
Bola mata Mira melotot dan hampir saja keluar ketika mendengar saran dari putranya itu. Sungguh sangat tidak masuk akal! Bagaimana mungkin Aldo bisa memberikan solusi yang jelas-jelas tidak menguntungkan mereka sama sekali.
"Apa yang kau katakan? Kau ingin menikahi Nara?" tanya Candra memastikan perkataan Aldo.
Baik Mira, Chandra, ataupun siapa saja yang ada di ruangan itu tahu bahwa hal itu mungkin saja terjadi karena Aldo adalah anak angkat Mira.
Tidak memiliki hubungan darah dengannya, hingga kemungkinan untuk menikah dengan Ze bisa terjadi. Lagi pula Aldo juga tidak terdaftar dalam kartu keluarga mereka karena memang hanya sekedar mengangkat dirinya sejak kecil untuk membiayai sekolahnya. Hal itu karena ibu Aldo yang notabene adalah sepupu dari Mira tidak mampu untuk membiayai anaknya itu.
Chandra terus mengamati wajah Aldo, seolah memang mempertimbangkan saran dari pria itu. Lalu, kembali menoleh ke arah Mira, mencoba membaca garis wajahnya, ingin mengetahui pendapat dari wanita itu mengenai keputusan Aldo.
"Dasar gila kamu! Ini nggak mungkin. Kamu nggak bisa menikah dengan Nara! Bagaimanapun kamu itu adalah anak ibu, berarti saudara Nara walaupun hanya saudara tiri. Kamu mikir apa sih Aldo?" Bentak Mira, sama sekali tidak setuju dengan gagasan putranya itu.
Namun, Aldo bersikeras mempertahankan gagasannya. Rasanya ingin sekali menyeret ibunya menjauh dari Chandra agar dia bisa leluasa menjelaskan susunan rencana dan alasannya, mengapa dia mengajukan diri untuk menikahi Nara.
"Ibu aku mohon, Ibu harus setuju dengan keputusan ini karena hanya ini di jalan satu-satunya agar keluarga Regan tidak malu. Kami akan menikah, menjadi ayah dari bayi yang dikandung Nara. Aku tidak masalah jika anak itu bukan darah daging ku, aku akan mencintai anak itu seperti anakku sendiri. Percayalah, Om, aku pasti bisa membahagiakan Nara," ucap Aldo kembali menoleh ke arah Chandra.
Pria paruh baya itu tampak berpikir. Matanya tertutup, seolah tidak ingin melihat siapapun agar dia bisa mengambil keputusan yang tepat.
Di satu sisi, memikirkan tawaran Aldo ada baiknya juga. Dia bisa menyelamatkan nama baik keluarga, tidak akan ada seorangpun yang tahu bahwa saat ini Nara sedang hamil. Terlebih usia kandungannya yang masih muda, tidak akan membuat orang curiga jika kelahiran bayinya nanti lebih cepat dari waktunya.
Lagi pula tubuh Nara tidak menunjukkan dirinya yang sedang hamil.
__ADS_1
Hal ini sebenarnya adalah rencana yang sempurna, tapi dia tidak bisa mengabaikan bisikan hatinya yang terdalam, yang mengatakan bahwa ini bukanlah keputusan yang tepat terlebih bagi Nara.
Dia tahu putrinya itu tidak pernah akur dengan Aldo, bahkan bisa dibilang sangat membenci pria itu. Tidak hanya Nara, sebenarnya dia sendiri pun benci kepada Aldo. Kalau tidak menghargai Mira, mungkin sudah sejak lama Candra mengusir benalu itu dari rumah.
"Bagaimana menurutmu, Nara? Papa ingin menanyakan pendapatmu mengenai tawaran Aldo. Mungkin ini jalan yang terbaik yang bisa menyelamatkan kita semua." Akhirnya Candra mengambil keputusan untuk ikut saran Aldo.
"Kau masih muda, masih punya banyak kesempatan bagimu untuk meraih mimpimu. Papa tidak ingin hanya karena bayi itu masa depanmu jadi terhenti. Kalau kau memang tidak ingin menggugurkan bayi itu, maka kau harus menerima tawaran Aldo!" lanjutnya setengah memaksa.
"Aku nggak mau, Papa. Aku nggak mau menikah dengan Aldo. Kalau memang Papa malu menerima aku dan juga anak ini, aku akan pergi. Aku tidak akan mengatakan kepada siapapun bahwa aku adalah putri Papa. Izinkan aku pergi Papa," pinta Nara yang sudah lemas.
Kepalanya disandarkannya ke lutut ayahnya. Tubuhnya benar-benar kekurangan tenaga. Masalah yang bertubi-tubi membuatnya lemas dan daya tahan tubuhnya pun menurun.
"Papa tidak akan membiarkan kamu pergi. Papa tidak mau mengabaikanmu lagi seperti dulu. Mungkin keadaanmu sekarang adalah hukuman dari Tuhan kepada Papa karena selama ini menelantarkan mu!" tegas Candra.
"Sudahlah, Nara, terima saja. Aku akan bertanggung jawab. Percayalah aku akan menjadi ayah yang baik bagi anakmu, masalah cinta, aku yakin kita bisa saling mencintai nantinya," ucap Aldi penuh percaya diri, mengabaikan pelototan mata Mira yang sejak tadi ingin menerkamnya.
Nara hanya bisa terus menangis, sambil menyampaikan penolakannya. Rasanya dia ingin mati saja, lebih baik daripada harus menikah dengan Aldo.
Sampai detik ini dia tidak pernah mengatakan kepada ayahnya bahwa pria brengsek itu sudah dua kali mencoba untuk menggagahinya.
Lihat saja seringainya ketika menatap wajah Nara, sangat menjijikkan. Dia merasa menang, berada di atas awan seolah Candra sudah menyetujui pernikahan mereka.
__ADS_1
Suara lantang Candra memanggil pelayan untuk membawa putrinya naik ke atas, menempati kamarnya yang dulu membuat Ze mengangkat kepalanya menatap sang ayah.
"Papa.... Jangan kurung aku," pintanya memohon.
Mau tidak mau, Nara diseret paksa masuk ke dalam kamar lalu Chandra memerintahkan untuk mengunci gadis itu, tidak seorang pun bisa mengeluarkannya tanpa perintah dari dirinya.
Setelahnya Chandra pergi bersama Toni yang sejak tadi memang ada di ruangan itu. Asisten itu tidak pernah meninggalkan Candra sedikitpun selama pria itu dalam keadaan kurang sehat seperti saat ini.
"Apa maksudmu? Apa tujuanmu? Kenapa kau ingin menikahi gadis itu? Kau tahu betul bahwa mau Ibu ingin sekali menyingkirkannya! Bisa-bisanya kau menawarkan diri untuk menikahinya. Apa kau tidak tahu jika dia melahirkan anak haramnya, hal itu akan membuat Candra malu dan serangan dari banyaknya orang akan membuat kesehatannya drop. Bisa jadi dia meninggal dan hartanya bisa kita kuasa!" seru Mira setelah suaminya pergi dan hanya tinggal mereka bertiga di ruangan itu.
"Ibu tidak mengerti juga. Apa yang Ibu pikirkan itu, belum tentu bisa terjadi 100% tapi apa yang aku rencanakan, aku pastikan akan membuat posisi kita aman. Jika aku menikah dengannya, tentu saja harta Regan akan diwariskan semuanya kepadaku. Setelah aku menikahi gadis itu, tidak ada satu orang pun yang bisa menyingkirkan kita lagi, termasuk Candra," terang Aldo.
"Benar, Ma, apa yang dikatakan mas Aldo. Biar saja mas Aldo menikah dengan gadis itu, yang penting semua hartanya berada di pihak kita. Kalau sampai dia pergi seperti yang Mama inginkan, percayalah itu hanya sementara karena Candra tidak akan tega dan kembali mencari putrinya dengan penyesalan di dalam hatinya!" sambar Kinan memberikan pendapatnya. Ini adalah jurus jitu untuk menang.
Mira terdiam memikirkan semua perkataan putra-putrinya. Ada benarnya perkataan Kinan, begitupun dengan Aldo. Jadi, satu-satunya kesempatan yang dia punya untuk menguasai harta suaminya adalah dengan mengizinkan Aldo menikah dengan anak tirinya itu.
Baik Candra masih hidup ataupun tidak, setelah Aldo menikah dengan Nara maka dialah yang akan menguasai semua harta, saham, dan perusahaan, serta properti yang Chandra miliki akan jatuh ke tangan anak angkatnya itu.
"Baiklah kalau begitu, Ibu akan menyetujui pernikahan kalian. Ibu akan menghasut Chandra agar segera melangsungkan pernikahan mu dengan Nara, setelah itu kita akan meminta Chandra memindahkan beberapa asetnya atas namamu dan juga nama Ibu," tukas Mira yang akhirnya bisa tersenyum puas. Kali ini dia benar-benar memuji kecerdikan Aldo.
Tidak sia-sia dia membesarkan dan mendidik Aldo. Akhirnya anak angkatnya itu berguna menjadi tangga untuk mencapai tujuannya.
__ADS_1