
" Assalamualaikum ". ketika Una masuk kedalam rumah.
" Waalaikumsalam Bun ". Jawab ku ketika Bunda tiba. " Ayah dengaren cepet pulangnya, ehh! ternyata ada kak Zeki juga ".
" Iya ayah tadi abes siap rapat di kantor langsung pulang ". Ucap Firman lalu duduk di sofa
" Wahh ada nak Sasha juga. Udah dari tadi kalian pulang sekolahnya? ". Tanya Una yang menyusul duduk di samping suaminya
" Barusan kok tante ". Jawab ku dan tersenyum lembut kearahnya.
" Aku masuk ke kamar dulu ya ". Ucap Ziko lesu lalu beranjak naik kelantai dua menuju kamarnya.
Semua orang memandang Ziko yang berjalan dengan gontai.
" Lah itu kak Ziko ngapa! Yah, Bun ". Tanya Gesy yang penasaran, gak biasa itu kakaknya kalok pulang dari mana - mana langsong masok kekamar. Biasa jugak gangguin Gesy sampek sebel dulu, setelah itu baru minggat tu orang entah kemana. Tapi ini laen. Kerasukan kah dianya. Batin Gesy.
" Itu loh tadi kan kakak kamu Ayah suruh hendel perusahaan sehari, tapi udah ngeluh aja dari tadi dianya ". Jelas Firman. " Padahal Ayah mau melatih kakak kamu buat terbiasa. Belum juga apa - apa udah kayak seperti ini. Gimana dia udah jadi Ceo di perusahaan untuk gantiin Ayah ".
" Kalok kak Zeki beneran jadi Ceo tetap di perusahaan untuk gantiin Ayah, palingan ni Yah!, belum juga di kasi berkas - berkas penting, udah lingsan duluan karna Migren cenat - cenut itu kepala hahaha ". Ucap Gesy tertawa meledek kakaknya.
Yang lain pun juga tertawa. Bener juga itu kata si Gesy, baru langkah awal aja udah ngeluh gimana nantik kedepannya.
" Betul itu nak kata kamu haha ". Seru Una dan Firman bersamaan sambil tertawa.
" Oik Adik kampret belum juga aku tinggal 5 menit, lu udah ghibahin gua yang enggak - enggak dasar Adik bang*at ". Ucap Zeko dengan membuka pintu lalu kepalanya saja yang keluar untuk melihat ke arah Gesy.
" Ehh kayak ada yang ngomong! Lu ya cicak yang barusan ngomong ". Tuduhnya yang melihat cicak dekat jam dinding.
ckckck. Bunyi suara cicak. Lalu cicak itu pun merayap entah kemana.
" Ealah berdecak dianya ". Ucap Gesy kaget.
" Bunda sama Ayah pun sama, bukannya nyemakatin anaknya kek atau apa lah, biar anaknya bahagia dikit. Ini nggak mala ngatain ini lah itu lah, sebel aku tukan jadinya ". Ucapnya
" Ihh.. sewot amat lu kak!, lagi PMS yak? ". Tanya Gesy.
" Heh lu kita gue apaan hah, Cewek menutut lu! ".
Gesy mengangguk pelan. " Bisa jadi ". Ucap Gesy lirih.
" Ck, serah lu aja lah, aku capek mau tidor aja dri pada nyautin lu aee Ges ". Katanya dengan menutup kembali pintu kamarnya.
" Om, Tante Aku pamit dulu ya, udah sore soalnya ". Kata ku.
" Loh kok cepet kali pulangnya, makan malam lah dulu bareng Tante sama Om ". Ajak Una.
" Iya, kenapa kok buru - buru ".
Sasha bingung mau jawab apa, kalok nolak ajakannya gak enak tapi aku juga gak mungkin jugak kan telat perfom. Batin ku.
" Ayah Bunda sekarang Sasha kerja di restoran yang hari itu kita buat pesta di sana ". Kata Gesy
" Ahh benarkah itu! ". Ucap Una kaget memandang Sasha, Aku hanya tersenym saja di tatap Bunda dan juga Ayahnya seperti itu.
" Iya bun, makanya itu Sasha pamit mau kesana sekarang ini ". Jelas Gesy
" Oh... gitu, Yasudah kamu yang rajin ya. Ati - ati di jalan ". Kata una
" Iya Tante, Kalok gitu aku permisi ya Tante, Om, Ges ". Ucapnya dengan menyalami Una dan Firman bergantian.
" Assalamualaikum ".
__ADS_1
Sasha pun keluar dari rumah itu dengan di anterin Gesy sampek depan teras.
" Gak mau aku anterin Sha! ". Gesy menawari Sasha agar dia dianter olehnya.
" Gak usah aku pesen ojol aja Ges ". Tolak Sasha masa si dia tiap jhari merepotkan Gesy yang selalu menganter, kan Sasha jadi gak enak. " ni aku lgi pesen plingan bentar lagi dateng ". Kata ku lagi lalu mengalihkan pandangannya dari benda pipih yang di gengamannya untuk melihat sekitar, mana tau ojol pesenannya udah nyampek.
" Nah itu dia ojolny ". Tunjuk ku ketika ojolnya udah keluhatan.
" Atas nama mbak Sasha! ". Tanya kang ojol menghampiri mereka berdua.
" Saya sendiri mas ". Jawab ku.
kang ojol pun mengangguk, lalu memberikan salah sebuah hlem yang selalu di bawanya kepada Sasha.
Sasha menerima hlem itu dan memakaikannya di kepalanya.
" Mau kemana tujuannya mbak? ". Tanya kang ojol.
" Resto X bang ".
" Oke siap Mbak ".
Di sensor dikit nama restonya gapapa ya gaysโ.
โโโ
" Semakin hari perfom kamu makin bagus aja ". Ucap manajer di sana.
" Akhh... Bapak bisa saja ". Ucap Sasha malu - malu.
" Iya saya ngomong kenyataannya kok, jadi ini bayaran kamu sekaligus tips dari saya untuk kamu ". Katanya dengan menyodorkan amplop coklat kepada Sasha.
" Benarkah pak ". Kata ku. Pak menejer pun mengangguk.
" Yasudah kamu sudah bisa pulang, takutnya kalok kemaleman tidak ada angkutan yang bisa kamu kendarain untuk pulang ".
Sasha mengangguk. " Kalau begitu saya pulang dulu ya pak, sekali lagi terima kasih ".
Aku pun berjalan keluar masih dengan memegang amplop tersebut. " Alhamdulillah rezeki anak soleh ".
Sasha pun membuka tas ranselnya lalu memasukkan amplop itu di sana.
Ketika ingin menyalakan HP nya untuk memesan ojol ternyata oh ternyata " Ya ampun batrenya Hp aku lobet lagi tadi pakek segala lupa untuk mengcasnya sewaktu di resto " Keluh ku.
" Sudah lah ngapain di permasalahkan naik angkutan umum aja deh, lagian pun kan gak jauh - jauh amat kalok ke haltenya dari sini ". Gerutu ku.
Aku pun berjalan menyusuri trotoar jalan untuk sampai di halte bus.
Katika berjalan, ia merasa ada yang aneh. ' Gak biasanya ni jalan sunyi senyap seperti ini '. Batin ku sambil celikak celinguk kesana kemari mana tau ada kendaraan yang lewat atau gak pejalan kaki yang juga berjalan sepertinya.
Tiba di salah satu gang Sasha melihat ada dia orang pria, dari tampangnya bisa di pastikan seperti preman.
Mereka berdua memandang Sasha dari kejauhan. Aku yang tadinya fokus kejalan, kini hanya menunduk melihat ratanya aspal yang dia pijak. Ia terus berjalan dan tidak menghilaukan Preman tersebut yang melihatnya.
Piuwwit...
Siul salah satu dari Preman itu.
" Hey cantik ". Goda mereka berdua. Sasha tidak menghiraukan panggilan mereka.
Aku tidak menghiraukan ucapan mereka dan terus saja berjalan. Preman - Preman itu bangkit dari duduknya dan berjalan mengejar Sasha.
__ADS_1
Aku yang merasa di ikuti oleh mereka semakin mempercepat langkah kakinya agar terhindar dari Preman sialan itu.
" Buru - buru amat. Mau kemana si cantik malem - malem gini emangnya ". Tanya mereka menghentikan langkah kaki ku.
Aku semakin takut mereka berdua udah ada di dekat Aku. Dan aku berada di tengah - tengah mereka. ' Akh... sial mereka mau ngapain si '.
" Iya, biar abang anterin neng deh, mau gak ". Timpal salah satu temannya yang ada di sebelah kiri ku.
" Permisi bang, saya cuman mau lewat aja gak bermaksud apa - apa kok ". Ucap ku dan buru - buru berlari agar tidak lagi di ganggu mereka.
Tapi sialnya mereka sudah menarik pergelangan tangan ku kasar, hingga pergelangan ku merah karna terlalu kuat di genggam mereka.
" Ets... kenapa buru - buru banget, ayolah kita bersenang - senang dulu di sini sama abang ". Kata Preman itu yang ada tindek di hidungnya.
Aku berusaha menepis tangannya itu, tapi percuma karna tenaga ku gak sebanding dengan tenaganya. " Jangan macem - macem ya bang, nanti saya tonjok muka abang ".
" Wouu.. enerjik sekali kamu cantik ". Goda mereka lagi.
Aku melayangkan pukulan tangan kanan ku yang bebas bergerak itu. Tapi mereka berhasil menangkisnya. Dan jadi lah tangan ku dua - duanya di pegang mereka.
" Jangan coba - coba melawan. Udah ayo kita lebih baik bersenang - senang aja di sana ". Ucap temannya yang tidak memakai tindik di hidungnya.
Mereka berdua menyeret - nyeret Sasha di beskem mereka tadi. Aku memberontak ketika di seret - seret mereka berdua.
" Jangan macam - macam, saya bisa teriak ni sekarang juga. Tolong... ". Teriak ku. Tapi sepertinya di sana tidak ada satu orang pun. ' Bagaimana ini habis lah aku sama mereka '. Batin ku.
Mereka mendudukkan ku kasar di semak - semak dekat beskem mereka. Aku menagis tertahan. ' Ya allah tolong lah lindungi hamba mu ini dari mereka berdua '. Doa ku.
" Tolong.... hiks.. ". Teriak ku dan air mata ku pun lolos.
Sayangnya para preman itu tidak memperdulikan teriakan ku. Mereka mendekat kearah ku, lalu salah satu dari mereka berusaha untuk merobek baju ku.
" Enggak! jangan! saya mohon. Siapa pun tolong saya... ". Teriak ku.
Ya para preman itu ingin memperkosa ku. Aku pun mulai cemas. Bagaimana mungkin mereka bisa tega berbiat seperti itu.
Preman itu menyeringai senang. " Teriak saja sesuka mu, aku yakin pasti tidak ada yang mendengarnya. Jadi lebih baik kita bersenang - senang saja ". Ucap si pemakai tindik. Dia adalah bos dari preman - preman yang ada di wilayah ini.
Dia merobekkan lagi baju lengan kanan ku.
Krekk...
Baju ku pun robek di buatnya, dia tertawa setan memandang ke arah ku. ' Aku harus apa? '. Batin ku mulai bimbang.
" Sepertinya lezat ". Ucapnya menjilat bibirnya sendiri.
Kemana preman yang satunya?, ia pergi mencari mangsa yang lain. Dia tidak mau mengganggu bosnya itu.
" Tolong.... hikss... ".
Dia menindih ku dan ingin melancarkan aksinya, aku menahan dadanya agar tidak mendekat dan menggeliat tidak mau dia semakin dekat dengan ku.
" Tolong.... ".
Semakin aku berteriak, dia pun semakin gila ingin berbuat yang tidak - tidak kepada ku.
Brumm...
Suara mesin kereta, sang pemilik kereta turun dari sana dan berjalan dekat kearah kami dengan terburu - buru.
###
__ADS_1
Jangan lupa like dong karna like kan gratis hehe๐๐