
Baru saja Ze keluar dari klinik, seseorang menjegatnya. Ze yang sejak tadi melamun, tersentak oleh rasa sakit di lengannya. Ketika mendongak dan mendapati pria yang sudah menariknya adalah manusia berbahaya yang begitu dia benci, rasa panik dan takut muncul dalam diri Ze.
"Lepaskan!" teriaknya, tapi pria itu tidak peduli, justru menyeret Ze masuk ke dalam mobil yang terparkir tak jauh dari tempat itu.
Dengan kasar pria itu mendorongnya masuk, lalu ikut masuk di samping Ze, tepat di balik kemudi.
"Jangan macam-macam Nara, atau aku akan membunuhmu dalam mobil ini!"
Ancaman itu membuat Ze gentar. Dia kenal betul bandit yang ada di sampingnya ini. Sudah dua kali dia mencoba memperkosa Ze.
"Mau mau apa? Lepaskan aku, Aldo!"
"Tutup mulutmu, atau satu gerakan bisa membuat leher mu patah!" ancam Aldo sembari menyeringai puas.
Pertemuan tidak terduga dengan Ze ibarat mendapatkan harta karun bagi Aldo. Sudah lama dia mencari gadis ini demi mendapatkan hadiah dari Candra.
Awalnya dia menemani kekasihnya yang ingin periksa. Wanita itu mengaku hamil anak Aldo, tapi pria itu tidak percaya, dan akhirnya ikut ke klinik untuk mendapatkan kebenaran.
Ze menggigit bibir bawahnya, wajahnya tampak pucat. Apa yang harus dia lakukan sekarang? Kalau memilih keluar dari mobil, dia pasti celaka karena banyak mobil yang melintas.
Getar-getir hati Ze. Kemana Aldo akan membawa dirinya pergi. Namun, pertanyaan itu terhenti saat mobil Aldo berbelok ke arah jalan rumah mereka.
Mampus aku, bagaimana ini? Apa yang akan dikatakan papa padaku?
"Aldo, aku mohon, biar kan aku turun," mohon Ze, tapi tetap saja tidak akan digubris oleh Aldo.
__ADS_1
"Aldo, tolong aku, aku ingin turun," Ze menyatukan kedua telapak tangannya, memohon belas kasih pria itu, tapi monster mana pernah punya hati.
Mobil itu gerak semakin cepat membelah jalanan, hingga tidak lebih dari 10 menit lagi mereka akan tiba di rumah mewah keluarga Regan.
"Sekarang kau sudah boleh turun. Bukankah sejak tadi kau mohon untuk turun?" ujar Aldo menarik sudut bibirnya, tersenyum sinis pada Ze.
Aldo yakin bahwa kali ini dia akan mendapatkan penghargaan dari Candra, sekaligus ibunya akan bangga kepadanya ketika Aldo memberitahukan kabar mengenai keadaan di saat ini.
Saat di klinik, tanpa sengaja Aldo yang sudah melihat Ze dibopong oleh ibu kosnya bersama seorang wanita lainnya ke dalam kamar, mengikuti mereka. Setelah kedua wanita yang membawa Ze pergi, Aldo kembali ke dekat ruangan itu, mendengarkan pembicaraan gadis itu dengan bidan yang merawatnya.
"Aku gak mau masuk. Aku mau pergi!" Ze sudah memutar tubuhnya untuk berlari keluar gerbang.
"Gusman, tutup gerbang!" Teriak Aldo dan segera bergegas dikerjakannya.
"Kau brengsek, Aldo! Bajingan!" umpat Ze yang merasa terperangkap. Dia tidak bisa kabur, mau tidak mau dia harus berjalan ke depan, memasuki rumah yang sudah hampir setahun ini dia tinggalkan, menghadapi apapun yang terjadi di dalam sana. Baik itu ayahnya yang ingin membunuhnya, atau Mirna yang ingin melenyapkannya, sama saja baginya.
Dia sudah cukup pusing dengan keadaannya saat ini, tapi kalau dia menyerah, bagaimana dengan bayi yang ada dalam kandungannya? Meskipun dia tidak menginginkan anak ini, tapi janin yang dalam kandungannya tidak bersalah, dia punya hak untuk hidup!
Dengan langkah bergetar dan jantung berdebar tidak karuan si melangkah menyiapkan hatinya menerima apapun perkataan dari sang ayah.
"Ze?" pekik Kinan yang berhenti mendadak di tengah ruangan terkejut melihat sosok yang sudah berada di depannya.
Teriakan Kinan mendatangkan rasa ingin tahu di hati Mira. Buru-buru wanita itu berlari dari kebun yang berada di samping rumah, melintasi pintu samping, untuk melihat alasan Kinan berteriak.
Jantung Mira rasanya melompat jatuh ke lantai. Sosok yang berada di hadapannya ini sama sekali tidak diharapkan untuk dilihatnya lagi. Memang sampai detik ini, para anak buahnya belum menemukan jasad gadis itu, tapi kepergiannya selama setahun sudah membuat Mira menganggap Ze meninggal.
__ADS_1
sepertinya kedatangan Zee disambut oleh semua anggota keluarga inti buktinya saja masih terbengong dan saling menenangkan debat jantung masing-masing giliran Chandra yang turun tertatih dia menuruni tangga matanya terus menatap ke depan tetap 7 pada gadis yang terlihat ketakutan berdiri di tengah ruangan itu
Chandra terus berjalan melewati istrinya dan juga tempat Kinan berdiri, tatapannya hanya tertuju pada mata sembab itu.
"Kau pulang?" Suara Candra bergetar hebat, tampak pria itu menahan air matanya, walau semua orang yang menyaksikan hal itu tahu kalau pria itu sangat berusaha menahan tangisnya.
"Pa-pa...." Ze kalah, lebih dulu meneteskan air mata. Suaranya tercekat, sakit sekali. Dadanya sesak untuk memungut udara agar bisa bernapas.
Rasa takut itu sirna berubah menjadi rasa rindu yang ingin dia sampaikan kepada ayahnya melalui sebuah pelukan. Dia menghambur ke arah Candra.
"Kamu masih hidup, Nara. Oh Tuhan, Papa masih gak percaya kalau masih bisa bertemu denganmu. Oh, putriku," bisik Candra penuh haru. Doa-doanya selama ini akhirnya dijawab oleh yang Kurasa.
"Maafkan, Nara, Pa. Maafkan Nara..." Hanya itu yang bisa dikatakan gadis itu dalam sela tangisnya.
Mira yang sejak tadi hanya memandang, mengamati, dan mendengarkan pembicaraan keduanya, pada akhirnya perlahan menarik diri ketika melihat Aldo yang berdiri di depan pintu.
Firasatnya berkata kalau Aldo ada hubungannya dengan kepulangan Ze. Dia ingin mencari tahu apakah Aldo yang membawa Ze ke rumah ini, pasalnya dia sangat yakin bahwa gadis itu tidak akan berani pulang setelah apa yang dia alami setahun yang lalu.
"Kau baru pulang?" bisik Mira ketika sudah berdiri di samping Aldo. Pria itu menoleh lalu mengangguk pelan.
"Kau bersamanya?" Suara Mira semakin pelan, tidak ingin didengar oleh Candra. Lagi-lagi Aldo hanya bisa mengangguk. Mungkin ibunya akan marah karena mengetahui dirinya membawa kembali Ze ke rumah itu setelah usaha ibunya menjauhkan gadis itu dari Chandra.
Tapi sekarang skenarionya berubah, tidak perlu melenyapkan gadis itu karena Aldo mempunyai rencananya sendiri. Kalau selama ini Candra memandang sebelah mata kepadanya, bahkan tidak memberikan satu posisi pun di perusahaan Mega Regan, kini dia yakin setelah membeberkan semuanya, Candra yang akan memohon kepadanya untuk masuk ke dalam perusahaan milik nya.
"Apa kau begitu bodoh sampai membawa gadis sialan itu kembali ke rumah ini? Apa kau tidak tahu usaha Ibu untuk menyingkirkannya dan kini kau kembali mempertemukannya dengan ayahnya?" Mira terlihat begitu marah, tidak bisa membendung emosinya. Ingin sekali rasanya memukul kepala putranya itu agar bisa sedikit lebih pintar.
__ADS_1
"Ibu tenang saja sekarang aku yang pegang kendali!" jawabnya penuh percaya diri.