Kalau Cinta Jangan Marah

Kalau Cinta Jangan Marah
Chapter 35


__ADS_3

Saka menempatkan Airin di apartemennya. Dia ingin gadis itu berada di tempat yang aman, jadi menuntaskan beberapa anak buahnya untuk berjaga.


Dia sudah memikirkan semuanya. Saka sudah mengantar Airin visum lalu setelahnya membuat laporan ke kantor polisi dengan tuduhan kdrt. Mungkin ini akan jadi jalan untuk mengajukan perceraian. Kedua orang tua Airin juga sudah diamankan oleh Saka.


Pria itu satu langkah di depan. Dia mengamankan kedua orang tua Airin karena tahu kalau Bram akan menyakiti mereka kembali. Entah tahu dari mana, Bram mengutus anak buahnya untuk menghajar Darmo setelah anak buah Saka mendatangi mereka.


Kini setelah semua bukti kejahatan Bram dan juga beberapa saksi, Saka yakin kalau dia pasti bisa menjebloskan Bram ke penjara dan mengakhiri semua penderitaan yang dirasakan Airin dan keluarganya.


***


"Kau mau pulang? Tidak menginap di sini aja?" pinta Airin. Gadis itu bahkan tidak lagi merasa sungkan menawarkan diri pada Saka, padahal surat cerainya saja belum keluar dari pengadilan.


"Aku harus pulang. Sudah seminggu ini Oma tidak mengajakku bicara," jawab Saka membelai lembut pipi Airin. Semuanya tampak lebih baik sekarang bagi Airin.


Mereka mendapat kabar bahwa Bram sedang dalam pengejaran. Bisnis pria itu berhasil diendus oleh pihak berwajib, satu pabrik penghasil ekstasi dan juga barang haram lainnya berhasil digrebek. Anak buah Bram yang ada di sana saat itu dapat diringkus. Sayangnya, Bram yang mendengar berita itu dapat kabur menyelamatkan dirinya.


"Oh. Baiklah. Aku berharap Oma mau menerimaku," ucap Airin bergelayut manja di lengan Saka. Dia harus bersabar agar Oma mau menerimanya.


Mungkin butuh waktu lama, tapi tidak mengapa, asal dia bisa mendapatkan restu.


"Kau harus bersabar, Oma pasti akan menerimamu," ucap Saka. Sedikit sulit memang, tapi mengingat Omanya sangat sayang padanya, dia yakin pasti lambat laun akan menerima Airin.


Untuk sekarang, biarkan Saka mencairkan amarah Omanya. Kalau Oma sudah tidak marah lagi padanya, maka dia akan merayu Oma untuk mau menerima Airin menjadi istrinya.


***

__ADS_1


"Oma, ada yang ingin aku bicarakan dengan Oma. Ini serius," ucap Saka mendatangi Omanya. Wanita itu baru saja menyelesaikan makan malamnya di kamar. Bentuk aksinya menghindari Saka.


Oma masih diam, tidak menanggapi perkataan Oma. Dia masih marah dan sakit hati. Berapa Oma sangat tersinggung, demi Airin, Saka tega mengabaikan perkataan Omanya.


"Oma, aku mohon tolong dengarkan aku."


"Lepaskan!" hardik Oma kesal. Dia masih belum siap untuk berdamai dengan Saka jika pria itu masih memilih bersama Airin.


"Oma dengarkan aku. Airin pilihanku. Aku sangat mencintai dia. Aku juga sayang mencintai Oma, tapi Airin gadis yang aku inginkan berada di sisiku untuk menghabiskan waktu, di sisa hidupku. Aku tidak mungkin bisa menyakiti Oma, tapi dengan merestui hubungan kami, Oma sudah memberikan kebahagiaan yang besar untuk ku," ucap Saka, menggenggam tangan Oma dan menatap wajah wanita itu dengan penuh harap.


Apa yang bisa dikatakan Oma lagi pada Saka? Dia tentu sangat ingin melihat Saka bahagia. Itu janjinya pada almarhum suaminya dan pada orang tua Saka. Setelah memastikan cucunya itu bahagia, dia akan bisa pergi dengan tenang.


"Oma, aku mohon. Maafkan Airin akan kesalahannya yang lalu. Dia terpaksa menikahi bandot tua itu karena hutang orang tuanya. Dia juga tersiksa selama ini. Dia diancam akan membunuh orang tuanya kalau sampai mencariku," terang Saka. Berharap Omanya berpikiran terbuka, jangan menghakimi Airin tanpa tahu kebenarannya.


Benarkan, Oma kini menaruh perhatian akan kasus Airin. Dia menatap wajah Saka lekat, lalu memilih untuk kembali duduk di kursi yang sejak awal dia tempati.


"Oma bukan tidak ingin mendukungmu. Kau tahu sendiri, siapa pun wanita pilihanmu selalu Oma restui. Dulu, saat kau memutuskan untuk bertunangan dengan Airin, apa Oma ada protes. Tapi sekarang sangat berbeda, Airin adalah istri orang lain. Oma tidak mau suaminya menuntut mu nanti." Embusan napas Oma menandakan beban berat di dadanya.


"Itu sedang kami urus Oma. Suaminya adalah mafia barang-barang terlarang. Saat ini polisi sedang mencarinya, dan Airin sudah melayangkan surat gugatan cerai."


Mendengar penjelasan Saka, setidaknya hati Oma melembut. Dia juga merasa kasihan pada Airin. Nasib gadis itu sangat tragis bisa jatuh ke tangan bandar narkoba.


"Baiklah kalau begitu. Kalau memang dia adalah pilihan hatimu, dan kau yakin akan hidup bahagia bersamanya, maka Oma akan menyetujui pernikahan kalian!"


***

__ADS_1


Sejak saat itu, pintu rumah keluarga Mahesa terbuka lebar untuk Airin. Dia sering datang dengan buah tangan mengunjungi Oma, untuk apa lagi kalau bukan untuk mengambil hati Oma.


Walau sudah menyetujui hubungan Airin dan Saka, tapi jauh di dalam lubuk hati Oma, dia belum sepenuhnya menerima keberadaan Airin. Semua ini dia lakukan hanya untuk menyenangkan hati Saka saja.


"Oma, ini aku bawakan rujak. Saka bilang, Oma sangat suka makan rujak," ujar Airin yang berkunjung minggu siang. Dia merasa yakin, kalau Oma sudah bisa menerimanya, buktinya saja, setiap dia datang ke rumah itu, Oma menyambutnya ramah.


Saka yang juga berdiri di samping Airin, ikut tersenyum senang ke arah Oma.


"Terima kasih, tapi Ze sudah membuatkan rujak untuk Oma. Dia ngulek sambalnya sendiri," terang Oma menunjukkan cobek yang ada di hadapannya. Ze yang saat itu masih mengupas jambu kristal, hanya diam, tidak menyapa Airin walau sekedar senyuman.


Sejak mengetahui kalau Oma sudah menerima dan merestui hubungan keduanya, Ze jadi lebih pendiam, sebisa mungkin menghindari kontak langsung dengan Saka.


Sejak dibebas tugaskan oleh Oma jadi pelayan pribadi Saka, Ze berusaha. untuk menghindar. Dia sendiri tidak mengerti kenapa dia bersikap seperti ini. Tapi satu hal yang dia rasakan, setiap melihat Saka dan Airin bersama, hatinya terasa sakit.


"Oh, kamu pintar buat bumbu pecal juga?" tanya Airin mendelik menatap ke arah Ze.


"Ze bukan hanya pintar membuat sambal, tapi juga memasak. Kamu harus coba nasi goreng buatannya," celetuk Saka, ekor matanya melirik ke arah Ze, gadis itu bergeming.


Pria itu menghela napas panjang. Gagal lagi. Ini entah sudah ke berapa kali dia mencoba mencairkan suasana dengan Ze, tapi gadis itu gak ada respon, seolah menganggapnya tidak ada.


Pernah suatu kali, Saka sengaja memakai pakaian bekas kemarin, agar Ze kasihan, dan memilih pakaian kerjanya, tapi hasilnya nol besar.


Dia juga pernah berpura-pura sakit, agar Ze memberi empati padanya, lagi-lagi gagal juga.


Dia memang bersalah. Setelah kejadian bioskop itu, keesokan harinya mereka kembali bertengkar, saat gadis itu tahu kalau Revan sudah tidak bekerja lagi di perusahaan Saka. Dan itu adalah pertengkaran terakhir mereka sebelum adu diam.

__ADS_1


"Aku akan memecat atau menghajar pria manapun yang coba mendekatimu!" salaknya nyaring menutup pertengkaran mereka kala itu.


__ADS_2