
Chandra menjadi ragu setelah mendengarkan ucapan Max pada dirinya yang mengajukan diri untuk menikah dengan Ze, kenapa sekarang Ze memiliki dua kandidat yang bersedia menikahinya?
Tentu saja Candra lebih memilih Max menjadi menantunya daripada Aldo. Hanya saja masalah tidak sesimpel itu.
Max berasal dari keluarga terpandang. Apa mungkin orang tuanya bisa menerima keberadaan putrinya yang saat ini sedang mengandung anak dari pria lain dan merestui pernikahan mereka?
Candra tidak ingin orang tua Max memandang rendah terhadap Ze karena keadaannya saat ini. Bagi Candra Ze adalah putrinya yang berharga, tidak boleh siapapun menghina putrinya itu.
"Apa kau sudah memikirkan ucapanmu ini? Masalah pernikahan tidak bisa dijadikan bahan lelucon, ini bukan main-main, Max! Om sangat menghargai niat baik mu, tapi apa kau pernah berpikir orang tuamu bisa menerima keadaan Ze saat ini?" hardik Candra buka suara.
Ze berada di ruangan itu, ikut mendengar perdebatan antara kedua pria itu. Wajahnya memerah, dia merasa sangat malu diperdebatkan mengenai keadaannya saat ini, seolah dirinya tidak ada di sana.
"Asalkan Om setuju, aku akan membujuk kedua orang tuaku untuk merestui pernikahan kami. Aku mencintai Zenara, aku ingin menikahinya bukan semata-mata karena bayi yang ada dalam kandungannya ataupun menyelamatkan harga diri Zenara, tapi karena aku memang mencintai Zenara," jawab Max lantang.
Harus bagaimana lagi dia mengatakan kepada Ze ataupun ayahnya, bahwa niatnya untuk menikahi gadis itu bukan karena rasa iba atau kasihan tapi karena memang ingin hidup bersama dengan Ze, membangun mahligai rumah tangga memberikan kebahagiaan dan perlindungan terhadap gadis itu.
Pemikiran Max sudah lebih terbuka. Dia sudah banyak melihat teman-temannya yang kuliah di luar negeri membangun rumah tangga dengan pria ataupun wanita yang sudah memiliki anak yang bukan darah daging mereka. Semuanya berjalan dengan lancar, mereka hidup dengan bahagia tanpa ada rasa risih ataupun pengungkit masalah kelam dari masa lalu pasangan mereka masing-masing.
"Baiklah kalau begitu, Max. Kalau memang kau berniat untuk menikahi Ze, Om harap kamu bisa segera bicara kepada orang tuamu, berikan kabar secepatnya pada Om karena kehamilan Ze seiring waktu akan bertambah besar dan tidak bisa disembunyikan lagi," tegas Candra memandang sendu ke arah putrinya itu.
"Baik, Om. Tapi ada satu hal yang ingin aku minta dari Om," ujar Max dengan nada hati-hati. Dia takut apa yang akan diutarakannya ini membawa penafsiran lain terhadap pemikiran Chandra. Dia tidak ingin ayah Ze beranggapan bahwa Max malu mengakui anak yang ada dalam kandungan Ze saat ini.
"Apa yang kau inginkan? Katakan saja!" tegas Chandra.
__ADS_1
"Aku ingin minta izin untuk merahasiakan perihal kehamilan Ze dari orang tuaku untuk sementara waktu, Om," ucap Max.
"Ini hanya sementara, Om. Aku mohon dengar dulu, Om," sambar Max kala melihat Candra ingin memotong kalimatnya.
"Kalau seandainya pun aku tidak mengatakan perihal kehamilan Ze terhadap kedua orang tuaku, aku harap Om memahaminya. Aku hanya ingin hal ini menjadi rahasia kami berdua. Aku tidak ingin mengambil resiko ibuku menolak pernikahan kami. Aku harap Om bisa mengerti posisi kami saat ini," pinta Max memberanikan diri menatap mata Chandra. Rasanya begitu tegang bicara dengan pria berkuasa itu. Kalau bukan demi Ze, mungkin dia tidak akan pernah berani berbicara dengan Candra.
"Artinya kau takut orang tuamu tidak mau menerima Ze karena anak yang dikandungnya?" sambar Chandra yang terdengar sedikit kecewa, tapi dia bisa memaklumi hal itu. Orang tua mana yang bisa menerima anak orang lain menjadi bagian dari keluarganya.
"Ini hanya sementara waktu Om, perlahan aku akan bicara dengan orang tuaku."
"Bagaimana menurutmu, Ze? Apakah kamu setuju dengan permintaan Max?"
Kali ini Chandra ingin meminta pendapat Ze, tidak ingin hanya mereka berdua yang berdiskusi mengenai lamaran Max. Bagaimanapun yang menikah adalah Ze dan Max, gadis itu berhak memberikan tanggapannya.
"Kami sudah membicarakan hal itu Papa, aku tidak masalah kalau menurut Max itu yang terbaik," jawab Ze kembali menunduk.
Ze dan Max diam. Apa yang dikatakan Chandra ada benarnya, tapi untuk apa memikirkan hari nanti, yang terpenting selesaikan dulu masalah yang ada di hadapan mereka saat ini.
"Aku sudah siap Papa. Apapun resikonya nanti," jawab Ze sesuai dengan arahan Max. Sebelum menemui Chandra, Max sudah memberi briefing terhadap apa yang akan dikatakan Ze. Dia berharap gadis itu mau berada di pihaknya agar Candra luluh dan mengizinkan mereka menikah.
Sementara bagi Ze, apapun akan dia lakukan asal bisa terhindar dari Aldo. Dia sama sekali tidak ingin menikah dengan monster itu. Rasa jijik dan bencinya akan membuat hidupnya semakin menderita jika menikah dengan Aldo.
"Baiklah kalau begitu, pembicaraan ini sampai di sini. Kita akan segera mengurus pernikahan kalian. Sekarang Max, lebih baik kau pulang dan segera bicara dengan orang tuamu. Om tunggu paling lambat besok keputusan darimu!"
__ADS_1
"Lalu bagaimana dengan Aldo, Papa?" sela Ze.
"Papa yang akan mengurus hal itu. Papa akan bicara dengan Mira dan juga Aldo malam ini," jawab Candra yang buat Ze bisa tenang.
***
Tentu saja terjadi perdebatan antara Max dengan orang tuanya. Bukannya tidak setuju dengan Ze, siapa yang tidak kenal Zenara Regan, putri tunggal dari Candra Regan, sekaligus ahli waris Mega Regan, perusahaan raksasa.
Namun hal yang membuat ibunda Max tidak menyetujui pernikahan itu karena Max belum menyelesaikan kuliahnya di Singapura.
"Apa kau menghamili Ze?" tanya Kasidah terkejut. Putranya itu baru saja tiba di rumah, mendapati kedua orang tuanya di ruang keluarga, lalu duduk dan mengajak mereka bicara serius.
"Mami apa-apaan, sih. Please, Mi, jangan ngaco!" rungut Max deg-degan. Bagaimana kalau sampai mamanya tahu bahwa benar adanya Ze sedang hamil saat ini?
"Mami bukan tidak setuju Max, Mami hanya minta selesaikan dulu kuliah mu yang hanya tinggal beberapa tahun lagi, baru setelahnya kau bisa menikah dengan gadis pilihanmu. Mami juga akan merestui hubunganmu dengan Ze, kalau memang dia gadis yang kau cintai tapi tidak untuk saat ini!" ujar kasidah, ibunda Max.
"Tapi aku tidak bisa menahannya lagi, Mi. Aku ingin menikahi Zenara. Aku tidak mau kehilangannya. Terserah kalau Mami dan Papi tidak menyetujui pernikahan kami, aku akan tetap menikahi Zenara. Namun, alangkah lebih baik lagi dan aku pasti akan sangat berterima kasih sekali kalau kalian mau merestui hubungan kami," ucap Max dengan tegas.
Sejak tadi Firman, ayahnya hanya diam, tidak memberikan argumen apapun.
Menurutnya, anak tidak bisa terlalu dikekang, terlebih di saat usia Max saat ini. Dia memiliki hak untuk menentukan pilihannya. Lagi pula meskipun anaknya itu berstatus mahasiswa, dia juga punya usaha dan berpenghasilan, jadi jika dia ingin menikah muda, maka Firman akan mendukung, hanya saja akan sedikit sulit untuk berdebat dengan istrinya, jadi dia menunggu ibu dan anak itu sama-sama memberikan pendapat, nanti setelahnya dia akan menengahi dan berakhir dengan satu kesimpulan.
"Bagaimana, Pi, apakah bisa setuju kalau Max menikah dengan Zenara sekarang?"
__ADS_1
"Menurut Papi, kita tidak bisa menghalangi keinginan Max. Anak zaman sekarang ini pemikirannya jauh lebih maju dari kita orang zaman dulu, jadi biarkan saja mereka menikah. Niatnya untuk menikahi Ze juga ibadah. Keputusan ada di tangan Max, karena yang menjalani juga dia. Kalau dia memang ingin menikah muda, sebagai orang tua kita hanya bisa mendukung dan mendoakan yang terbaik bagi mereka," tukas Firman yang akhirnya menjadi kesepakatan dalam keluarga itu.
"Baiklah kalau begitu Mami setuju saja, asal kamu berjanji harus menyelesaikan kuliahmu tepat waktu, membuat Mami dan Papi bangga. Ingat, hanya kamu anak kami satu-satunya, harapan kami yang akan menjadi penerus Papimu," kata Kasidah yang akhirnya luluh dengan permintaan anak kesayangannya itu.