Kalau Cinta Jangan Marah

Kalau Cinta Jangan Marah
Chapter 52


__ADS_3

"Aku senang kau kembali ke rumah. Kalau aku tahu kau sudah pulang, pasti datang mencarimu. Kau tahu, aku mencarimu seperti orang bodoh, panik ketakutan kala mendatangi kos dan tidak menemukanmu di sana," terang Max setelah mereka bertemu di cafe, duduk hadap-hadapan.


Saat Max tiba di tempat itu, dia diberitahu kalau Ze pingsan dan dibawa ke klinik yang tidak jauh dari tempat itu.


Ze menunduk malu. Berarti, kemungkinan besar Max sudah tahu apa yang terjadi pada dirinya.


"Ze...," panggil Max hingga membuat gadis itu mendongak.


"Kau sudah tahu apa yang terjadi padaku?" cicitnya hampir tidak terdengar.


Max tahu kalau gadis itu malu. Diantara rasa kecewa yang menghimpit perasaannya, Max tidak ingin semakin menyalahkan gadis itu. Rasa cintanya yang besar memilih untuk mengerti keadaan Ze.


Mungkin saja apa yang terjadi padanya bukan keinginannya tapi nasib sial yang dialaminya oleh perbuatan pria yang tidak bertanggung jawab.


"Aku sudah tahu Ze, dan aku harap kau tidak perlu malu akan hal itu. Kecewa pasti, tapi aku tidak mau menyudutkan mu. Cukup kau mengatakan kepadaku apa yang terjadi sebenarnya. Aku yakin bahwa kejadian itu di luar kendalimu. Apapun itu aku akan mencoba mengerti dan memaafkanmu. Rasa cintaku lebih besar dari semua kesalahan dan apa yang terjadi padamu," ucap Max menarik tangan Ze dan menggenggamnya erat.


Hati Ze menghangat, begitu terharu atas kelembutan Max. Namun, kebaikan hati Max tidak bisa dia manfaatkan, lagi pula orang tua Maz pasti tidak akan menyetujui mereka.


"Maafkan aku, Max. Selama ini aku pikir kau sudah tidak punya perasaan padaku karena dekat dengan Nura. Maafkan aku karena aku juga tidak bisa menceritakan semua kejadian ini padamu. Aku ingin melupakannya, tidak ingat kejadian malam itu," ucap Ze merasa tidak enak.


Max paham, dia tidak ingin memaksa. Mungkin Ze masih trauma. Dia tidak akan memaksa, yang lalu biarlah berlalu.


"Aku akan menikahimu!"


Sontak Ze mengangkat wajahnya, menatap wajah serius Max saat mengatakan hal itu.

__ADS_1


"Aku gak mau kau menikahi ku hanya karena kasihan. Aku tidak ingin masa depanmu hancur hanya karena ingin melindungi kehormatanku." Ze harus menolak, jangan sampai gara-gara kasihan Max harus membenamkan masa depannya.


"Aku menikahimu bukan karena kasihan tapi karena memang mencintaimu!" ucap Max tegas. Tidak ingin diragukan perasaannya. Dia tulus, mencintai Ze. Dia janji, akan mencintai anak dalam kandungan Ze sebagaimana dia mencintai dirinya.


"Apa kau memikirkan perasaan keluargamu? Mereka pasti tidak akan setuju jika aku menikah denganmu. Sudahlah Max, lupakan aku. Aku tidak pantas untukmu," Ze menghapus jejak air mata di pipinya.


"Aku bicara dengan kedua orang tuaku, dan aku pastikan mereka akan menerimanya. Bila perlu, kita tidak perlu berterus terang mengenai keadaanmu saat ini. Katakan saja kalau aku memang ingin menikahimu saat ini juga."


Untuk sesaat iman Ze tergoda. Jika harus memilih pria yang diminta untuk menolongnya menutup aib ini, lebih baik dia menikah dengan Max daripada dengan Aldo. Bagaimanapun, Max adalah orang yang pernah dia cintai meski untuk saat ini dia sendiri tidak yakin dengan perasaannya lagi pada pria itu, tapi setidaknya, Max adalah pria yang baik, menghargai dan pastinya menyayangi dirinya.


"Aku begitu terharu dan sangat berterima kasih atas tawaranmu, Max, tapi sejujurnya papa sudah mencarikan seseorang yang mau membantuku menutupi aib ini, walaupun aku sangat membencinya!" Akhirnya Ze berterus terang kepada Max, tidak enak menolak pria itu tanpa mengatakan kebenarannya. Dia takut Max berpikir sebaliknya, sengaja menghindar dan menolak lamaran Max karena dia tidak menyukai pria itu lagi.


"Apa? Siapa? Ze, aku mohon, biarkan aku menikahimu. Ini tidak hanya karena ingin bertanggung jawab atas masalah ini, tapi karena aku sangat mencintaimu!"


Max tampak gelisah, takut tidak punya kesempatan lagi untuk mewujudkan impiannya menikahi Ze. Mereka sudah lama menjalin hubungan. Meski jarak jauh, Max tetap mencintai Ze seorang.


Alasan Max juga mau memaafkan kesalahan dan menerima keadaan Ze saat ini karena dia pun tidak luput dari kesalahan. Intuisi yang dimiliki oleh Ze benar adanya, dia pernah khilaf, melakukan hubungan terlarang dengan Naura.


Saat itu mereka berada di satu pesta yang sama, yang diadakan teman kuliah mereka. Max mabuk dan akhirnya menghabiskan malam bersama Naura. Namun, hanya sampai di situ, Max dengan tegas mengatakan bahwa hatinya sudah dimiliki oleh Ze dan dia tidak bisa mencintai wanita lain.


Naura pun dengan harga dirinya dan juga rasa bersalahnya yang sudah berkhianat terhadap sahabatnya sendiri, akhirnya setuju untuk melupakan malam itu. Sejak itu mereka tidak pernah lagi membahas perihal malam terkutuk itu, kembali berteman seperti biasa tanpa melibatkan perasaan.


"Abang tiriku," jawab Ze lemah. Tampak kening Max berkerut, bingung dengan ucapan Ze, tapi sebelum sempat mengajukan pertanyaan lagi sudah memuaskan rasa penasaran Max.


"Aku juga baru tahu, kalau Aldo bukanlah anak kandung dari ibu tiriku. Dia hanya anak angkat dan karena itu mengajukan dirinya untuk mau bertanggung jawab menjadi ayah dari bayi yang aku kandung," terang Ze dengan nada tidak suka. Kalaulah dia bisa mengelak, dia tidak ingin berhubungan dengan Aldo meskipun itu hanya sampai bayinya lahir.

__ADS_1


"Aku akan bicara dengan om dan meminta agar akulah yang mengambil tanggung jawab itu. Aku mohon, Ze, jangan menikah dengan Aldo! Bukankah kau pernah bercerita kepadaku bahwa dia sudah dua kali mencoba untuk melakukan perbuatan tidak senonoh padamu? Kalau bukan karena kau yang melarang ku untuk menghajarnya, aku pasti sudah menghabisi pria brengsek itu!" umpat Max, mengingat kembali bagaimana Ze yang penuh dengan rasa takut menghubunginya melalui pesawat telepon, menceritakan apa yang sudah dilakukan Aldo, disela tangisnya.


"Tapi...,"


"Kita pulang. Aku akan bicara dengan papamu!"


***


"Oma, cepatlah sembuh, aku janji akan mencari Ze dan membawanya kembali. Aku mohon, Oma," pinta Saka duduk di tepi ranjang Oma, menunggu wanita itu bangun.


"Kau janji akan mencari dan membawa Ze kembali ke rumah kita?" Suara Oma bergetar, perlahan matanya terbuka.


"Akhirnya Oma siuman. Aku janji, akan membawa Ze pulang asal Oma cepat sembuh."


Oma mengangguk lemah. Dia bisa melihat kesungguhan di wajah Saka.


Banyak hal yang harus dikerjakan Saka. Dia akan bicara terlebih dahulu dengan Airin, seiring mencari keberadaan Ze. Tidak ada lagi titik temu dalam hubungan mereka, lebih baik keduanya segera mengakhiri hubungan itu.


"Apa maksudmu ingin membawa Ze kembali?" Suara Airin membawa Saka memutar lehernya melihat ke arah wanita itu yang sudah berdiri diambang pintu.


"Oma, aku akan panggil dokter, menyampaikan kalau Oma sudah ciuman aku akan bicara dengan Airin sebentar," ujar Saka mencium kening wanita itu sebelum berlalu pergi.


Saka melewati Airin, menarik tangan gadis itu untuk keluar dari ruangan Oma, jangan sampai pertengkaran mereka membuat kesehatan Oma semakin memburuk.


"Lepaskan, Saka, kau membuat tanganku sakit!" pekik Airin, mencoba menebak ke mana Saka akan membawanya pergi. Wajah pria itu tampak tidak bersahabat yang membuat hati Airin semakin getar-getir.

__ADS_1


"Airin, sebaiknya kita berpisah saja. Aku ingin bercerai denganmu!"


__ADS_2