
Max baru mengizinkan Ze pergi setelah gadis itu berjanji untuk menghubunginya, dan mereka akan bertemu kembali untuk meluruskan semuanya.
Semampunya, Max sudah menjelaskan kalau dirinya sama sekali tidak punya perasaan pada Nura.
"Percaya padaku, kami hanya berteman. Kalau memang kedekatan itu membuatmu terganggu, aku akan jaga jarak dengannya. Aku pikir kalau kami akrab, kamu akan senang," terang Max membela diri.
"Bullshit! Mana ada gadis yang senang melihat kekasihnya berduaan dengan sahabatnya sendiri!" pekik Ze tidak terima.
"Kalau gitu, ayo, kita temui Nura sekarang juga!"
Tekanan suara Max yang begitu meyakinkan ditambah raut wajah gelisahnya membuat Ze mulai percaya pada pengakuan pria itu.
Akhirnya luluh dan berjanji mereka akan bertemu lagi. "Asal, jangan kasih tahu sama papa tentang keberadaan ku saat ini!" ucap Ze memberi persyaratan. Max setuju, apapun akan dia lakukan, asal Ze tidak kabur lagi.
***
__ADS_1
"Itu siapa?" tanya Wati penasaran. Sejak Ze bicara dengan Max, Wati sangat bersikap ramah, senyum dan sesekali mengedipkan mata. "Tampan banget," lanjutnya.
"Teman. Wat, jangan kasih tahu sama siapapun, kalau kita ketemu dengan temanku di sini, ya," pinta Ze tidak ingin menjelaskan banyak tanya yang mungkin tertuju padanya.
Wati ingin mengajukan pertanyaan, tapi tidak jadi karena melihat wajah Ze murung.
***
Acara ini yang dinantikan Airin tiba. Harusnya hari ini dia akan menikah. Tapi seolah pernikahan mereka tidak dikehendaki alam, ayahnya tiba-tiba saja kena serangan jantung dan harus dirawat di rumah sakit, membuat acara yang sudah dipersiapakan selama sebulan ini dan sudah dibayangkan Airin akan diadakan sangat meriah, dihadiri para tamu dari kalangan orang penting, pada akhirnya harus rela menelan pil pahit. Impiannya kandas, harus menerima kalau mereka harus menunda rencana itu. Tidak mungkin pernikahan sementara ayahnya terbaring lemah di rumah sakit tidak sadarkan diri.
Menik menatap sedih ke arah suaminya. Putrinya sungguh keterlaluan, lebih mementingkan keinginan hatinya daripada harus bersusah payah prihatin atas nasib ayahnya yang mungkin saja bisa meninggal.
"Terserah kamu, Airin. Kalau kamu masih mau menikah dengan Saka selagi ayah kamu belum sadar seperti ini, Ibu bisa bilang apa? Ibu pasrah dan ikut saja apa kata kamu," jawab Menik dengan kesedihan nyata di pelupuk matanya.
Airin seakan mendapatkan harta karun dengan Menik memberikan restunya. Pasalnya tadi pagi ketika dokter sudah memeriksa ayahnya, Airin langsung menghubungi calon suaminya dan menjelaskan keadaan keluarganya saat ini.
__ADS_1
Tentu saja Saka memberi saran agar pernikahan mereka yang dilangsungkan siang nanti ditunda, tidak mungkin mereka bersenang-senang, berpesta di atas penderitaan ayahnya.
"Tapi kita bisa menikah lebih dulu tanpa harus mengadakan resepsi. Aku juga bisa dinikahkan oleh wali hakim. Ayolah, Saka, pernikahan kita harus tetap dilangsungkan hari ini!" pinta Airin bersikeras.
"Apa kau tidak punya empati terhadap ayahmu sendiri? Bagaimana mungkin ayahmu masih hidup tapi kau ingin menikah dan diwakilkan oleh orang lain? Aku tidak mau, kita tunggu saja ayahmu siuman terlebih dahulu. Lagi pula, pernikahan yang tidak direstui orang tua, tidak akan mendapatkan kebahagiaan, jadi kita harus sabar menunggu ayahmu siuman!"
Ketika Oma menanyakan perihal pembatalan pernikahan mereka, Saka segera menjelaskan panjang lebar. Wajah Oma tampak datar, tapi tak lama rekeningnya berkerut dan segera mengatakan apa yang ada dalam pikirannya.
"Sebaiknya kalian menunda pernikahan itu sampai beberapa bulan ke depan. Restu orang tua itu penting, terlebih saat ini ayahnya belum sadarkan diri. Oma merasa kalau ini adalah teguran dari yang Kuasa. Apa sebaiknya kau tidak usah saja menikah dengan Airin? Lupakan gadis itu!" seru Oma yang punya firasat buruk.
"Oma, aku mohon jangan mulai lagi!" Pinta Saka. Dia setuju untuk menunda, tapi tidak untuk membatalkan.
"Aku lagi dijalan, Rin. Bentar lagi sampai," ucap Saka ketika baru saja mengangkat telepon gadis itu. Dia tahu kalau Airin pasti gelisah dan ketakutan memikirkan keadaan ayahnya saat ini.
"Aku mendapatkan restu dari ibu. Kita bisa menikah besok!"
__ADS_1