Kalau Cinta Jangan Marah

Kalau Cinta Jangan Marah
Chapter 62


__ADS_3

Chandra semakin merasa bersalah pada Zenara. Selama ini ternyata dia membuat hidup Ze sengsara dengan menikahi sosok iblis seperti Mira.


Dia ikhlas, melepas Mira untuk selamanya. Saat ini dia memilih untuk fokus Chandra berusaha melupakan mimpi buruk dalam hidupnya. Di masa tuanya, dia memilih untuk menghabiskan sisa umurnya sendiri, hanya memikirkan kebahagiaan Zenara.


Setelah Mira pergi, seminggu kemudian pernikahan Saka dan Ze dilangsungkan. Kali ini Candra tidak ingin mengadakan pesta kecil, semua kolega dan juga sanak famili diundangnya. Dia ingin mengikrarkan bahwa Zenara adalah putri satu-satunya dan menjadi pewaris tunggalnya.


Acara yang berlangsung hari ini, sudah dipadati tamu undangan silih-berganti naik ke atas podium untuk memberikan ucapan selama pada kedua mempelai.


Zenara terlihat cantik dalam gaun pengantinnya, meski dalam benar Saka wanita itu lebih baik tanpa busana.


Pemikiran nakalnya itu membuatnya semakin gelisah. Mencoba mengendurkan dasinya yang melingkar di leher.


Sebenar, Saka sedikit gelisah. Dia sudah banyak membaca artikel lewat internet, perihal boleh atau tidaknya seorang istri yang sedang hamil melakukan hubungan seksual. Kalau rubrik yang dia baca menyatakan tidak boleh, maka dia akan bersabar menunggu sampai anak kerja lahir.


"Kenapa kau menatapku? Aku jadi malu!"


Ze menunduk. Prianya itu tidak pernah mengalihkan pandangan darinya. Bahkan beberapa tamu undangan yang datang menyalami mereka terabaikan, barulah setelah Zenara mencubit pinggang Saka, pria itu tersadar dan menerima uluran tangan tamu.


"Kau cantik. Kenapa baru sekarang aku menikahimu?" bisiknya.


"Karena kau selalu menganggapku menyebalkan," balas Ze. Dia ingat masa dimana dia pertama masuk ke rumah Mahesa, Saka sangat membencinya. Marah pada Oma yang menugaskan dirinya untuk menjadi pelayan Saka.


"Setiap orang punya masa-masa kebodohan melanda dirinya, dan aku sudah mengalaminya." Senyum Saka kembali terbit, senyum itu membuat wajahnya semakin tampan, dan senyum itu juga menular, buktinya, Zenara ikut tersenyum.


"Kenapa para tamu ini belum pulang juga? Apa mereka tidak lelah?" Saka mulai ngedumel. Bayangannya resepsi tidak akan memakan waktu selama ini. Kembali diliriknya arloji di pergelangan tangan. Pukul 10 malam.


"Kamu capek?" Ze menaruh minat pada suaminya. Belakangan ini, Saka sangat sibuk di kantor, tidak punya banyak waktu istirahat.


"Bukan aku, tapi kamu. Pasti lelah berdiri memasang senyum menyalami ratusan orang dengan sepatu high heels dan kamu lagi hamil. Aku akan bilang sama Oma kita pamit untuk beristirahat."


Kata beristirahat nyatanya lebih mengganggu dari pada rasa sakit di kakinya karena mengunakan high heels.


Bayangan kalau mereka akan mengulang malam panas mereka dulu yang membuat ada makhluk hidup kecil di perutnya saat ini, membuat tubuh Ze panas dingin.


Jantungnya mulai tak karuan. Dia tahu tidak mungkin menghindari hal itu karena memang kewajibannya, lagi pula sebenarnya kata hatinya juga mau kok, melakukannya.

__ADS_1


"Kenapa jadi pucat? Udah, kita pergi dari sini."


"Eh, tunggu dulu!" Ze kembali menarik tangannya yang diapit Saka, berniat menariknya turun. "Gak enak sama papa dan Oma."


"Sayang, mereka pasti mengerti. Kamu juga harus memikirkan kesehatanmu."


Ze masih menolak. Dia tetap berdiri di pelaminan. Wajah Saka cemberut, terlihat sangat kesal sekali padanya karena tidak mengerti isi hatinya sama sekali.


Wajah menggemaskan dan suara lembut Saka yang memohon padanya, membuat Ze tidak berdaya. Lagi pula dia kini sudah jadi seorang istri, harus menurut apa kata suami.


"Ya udah, kita pamit. Tapi senyum dulu, Kalau Cinta Jangan Marah, dong."


Kalimat itu akhirnya bisa buat Saka kembali tersenyum, lalu mengapit Ze untuk turun.


"Papa, Oma, kami izin untuk undur diri, mau istirahat. Kasihan Ze, dia udah kelelahan," ucap Saka mempertopengkan Ze agar tidak dicurigai sebagai suami yang tidak sabaran.


Oma hanya tersenyum jahit pada cucunya, tampak sangat mengerti sekali. "Baiklah, kalian beristirahat. Kamu jangan kelelahan ya, Sayang," ucap Candra mencium pipi Ze. Lalu menoleh ke arah Saka.


"Kamu tahan diri dulu. Ze lagi hamil anak kamu, jangan sampai bayi kalian kenapa-kenapa!"


Terbukti, setelah berganti pakaian, dan berbaring bersebelahan, Saka hanya bisa berdiam diri sembari merayu agar benda kenyal nan berurat pada bagian tubuhnya di bawah, bisa diajak bekerja sama, jangan tegak menantang.


"Kamu kenapa? Dari tadi diam?"


Akhirnya Ze yang mulai angkat bicara. Rasanya momen malam pengantin itu jadi terasa kikuk. Ze akhirnya melempar guling yang ada di antara mereka, padahal tadi dia yang membuat jadi pembatas agar malam ini kulit mereka tidak perlu bersentuhan, tapi melihat sikap suaminya yang tiba-tiba diam, membuatnya penasaran.


Ze berguling, merapatkan dirinya lebih dekat pada Saka, hingga terpaksa pria itu memeluknya. Nah kan, makin berdiri.


"Ze..." Saka mengelus pipi Ze yang lembut, lalu mengecup puncak kepalanya.


"Sejujurnya, anganku ingin sekali menghabiskan malam pengantin kita dengan bercinta dengan mu, tapi aku takut kalau akan marah bahkan kini aku takut, kalau pun kau tidak marah, aku takut bercinta akan membuat anak kita tersiksa," ucapnya meraba permukaan perut Ze yang masih rata.


Ze tersenyum. Hatinya menghangat mendengar suaminya memikirkan keselamatan dirinya dan juga bayi mereka, di atas kebutuhannya yang mendesak.


Sebelum menikah, Ze sudah berkonsultasi dengan dokter kandungannya. Tidak akan membahayakan bayi mereka jika dirinya dan Saka melakukan hubungan suami istri, asal dilakukan perlahan dan juga tidak dengan gaya yang ekstrim.

__ADS_1


Ze menangkup wajah Saka, lalu berusaha keras untuk sampai di bibir pria itu, dan mengecupnya.


"Dedek bayi gak akan kenapa-napa, kok, asal papanya jangan grasak-grusuk," jawab Ze malu, terlihat rona merah di pipinya.


Raut wajah Saka berubah ceria. Dia bahkan sampai mengangkat kepalanya, menopang kepala dengan tangan sembari menghadap Ze.


"Serius, Sayang? Jadi malam ini kita boleh...."


Perlahan dan dengan gerakan malu-malu, Ze mengangguk.


Seketika dunia Saka kembali cerah. Tidak ada risau dan takut lagi. Dia mendekat untuk menarik gadis itu lebih menyatu dengannya, lalu perlahan, mengecup bibir Ze dengan lembut dan dalam, penuh kehangatan.


Dalam hatinya berjanji, akan melakukannya dengan lembut dan tentu saja penuh cinta, yang hanya dia persembahkan untuk Ze, wanita yang sangat dia cintai dalam hidupnya.


Ciuman itu semakin panas, Saka mulai menarik lidah Ze dan menghisap dengan kelembutan yang sangat memabukkan. Tangan Saka sudah mulai merambat, mencari benda yang akan menjadi favoritnya mulai saat ini. Pagutan itu berlangsung lama, deru napas menderu, saling mengejar.


Keduanya sudah panas, ingin segera masuk, menenggelamkan diri pada nikmat duniawi.


Saka melepas ciumannya, menghentikan gerakan tangannya yang sudah menelusup masuk ke dalam baju tidur Ze. Sebelum benar-benar memadu kasih yang penuh hasrat malam ini, Saka ingin mengikrarkan sumpahnya pada Ze.


"Terima kasih, Sayang, sudah ada dalam hidupku, mau menerimaku menjadi cinta dan suamimu. Terima kasih sudah mengandung anakku. Aku mencintaimu, Ze, sekarang dan sampai selama-lamanya."


"Aku juga mencintaimu, Saka Mahesa."


*


*


*


-Fin-


***


Kalau cinta jangan marah tamat ya, gais, terimakasih sudah mampir. Ini bukan dibuat tamat dadakan, emang sejak awal cuma sampe sini ceritanya. Jangan lupa dukung author dan mampir di karya yang lain.

__ADS_1


__ADS_2