
Perasaan Saka campur aduk. Saat Airin mengatakan kalau dirinya saat ini ada di depan rumahnya, gadis itu hanya mengatakan omong kosong, tapi ketika Saka dengan perasaan penasaran bercampur risau, mendatangi teras rumah, dia melihat Airin berdiri dengan wajah ketakutan.
"Apa yang terjadi? Kenapa kau bisa sampai ke sini? Wajahmu..."
"Aku dipukuli lagi, Saka. Aku lari dari rumah saat dia keluar. Aku ketakutan Saka. Benar-benar takut setengah mati," ucapnya menahan tangis.
Saka iba, merengkuh gadis itu ke pelukannya, lalu membawa Airin ke rumahnya.
"Kamu duduk dulu, biar aku suruh pelayan bersihkan kamar untuk kamu istirahat," ujar Saka mencari pelayan di rumah itu. Jam segini tentu saja para pelayan sudah tidur.
"Ze...." Saka bertemu dengan gadis itu yang sedang minum di dapur. Terlihat matanya sembab menandakan gadis itu menghabiskan waktunya untuk menangis.
Ze tidak menjawab, fokus menghabiskan air dalam gelasnya.
"Mana pelayan yang lain?" tanya Saka kikuk. suasana jadi sedikit aneh diantara mereka sejak pertengkaran di bioskop itu.
"Ze..." Ulang Saka menuntut jawaban.
"Semua sudah tidur Tuan. Ini pukul 11 malam, tentu saja orang normal sudah tidur jam segini!"
Saka jadi semakin bingung. Siapa yang mau dimintai tolong, sedikit segan untuk meminta Ze menyiapkan kamar untuk Airin. Tapi kembali mengingat luka di wajah Airin, Saka jadi tidak tega.
"Tunggu, Ze."
Kembali Ze berbalik, membatalkan niatnya yang ingin pergi ke kamarnya.
"Tolong siapkan satu kamar tamu. Ada seseorang yang akan menginap malam ini di sini," tukasnya yang membuat Ze mendongak ke arah Saka.
__ADS_1
Hening sejenak. Ujung lidah Ze ingin sekali bertanya siapa tamu yang datang malam-malam begini, tapi mengingat mereka masih musuhan, pada akhirnya mengurungkan niat dan rasa ingin tahunya. Toh, nanti dia bisa melihat tamu itu, yang terpenting sekarang dia melaksanakan perintah Saka agar gadis itu bisa terbebas.
Pencahayaan di ruang tamu sangat minim, hingga sulit melihat tamu yang sedang duduk di sana. Tidak sopan juga jika dia membelok hanya untuk mencari tahu.
Ze memutuskan memberikan kamar di lantai satu aja. Bagian rumah sebelah timur yang dekat dengan kolam renang.
"Aku udah merapikan kamarnya, Tu-"
Perkataan Ze menggantung di udara kala melihat sosok tamu yang tadi disebutkan oleh Saka. Yang lebih mencengangkan, saat ini tamu dadakan itu sedang bergelayut mesra di pelukan Saka, dan bibir mereka.... Oh, Tuhan, sedang menempel.
Ze segera mengalihkan pandangannya. Duh, kembali lagi rasa sakit di hatinya. Selalu begitu setiap melihat keduanya berduaan.
"Ze, Eheem... iya, terima kasih, kau boleh pergi," jawab Saka kikuk. Tanpa disuruh pun Ze tentu saja tidak bersedia lebih lama di sana.
"Jangan nangis, Jangan nangis Zenara!" cicitnya menenangkan hatinya selama menuju kamarnya. Tapi kenyataannya, begitu pintu kamar di tutup, air mata Ze yang sejak tadi ditahannya akhirnya jatuh juga. Sialan!
***
"Hah? Oh, tidurnya baik Oma, nyenyak, kok," jawab Ze mencoba tersenyum. Kenapa Oma tampak tenang dan tidak mengatakan apapun juga padanya? Kalau diingat, Oma pernah berkata padanya kalau dia tidak menyukai Airin kembali berhubungan dengan Saka. Apa Oma tidak tahu kalau Airin menginap di rumah tadi malam, dan kemungkinan masih di rumah sampai sekarang.
"Oma, kita sudah mau pulang?" tanya Ze kala melihat wanita itu berbelok di menuju jalan ke rumah mereka.
"Apa kau tidak lelah? Hari ini kita berjalan lebih jauh dan lebih lama dari biasanya?"
Ze tahu, bahkan kakinya seakan mati rasa karena lelah berjalan. Tapi dia enggan untuk pulang, rasanya malas banget kalau harus ketemu dengan Airin. Apa lagi kalau sama Saja, sangat tidak ingin saat ini.
Namun, pada akhirnya mereka harus kembali ke rumah juga. Ze berjalan di belakang Oma, tidak punya gairah hidup dan merasa sangat kesal, tapi tidak tahu harus dilampiaskan pada siapa.
__ADS_1
"Kau? kenapa ada disini? Apa yang kau lakukan di rumahku?" Pekik Oma yang kaget saat melintas di ruang tamu, mendapati Airin duduk dengan santai memainkan ponsel Saka.
"Oma, maaf kalau kedatangan ku tiba-tiba dan gak minta izin lebih dulu sama Oma," jawab Airin segera berdiri dari duduknya. Ini yang dia takutkan, kalau Oma akan marah padanya karena sudah menginjakkan kaki di rumah ini. Terlebih tadi dia sudah bertanya pada Saka, apakah Oma sudah tahu dia telah menikah.
"Kapan kau datang?" serang Oma. Firasat wanita itu mengatakan kalau Airin sudah di sini sejak semalam, tapi kapan dia datang? Oma tidur lebih larut dari biasanya.
"Airin menginap di sini tadi malam, Oma."
Semua kepala menoleh ke arah pemilik suara. Wajah Oma tidak bisa menyembunyikan rasa tidak senangnya.
"Kau sadar apa yang kau lakukan? Untuk apa dia menginap di sini? Apa suaminya tahu? Oma tidak suka kau berurusan dengan istri orang!" salak Oma menatap marah pada Saka. Belum cukup memuntahkan amarahnya, Oma kembali melihat ke arah Airin.
"Silakan kau pulang. Seharusnya kau tahu batasan. Sekarang kau bukan lagi wanita lajang, tidak baik berdekatan dengan pria lain. Sama saja dengan wanita murahan!" teriak Oma.
Alhasil, wajah Airin memerah, matanya sudah berkaca-kaca. Hatinya tentu perih mendengar perkataan Oma. Ze jadi ikut merasa kasihan dan tidak enak hati pada Airin. Wanita mana pun pasti akan tersinggung dicap sebagai wanita murahan, tapi.... Apa yang dikatakan Oma ada benarnya.
"Cukup, Oma. Tolong hargai perasaan Airin, perasaan ku juga!" Bentak Saka. Dia sudah berani marah pada Oma. Dia merasa kasihan pada Airin. Menyalahkan Oma yang tidak bisa bijak dalam berkata.
"Oma tidak akan menjaga perasaan orang yang tidak punya perasaan! Lagi pula apa lagi yang kau harapkan dari wanita bersuami? Kau tidak ingat, wanita itu yang sudah meninggalkan mu?"
"Oma, sudah. Ingat kesehatan Oma. Kalau Oma marah-marah begini nanti darah tinggi Oma kambuh lagi. Kita masuk, ya," ucap Ze pelan. Dia ingin mengakhiri perang dunia ke tiga ini segera mungkin. Dia juga kasihan dan tidak tega melihat air mata Airin.
"Oma keterlaluan. Ayo, Airin, kita pergi dari sini!" Saka sudah menarik pergelangan tangan gadis itu dan membawanya keluar dari ruangan itu.
Oma tidak menahan. Begitu pasangan itu sudah tidak terlihat, Oma yang sejak tadi menahan emosi hingga tubuhnya bergetar, akhirnya merubuhkan tubuhnya di atas sofa, memijit keningnya yang terasa sangat sakit.
Ze segera duduk di sebelah wanita itu, dan membantu memijitnya.
__ADS_1
"Oma harus bisa jaga emosi," ucap Ze terus memijit pundak Oma.
"Oma lebih baik mati, dari pada membiarkan Saka menikahi gadis itu!"