
"Papa, ada yang ingin menemui Papa malam ini," ucap Ze mengambil tempat di samping ayahnya.
Kondisi Candra sudah semakin membaik, menikmati proses pemulihannya di rumah.
Candra menoleh, rasa penasaran pria itu membuatnya meletakkan buku yang saat ini dia pegang.
"Siapa?" tanyanya antusias. Apa mungkin Max yang kembali menemui mereka ingin meminta maaf, tapi rasanya bukan. Lalu siapa? Pertanyaan itu hanya terus bergulir dalam benak Candra. Kembali dia mengamati wajah Ze, putrinya itu terlihat berbeda, wajahnya sangat cerah dan terlihat bahagia.
"Nanti juga Papa tahu, tapi Papa mau gak menerimanya?" Delik Ze memaksa ayahnya memberi jawaban. Hatinya saat ini ketar-ketir, Saka memaksa untuk datang ke rumah menemui Candra, meski Ze mengatakan jangan dulu, karena takut kalau ayahnya tidak siap menerima kedatangan pria itu.
Entah mengapa, firasat Ze mengatakan kalau Candra tidak akan menerima Saka, terlebih kalau sampai tahu bahwa Saka lah pria yang sudah menodainya bahkan sampai membuatnya hamil.
"Jangan buat Papa penasaran!"
"Iya, Papa bilang dulu, mau atau gak?"
"Papa mau."
Keduanya pun terlibat perbincangan seru hingga terdengar suara tawa dari ruang kerja Candra, yang tanpa mereka ketahui, bawah Mira sedang mencuri dengar perbincangan mereka.
Wanita itu mengumpat, menyumpahi Ze yang bisa mengambil perhatian ayahnya lagi.
"Mama sedang apa? Kenapa harus menguping?"
Hampir saja Mira memekik keras kala terkejut oleh kedatangan Kinan dari arah belakang.
"Ssssttt, jangan berisik! Mama lagi mencuri dengar, apa saja yang mereka bahas. Tampaknya tua bangka dan putrinya itu sedang menunggu seorang tamu. Tapi siapa, ya?"
Mira menyeret langkahnya menjauh dari depan pintu, menarik tangan Kinan untuk segera masuk ke dalam kamar putrinya itu.
Mereka perlu mengatur rencana untuk melakukan balas dendam terhadap Chandra dan juga Ze. Hanya tinggal Kinan yang bisa membantunya karena tanpa belas kasih Candra sudah menjebloskan hal itu ke penjara dengan berbagai macam kehidupan.
"Apa rencana kita sekarang, Ma? Aku gak tahan kalau harus satu rumah dengan gadis itu. Lihat saja, begitu putrinya kembali suami Mama sudah tidak peduli padaku lagi!" Kinan menghentakkan kakinya ke lantai bentuk protesnya karena diabaikan Candra.
__ADS_1
"Kita akan mengatur rencana agar pria tua itu segera menghadap penciptanya."
"Maksud Mama? Jangan bilang Mama mau membunuh Om Candra?"
"Ssssttt, kecilkan suaramu. Kalau kita gak mau disingkirkan, maka kita harus lebih dulu menyingkirkan!"
"Terus gimana? Gak mungkin Mama bekap dia pas tidur, kan?" lontar Kinan mendelik. Dia pun sebenarnya merasa kesal karena impiannya untuk beli mobil baru yang dijanjikan Aldo setelah menikah dengan Ze, harus pupus. Minta pada Candra pastilah tidak akan diterima.
"Mama akan tukar obat yang dia minum dengan obat yang sudah kadaluarsa. Biar cepat mati sekalian!"
***
Sudah satu jam Ze mondar-mandir di dalam kamarnya, gelisah menunggu kedatangan Saka. Janji pria itu akan tiba pukul tujuh malam, yang artinya tidak kurang dari setengah jam lagi.
Dia berharap Papanya akan menerima kedatangan Saka dengan baik. Takutnya, kalau saat Saka mengutarakan niatnya untuk melamar gadis itu, justru Candra akan menolak dengan tegas.
Selama ini dia mencari pria yang sudah menghamili putrinya, dan dengan kedatangan Saka untuk melamarnya, pastilah Candra bisa menebak kalau Saka lah ayah dari janin yang ada dalam kandungannya.
Bergegas, Ze berlari turun. Dia sudah berdandan tipis, dan memakai mini dress nya yang berhasil membuatnya tampil sangat cantik.
Di anak tangga terakhir, dia berpapasan dengan Kinan yang juga mau melihat siapa yang datang.
"Kau berdandan? Apa yang datang itu tamumu?" tanya Kinan sini. Dia benci melihat raut bahagia di wajah Ze, yang semakin membuatnya terlihat cantik.
"Iya. Aku pergi dulu melihatnya," jawab Ze segera berlalu.
Begitu tiba di teras rumah, Ze memekik kaget kala melihat orang yang turun dari dalam mobil tidak hanya Saka tapi Oma juga ikut.
Segera dia berlari menghampiri wanita tua yang sangat dirindukan itu, memeluknya erat bahkan sampai meneteskan air mata haru.
"Oma...," isak Ze tidak tahan membendung air matanya. Wanita yang begitu baik padanya dan telah menyelamatkan hidupnya.
Oma memang sudah mengetahui cerita mengenai latar belakang Ze. Tentu saja seperti Saka, Oma juga terkejut.
__ADS_1
Saka segera menjelaskan niatnya untuk datang menghadap Candra, melamar gadis itu untuk menjadi istrinya. Tentu saja Oma menyambut gembira hal itu dan memaksa untuk ikut, walaupun Saka sudah mengatakan bisa jadi bahwa Chandra akan menolak mereka bahkan yang terburuk memisahkannya dari Ze.
"Biar Oma yang menjelaskan semuanya pada Candra!" ucap Oma bersikeras tetap mau ikut bersama Saka malam ini.
Rasa rindunya kepada Ze tidak bisa tertahan lagi. Dia ingin melihat gadis itu yang dia yakini bisa menjadi obat baginya. Oma juga sakit karena merindukan Ze, kesedihannya berlarut karena tidak bisa menemukan keberadaan gadis itu.
"Aku gak dipeluk, nih?" goda Saka yang membuatnya menerima cubitan panas dari Ze di pinggangnya.
"Ayo, Oma, kita masuk." Ze menggandeng Oma memasuki rumah mereka, menuntun untuk duduk di ruang tamu.
"Sebentar aku panggil papa dulu, ya Oma," pintanya tersenyum malu. Sejak tadi ekor matanya melihat kalau Saka menatapnya intens, menunjukkan keterpesonaannya melihat penampilan Ze malam ini.
"Wah, rupanya ada tamu. Nyonya Mahesa dan juga Tuan Saka, apa yang membawa kalian kemari? Maaf, aku tidak tahu akan kedatangan kalian," sapa Mira tersenyum penuh arti.
Setelah mendapatkan kabar dari putrinya, Mira segera bergegas untuk turun menyambut tamu mereka. Dia ingin tahu, apa gerangan yang membawa Oma dan juga Saka datang ke rumah itu.
Apa mungkin mereka kembali melirik Kinan dan berharap agar putrinya itu mau menikah dengan Saka.
"Kamu yang harusnya minta maaf karena datang mendadak," jawab Oma ramah. Baik Saka ataupun Oma memang belum mengetahui bahwa Mira adalah wanita jahat yang sudah mencelakai Ze, hingga membuat gadis itu memutuskan pergi dari rumah itu.
Mira ingin melanjutkan pembicaraan, mengorek informasi perihal kedatangan mereka dan apa tujuan mereka ingin menemui suaminya, tapi niatnya harus tertahan karena Chandra dan juga Ze sudah muncul di ruangan itu.
Ekspresi Candra sulit untuk dilukiskan. Dia tidak mengira bahwa tamu yang dikatakan oleh putrinya itu adalah Saka Mahesa.
Namun, melihat keceriaan dan raut bahagia di wajah putrinya, insting sebagai seorang ayah tentu saja cepat bekerja. Dia menebak bahwa di antara mereka berdua memiliki hubungan khusus. Tapi dari mana Ze bisa mengenal Saka? Atau jangan-jangan....
Untuk memastikan hal itu, Candra pun menyambut kedatangan mereka dan mendengarkan apa yang akan disampaikan oleh Saka dan Omanya.
"Suatu kehormatan Anda bisa datang ke tempat kami. Seandainya Nara mengatakan bahwa tamu kehormatan yang ditunggu adalah keluarga Mahesa, tentu saja kami sekeluarga akan menyambut dengan lebih meriah," ucap Candra yang masih digandeng oleh Ze.
Gadis itu memapah ayahnya untuk duduk di sofa panjang yang juga sudah ditempati oleh Mira.
"Kami yang harus berterima kasih karena sudah disambut dan maaf karena kedatangan kalian mungkin mengganggu istirahat Tuan Regan," balas Oma berbasa-basi.
__ADS_1