Kalau Cinta Jangan Marah

Kalau Cinta Jangan Marah
Chapter 51


__ADS_3

"Sebaiknya, Oma kita bawa ke rumah sakit. Kesehatan semakin drastis, tidak hanya cukup kalau hanya di infus di rumah," terang dokter keluarga.


Saka tertunduk lemes melihat keadaan Oma yang sangat memprihatinkan. Wanita itu menolak untuk makan, mungkin semua ini karena pertengkarannya dengan Airin beberapa minggu lalu yang membuat Oma drop.


Oma memaksa Saka mencari Ze dan mengajak gadis itu kembali pulang ke rumah, tapi dengan tegas Airin membentak dan mengatakan bahwa Ze tidak boleh kembali ke kediaman Mahesa.


Tanpa diminta Oma pun, Saka sudah mencari keberadaan gadis itu tapi belum berhasil. Harus kemana lagi dia mencari?


"Aku setuju, Dok. Sebaiknya segera kita bawa Oma ke rumah sakit!" tegas Saka.


Semua sudah siap, Oma akan dibawa malam ini ke rumah sakit.


Saka ingin mengajak Wati ikut ke rumah sakit, dia mencari wanita itu ke kamarnya. Menuju kamar Wati, dia melewati kamar Ze yang sudah lama tidak ditempati. Ada dorongan kuat untuk masuk ke sana.


Rindu. Hanya itu alasan yang buat dia masuk ke kamar itu. Dilayangkan pandangannya ke seluruh kamar, seakan gadis itu masih ada di kamar itu. Saka memilih duduk di tepi ranjang, meraba permukaan kasur yang tampak membangkitkan kenangan.


Tiba-tiba Saka tertegun. Ada yang mengusik pikirannya. Menarik dirinya pada suatu masa dimana potongan kenangan itu kembali muncul meski sedikit diragukannya.


Wajahnya semakin memucat. Pemikiran itu semakin jelas, dan semakin membuat bola matanya membulat karena khayalnya itu berubah jadi nyata.


"Itu bukan mimpi," desis Saka lebih pada dirinya sendiri. Dia ingat malam itu. Kembali dia menatap ranjang itu. Keyakinan semakin kuat, kalau malam itu memang ada.


Bergegas dia bangkit, keluar menuju pos satpam depan, melupakan niat awalnya untuk memanggil Wati.


Segera Saka mengintrogasi satpam yang kebetulan jaga malam itu.


"Apa kau ingat, aku pernah pulang dalam keadaan mabuk, dan pulang diantar kedua temanku?"


Untuk sesaat dia bingung, karena sudah sering majikannya itu pulang dalam keadaan mabuk, tapi kalau yang diantar oleh temannya hanya dua kali belakang ini.

__ADS_1


"Saya ingat, Bos. Yang pertama, ditolong oleh tuan Revan dan dibantu Ze, yang kedua hanya aku dan teman bos yang memapah bos masuk, tapi yang kali kedua ini, bos tidak mengizinkan kami memapah hingga ke kamar," terang Pak satpam itu.


Saka yakin, saat dia tidak ingin dipapah ini dia bukan naik ke kamar, justru masuk ke kamar Ze.


Kembali dia tertegun, membayangkan malam itu dalam kamar Ze. Semakin nyata dalam ingatannya, bagaimana Ze menolak, lalu dia merayu dan memohon pada gadis itu, bahkan mengatakan kalau dia menginginkan Ze.


"Ya Tuhan, apa yang sudah aku lakukan?" desisnya. Sebulan lebih setelah kejadian itu tapi dia tidak mengatakan apapun. Dia yakin hati gadis itu pasti sangat hancur, ketika kehormatannya sudah renggut olehnya, justru dia tidak mengatakan apapun.


Dia harus mencari gadis itu. Dia akan bertanggung jawab. "Sayang, dimana kau berada?" batinnya menyisir rambut dengan jari lalu menjambak rambutnya.


"Kau sedang apa di sana? Bukankah kita mau bawa Oma ke rumah sakit?"


Suara Airin menyentak lamunan panjangnya. Pundak Saka menurun lemas. Kalau pun dia ingin mendapatkan cinta Ze, ada Airin yang menjadi penghalang.


Dengan langkah lemas, Saka masuk lalu mendatangi Oma untuk membawa wanita itu pulang.


***


Pria itu mendatangi Ze ke kamarnya. Pelayang mengatakan Ze menolak makan, hingga Candra menjadi khawatir. Memutuskan untuk menemui putrinya, dan mengajak bicara.


Kali ini Candra sudah lebih tenang. Dia memutuskan akan bicara hati ke hati dengan Ze. Sudah dua hari mengurung putrinya, dan melihat keadaan Ze saat ini membuatnya sedih.


Bagiamana pun, anak yang dikandung Ze adalah cucunya. Sisi kepeduliannya pada Ze muncul dan ingin menjadi penguat bagi putrinya itu. Hamil tanpa suami saja pasti sudah membuat Ze merasa tertekan.


"Aku gak mau, Papa," desis Ze merebahkan kepalanya di pangkuan sang ayah. Tubuhnya lemas. Berulang kali dia makan hanya demi anaknya, tapi dorongan untuk memuntahkan datang kembali.


"Kamu gak kasihan sama Papa? Ini juga demi kamu dan anak yang ada dalam kandungan mu. Kamu gak mau kan anak ini dianggap sebagai anak haram?"


Omongan Candra begitu lembut, tapi menyusup ke relung hati Ze. Benar, anaknya nanti akan malu karena terlahir tidak memiliki ayah.

__ADS_1


"Aku membenci Aldo, Pa. Dia... Dia pernah...," Berat sekali rasanya ingin mengatakan kebenaran pada ayahnya. Ingin membeberkan kebejatan Aldo, tapi niatnya diurungkan. Melihat wajahnya yang penuh harap agar dia mau menerima saran Aldo membuat Ze pasrah.


"Dia kenapa?" susul Candra, memiringkan tubuhnya agar bisa melihat wajah putrinya.


"Gak papa, Pa. Aku hanya mikir, apa alasan dia mengorbankan diri menanggung tanggung jawab ini," jawab Ze pelan, mencari alibi agar tidak di desak ayahnya melanjutkan omongannya tadi.


"Jadi, kau mau kan? Bulan dua Minggu lagi kalian menikah. Bagaimana pun kita menyembunyikan kehamilan mu, berlalunya hari, pasti akan terlihat dan diketahui orang. Papa mohon, hanya sampai anak ini lahir," pinta Candra membelai rambut panjang Ze.


"Baiklah, Papa. Aku mau."


***


Kabar gembira bagi Mira dan kedua anaknya kala Candra memberitahukan bahwa Ze sudah bersedia menikah dengan Aldo. Sekaligus meminta Mira untuk menyiapkan semua yang diperlukan untuk pesta pernikahan itu.


"Mas tenang aja. Serahkan padaku dan Kinan, kami akan menyiapkan yang terbaik," jawab Mira semringah.


Candra pun mengizinkan Ze keluar dengan satu janji, kalau gadis itu tidak akan melarikan diri lagi. Kala menanyakan perihal Ze yang meninggalkan rumah, gadis itu hampir saja membuka rahasia Mira, tapi cukuplah penderitaan yang dialami ayahnya saat ini.


Nanti, setelah semua mereda, dia akan mengajak Candra bicara dan menjelaskan semua perbuatan jahat Mira padanya. Saat itu dia yakin ayahnya akan memberi hukuman yang setimpal untuk ibu tirinya itu yang sudah berniat melenyapkan nyawanya.


Ternyata selama ini Mira membohonginya. Dia percaya perkataan Mira yang mengatakan bahwa Chandra menginginkan dirinya mati, kenyataannya ayahnya justru mencarinya.


"Aku pergi dulu, Pa," ucap Ze menyalim tangan Candra. Mira yang melihat gadis itu hendak keluar rumah, membuat keningnya mengernyit.


"Dia mau kemana? Mas mengizinkannya pergi? Gimana kalau dia gak kembali?" Mira tidak setuju dengan suaminya yang percaya membebaskan Ze pergi.


"Dia putriku. Aku percaya padanya. Setiap janjinya aku percaya," jawab Candra dengan sangat yakin melihat putrinya.


Ze hanya tersenyum. Kepercayaan dirinya semakin bertambah karena ayahnya yang memberi kepercayaan padanya. Selama sang ayah ada di sisinya, melindunginya, dia tidak akan mendapat masalah. Dia tidak akan takut pada Aldo. Kalau memang mereka harus menikah hanya demi anak ini, maka dia akan melakukannya dengan banyak syarat yang harus dipenuhi Aldo, salah satunya tidak akan menempati kamar yang sama.

__ADS_1


__ADS_2