
Tanpa mengatakan apapun, Saka yang sudah kebakaran jenggot, segera menarik pergelangan tangan Ze dengan paksa. Melewati beberapa baris orang yang menunggu antrian pemeriksaan tiket masuk ke studio bioskop. Sontak gadis itu mendelik marah, lalu menarik tangannya kembali.
"Lepaskan!" pekik Ze tidak terima, menarik kuat tangannya tapi lagi-lagi tidak berhasil.
"Ada apa ini, Saka? Jangan begini, tolong lepaskan tangan Ze!" ucap Revan menghalangi Saka yang enggan menjawab tapi tetap tetap meneruskan langkahnya.
"Minggir!"
"Aku gak akan minggir. Lepaskan Ze, dia pergi bersamaku, pulang juga denganku!" Nada suara Revan terdengar berbeda di telinga Saka. Seolah itu bukan Revan sahabat sekaligus anak buahnya yang selama ini selalu selalu nurut apa katanya.
"Kau ngajak ribut? Kau mau aku pecat?"
Bola mata Ze membulat mendengar ancaman Saka. Dia tentu tidak mau karena dirinya, Revan jadi bertengkar dengan Saka bahkan terburuk harus kehilangan pekerjaannya. Sementara Bima juga jadi takut, merasa khawatir jika kedua temannya itu benar-benar bertarung.
"Terserah, aku gak peduli. Kalau boleh pecat aku sesukamu, tapi jangan pernah kasar sama Ze. Hargai wanita! Lepaskan dia!"
"Jangan bertengkar! Tuan kenapa, sih? Kenapa datang ke sini?" akhirnya Ze angkat bicara. Dia kesal sama tingkah Saka. Apa, sih, yang ada dalam pikiran pria itu?
Dia seolah menunjukkan sikap peduli, cemburu, tapi pada kenyataannya, sama sekali tidak ada menunjukkan kalau dia menganggap Ze spesial.
Terlebih setelah gadis itu mendengar dari Revan keseluruhan cerita Airin dan Saka sebelum dan sesudah perpisahan. Dia juga sudah tahu kalau saat ini Saka sedang berupaya untuk membebaskan Airin dari suaminya. Jadi, kenapa dia mengekang Ze?
Perasaan gadis itu bukan gak sakit, kala mendengar pengorbanan Saka yang rela dipukuli oleh bodyguard suami Airin. Sebesar itu cintanya pada Airin, yang membuat Ze kembali yakin untuk tidak mengembangkan bibit perasaan suka yang ada dalam hatinya. Pangkas habis hingga ke akar sebelum tumbuh subur.
Ze bukan mau berharap lebih, tapi saat mereka bangun, oke, mereka bangun dalam keadaan terkejut karena dibangunkan Oma, mungkin Saka belum menyadari detik itu kalau mereka tidur berpelukan, tapi setelah keadaan kondusif? Dia sama sekali tidak mengatakan apapun pada Ze. Seolah memeluk Ze adalah hal biasa.
"Kita pulang. Kamu itu digaji untuk bekerja di rumah, bukan kelayapan begini! Kecentilan banget sih, jadi cewek!"
__ADS_1
Nah, kan! Dua kali Saka mengulang kesalahan yang sama. Kenapa, sih, setiap merasa cemburu dia gak bisa menggunakan otaknya dengan benar.
Seketika dia mengatupkan mulutnya. Merasa bersalah kala melihat mata Ze berkaca-kaca. "Ze...." Panggilnya dengan suara bergetar.
Ze hanya memalingkan wajah, setelah menatap Saka dengan penuh kebencian. Menarik tangan Revan kembali masuk ke studio. Saka tidak bisa berbuat apa lagi.
Dia tersadar, jangan sampai dia melakukan kesalahan lagi. Dia pun akhirnya menunggu mereka sampai keluar.
"Kita ngopi di sebelah," ajak Bima menunjuk cafe di sebelah bioskop.
Saka menikmati kopinya dengan terus diserang rasa bersalah. Kenapa dia begitu kebakaran jenggot setiap Ze dekat dengan Revan?
Berulangkali Saka menekankan bahwa Ze adalah pelayannya, sama dengan Tuti dan Wati serta pelayan yang lainnya, lantas kenapa dia jadi marah?
Kalau Saka tengah memikirkan Ze bergumul dengan rasa bersalahnya, sementara Ze sedang menangis di dekapan Revan. Dia sudah membendung air mata saat pemutaran film di menit 30, tapi setelahnya ia tak sanggup. Air mata terus saja mengalir deras hingga membuat Revan memberanikan diri untuk memeluknya.
"Itu mereka keluar," pekik Bima menunjuk ke arah luar kala melihat Ze dan Revan keluar dari gedung bioskop. Kebetulan parkiran dua tempat itu sama hingga Bima dan Saka bisa melihat mereka.
Spontan Saka berdiri dan menyongsong mereka. "Ze, kita pulang, ya," ucap Saka, kali ini lebih lembut. Gerakan Ze yang tadi hendak ingin membuka pintu mobil, menghentikan niatnya. "Aku akan pulang dengan Revan, Tuan. Aku mohon jangan pernah bicara dengan ku lagi!"
Ze segera masuk ke dalam mobil, begitupun dengan Revan. Saka hanya bisa melihat mobil itu bergerak menjauh.
"Biar aku yang nyetir." Bima tidak menunggu persetujuan Saka lagi, merampas kunci di tangan Saka dan bergegas mencari mobil bosnya itu.
Saat tiba di rumah, Saka sudah tidak melihat Ze lagi. Dari pak Komar, dia tahu kalau Ze sudah pulang 15 menit lalu. Dorongan untuk mencari gadis itu sangatlah besar, bahkan ayunan kakinya sudah menuju ke arah kamar Ze. Tapi setelah sampai dan berdiri di depan pintu kamarnya, ada keraguan hingga tangan yang sudah sempat menggantung ingin mengetuk, kembali ditariknya.
***
__ADS_1
Dua hari sudah Ze menghindar. Sebisa mungkin gadis itu tidak berpapasan dengan Saka. Oma tidak bertanya mengapa dia tidak lagi menyiapkan pakaian Saka setia pagi. Wanita itu sudah mendengar semua dari Revan, dan dia semakin yakin cucunya itu sudah mulai menyukai Ze.
"Sampai kapan kau akan mendiami Ze?" tanya Oma saat mereka berdua. Oma sengaja mendatanginya ke ruang kerjanya.
"Bukan aku yang mendiaminya Oma, dia yang gak mau bicara denganku lagi," balas Saka. Dia sudah berusaha untuk menunjukkan penyesalan dengan memberikannya dua batang coklat jenis berenda, tapi gadis itu tidak mengatakan apapun. Saka sudah masuk diam-diam dan meletakkan di atas meja kamarnya.
Namun, saat ke dapur, Saka melihat para pelayan sedang melahap coklat yang dia berikan pada Ze. Ingin menanyakan kebenarannya, tapi gadis itu tidak ada bersama mereka.
"Kau harus berusaha. Ini kan, salahmu! Satu lagi, dia tidak mau lagi mengantar makanan ke kantormu, dan Oma sudah menyetujuinya, jadi kau jangan memarahinya lagi!" Jelas Oma sebelum ikut bangkit dan akan keluar dari ruangan itu.
"Oma, tunggu, gak bisa gitu, dong Oma. Tugas utamanya kan melayaniku, kenapa jadi begini? Oma... Dengar dulu, Oma..." Teriakkan Saka hanya larut dibawa angin ke luar jendela. Tidak ditanggapi dan merasa tidak dihargai.
"Halo?" Jawab Saka dengan kasar. Dia menghentikan mengejar langkah Oma karena ada panggilan masuk dari nomor yang tidak diketahui.
"Saka... Saka...."
"Ini siapa?" Emosinya memuncak. Masalah dengan Ze belum selesai, kini ada lagi orang yang ingin mengerjainya.
"Saka...." Tangisan gadis itu semakin kencang, hingga membuatnya mengenai suara itu.
"Airin?"
"Saka, tolong aku. Aku mohon kemari," tangisan Airin tampak semakin kencang.
"Kau dimana? Tenangkan hatimu. Katakan sekarang kau ada dimana?" tanya Saka yang tadi tidak tenang, kini semakin panik.
"Aku ada di sini, depan gerbang rumahmu," ucapnya yang membuat Saka segera turun dengan kecepatan tinggi.
__ADS_1