
Dokter sudah keluar dari ruangan tempat Candra dirawat. Untunglah mereka segera melarikan Candra ke rumah sakit hingga nyawa pria itu bisa tertolong.
Ze tidak henti-hentinya mengucapkan terima kasih kepada Sang Kuasa karena sudah menyelamatkan nyawa ayahnya.
"Apa saya sudah bisa bertemu dengan Papa, Dok?" tanya Ze, saat itulah bola mata Saka membulat. Dia tidak menyangka bahwa pelayannya selama ini adalah putri dari konglomerat ternama di kota ini.
"Maaf, untuk sementara pasien belum bisa ditemui karena masih dalam tahap observasi. Pasien juga belum siuman," jawab sang dokter. Namun dokter itu menjanjikan bahwa setelah Candra siuman maka Ze boleh menemui ayahnya.
Demi keselamatan Chandra Toni memerintahkan dua orang bodyguard untuk berjaga di depan pintu ruangan VVIP tempat Chandra dirawat.
"Apa katamu? Papa? Tuan Regan Papamu?" tanya Saka masih tidak percaya. Habislah dia kali ini. Kalau sampai Candra tahu bahwa selama Ze bekerja di rumahnya, dia sering menindas gadis itu, dia yakin Candra akan menuntut balas bahkan bisa saja dia membunuh Saka.
Ze menelan berat salivanya. Apa yang harus dia katakan pada Saka? bagaimana dia harus memulai menjelaskan pada pria itu.
"Ze, aku bertanya padamu!"
"Jangan membentak ku. Aku bukan pelayanmu lagi. Benar dia papaku terus kenapa?" tantang Ze.
Saka segera menarik tangan gadis itu menjauh dari Toni. Mereka memerlukan ruang untuk bisa bicara berdua dengan lebih leluasa. Begitu melangkah, Toni ingin menghadang niat Saka yang ingin membawa Ze pergi, tapi gadis itu mengangkat tangannya.
"Katakan padaku, kenapa kau berbohong? Mengapa mengatakan kau tidak punya keluarga dan justru bekerja jadi pelayan di rumahku? Jangan-jangan, itu trik mu untuk mendekatiku?"
Rasanya ingin sekali Ze menggetok kepala Saka. Mengapa pria yang terlihat cool, sangat tampan dan berwibawa ini bisa memiliki pemikiran sebodoh itu.
"Apa kau setampan itu?" bentak Ze kesal.
Saka hanya menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak terasa gatal. Lantas apa alasan Ze menyamar menjadi seorang pelayan di rumahnya.
"Makanya kamu ceritakan semuanya biar aku gak menduga-duga."
__ADS_1
"Untuk apa? Apa urusan dengan mu?" Ze kembali memasang wajah cemberut. Apa dia itu pikir bahwa karena tadi dia mau dipeluk dan ditenangkan olehnya, maka dia sudah memaafkan perlakuan pria itu kepadanya? Jangan harap!
"Lantas katakan padaku, agar aku tidak bertanya-tanya lagi. Tahukah kau, Ze, aku sangat merindukanmu," bisik Saka lembut, menatap wajah Ze masih menunduk. Tangan gadis itu masih berada di genggamannya.
"Kau merindukanku? Bukannya kau membiarkan ku diusir oleh Airin? Jelas-jelas kau tahu kalau istrimu itu lah yang sudah mencelakai ku!" bentak Ze. Kembali amarahnya bangkit kala mengingat peristiwa itu.
"Aku minta maaf. Aku tahu aku kurang tegas. Tapi asal kau tahu kalau saat itu aku bertengkar hebat dengan Airin, dan saat itu juga aku mengatakan padanya agar kamu sebaiknya bercerai!"
Bola mata Ze semakin membulat. Dia tidak tahu masalah itu, sama sekali tidak mendengar keributan malam itu. Mungkin karena kelelahan menangis akhirnya dia tertidur.
"Aku mohon jangan karena aku kalian jadi ribut, sudah sewajarnya aku yang pergi dari rumah itu demi ketentraman rumah tangga kalian," tukas Ze yang ingin menarik tangannya. Dia sadar tidak selayaknya dia berpegangan tangan seperti ini dengan Saka yang notabene adalah suami orang.
Namun, Saka tidak melepaskan tangan Ze, dia tetap menggenggam erat tangan wanita itu. Bahkan tanpa diduga Ze, Saka membawa ke bibirnya untuk dia kecup.
"Aku yang salah. Terlambat menyadari perasaanku padamu. Ze, aku sungguh-sungguh mencintai mu. Aku tahu mungkin sangat terlambat mengatakan hal ini padamu. Aku minta maaf karena baru mengingat kejadian malam itu."
"Jadi, kau ingat malam itu, tapi tidak mengatakannya apapun padaku?" Kebencian Ze timbul. Kembali mengingat karena hal ini lah ayahnya jadi masuk rumah sakit dan menerima malu.
"Aku baru mengingat setelah kau pergi. Saat itu aku mabuk, tapi ketika masuk ke dalam kamarmu lagi, aku ingat semuanya. Aku minta maaf karena bisa melupakan malam itu. Seandainya aku ingat, aku pasti tidak akan menikah dengan Airin," ucap Saka membelai rambut Ze.
Gadis itu bisa merasakan ketulusan Saka. Dia percaya, kalau Saka mungkin tidak ingat karena memang malam itu dia sedang mabuk, lagi pula itu bukan kesalahan Saka sendiri, Ze juga tidak menolak.
"Sebaiknya kita lupakan peristiwa malam itu. Aku juga tidak akan menuntut apapun. Kau bina saja rumah tanggamu dengan Airin," kata Ze lemah. Sakit sebenarnya, hanya saja dia mencoba kuat. Merelakan pria yang disukai untuk wanita lain bukanlah mudah.
"Airin sudah tiada, Ze. Kecelakaan merenggut nyawanya beberapa hari lalu," jawab Saka tercekat. Memikirkan Airin hatinya merasa hancur, sedih atas pengkhianatan wanita itu, tapi juga merasa bersalah karena dirinya lah yang mendorong Airin melakukan perselingkuhan.
Entah sudah keberapa kali Ze terkejut mendengar perkataan Saka. Banyak hal yang terjadi setelah kepergiannya dari rumah itu.
"Aku... Aku turut berdukacita, Saka," ucapnya tanpa sadar kembali menggenggam tangan pria itu.
__ADS_1
"Sudahlah, mungkin ini sudah suratan takdir. Airin ternyata menjalin kasih dengan pria lain di belakangku. Sungguh aku tidak menduga. Tapi apa mau dikata. Semua ini juga tidak luput dari salahku. Airin merasa kalau aku sudah tidak mencintainya, dan mencari kesenangan dengan pria lain," terang Saka memandang jauh ke depan.
Dia sendiri tidak menyangka dinamika hidupnya. Awalnya saat mendapati Airin masih hidup, dia pikir akan bahagia hidup bersama wanita itu selamanya, nyatanya rasa cinta yang dulu ada kini hilang tak berbekas.
"Jangan menyalahkan dirimu lagi."
"Aku salah. Aku bersalah padamu dan juga Airin. Kalau seandainya aku cepat menyadari perasaan ku padamu, menyadari kalau aku mencintaimu, seperti yang aku katakan tadi, aku tidak mungkin menikah dengan Airin dan membuat hidupnya menderita."
"Sejak kapan kau menyadari kalau kau mencintaiku?"
"Aku bodoh. Barulah setelah memikirkan semuanya, aku sadar sejak lama jatuh hati padamu. Aku cemburu setiap Revan mengajak mu jalan, bahkan ketika mendapati anak tukang kebun berbincang dengan mu di tepi kolam renang, aku merasakan amarah dan cemburu yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya. Aku begitu ketakutan kalau kau pergi dariku," jawab Saka menatap mata indah milik Ze. Bola mata teduh yang selam ini sangat dia rindukan.
"Ze, mau kah kau menerima cintaku? Memaafkan semua salahku? Aku mohon jangan tinggalkan aku lagi, Sayang," bisik Saka menarik tangan Ze agar gadis itu masuk dalam pelukannya.
Hatinya Ze begitu menghangat. Banyak jalan berliku yang harus dia lalui agar bisa sampai di pelukan pria ini. Namun, kenapa hatinya masih belum siap mengatakan 'iya' pada permintaan pria itu?
"Kasih aku waktu berpikir. Aku tidak bisa memberikan jawaban apapun saat ini, terlebih kondisi papa juga belum stabil."
Saka mengerti. Dia paham maksud gadis itu dan hanya mengangguk mengiyakan permintaan Ze.
***
Keesokan harinya, Candra siuman, akhirnya Ze bisa memeluk ayahnya, menangis meminta maaf pada pria itu.
"Sudahlah, putriku. Kamu jangan menangis. Ingat kondisi mu saat ini. Kalau kau sakit, maka bayi yang ada dalam kandunganmu juga akan menderita," ucap Candra terbata. Dia masih sudah untuk menggerakkan mulutnya.
"Terima kasih, Papa karena sudah menyayangi ku sebesar ini. Maafkan aku yang sudah membuat Papa kecewa," ucapnya terengah-engah karena kelelahan menangis.
"Dasar gadis bodoh, kau putri Papa, sudah seharusnya Papa menyayangimu."
__ADS_1