
"Sha, Lo sebenarnya dimana? Gue udah nyariin Lo keseluruh area sekolah tapi enggak ada tanda-tanda keberadaan Lo,Gue khawatir Sama Lo." Kata Gesy mulai Gusar.
Sampai bel pulang sekolah sudah berbunyi. Gesy tetap mencari Sasha.
Liva, Reyla, Akse dan Skarle menghampiri Gesy.
"Gimana udah jumpa?." Tanya Liva
"Belum, Gue telepon Handphonenya nggak aktif. Gue bener-bener khawatir sama dia." Kata Gesy.
"Lo tenang dulu, jangan panik. Kita cari lagi sama-sama, oke." Kata Skarle.
"Gue nggak bisa tenang kali ini. Gue ngaku, kalo kali ini Gue salah."
"Iya kita semua paham, bagaimana kalo kita mencar aja carinya dan tanya keorang, mana tau mereka melihat Sasha."
...~~~...
Lain halnya dengan Beno dan Sasha.
Beno Sudah membawa Sasha kerumah sakit dengan dibantu beberapa orang. Darah mengalir begitu saja dari kepalanya, sampai membuat baju Beno yang awalnya putih menjadi warna merah menyala.
"Suster, dokter tolong saya." Teriak Beno sambil menggendong Sasha.
Para suster datang membawa Bed dorong. Lalu Beno menidurkan Sasha disana.
Mereka mendorong Sasha menuju ruangan IGD. Beno menatap gadis didepannya yang bersimpa darah merasa iba dengannya.
"Tolong tunggu diluar, biar dokter yang menanganinya." Kata Suster menghalangi Beno untuk masuk kedalam.
Beno menunggu diluar dengan menghembuskan nafasnya berat. "Enggak habis pikir Gue sama Lo." Beno menggeleng kepalanya.
Beno memilih untuk menghubungi orang tuanya. "Halo Mi. Mami bisa kerumah sakit Mitra Medika, sekarang?."
"Kamu sakit Nak?." Tanya Wina dari sebrang telepon yang sedang menonton televisi.
Beno menggeleng. "Enggak, bukan Aku yang sakit. Tapi, Sasha tertabrak mobil, sekarang Aku dirumah sakit "
"Hah! Kok bisa? kayak mana ceritanya? Mami akan kesana segera." Wina Kaget dengan ucapan ankanya itu. Lalu, mematikan teleponnya dan segera kerumah sakit.
Cukup lama Beno menunggu, tapi dokter yang menangani Sasha tak kunjung juga keluar.
Beno yang melihat Wina sudah datang segera berdiri.
"Apa Sasha Baik-baik aja Beno?."
"Dokter dari tadi belum juga keluar Mi." Kata Beno.
Wina duduk dikursi depan ruangan IGD. "Kok bisa ini terjadi kayak ceritanya coba?."
"Ceritanya panjang Mi. Tapi singkat cerita Dia berlari gitu aja dan akhirnya tertabrak mobil yang sedang melintas disana."
__ADS_1
Wina geleng kepala. Tidak lama Dokter keluar ruangan Sasha.
"Bagaimana dok keadaannya?." Tanya Wina dan Beno bersamaan.
"Pasien terkena benturan yang cukup kuat dibagikan kepalanya karna terbentur aspal dan itu kami sudah melakukan operasi. Dan lengan kirinya ada penggeseran tulang, tapi sudah saya pasang tulang penyangga."
"Tapi Dia baik-baik aja, bukan dok?." Tanya Beno menatap dokter itu.
"Karna kecelakaan ini terbilang parah, Pasien saat ini masih koma, dan belum sadarkan diri. Saya tidak tau itu sampai kapan, kita hanya perlu berdoa untuk keselamatan dan kesembuhannya." Kata dokter.
Mendengar ucapan dokter, Beno langsung lemas kesetika mendengar itu dan terduduk kembali dikursi tunggu.
"Kalau gitu saya permisi nyonya." Dokter pun pergi memberikan ruang untuk mereka.
"Terima kasih dok."
"Ini sebenernya siapa yang salah, sampai Sasha berakhir seperti ini?."
Beno diam menunduk. "Mungkin ini salah ku Mam. Kalo aja tadi Aku enggak ngajak dia, pasti kejadian ini gak bakal terjadi."
"Kamu tenang dulu nak. Jangan nyalahin diri mu sendiri. Lebih baik kamu ganti baju dulu, kamu sudah enggak seperti memakai seragam sekolah." Wina memberika pakaian yang sengaja ia bawakan untuk anaknya didalam paper bag yang ia pegang.
Beno menerimanya, lalu berjalan kedalam toilet rumah sakit.
Disana Ia mengganti pakaiannya, dan memandang pantulan dirinya dicermin. "Lo bego Ben." Beno memukul kepalanya.
"Kenapa tadi enggak Lo tarik dia agar tidak keluar dari gang tadi. Tengok akhirnya dia sekarang koma, dan itu karna Lo."
Setelah keluar toilet, Beno menghampiri Maminya yang masih duduk didepan ruang IGD.
"Sasha udah dipindahkan diruang rawat inap. Dan Mami nungguin kamu, yuk ." Kata Wina
Mereka pun menuju keruangan nomor 105 dilantai 3, Sasha dirawat.
"Mami mau masuk?."
"Kamu aja duluan, Mami ada urusan yang harus Mami urus disini. Nanti kalo udah siap Mami nyusul kamu kedalam."
Beno mengangguk dan masuk kedalam, melihat Sasha tergeletak dibrankas.
Wajahnya pucat dengan kepala dan tangan diperban. Beno berjalan mendekati Sasha, duduk dikursi samping brankas itu.
"Sorry," Kata Beno memegang tangan Sasha yang terkulai lemah. "Karna Gue, Lo kayak gini."
Beno menatap wajah Sasha dalam dengan menggenggam tangannya erat. Seperti seorang kekasih yang takut kehilangan pasangannya.
"Gue enggak bermaksud buat Lo seperti ini, gue mohon Lo cepetan bangun. Gue enggak akan marah-marah, nyuruh-nyuruh Lo lagi. Dan, Gue enggak akan ngungkit soal Lo babu Gue."
Beno menunduk merasa bersalah atas kejadian ini. "Asal Lo bangun." Katanya lirih.
Wina masuk, tapi kembali berhenti dengan memegang daun pintu, karna mendapati anaknya sedang menangis, tidak biasanya dia menangis seperti ini, pikir Wina.
__ADS_1
Melihat Wina masuk Beno dengan cepat menghapus air matanya. "Mami."
"Bagaimana?."
"Dia belum sadarkan diri Mi."
Wina mengangguk. "Kamu udah hubungi keluarganya?."
"Belum. Ini Beno akan kerumahnya dan memberi tahu keluarganya Mi."
"Pergilah, biar Mami yang jadi Dia disini."
Beno pun berlalu keluar meninggalkan Wina dan Sasha disana. Sebelum kerumah Sasha, ia mengambil motor dulu yang tadi ditinggalkannya.
Sesampainya dirumah Sasha, kawasan rumahnya lumayan sunyi, hanya beberapa pengendara dan pejalan kaki yang lewat.
Beno mengetuh salah satu rumah disana. Pasalnya dia yakin, pasti ini rumahnya. Karna waktu itu dia pernah mengantar Sasha dan melihat Dia masuk kerumah ini.
Beno mengetuk pintu itu beberapa kali. "Assalamualaikum, permisi."
cukup lama menunggu, dan tidak ada jawaban dari dalam sana. Dia mengetuk lagi dan lagi sampai ada seorang ibu-ibu menghampirinya.
Ternyata itu ibu yang punya kosan Sasha. "Cari siapa dek?."
"Saya mencari anggota keluarganya Sasha, apakah ada didalam buk?. Saya dari tadi mengetuk, tapi tidak ada jawaban dari dalam sana!."
"Ohh neng Sasha teh masih sekolah, tapi kalo jam segini dia udah pigi kerja paruh waktu."
Beno diam menatap ibu itu. "Kerja?. Jadi Dia sekolah sambil kerja?."
"Kalo orang tuanya ada didalam buk? saya ingin bertemu, ada yang perlu saya bicarakan dengan beliau."
"Setau saya, Dia tinggal sendiri disini. Saya denger-denger orang tuanya udah meninggal waktu dia umur 4 atau 5 tahunan gitu, dan setelah itu Dia tinggal dipanti, didaerah Palembang.
Kali ini Beno benar-benar terkejut dengan ini semua. Ternyata sewaktu digang sebelum Sasha tertabrak, Dia mengungkit tentang adik-adik panti dan juga orang tuanya. Ternyata ini semua yang membuat dia sedih dan merasa enggak pantas mendapatkan apa yang menjadi hak dia.
"Kalo saya permisi dulu buk, terimakasih."
Ibu itu mengangguk dan tersenyum kearah Beno.
Beno melajukan motornya kebut-kebutan tak tahu arah. Sampai Dia memilih balik kerumahnya dan masuk kekamarnya.
Dia memilih untuk membersihkan badannya sambil berpikir keras tentang kenyataan tentang Sasha
Beno menyalakan shower untuk membasahi tubuhnya. "Gue pikir, orang yang selama ini Gue anggap itu tangguh dan berani. Ternyata itu hanya untuk menutupi sisi kesedihan dan segala penderitaannya aja." Dia menyisir rambutnya kebelakang dengan kasar.
"Pantas aja, Gue kayak enggak asing waktu melewati pemakaman waktu itu. Ternyata itu Lo."
Ternyata waktu Sasha mengunjungi makam Mama dan Papanya, Beno lewat dan tidak sengaja melihatnya. Tapi, Dia pikir itu mungkin orang lain.
"Maafin Gue, mafin gue karna selalu kasar sama Lo selama ini."
__ADS_1
...# **BERSAMBUNG #...
C'mon, dukung terus Author, agar menciptakan cerita-cerita baru disetiap partnya** :)