
Pukulan demi pukulan diterima Saka. Dia tidak bisa melawan karena jika dia melakukan pergerakan sedikit saja, maka Airin yang saat ini duduk bersama Om Bram akan menerima akibatnya.
"Jangan pikir kau bisa mendapatkan Airin. Kau cari mati karena berani mengganggu istri seseorang Bramantyo!"
Saka tidak bisa berkata apapun lagi, melawan pun tidak ada guna tubuhnya. Tubuhnya lemas tidak bertenaga, sementara Aira yang melihatnya hanya bisa menangis tidak sanggup melihat Saka yang dipukuli sejak tadi.
"Aku mohon, Om lepaskan saja jangan memukulinya lagi dia sudah tidak berdaya minta Airin. bukan mendengarkan pemeran justru memberikan tamparan di pipi Airin.
"Dasar gadis ******! Apa kau pikir kau bisa memerintahku? Kau ingin membelanya begitu? Hah? kau ingin bersamanya? Apa kau berniat kawin lari dengannya?" salak om Bram menjambak rambut panjang Airin hingga terdengar gadis itu mengaduh kesakitan.
"Sampai kapanpun kau tidak akan bisa bersama dengannya! Kau salah mencari masalah denganku, Airin! Segera bawa pria itu dan dilemparkan ke depan rumahnya. Mulai sekarang awasi dia, jangan pernah sekalipun mendekati istriku!" perintah Om Bram dengan tegas.
Dua anak buah Om Bram segera melaksanakan perintah Bosnya, menyeret Saka dari ruangan itu seperti hewan yang siap dikurbankan.
Pak Komar, satpam yang saat itu sedang berjaga, melihat mobil berwarna hitam yang berhenti di depan gerbang rumah keluarga Mahesa. Pintu belakang dibuka lalu seseorang mendorong Saka keluar dari mobil itu lalu pergi begitu saja.
"Tuan, Anda baik-baik saja?" Pak Komar begitu kaget. Dia kembali melihat ke arah mobil yang sudah melaju pergi, sekedar untuk melihat, apa dia bisa melihat plat mobil itu. Nihil.
Komar segera membopong majikan yang masuk ke dalam rumah walaupun dengan tertatih dan kesulitan. Ze yang tengah berada di ruang tamu, berniat merapikan gorden, melihat Pak Komar yang memapah Saka.
"Saka, apa yang terjadi?"
__ADS_1
Pria itu tidak menjawab, karena memang tidak bisa. Luka di wajahnya, terlebih di dekat bibirnya membuatnya kesulitan untuk bicara.
Ze ikut membantu, membawa Saka hingga ke kamarnya. "Pelan, Pak. Jangan sampai Oma mendengar. Aku nggak mau kalau mau sampai tahu bahwa Saka terluka."
Pak Komar mengerti, dia mengikuti arahan Ze hingga berhasil membawa ke kamarnya. Dengan pelan Ze membaringkan pria itu di atas ranjang. Pak Komar sudah pamit keluar hingga tinggal Ze yang mengurus pria itu.
"Kau kenapa, sih? Bertengkar dengan siapa hingga sampai babak belur seperti ini?" Ze terus berkicau sembari membuka baju Saka lalu membersihkan luka di wajahnya sebelum mengoleskan obat.
Setelah selesai mengurus Saka dan memastikan pria itu tidur dengan nyenyak dan nyaman, baru Ze keluar.
"Oma dengar kau suara pintu Saka terbuka, apa dia sudah kembali?" tanya Oma yang baru saja keluar dari kamarnya dan melihat Ze yang akan menuruni anak tangga.
"Su-sudah, Oma. Sekarang lagi tidur. Katanya gak mau diganggu. Barusan aku dari kamarnya, menawarkan makan, tapi dia menolak," jelas Ze menyilangkan jarinya di belakang tubuhnya, permintaan maaf dan penyesalan karena sudah berbohong pada Oma.
Satu jam kemudian, Ze kembali dari ke kamar itu untuk memeriksa keadaan Saka, mengganti kapas dan perban di lukanya.
"Minum ini, agar rasa nyerinya berkurang," ucapnya menyerahkan satu butir pil penghilang rasa nyeri. Antara sadar dan tidak Saka membuka mulutnya dan pil itu mendarat mulus dalam perutnya lewat bantuan air putih.
Malam itu Saka jadi demam. Pukulan dan juga berjam diguyur air rendaman es batu membuat kondisi tubuhnya menjadi lemah. Ze memutuskan untuk tinggal di kamar itu, agar bisa cepat mengganti kain yang dia letakkan di kening Saka.
"Terima kasih, Ze," ucapnya lirih. Tenggorokan tercekat dan bibirnya seolah robek setiap kali mencoba bicara.
__ADS_1
"Apa Tuan lapar? Aku buatkan bubur, ya?" Ze bergegas bangkit. Dia ingin ke dapur membuatkan air jahe dan juga bubur untuk Saka.
"Gak usah. Aku gak lapar. Kau kembalilah, istirahat," jawab Saka yang merasa tidak enak hati karena sudah merepotkan Ze. Diliriknya jam pada dinding, pukul satu pagi dan gadis itu masih belum tidur karena mengurusnya.
"Aku di sini aja. Biar bisa ganti kompres mu nanti," bantah Ze enggan pergi. Tapi Saka memaksa. Ze tarik diri, dia beranggapan kalau pria itu tidak sudi melihatnya ada di sini.
Dentum jarum jam yang menunjukkan angka di lingkaran itu terus diikuti ekor mata Ze. Dia tidak bisa tertidur, benar-benar mengkhawatirkan Saka.
Hingga pukul empat pagi masih terjaga, Ze memutuskan untuk melihat keadaan Saka.
Untung saja Ze ke sana. Pria itu menggigil kedinginan tapi tetap tubuhnya sangat panas.
"Tuan, demam Anda sangat tinggi. Ayo, kita ganti baju dulu," ucap Ze membuka pakaian Saka. Dia terpaksa, tidak mungkin turun untuk memanggil pak Komar jam empat pagi.
Dengan memicingkan sebelah mata, Ze membuka seluruh pakaian Saka, menyisakan pakaian dalam saja. Buru-buru memakaikan kembali pakaian pria itu.
"Ze, dingin, Ze. Apa aku akan mati?"
"Tuan jangan ngomong gitu. Tuan akan baik-baik saja, kok," jawab Ze yang sudah berkaca-kaca. Dia takut, bagaimana kalau beneran Saka mati malam ini? Dia akan disalahkan oleh Oma dan semua orang.
"Kita ke dokter, ya, Tuan? Aku panggil Oma dulu," ujarnya hendak bangkit.
__ADS_1
"Jangan. Nanti Oma khawatir. Aku gak mau Oma kepikiran hingga jatuh sakit. Ze, aku kedinginan," ulangnya lagi. Giginya sampe bergemeretak. Padahal Ze sudah menambah bed cover tebal.
"Ze, maukah kamu memelukku?" pinta Saka dengan tatapan memelas.