
Airin tidak suka dengan Ze. Itu fakta dan dia tidak berusaha untuk menutupi perasaan itu. Kenyataannya, dia merasa Ze terlalu diberi perhatian yang berlebih-lebihan sebagai pelayan. Dianggap spesial dan sangat berbeda dari pelayan yang lain. Tidak hanya oleh Oma, tapi kini Airin menyadari kalau calon suaminya itu juga sangat menjaga perasaan Ze.
Jadi, setiap kali bertandang ke rumah itu, dia tidak akan sungkan menunjukkan sikap tidak sukanya tapi kalau hanya berhadapan dengan Ze saja. Airin sangat lihai, dia tidak ingin Oma mengetahui kalau dia tidak suka pada Ze. Baru saja Oma menerimanya, jangan sampai wanita berkuasa itu kembali membencinya karena sudah mengusik kesayangannya.
"Kau sedang apa?" tanya Airin mengamati Ze yang mengiris bawang di talenan.
"Oh, Mbak Airin. Ini lagi mau masak tumis kangkung pakai terasi," terang Ze mencoba bersikap ramah. Dia tahu, dia harus bersikap sopan pada Airin karena lagi wanita itu akan menjadi majikannya yang baru.
"Biar aku bantu. Aku juga pintar masak, loh," ujar Airin, mengambil alih penggorengan yang baru saja diisi minyak goreng oleh Ze.
Sebelum menumis kangkung, dia ingin menggoreng beberapa potong ayam untuk dibuat ayam goreng Kalasan. Oma hari ini ingin makan ayam goreng Kalasan dengan sambal mata dan juga sayur kangkung tumis terasi.
Tahu tempe sudah lebih dulu digoreng Ze, sebagai teman lalapan yang akan dicocol ke sambal.
"Biar aku aja Mbak, ini udah tugasku," jawab Ze yang tidak ingin merepotkan Airin.
"Biarin aku aja. Kamu pikir cuman kamu yang bisa masak? Biar aku buktikan, ya. Aku ingin memasak untuk Saka, sebentar lagi kami akan menikah, tentu saja dia akan memilih memakan masakanku daripada masakan pelayan," tukasnya dengan enteng, sengaja ingin menyentil harga diri Ze, menekankan pada gadis itu bahwa dirinya adalah seorang pelayan. Jadi, jangan terlalu mencolok dan mengambil perhatian para majikan.
Pada akhirnya, Ze memberikan spatula kepada Airin. Dia mundur tiga langkah memberikan ruang untuk wanita itu melakukan apapun yang dia inginkan.
__ADS_1
Namun, karena tidak hati-hati mengangkat ayam yang sudah matang digoreng, akhirnya tangannya ketumpahan oleh percikan minyak panas. Sontak melemparkan ayam yang baru saja dia angkat hingga berserakan di lantai. Karena kesal, dia melemparkan spatula itu ke penggorengan yang tanpa diduga mengenai pinggiran penggorengan sehingga membuat penggorengan itu jatuh dan minyak panas mengenai kakinya.
"Mbak Airin, Mbak ga papa?" tanya Ze menoleh ke arah kegaduhan dan mendapati Airin yang sudah menjerit kesakitan. Dia pun segera mendatangi gadis itu, berjongkok melihat luka itu.
"Kakiku... Kakiku terbakar," jeritnya yang membuat siapapun yang mendengar teriakan itu memasuki dapur. Bi Jum hari ini memang tidak masuk hingga tugas memasak makanan diserahkan Oma kepada Ze.
"Airin...!" seru Saka memasuki dapur diikuti oleh langkah Oma dan juga Wati dan Tuti.
"Sakaaaaa... Kaki ku terbakar, melepuh," jawabnya disela tangisnya yang menggema di ruangan itu. Seolah semua tubuhnya yang sudah tersiram minyak panas dari penggorengan.
"Kenapa bisa begini?" Pertanyaan Saka ini lebih tepat ditunjukkannya kepada Ze, meskipun dia tidak menyebutkan nama orang yang ditanya nya.
Dia harus menumbalkan Ze demi menyelamatkan harga diri dan wajahnya. Kalau sampai Oma dan Saka tahu bahwa dirinya mencoba untuk memasak makanan Saka, tapi belum apa-apa sudah terkena siraman minyak goreng, pastinya akan sangat malu dan dianggap tidak becus. Jadi, lebih baik dia menyalahkan Ze saja.
Ide itu terpikirkan begitu saja, melintas dalam benaknya. Tapi setelah terucap, dia menyadari bahwa hal itu cukup baik. Dengan menumbalkan Ze, dia bisa menyelamatkan harga dirinya sekaligus membuat Saka dan Oma membenci gadis itu, syukur-syukur bisa memecat dan mengusir Ze dari rumah ini.
Bola mata Oma tampak memicing, melihat ke arah Airin. Tentu saja Oma tidak percaya dengan penuturan gadis itu, yang mencoba memfitnah Ze.
Sudah hampir setahun Ze tinggal bersama mereka, gadis itu begitu lembut dan tidak pernah menyakiti perasaan orang lain, bagaimana mungkin mempunyai keberanian untuk mencelakai Airin dengan bertindak sejauh ini.
__ADS_1
Sementara Ze yang difitnah hanya bisa menatap tajam ke arah Airin. Dia sendiri masih belum percaya atas apa yang dia dengar. Bisa-bisanya gadis itu memfitnah dirinya, jelas-jelas tadi Ze sudah memperingatkan Airin, dan memintanya untuk membiarkan Ze saja yang melakukan semua pekerjaan itu, tapi kenyataannya, Airin tetap memaksa untuk mengambil alih pekerjaannya dan kini saat kecerobohan wanita itu mencelakai dirinya sendiri, mengapa orang lain yang justru disalahkan nya?
Saka menoleh ke arah Ze, mencoba meminta penjelasan gadis itu melalui sorot matanya, tapi melihat Saka yang sudah meragukan dirinya, membuat Airin yang tidak mau buka mulut. Terserah kalau pria itu menganggapnya bersalah, dia tidak akan pernah menjelaskan pada siapapun bahwa semua ini hanya kecerobohan Airin.
"Saka, sudahlah jangan memarahinya. Dia mungkin awalnya tidak berniat melakukan hal itu padaku. Aku yang salah karena sudah mencoba mengambil masakannya. Aku mohon maafkan dia, jangan sampai kau memecatnya," pinta Airin masih dengan air mata di pipi dan kini merebahkan kepalanya di dada pria itu.
Saka memutuskan kontak matanya dengan Ze, dan fokus kepada Airin. Dia akan menuntut kebenaran dari gadis itu nanti, tapi sekarang dia memilih untuk mengangkat Airin dari sana. Hati Ze kembali hancur. Melalui sorot matanya, Saka sudah menghakimi bersalah. Dia percaya atas omongan Airin, tanpa mencoba mencari tahu kebenarannya.
Airin segera dibawanya ke kamar tamu yang dulu pernah ditempati gadis itu dan menghubungi dokter, memintanya keluarga datang untuk memeriksa kaki Airin.
Oma mengamati Ze. Gadis itu mengambil kain dan membersihkan bekas tumpahan minyak. Sedikitpun ia tidak buka suara, tidak ada kesedihan ataupun takut, tapi Oma tahu ketika nanti sudah sendiri, Ze akan menangis terisak, menutup mulutnya agar suara tangisannya tidak terdengar oleh orang lain.
Itulah Ze yang Oma kenal, selalu tegar dan berprinsip. Dia bukan tidak berani melawan Saka dan membantah omongan Airin tapi karena kecewa yang dia rasakan kepada Saka, yang hanya mempercayai omongan Airin mentah-mentah hingga membuat Ze memutuskan untuk mengunci rapat mulutnya dan menutup kebenaran.
"Wati, bisakah kau mengambil alih sisa pekerjaan Ze? Oma ada perlu dengannya." Oma menoleh ke arah Wati, gadis itu hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Ikutlah dengan Oma," ucap Wanita itu lembut. Ze meletakkan kain pel. Lalu menarik napas untuk mendongak melihat ke arah Oma.
"Please, Oma. Jangan bersikap lembut seperti ini padaku, nanti tegar yang coba aku pertahankan ini hancur dengan berganti air mata yang meleleh di pipiku," batinnya meremat sisi bajunya.
__ADS_1