Kalau Cinta Jangan Marah

Kalau Cinta Jangan Marah
Chapter 61


__ADS_3

Peristiwa berat yang terjadi dalam hidup, kadang mampu membuat perubahan sikap dan juga pola berpikir seseorang.


Itu yang terjadi dan dirasakan oleh Saka. Dua hari belum sadarkan diri, walau kata dokter pendarahannya sudah bisa diatasi dan syukurnya bayi yang ada dalam kandungan Ze baik-baik saja.


Sepanjang waktu, Saka selalu ada di samping Ze, tidak sedetik pun dia meninggalkan gadis itu, menggenggam tangannya dan mengajak bicara. Saka yakin walaupun Ze belum sadar, dia bisa mendengar semua ucapan Saka dan merasakan kehadiran pria itu di sisinya saat ini.


Candra melihat semua perhatian dan kasih sayang yang ditunjukkan Saka terhadap putrinya. Dia mulai tersentuh.


Ketika putrinya masuk rumah sakit, Chandra merasa dunianya menjadi gelap, seolah dia sudah gagal menjadi seorang ayah.


Sikap Candra yang menolak lamaran Saka membuat Ze frustrasi. Kesedihan yang berkepanjangan membuatnya menolak makanan apapun yang disajikan oleh pelayan di kamarnya. Hal itu terjadi berhari-hari lamanya, hingga suatu siang ketika Candra berniat untuk mengajak bicara putrinya, pria paruh baya itu menemukan Ze yang tergeletak di lantai dan sudah bersimbah darah.


Chandra panik dan dia segera melarikan Ze ke rumah sakit. Selama dalam perjalanan dia berjanji, kalau Ze bisa bertahan, dia akan menuruti apapun keinginan putrinya itu. Bahkan dia tidak segan memulai perdamaian dengan Saka dengan menghubungi pria itu.


Kembali dia menatap Saka, kini dia sudah yakin menyerahkan putrinya kepada Saka. Langkah dokter di koridor membuat Candra menoleh ke belakang, dokter itu datang untuk memeriksa Ze.


"Kondisi Ze sudah membaik. Hanya perlu waktu pemulihan," ucap dokter yang membuat perasaan Candra dan Saka menjadi tenang.


Malamnya, Ze akhirnya siuman. Orang pertama yang dia lihat adalah Saka. Rasa terkejutnya mendapati Saka ada di sisinya, membuat Ze ingin duduk, tapi ditahan oleh Saka.


"Jangan, kamu belum kuat. Nurut, ya," pinta Saka membelai wajah Ze penuh sayang.


"Kamu di sini? Sebaiknya kamu pulang, Saka. Aku gak mau Papa mukulin kamu lagi," ujar Ze khawatir.

__ADS_1


"Tenang aja, Papa kamu gak akan marah, kamu tahu, justru beliau yang menyuruhku datang ke sini, memberitahukan kamu masuk rumah sakit."


"Beneran?" pekik Ze kegirangan. Ini berita besar dan jawaban dari semua doanya.


"Iya, benar. Makanya, kamu cepat sembuh, biar bisa cepat pulang," lanjut Saka mencium puncak kepala Ze.


Keduanya tertawa gembira. Cerita jenaka Saka mampu menghibur Ze. Dari luar, Candra yang menguping, ikut tersenyum, ikut bahagia melihat Ze tertawa lepas.


Ketika dokter menyampaikan bahwa Ze sudah boleh pulang, itu adalah kabar yang paling membahagiakan yang pernah didengar oleh Saka.


"Kamu gak ikut ngantar Ze pulang?" suara bariton Candra mengejutkan Saka yang menunggu di luar ruangan. Ketika Candra mengambil waktu berdua dengan Ze, Saka akan tahu diri dan memilih untuk menunggu di luar kamar.


Tawaran Candra tentu saja langsung ditangkap oleh Saka. Dia juga menyadari bahwa itu adalah cara Candra untuk berdamai dengannya.


"Iya Om, tadi mau pamit sama Om tapi kayaknya Om lagi istirahat di kamar, karena nggak mau ganggu, jadi aku memutuskan untuk pulang dan titip salam lewat Ze."


"Ikut Om sebentar," pinta Candra kembali masuk ke dalam rumah. Saka pun menurut, mengikuti langkah Chandra yang ternyata membawanya ke ruang kerja pria itu.


"Duduk!" pinta Candra.


"Om mau tanya, apa yang akan kau lakukan untuk membahagiakan Ze? Beberapa hari ini Om melihat kesungguhanmu dan jujur, Om tersentuh, tapi sekali lagi Om ingin tahu apa yang akan kau lakukan untuk membahagiakan Ze?"


"Banyak hal yang sudah aku lakukan yang membuat Ze terluka dan menderita. Aku tahu, aku salah dan aku ingin memperbaiki semuanya. Aku akan mendedikasikan hidupku untuk membahagiakan Ze, mengutamakan apapun yang terpenting dan terbaik untuk dirinya. Aku tidak berani berjanji apapun yang membuatku seolah menggombal, tapi aku akan membuktikan kalau aku pantas dan layak untuk bisa mendampingi Ze."

__ADS_1


"Baiklah, Om akan pegang janjimu. Kapan kau akan melamar Ze?"


***


Berita tentang pernikahan Ze membuat Mira kebakaran jenggot. Kebahagiaan wanita itu semakin membuatnya kalap dan ini segera menghabisi gadis itu.


Ze sudah merebut kebahagiaan Kinan, dengan menikah dengan Saka. Lalu, kehadirannya di rumah itu kembali, juga membuat rencana Mira untuk menguasai harta Candra gagal.


Mira selalu menantikan dan mencari waktu yang tepat untuk memberikan pelajaran yang setimpal bagi Ze. Kali ini dia tidak boleh gagal.


Rencananya, saat suaminya pergi, dia akan menghubungi kedua anak buahnya yang ada di sekitar rumah, yang sudah bersiap menunggu perintahnya untuk segera masuk ke rumah dan menyergap Ze, membawa gadis itu pergi dari rumah mereka dan membunuh gadis itu. Kali ini harus berhasil!


Mendengar deru mobil Candra yang sudah meninggalkan rumah membuat Mira segera mendatangi Ze yang sedang rebahan di atas ranjang.


"Bangun! Dasar gadis tidak tahu malu, kenapa kau harus kembali ke rumah ini! Harusnya kau mati saat anak buahku menendang mu ke jurang!" pekik Mira menjambak Ze dan menyeret sadis gadis itu.


"Sakit, Tante. Lepaskan aku," rintih Ze kesakitan, tapi Mira tidak peduli tetap menyeret Ze keluar, hingga tanpa dia sadari, Candra yang kembali pulang karena ada barang yang tertinggal, melihat semua kejadian itu. Pria itu sejak tadi mendengar semua perkataan Mira dan jelas lah sudah kalau selama ini, istrinya yang sudah mencelakai Ze.


Tanpa berkata apapun, Candra segera menampar Mira hingga terjungkal ke belakang.


"Mas," pekiknya kaget.


"Kurang ajar! Ternyata kau yang sudah mencelakai putriku selama ini!" salaknya nyaring.

__ADS_1


"Bas, seret wanita ini, dan buang ke jalanan. Aku pastikan kau akan jadi gembel setelah aku ceraikan!"


__ADS_2