
Tidak hanya Saka yang terluka, setelah membawa Airin pulang, gadis itu kembali disiksa. Tidak hanya verbal tapi juga fisik. Puas mengatai Airin gadis murahan, Om Bram membuka paksa pakaian yang melekat di tubuh gadis itu hingga membuatnya polos tanpa sehelai benang pun.
"Kau gadis murahan yang tidak tahu diri! Sudah untung aku mengambil mu menjadi istri, kau tega berkhianat. Apa yang kau inginkan dari pria lemah itu? Kau menginginkan kepuasan? Kau ingin merasakan bagaimana senjatanya menerobos masuk dan menggoyang tubuhmu? Jawab aku, Pela*cur!" bentak Om Bram kembali mendaratkan satu tamparan di pipi gadis itu hingga kembali berbekas dan merah berbentuk jari.
Tidak merasa puas, dengan tubuh telan*jang, Airin diseret dari lantai dekat pintu hingga ke atas ranjang. Om Bram tersenyum menyeringai, mengusap bibirnya sembari memperhatikan tubuh Airin yang selalu berhasil menggodanya.
Dengan cepat dia melepaskan celananya, lalu bersiap naik ke atas ranjang.
"Aku akan memberikan yang kau mau, jala*ng. Kalau hanya ini yang kau inginkan, aku bisa memberikan yang lebih baik dari miliknya!" umpat Om Bram menunjukkan miliknya yang sudah mengacung.
Tidak lama, lolongan menyayat yang keluar dari bibir Airin terdengar di setiap sudut rumah. Hanya angin malam dan kedua orang itu yang tahu apa yang sedang terjadi malam itu di kamar yang cukup luas itu.
Mungkin, Airin tidak akan bisa bangun esok pagi, bisa jadi besok atau lusa, karena dapat dipastikan Om Bram akan membuatnya ingat setiap detail malam itu.
***
"Aku bermimpi tentang Airin. Apa tidak sebaiknya kita mengunjunginya?" tanya Menik, ibu Airin. Terlihat raut cemas di wajah wanita 40 tahun itu. Dia duduk di samping suaminya yang menikmati udara pagi dengan ditemani secangkir kopi.
"Untuk apa kita kesana? Anakmu sudah bahagia. Dia dijadikan ratu dalam istana Bram!" jawab Darmo tidak menyetujui saran sang istri.
Menik diam. Dia takut untuk membantah suaminya. Firasatnya berkata kalau Airin saat ini sedang tidak baik-baik saja. Tadi malam dia mimpi, putrinya itu menangis mendatanginya untuk minta tolong. Tepat saat isakan tangis Airin semakin terasa nyata, Menik terbangun dan melihat jam sudah menunjukkan waktu sholat subuh.
Kata orang kalau bermimpi menjelang subuh, kemungkinan besar akan terjadi. Dia memimpikan putrinya yang sedang sedih dan terluka, apa mungkin saat ini begitulah keadaannya?
__ADS_1
"Aku merindukan putri kita. Sudah lebih setahun kita tidak bertemu. Ayolah, Pak!"
Menik masih berusaha untuk membujuk suaminya. Dia yakin sekali dengan firasatnya ini. Mereka tahu kalau Bram sangat mencintai putri mereka, terlihat begitu getolnya pria itu untuk mendapatkan putrinya, tapi Menik sebagai seorang ibu merasa ada sesuatu yang janggal.
Apapun bisa terjadi dalam setahun ini, buktinya saja kalau memang Bram adalah menantu yang baik, mungkin dia akan membawa Airin untuk pulang ke kampung halaman, menjenguk kedua orang tuanya tapi kenyataannya tidak ada.
Kalau Menik menanyakan hal itu kepada, suaminya, Darmo, pasti mengatakan bahwa alasan mereka tidak datang mengunjungi hanya karena Bram sibuk dan bisa jadi dia sedikit malu karena memiliki keluarga yang miskin seperti mereka. Tapi Darmo tidak peduli, yang terpenting Bram selalu mengirimnya uang dan putrinya hidup bahagia.
Namun, setelah memaksa serta menuntut akhirnya Darmo tidak punya pilihan lain, selain mengabulkan permintaan istrinya. Dua hari Menik mendiaminya, bahkan wanita itu sampai jadi sakit hanya ingin meminta sang suami mau membawanya menemui putri mereka.
Bermodalkan alamat yang sempat diberikan Airin kepada mereka, Menik dan Darmo datang ke Jakarta.
Dengan taksi online, mereka akhirnya tiba di depan rumah mewah yang sesuai dengan alamat yang diberikan Airin. Senyum Darmo mengembang, dia begitu bangga memiliki menantu sekaya Bram, tidak peduli bahwa pria itu jauh lebih tua dari putrinya, bahkan Om Bram lebih tua dua tahun dari Darmo.
"Permisi, apa benar ini rumah Bramantyo?" tanya Darmo pada dua orang penjaga yang berdiri hilir mudik di depan gerbang.
Melihat seragam mereka yang hitam dengan tubuh yang begitu besar membuat Darmo merasa sedikit takut.
Dia sendiri tidak terlalu mengetahui apa pekerjaan menantunya itu, dia hanya tahu bahwa Darmo pengusaha dan kaya raya. Titik. Hanya itu yang penting!
"Kalian siapa? Mau apa mencari Tuan Bram? Dia tidak bisa ditemui, beliau sedang tidak ada di tempat!" jawab salah satu petugas itu dengan tegas.
"Kalau begitu kamu bisa bertemu dengan istrinya, Airin?" Kali ini Menik yang bicara dengan pengawal itu. Sudah sejauh ini dia melangkah, tidak akan pulang sebelum bertemu dengan putrinya.
__ADS_1
Dia adalah ibu Airin, orang yang melahirkan gadis itu, mengapa ingin bertemu saja dengan anaknya begitu sulit?
"Mungkin untuk kali ini kalian tidak bisa bertemu dengannya. Nyonya sedang beristirahat!" jawab salah satu pengawal.
"Katakan saja kami orang tuanya, dia pasti mau menerima kami!" Menik tetap bersikukuh ingin menemui Airin.
Para pengawal itu tetap tidak memperbolehkan mereka masuk. Bagaimanapun Menik membujuk dan juga Darmo, keduanya tetap bersikeras tidak mengizinkan siapapun dari antara mereka untuk masuk.
Menik bahkan sudah menangis, memohon bahkan sampai berlutut di hadapan pengawal itu agar dibukakan gerbang dan dia bisa masuk, tapi pada kenyataannya permohonannya tidak diindahkan sama sekali.
"Sebaiknya kalian pulang!"
Darmo tidak ingin mendebat lagi, dia memilih untuk membawa istrinya pergi dari sana. Jangan sampai kedatangan mereka membuat Bram marah dan melampiaskannya pada Airin.
"Kita pulang, Bu, bulan depan kita ke sini lagi!" ujar Darmo, mencoba menghibur Menik. Akhirnya, dengan perasaan sakit hati dan kecewa, Menik mengikuti suaminya pulang tanpa berhasil menemui Airin.
Sementara orang yang dipikirkan Menik saat ini sedang terbaring lemah di atas ranjangnya. Tubuhnya seperti terkoyak begitu sakit dan remuk, terlebih pada bagian intinya.
Bram menunjukkan sisi ganasnya kemarin malam. Selama mereka menikah, pria itu berapa kali memaksa untuk berhubungan badan, tapi malam itu, Bram benar-benar seperti binatang buas yang tidak mengerti kata ampun.
Kalau saja hanya milik Bram yang masuk ke tubuh Airin, mungkin wanita itu tidak akan sehancur ini. Kegilaan Bram muncul, dia mengambil alat getar, berbentuk lonjong panjang yang dia simpan dan memasukkannya ke dalam milik Airin.
Kalau bisa memilih, Airin rasanya ingin mati saja, tidak ingin berada di dunia ini lagi. Dia diperlakukan seperti binatang yang tidak ada harganya!
__ADS_1
"Nyonya, Tuan Bram memerintahkan Anda untuk segera mandi dan bersiap. Setengah jam lagi salah satu pengawal akan mengantarkan Anda untuk menemui beliau," ujar salah satu pelayan yang masuk ke dalam kamar dan mencoba untuk melihat apakah Airin masih hidup atau sudah mati.