Kalau Cinta Jangan Marah

Kalau Cinta Jangan Marah
Chapter 31


__ADS_3

Airin mengikuti semua instruksi dari pelayannya. Melakukan apapun itu bak diperintahkan, seolah dia lah disini yang menjadi pelayan, bukan sebaliknya.


"Anda sudah lebih baik. Cantik," ralatnya lagi. Airin tahu maksud pelayan itu mengartikan kata baik atau cantik tadi hanya pengganti bahwa wajah sudah layak disebut 'wajah' karena memang sudah berbentuk wajah.


Mata kirinya mungkin sudah tidak terlihat lebam biru karena sudah ditutupi riasan mahir sang pelayan, tapi merah pada matanya masih jelas menunjukkan sisa-sisa penyiksaan kemarin malam.


Airin menangis. Tidak hanya hatinya, fisiknya juga sakit. Menangis pun terasa perih. Perlakuan Om Bram padanya tadi malam benar-benar seperti binatang. Dia tidak memperlakukan Airin lebih-lebih seperti pelacur. Tidak hanya cukup menyiksa dan menyetubuhi dengan melakukan berbagi cara dan alat yang menyiksa, juga memukulinya.


Airin sama sekali tidak menanyakan kemana dirinya akan dibawa pergi. Dia hanya diam di dalam mobil, tidak mau menerka. Dia memikirkan Saka saat ini. Niatnya untuk pergi dari Bram semakin besar.


Semut saja kalau diinjak, pasti akan menggigit. Airin akan memulihkan kesehatannya dulu sebelum kembali melawan pria itu. Dia akan menjadi celah untuk menyerang Bram.


***


"Aku minta kau awasi Saka. Jaga dia dari jarak yang tidak dia ketahui. Jangan biarkan ada yang menyentuh cucuku lagi! Satu lagi, kau perintahkan orang untuk menyelidiki suami gadis ini!" perintah Oma pada Bima sembari menunjukkan foto Airin.


"Aku gak enak Oma menguntit Saka. Kami teman baik, bagaimana kalau Saka tahu aku menguntitnya?" Tampak wajah Bima pucat. Dengan dia serba salah. Mau ngikutin perkataan Oma, gak enak hati pada Saka, menolak permintaan Oma, takut wanita itu marah sekaligus benci padanya. Bagaimana pun Oma masih pemilih Mahesa Cemerlang Corp.


"Kau tidak harus terjun langsung untuk menyelidiki Saka. Kau bisa menugaskan orang yang kau percaya. Saka juga tidak akan tahu. Apa kau mau sahabat mu itu dikeroyok lagi?"


Perkataan Oma masuk akal. Bima tentu tidak terima kalau Saka diserang begini. Saat dikabari bos nya itu tadi tidak masuk kerja dan diminta untuk datang ke rumah, Bima juga bertanya-tanya ada apa. Tidak biasanya Saka meminta mereka datang ke rumah untuk membahas masalah pekerjaan.


Begitu masuk ke ruang kerja Saka, Bima dan Revan terbelalak melihat keadaan wajah Saka.

__ADS_1


"Apa yang terjadi padamu?" serang Bima antusias. Dia tahu kalau Saka mahir bela diri, tapi kenapa justru separah ini?


Saka menjelaskan semuanya. Saat mendengar terlihat wajah Bima dan Revan yang mendengar begitu serius hingga menahan napas.


Lalu setelahnya, Saka membahas pekerjaan dan sedikit rahasia yang tidak boleh sampai diketahui siapapun termasuk Oma.


Sekarang? Oma justru memanggilnya untuk bersekutu pada wanita itu. Apa yang harus dilakukan oleh Bima? Kenapa harus dia yang dibebankan masalah ini, kemana Revan?


***


"Aku udah bicara sama Oma, beliau mengizinkan malam Minggu ini kita jalan. Kamu mau, ya?"


Revan menunggu jawaban Ze yang tertunduk malu. Ini sama saja ajakan nge-date. Mungkin untuk perasaan suka, dia belum ada untuk pria itu, tapi dia akui, Revan sangat baik, sopan dan dia sangat nyaman pada pria itu. Ze bukan gadis sebodoh itu tidak tahu maksud seorang pria yang berusaha mendekati dan mengajak seorang gadis jalan.


Gadis itu mengangkat wajahnya dan menoleh pada Revan. Mengamati wajah tulus pria itu, lalu sejurus arah angin siang itu, Ze mengangguk.


Bagai dapat undian lotre, Revan berteriak kegirangan membuat Ze ikut tersenyum melihat aksi konyol pria itu. Segembira itu dia hanya karena Ze mau diajak jalan.


"Apa ini jalan diberi yang kuasa untuk ku dapat membalut luka? Hubungan dengan Max seperti tidak bisa diharapkan lagi. Mungkin juga Max memang sudah tidak menginginkan ku lagi," ucap Ze dalam hatinya terus mengamati Revan yang tak henti tersenyum padanya.


"Pukul enam aku jemput," ujar Revan sebelum pergi. Lagi-lagi Ze hanya bisa mengangguk setuju lalu tanpa bisa diprediksi Ze, Revan menarik tangannya lalu mengecup punggung tangan gadis itu.


Semua itu tidak luput dari penglihatan dan juga pendengaran seorang pria di balik tembok. Sengaja mencuri dengar karena desakan hatinya yang ingin tahu apa yang ingin disampaikan Revan pada Ze.

__ADS_1


Setelah mendengar semua itu, Saka seolah kebakaran jenggot. Dia tidak suka. Dia.... cemburu, walau enggan mengakui.


Perasaan apa ini, kenapa dia gelisah. Kenapa dia tak rela? Bukankah dia tidak punya perasaan pada Ze? Dia hanya mencintai Airin, lantas mengapa saat ada pria yang mendekati Ze, dia tidak suka?


Oh, mungkin Saka hanya tidak ingin Ze melupakan tugas-tugasnya kalau pacaran dengan Revan. Waktu gadis itu akan habis bersama Revan saja, dan mengabaikan Saka dan semua keperluannya yang biasa dia siapkan. Saka hanya tidak ingin perhatian Ze selama ini mengurusnya akan terbagi hingga pekerjaan terbengkalai. Benar, pasti karena itu. Tidak ada alasan lain. Cemburu? Apa itu, sampah itu, ya! Mustahil dia cemburu!


Seandainya dia berdaya untuk mengabaikannya, tapi kenyataannya dia justru semakin terusik. Malam tidak bisa tidur. Sabtu artinya hanya tinggal lusa.


***


"Morning!" Sapa Bima dan Revan masuk ke ruangan Saka. Obat yang dipakai Saka tampaknya sangat mujarab, buktinya, wajahnya sudah kembali seperti sedia kala, tidak ada lagi bekas pukulan di wajahnya.


"Bagaimana?" tanya Saka menyandarkan punggungnya ke sandaran kursinya, menatap serius pada Bima, lalu sesat menatap tajam dan tampak kurang senang pada Revan.


Bima paham apa yang dimaksud Saka. Kami sudah menemukan rumahnya. Kami juga sudah menyelidiki bisnis Bram, benar tebakan mu, dia mafia. Satu hal yang menguntungkan, saat ini dia sedang dalam pantauan pihak yang berwajib." terang Bima panjang lebar. Akhirnya dia bisa tenang, berpijak dengan dua kaki. Untuk saat ini apa yang diperintahkan Oma dan juga Saka masih sama, jadi sekali jalan dia bisa memberi kepuasan pada keduanya.


"Dan kau? Apa yang kau dapat?" tanya Saka sinis. Bola matanya seolah ingin mengajak Revan berkelahi.


"Aku sudah menemukan orang tuanya. Mengatakan semua keadaan Airin. Awalnya ayahnya tidak percaya dan tetap membela Bram, tapi aku katakan kalau ingin mendapat bukti, temui Airin sekarang, dan seperti mereka mulai percaya. Aku juga sudah menyampaikan rencana kita dan mereka mau menjadi saksi," terang Revan tidak menanggapi tatapan sini Saka. Hatinya terlalu girang untuk mengurusi hal yang tidak penting seperti itu.


Tidak ada yang mampu merampas kebahagiaannya, karena besok dia akan nge-date dengan Ze, wanita yang dia cintai.


"Kalau begitu besok kau temani aku satu harian. Kita buat laporan ke kantor polisi, lalu kita Bandung untuk cek proyek!" seru Saka memaksa Revan, saat itulah dia baru sadar kalau Saka ingin menghalangi kencannya.

__ADS_1


__ADS_2