ya! Aku salut melihat pengorbanan mu demi Airin!" ucapnya jujur. Dia tidak menyangka kalau Saka akan benar-benar datang saat dihubungi tadi. Om Bram menjadikan Airin sebagai ancaman, jika sampai dia tidak datang, maka Om Bram akan merusak wajah cantik Airin.


Om Bram sudah mengetahui bahwa beberapa kali istrinya dan juga Saka bertemu dan hal itu membuatnya begitu marah, segera ia mencari cara untuk memberikan balasan pada pria yang sudah berani menjadi orang ketiga dan rumah tangganya.

__ADS_1


"Hajar, dia. Bila perlu, patahkan kakinya!"


__ADS_2