Kalau Cinta Jangan Marah

Kalau Cinta Jangan Marah
Chapter 29


__ADS_3

Hingga subuh keduanya tertidur di ranjang, saling berpelukan. Mentari pagi yang muncul lebih awal tidak mampu mengganggu tidur mereka yang nyenyak. Mungkin juga saat ini mereka masih berada di dunia mimpi yang sama, setelah pukul lima pagi baru bisa tertidur.


"Kemana Ze? Kenapa aku tidak melihatnya pagi?" tanya Oma pada Wati yang berpapasan di lantai dua rumahnya. Seperti biasa, Wati membersihkan lantai dua di semua sudut.


"Aku juga kurang tahu Oma, pasalnya aku juga mencarinya pagi ini di kamarnya, ingin meminjam charger ponselnya, tapi kamar itu kosong.


Seketika Wajah Oma pias. Bagaimana ini? Jangan bilang kalau Ze kabur lagi. Apa karena masalah Saka tidak mengantarnya pulang lagi?


Baru akan turun tangga, entah kenapa feeling Oma ingin sekali masuk ke kamar Saka, membangunkan pria itu. Dan begitu pintu kamar dibuka....


"Astaghfirullah, apa yang kalian lakukan?" pekik Oma terkejut. Bukan, jangan pikir keduanya berbaring dengan keadaan ragil, eh, bu*gil maksudnya. Sama sekali tidak.


Yang Oma lihat hanya dua insan yang masih terbuai mimpi tidur sambil saling berpelukan.


Teriakan Oma sontak membuka paksa mata Ze, dan segera mendudukkan tubuhnya.


"Oma!" pekiknya tak kalah nyaring. Dia juga melihat ke arah Wati yang juga ikut melotot, tapi hanya persekian detik, lalu Wati akhirnya tersenyum walau ditahan.


"Ze, kamu kenapa tidur di sini?" Oma masih tidak percaya atas apa yang dia saksikan. Diedarkannya pandangan ke sekitar kamar. Di atas nakas ada wadah berisi air, juga di dalamnya ada kain berbentuk seperti sapu tangan. Di sampingnya ada kotak p3k, dan juga beberapa obat berbentuk pil.


Kerutan di kening Oma semakin banyak, lalu netranya menatap wajah Saka yang sejak tadi tersembunyi di balik rambut Ze yang terurai di bantal.


"Astaghfirullah!" Kali kedua Oma memekik kaget sekaligus ngucap. "Kenapa wajah mu? Apa yang terjadi padamu, Saka?" pekik Oma mendekat. Ze memberi akses pada wanita itu, memilih bangkit dari ranjang, lalu berdiri di sebelah Wati yang segera menyikutnya.


Habislah dia kini. Tidak hanya Saka yang mendapat masalah, tapi juga dirinya karena sudah menyembunyikan hal ini dari Oma.


"Kalian berdua, jelaskan pada Oma apa yang terjadi!"


Saka yang sudah bersandar di headboard, masih enggan buka suara. Ekor mata melirik ke arah Ze, seolah mereka ingin berkomunikasi lewat telepati.

__ADS_1


"Kau tidak mau menjawab?" cercal Oma menuntut. Masih tidak ada reaksi dari Saka, lalu Oma memutuskan untuk menoleh pada Ze. Gadis itu lebih mudah ditekan untuk buka mulut.


"Ze, dengan sangat memohon, Oma minta kamu cerita sekarang!"


"Aku... Aku sebenarnya juga gak tahu Oma. Tuan pulang tadi malam udah dalam keadaan babak belur. Kata Pak Komar dia diturunkan oleh mobil yang tak dikenal," jawab Ze dengan pelan. Dia tidak ingin mengulang perkataannya lagi. Dia tahu pasti Saka kesal padanya karena pada akhirnya buka suara.


Benarkan, Saka kini menatap tajam padanya. Duh, jadi serba salah, deh!


"Apa benar yang dikatakan Ze? Siapa yang sudah melukaimu?" geram Oma. Dia tentu saja tidak terima kalau cucu kesayangannya ini diserang.


"Sudahlah, Oma. Hanya orang salah sasaran," jawab Saka memugar rambutnya. Dia berjalan ke arah balkon kamar, menghirup udara pagi yang segar.


Oma terus merongrong. Dia tidak puas kalau belum mendapatkan jawaban. "Jangan sampai Oma bawa kasus ini ke polisi. Katakan siapa yang sudah melakukan ini padamu!"


Sebenarnya di hati Oma sudah ada satu nama. Tapi dia tidak mau menerka dan memilih untuk mendengar jawaban dari Saka.


"Oma, aku bisa urus masalah ku sendiri. Ini hanya salah paham. Percaya padaku, Oma." jawab Saka, kemudian ngeloyor pergi ke kamar mandi.


Namun, berulang kali pun Oma memaksa, tetap saja Ze pada pernyataannya yang pertama, kalau dia tidak tahu apapun selain dari keterangannya yang pertama.


"Apa menurutmu, ini ada hubungannya dengan suami Airin? Apa mungkin pria itu memergoki mereka?" tanya Oma antusias menatap Ze. Dia perlu rekan untuk menganalisa kejadian itu bersama-sama.


Mendengar penuturan Oma, sedikit banyak Ze membenarkan hal itu. Sangat relevan, pasalnya kejadian ini terjadi setelah Saka kembali menjalin hubungan dengan Airin.


"Apa yang harus kita lakukan, Oma?" tanya Ze sedikit takut.


Oma diam sesaat, memikirkan langkah yang harus dia lakukan. Sebaiknya dia mengutus orang untuk mengikuti Saka. Kalau ada bodyguard yang bersiap menjaganya dari serangan siapapun itu, maka Oma tidak perlu khawatir lagi. Lalu dia juga memikirkan untuk memerintahkan seseorang untuk mencari tahu mengenai sosok suami Airin.


"Kita akan buat serangan balik. Lihat saja!" ucap Oma menjawab pertanyaan Ze.

__ADS_1


***


Siang hari Ze mengantar makan siang Saka ke kamarnya. Akibat luka di wajahnya, Saka memilih untuk tidak masuk kerja agar tidak menimbulkan banyak pertanyaan di kalangan karyawan.


Dia meminta Revan dan Bima yang datang ke rumahnya guna membahas pekerjaan mereka.


"Anda harus makan siang, Tuan," Uda Ze masih memegang nampan, belum berniat meletakkan di atas meja. Saka tampak baru saja menelpon seseorang. Tebakan Ze mengarah pada Airin. Jujur dia tidak suka. Karena gadis itu, Saka harus terluka seperti ini.


"Tuan!" seru Ze, tapi telinga Saka seolah tertutup hingga tidak mendengar apapun juga.


Ze paling benci dicuekin. Ada dua kemungkinan sikap Saka dingin padanya, yang pertama karena Saka sedang fokus memikirkan Airin, kedua karena pria itu kesal sebab Ze mengatakan soal perkelahiannya dengan Om Bram.


Mengingat Bram, dia mengepalkan tinju. Geram dan marah. Dia membuat Airin sebagai ancaman, kalau tidak, mau sebanyak apapun anak buah Om Bram pasti bisa dia kalahkan. Kalau pun tidak menang, setidaknya akan imbang saat bertarung.


Dia tidak bisa memukul, karena kalau sampai nekat melawan, maka Airin yang jadi sasarannya.


"Tuan budek atau apa. Aku bicara dikacangin!" pekik Ze habis kesabaran. Saka mendengus kesal, melirik Ze lalu beranjak ke ruang ganti.


"Letakkan saja di sana, Ze!" pada akhirnya Saka menjawab.


Ze akhirnya menurut, tapi dia tetap menunggu sampe Saka keluar dari ruang ganti.


"Kau masih disini?" hardik Saka menatap sini pada Ze.


"Aku gak akan pergi sebelum piring itu kosong!"


"Saka yang sedang buruk moodnya, kesal juga pada Ze, berdiri menghampiri makanan lalu berniat mengambil piring guna membuang isinya ke dalam tong sampah.


"Kosong dan isinya masuk ke dalam perut Anda semua!" tekan Ze memperjelas. Saka kembali mendelik. Dia sedang tidak ingin bermain, apalagi menerima perintah.

__ADS_1


Namun, untuk memarahi Ze, hatinya juga tidak sanggup. Damn!


Dia benci dengan kelemahannya terhadap gadis itu.


__ADS_2