
Mira penasaran apa yang dimaksud Aldo. Meski dia tidak percaya penuh pada rencana putranya, dia tetap menanti Aldo bercerita.
"Maksud kamu apa?"
"Ibu tenang. Lihat aja nanti!"
Aldo sudah berjalan ke arah Candra, berdiri di belakang Ze. "Sudah Om, sebaiknya Om dan Nara duduk dulu. Nara harus jaga kesehatan karena saat ini dia sedang mengandung!"
Semua mata tertuju pada Aldo, tidak terkecuali Candra. Dia bahkan melotot dengan sisa nyawanya. Tiba-tiba terasa sesak dan sulit menghirup udara.
Kaki orang berkuasa itu tampak lemah, tidak sanggup menahan tubuhnya lagi, memilih untuk duduk di sofa.
Jantung Ze berdegup semakin kencang. Menatap penuh kebencian pada Aldo. Dari mana pria itu tahu kalau dirinya saat ini sedang hamil? Ze menyadari kalau Aldo ada di klinik itu bahkan mendengar penjelasan bidan.
"Papa...." Lidah Ze keluh, tenggorokannya bahkan terasa tercekik. Perlahan, dia melangkah mendekati ayahnya. Takut? Sudah pasti! Bahkan kalau bisa dia ingin menghilang. Dia sudah kembali ke rumah ini dan bertemu ayahnya, dia gembira, tapi sekarang dia menyesal sudah masuk ke dalam rumah ini.
"Benar apa yang dikatakan Aldo?" Suara tajam itu seakan langsung menghunus ke jantungnya. Ada kesedihan yang mendalam. Pastilah Candra kecewa padanya, segala tuduhan Mira kini akan dianggap benar.
Kalau Ze menyangkal, dosanya semakin banyak, lagi pula tidak akan menang karena Aldo akan bersaksi dan bisa saja dia membawa Candra ke klinik tadi.
Ze pasrah. Menyerah dengan segala kemungkinan yang akan diterima sebagai hukum.
Perlahan dan penuh rasa takut, dia mengangguk lemah.
Candra terdiam. Sakit di hatinya semakin menjalar di hatinya. Ingin marah, tapi dia tidak ingin kehilangan Ze lagi kalau sampai mengamuk pada gadis itu. Namun, kalau dia diam, hatinya terasa sakit dan sesak.
"Kau sudah menikah?"
Babak baru dari pertanyaan ayahnya yang sama menakutkan baginya, dan ini yang paling memalukan.
"Papa...." Ze coba buka suara, tapi sorot mata tajam dan tidak sabaran ayahnya membuatnya gentar hingga kata-kata yang sempat dia rangkai hilang dari benaknya.
Aura tegas dan diktator Candra masih melekat kental dalam dirinya meski saat ini dia sedang sakit.
Dari gerakan kepala Ze yang menunduk, satu ruangan itu menyadari semuanya, tidak perlu lagi menunggu jawaban dari Ze atas pertanyaan Candra.
__ADS_1
Satu langkah Mira merasa menang. Sejak tadi dia takut kalau suaminya itu akan memberikan perhatian lebih pada putrinya, seperti ucapannya dulu sesaat sebelum Ze tinggal bersama mereka.
Kalau sudah begini, Candra pasti marah dan berharap kalau dia akan mengusir Ze dari rumah ini.
"Jawab Papa! Kamu hamil dan kamu belum menikah?" Kali ini nada suara Candra tidak terbendung lagi. Dipandanginya Ze. Putrinya yang masih berusia 20 tahun sedang hamil dan tidak memiliki suami.
Tiba-tiba dia berpikir apa mungkin Ze diperkosa?
Rasa marah tadi berubah jadi empati. Jika benar begitu adanya, maka dia perlu mencari pria brengsek itu.
"Benarkan, Mas, apa kataku? Nara pergi dengan kekasihnya. Mungkin saat aku menduga pria itu adalah Max, aku keliru, tapi saat aku mengatakan kalau dia pergi dengan pria asing, benar adanya, buktinya aja dia sampai hamil!" suara Mira lantang, puas akan keadaan ini.
Kali ini dia mengakui tindakan Aldo benar. Kalau tidak dibawa ke rumah, mereka tidak akan tahu keadaan Ze dan Candra akan menghabiskan waktunya terus mencari keberadaan Ze.
Bisa saja kala ditemukan, saat itu Ze sudah melahirkan, jadi tidak punya bukti yang menyudutkannya di hadapan Candra.
Candra mengabaikan keterangan Mira dan fokus memandang ke arah putrinya. "Katakan pada Papa, siapa pria yang sudah menghamilimu?"
Ini kali ketiga Ze merasakan tenggorokan tercekat, sebongkah pil pahit seakan menggelinding, hingga membuatnya tidak mampu menjawab pertanyaan Chandra. Apa yang harus dia katakan? Dengan memberitahukan ayah dari bayi yang dia kandung jelas-jelas hal itu semakin mencoreng nama keluarga Regan dan semua orang yang dalam ruangan itu akan mencemooh dan menganggapnya sebagai pelakor karena bisa hamil dengan pria yang sudah beristri.
Lantas jawabannya apa yang sebaiknya dia katakan? Bahwa dia tidak tahu siapa yang menghamilinya? Hal terbodoh yang pernah dia katakan seumur hidup! Bagaimana mungkin wanita dewasa tidak tahu dengan siapa dia bercinta!
"Papa, aku minta maaf, tapi aku mohon, Papa gak usah mempertanyakan hal itu lagi. Aku tahu sudah mencoreng arang ke wajah Papa, jadi demi nama baik keluarga ini, aku akan pergi, jauh dari kehidupan kalian. Anggap saja aku sudah mati!"
Candra tampak menatap dengan tatapan kekecewaan dan juga kesedihan yang teramat besar. Dia ingin sekali merangkul putrinya yang tengah berbeban berat, tapi harga dirinya melarang untuk melakukannya.
Dia kecewa pada Ze, itu sudah pasti. Selama ini dia menganggap dirinya yang tidak becus sebagai ayah karena menelantarkan putri semata wayangnya hanya karena kebenciannya pada ibu Ze, tapi setelah menyadari kekeliruannya dan menarik Ze tinggal bersamanya, semua ini terjadi. Padahal belum banyak waktu yang mereka habiskan bersama.
Keputusan Ze menutup mulutnya, melindungi pria yang sudah menghamilinya tentu saja membuat Candra tidak bisa mengambil tindakan lebih jauh. Kemana dia harus mencari pria brengsek itu?
Dalam benaknya, sekumpulan orang-orang yang selama ini selalu mencari celah untuk menjatuhkan dirinya akan tertawa mendengar kabar ini. Sebaik apapun dia menyimpan berita ini pasti akan terendus. Candra punya banyak musuh yang memungkin ingin membalas dendam padanya.
Perkataan Ze membuat senyum Mira terbit, begitu pun Kinan. Ini yang keduanya inginkan. Selama Zenara masih dianggap anak, maka posisi Kinan yang sebagai anak tiri pasti tidak akan terlihat di mata Candra.
"Sudah berapa bulan usia kandunganmu?" Nada suara Candra yang dingin semakin membuat Ze semakin sedih.
__ADS_1
"6 Minggu, Papa."
"Segera gugurkan bayi itu!
Seketika Zenara mendongak, matanya melotot tidak percaya atas perkataan ayahnya.
Di sisi lain, Mira juga terkejut. Apa rencana Candra? Dengan membuang janin itu, maka Ze tidak punya aib lagi yang bisa dijadikan kartu As. Apa suaminya ingin menerima putrinya itu setelah semua yang terjadi?
Tidak! Mira tentu saja tidak akan terima!
"Gak, Papa. Aku gak mau menggugurkan anak ini. Aku sudah jatuh ke dalam dosa dengan mengandung anak ini di luar pernikahan, jangan lagi menambah dosaku dengan membunuh janin ini!' isak Ze berlutut di depan ayahnya, memeluk kaki Chandra dengan isak tangis bahkan diselipi oleh jeritan penolakan.
Awalnya Ze memang berniat untuk membuang bayi itu karena tidak siap menjadi seorang ibu, terlebih karena tidak memiliki suami, tapi sepanjang jalan menuju rumah ayahnya, bayangan ibunya yang selama ini selalu memberikan kasih sayang dan juga menjaganya membuat Ze mengurungkan niatnya untuk membuang bayi dalam perutnya. Sebaliknya, dia menginginkan bayi itu, menemaninya menjalani kehidupan yang pahit ini.
Dia akan berusaha untuk merawat dan mengasihi bayi itu, memberikan kebutuhan yang cukup pada anaknya. Dia yakin akan sanggup berjuang sendiri.
Kalau saja Aldo tidak menangkapnya, mungkin rencana Ze, dia akan pergi dari kota ini, berjuang sendiri demi bayinya.
Suasana menjadi gaduh, semua memberikan pendapatnya.
Mira mengatakan lebih baik mengirim Ze jauh, dan memutuskan hubungan dengannya karena hanya akan membuat keluarga malu. Kinan juga menambahi, kalau dia akan malu pada teman-temannya kalau tahu punya adik yang hamil tanpa suami.
Belum lagi Mira mengingatkan Candra akan rekan bisnisnya, dan betapa harga saham perusahaan mereka akan anjlok kalau sampai aib ini terendus orang luar.
Aldo mengambil peran pada babak terakhir ini. Toh, justru ini bagian dari rencananya.
"Om, aku punya usul demi menyelesaikan masalah ini."
Semua pasang mata menoleh pada Aldo, hanya Ze yang masih menunduk. Jemarinya saling meremat, mengutuk kebodohannya. Seandainya dia tidak hamil, dan pulang ke rumah, pasti Candra akan menyambutnya dengan rasa sayang.
"Usul? maksud kamu apa? Jangan bercanda dalam keadaan begini, Aldo!" Bentak Mira panik. Dia harus berpikir cepat, jangan sampai masalah ini berakhir begitu saja, dia yang akan rugi.
"Katakan!" perintah Candra dengan wajah ogah-ogahan.
"Aku bersedia menikah dengan Zenara!"
__ADS_1