
Ditengah persiapan pernikahan mereka, ada kabar duka dari penjara. Bram mencoba melarikan diri. Dalam kejaran polisi, terpaksa menembak Bram hingga pada akhirnya mati di tempat.
Airin tidak tahu apa dia harus bersedih atau justru merasa senang. Dia tahu adalah dosa senang di atas kemalangan orang lain, tapi dengan meninggalnya Bram, tidak ada lagi hambatan untuk menikah dengan Saka.
"Kau sudah mendengar kabar mengenai kematian Bram?" tanya Airin setelah bertemu dengan Saka di rumahnya.
Pria itu hanya mengangguk lemah. Tidak senang atau pun bereaksi sedih.
"Kalau begitu kita bisa mempercepat pernikahan kita. Bulan depan aja," pintanya.
"Kenapa harus dipercepat? Kamu sudah tidak tahan lagi?" suara Oma menggema, mewakili Saka menjawab pertanyaan Airin. Saka adu pandang dengan Ze yang ada di depannya.
Ada perasaan tidak enak karena gadis itu harus mendengar ucapan Airin yang ingin mempercepat pernikahan mereka.
__ADS_1
Namun, sesuatu yang muncul dalam pikirannya membuat wajah Saka justru berubah. Dia kesal pada gadis itu karena kini semakin dekat dengan Revan. Bahkan mantan anak buahnya itu sudah sering datang menjemput Ze ke rumah mereka dan Oma memperingatkan agar dirinya jangan ikut campur lagi.
"Oma... Itu hanya saran dariku," jawab Airin buru-buru. Tepat saat Airin selesai bicara, Revan muncul.
Hal itu tentu saja membuat dada Saka panas. Awalnya ingin menolak ide Airin, tapi karena kedatangan Revan membuat pria itu memberi jawaban sebaliknya.
"Aku setuju!" Serunya menatap tajam ke arah Ze. Gadis itu segera buang muka, lalu menyambut kedatangan Revan, begitu pun dengan Oma. Ketiganya memilih mengungsi ke ruang makan, ngobrol sambil menikmati …cake yang tadi siang dibuat oleh Ze.
Airin menangkap basah sorot mata Saka yang tampak tidak senang bahkan lebih tepat dibilang cemburu akan kedekatan dan sikap ramah Ze pada Revan. Tidak hentinya netra Saka mengikuti gerak langkah mereka.
"Kamu ngomong apa, sih, Airin?"
"Udah sejak lama aku curiga. Kadang saat kita lagi ngobrol di rumah, kamu sibuk ngutak-atik hape, gak pernah memperhatikanku. Gak tahu apa yang kamu yang menyita perhatian mu, tapi saat aku cek, di galerimu ada foto Ze!"
__ADS_1
Airin sebenarnya malu mengakui hal itu. Masa dia dikalahkan oleh pelayan? Tapi kalau masalah itu disimpan terus akan merusak hubungan mereka ke depannya.
Dia ingin mendengar pengakuan Saka tentang perasaannya pada Ze. Oh, Tuhan, Ze hanya seorang pelayan!
"Ka-kamu ngomong apa, sih? Kita mau nikah, jangan mikir hal aneh!"
Airin segera bergerak cepat ambil ponsel Saka yang tergeletak di atas meja dengan kasar membuka galeri dan ketika foto yang ingin ditunjukkan kepada pria itu ditemukan dengan wajah garang dia melemparkan ponsel itu dengan kasar di atas meja. Foto Ze yang diambil secara canded menghiasi layar Ponsel Saka.
Pria itu menarik napas berat. Dia tertangkap basah. Tapi, egonya ingin membantah.
"Foto itu tidak berarti apapun. Aku mohon jangan dibahas lagi," ucap Saka mencoba menenangkan hati Airin. Tapi gadis itu masih belum percaya, wajahnya masih cemberut.
"Kalau benar, hapus foto itu!" perintah Airin. Dia tidak ingin ada wanita lain yang mengganggu pikiran Saka.
__ADS_1
"Oke, baiklah!" Saka mengambil foto itu lalu segera menghapusnya foto itu.
"Kau puas?" tanya Saka mendelik.