
Mereka pun keluar, meninggalkan Sasha beristirahat dikamar pasien, setelah teman-temannya Sasha pamit untuk pulang.
"Kenapa Sasha jadi pendiam dan murung gitu setelah balik?." Kata Wina masih melihat kamarnya Sasha.
"Aku juga gak tau Mih." Jawab Beno dan duduk dibangku depan ruangan Sasha.
"Waktu jumpa dijalan pun udah murung kayak gitu, bahkan diam ditengah jalan kayak orang mati." Sambungnya.
"Mami jadi bingung."
"Mih!, Ben!, Papi balik kekantor dulu ya, sebentar lagi ada Metting yang gak bisa ditinggal."
Wina melirik jam tangannya. "Yaampun Mami lupa, kalau jam 4 sore ini ada janji ketemu sama teman Mami." Kata Wina.
"Yaudah bareng Papi aja perginya." Ajak Bram.
Wina mengangguk. "Ben, kamu disini aja yah jagain Sasha, kasihan dia kalau mau butuh apa-apa gak asa orang yang jagain dia."
"Iya Beno paham."
"Papi sama Mami pergi dulu."
"Iya hati-hati dijalan."
Suster ingin masuk keruangan Sasha untuk meletek makanan Sasha, tapi berhenti karna dipanggil Beno.
"Sus itu makanan untuk pasien yang didalam?." Kata Beno
"Iya mas."
"Biar saya aja yang kasih sus."
Susternya pun memberikan nampan berisi bubur dan air putih kepada Beno.
Beno segera masuk kedalam kamar. "Waktunya makan."
Meletak nampan dimeja samping brankar Sasha. Sasha hanya melirik sekilas.
Sasha berusaha untuk duduk, tapi karna lemas dan ditambah kondisi tangannya luka dan diinfus jadi susah untuk bergerak.
"Sini Gue bantu." Beno meletakkan bantal untuk penyangga punggungnya agar posisi duduknya enak.
"Buka mulut Lo." Kata Beno dengan menyodorkan sendok berisi bubur kearah Sasha
"Aku sendiri aja." Ucap lirih Sasha
"Udah nurut aja kenapa sih Lo." akhirnya Sasha pun diam dan menerima setiap suapan yang diberikan Beno.
Beno mengaduk-aduk bubur enggak menyadari Sasha meneteskan air mata.
"Makasih." Ucapnya menunduk karna gak mau Beno melihatnya lemah.
"Hah?." Beno mendongak menatap Sasha.
Sasha menatap manik hitam Beno dan tersenyum simpul kearahnya. "Makasih karna kamu dan keluarga kamu udah baik dan perduli sama aku." Ucapnya sambil menghapus sisa air matanya.
"Aku gak nyangka ternyata ucapan kamu tadi memang ada benarnya. Aku gak sendiri dan masih banyak yang perduli sama aku."
"Tapi, hem.. aku masih merasa kesepian dan sendiri disini." Sasha melipat kedua kakinya dan menyembunyikan air matanya disela-selanya.
Beno meletak mangkuk bubur yang dipegangnya diatas meja, dan mengelus pucuk kepala Sasha pelan. "Lo gak sendiri, udah berapa kali Gue bilang sama Lo."
"Terkadang aku iri sama kalian, yang bahagia bersama orang-orang yang kalian sayangi dan bersama kedua orang tau yang utuh." Ucap Sasha.
"Sasha."
"Aku udah makannya, boleh kamu tinggal aku sendiri disini."
"Oke, kalo Lo butuh apa-apa, Lo bisa panggil Gue."
Setelah Beno pergi, Sasha menangis tertahan didalam, dengan memeluk lututnya.
Beno melihat Sasha yang menangis didalam. Mungkin kalau dia jadi Sasha mungkin gak bakalan kuat, udah ditinggal dari kecil sama kedua orang tuanya, dan tidak dianggap sama Om,dan Tantenya. Bahkan harus menghidupi dirinya sendiri dan harus kerja paruh waktu.
"Gue yakin suatu saat Lo bakal menemukan kebahagiaan Lo sendiri Sha."
Ditempat lain...
__ADS_1
"Gawat kalau dia tau kita masih hidup."
"Bener banget Pah. Bisa kacau hidup kita kalok seperti ini." Teriak Ily sambil memegang kepalanya.
"Ini gak bisa dibiarkan, kita harus buat sesuatu. Kalau dia sampai tau ternyata semua harta kekayaannya masih ada, dan kita yang memegangnya dia pasti akan merebutnya dari kita."
"Gak akan aku biarkan itu Pah." Ily berpikir bagaimana cara agar harta serta kekayaannya nggak jatuh ketangan Sasha lagi.
"Aku punya ide." Ily membisikan rencananya kepada suaminya, apa yang akan diperbuat nantinya.
Ternyata semua aset kekayaan keluarga Alavo bukan diambil oleh pihak bank dan tidak pernah bangkrut.
Itu semua adalah ulah Win dan Ily, Om dan Tante Sahsa sendiri yang udah sabotase, bahkan kecelakaan kedua orang tua Sasha sekali pun.
Mereka yang udah mengatur semuanya sampai tuntas dan akhirnya mereka udah mendapatkan hasilnya.
Terus dimana Oma Sasha?
Bahkan setelah Sasha dititipkan dipanti asuhan, dua hari kemudian Win dan Ily membunuhnya dengan sangat keji hanya demi harta.
Mereka enggak mau, ada batu loncatan untuk kebahagiaan untuk mereka. Mereka berdua hanya pura-pura baik didepan keluarga Sasha agar mendapatkan perhatian untuk mengecoh keluarga itu. Benar-benar licik.
Keesokan harinya disekolah...
Dikantin.
"Gue makin merasa bersalah tau gak sama Sasha." Kata Gesy mengaduk-aduk minumannya
"Yaudah nanti kita abis pulang sekolah jenguk dia aja, dan ajak dia ngobrol." Saran Liva.
"Gue takutnya dia gak mau bicara dan maafin gue." Kata Gesy harap-harap cemas.
"Gue yakin dia nggak kayak gitu orangnya, kita coba aja nanti." Reyla menenangkan teman-temannya.
"Oke habis pulang sekolah kita jenguk dia." Sambung Liva.
Dirumah sakit...
"Assalamualaikum Tante, kita mau jenguk temen kita." Kata Gesy
Wina yang lagi duduk didepan ruangan Sasha sambil melihat Handphonenya mendongak dan berdiri.
"Iya boleh, Sasha lagi didalam sama Beno, kalian masuk aja."
"Makasih tante." Ucap mereka bersamaan.
Ternyata Beno didalam lagi mengupas buah untuk Sasha.
"Sasha, kayak mana keadaan Lo?." Tanya mereka sambil tersenyum dan mendekati Sasha dan Beno.
Sasha tersenyum singkat. "Aku udah baikan, makasih kalian udah jenguk aku."
"Gue keluar dulu, biar kalian lapang ingin mengobrol." Beno berdiri dan keluar kamar.
"Sha, maaf soal waktu itu. Gue gak bermaksud ngomong kaya gitu." Kata Gesy
"Iya, gak apa-apa. Aku udah maafin kamu."
"Aku gak mau jadi manusia egois, kalian udah baik-baik banget sama aku. Enggak mungkin aku musuhin kalian hanya hal seperti itu."
Gesy langsung memeluk Sasha. "Kita masih sahabat bukan?."
"Iya."
"Pulang aja kita yuk Liv, kita berdua gak dianggap sama mereka." Reyla menyilangkan kedua tangannya.
"Ho'oh males Gue jadinya, cabut gih."
"Lo berdua apa sih, gitu aja ngambek." Gesy menarik mereka berdua untuk pelukan, jadilah mereka pelukan untuk persahabatan yang utuh.
"Ehh.. teman-teman aku susah bernafas."
"Astaga sorry Sha gak sengaja." Kata mereka dan langsung saja melepas pelukannya dan tertawa bersama-sama atas kebodohan mereka.
Mereka berempat mengobrol bersama, menanyakan hal kenapa Sasha bisa sampai masuk rumah sakit.
"Kalian udah pada makan?." Tanya Wina masuk kedalam.
__ADS_1
"Belom tante." Ucap mereka kompak.
"Yaudah makan dulu gih, nanti sakit kalo nunda-nunda makan."
Enggak ada rasa tau dirinya Reyla berkata. "Iya tante. Tapi BTW makanannya mana Tante?."
"Itu dikantin, kalian bisa beli disana." Jawab Wina enteng.
"Yah... kirain tante mau ngasih kita makan atau apalah. Rupanya suruh kekantin bayar sendiri." Lengos Reyla memanyunkan bibirnya.
"Rey kamu tuh taunya gratisan aja. Bayar sendirilah." Kata Liva.
"Kayakan mana tau Tante mau traktir kita-kita yakan Tante hehe..."
"Yaudah-yaudah Tante yang traktir kalian."
"Yey makasih Tante. Ayok serbu kantin gais." Reyla udah lari duluan menuju kekantin dan disusul yang lain.
"Ben kamu gak mau ikut bareng?." Tanya Wina.
"Nanti aja belum laper Mih." Jawab Beno tanpa beralih dari Handphone ditangannya dia sedang bermain games
"Mau mami bungkus untuk kamu?."
"Hemm... boleh deh Mih. Nasi soto kering ya Mih."
"Kamu jagain Sasha, ingat jangan games aja dan jangan macem-macem kamu." Tegur Wina, dan Beno hanya berdeham.
"Siapa juga yang mau ngapa-ngapain dia, gak berselera." Kata Beno lirih.
"Halah, nanti termakan omongan sendiri baru tau rasa kamu."
"Sasha kalo ada perlu apa-apa bilang aja sama bocah tengik ini." Sambungnya dengan memegang hendel pintu, Sasha hanya tersenyum saja, dan setelah itu Wina pergi meninggalkan mereka disana.
Sasha bosan udah mulai bosan, padahal baru ditinggal beberapa menit yang lalu. Dia bosan sebab mereka berdua hanya diam saja. Beno sedang asik main games.
Sasha berusaha bangkit dari tidurnya dan ingin kekamar kecil, ia mau buang air kecil.
Beno yang main games melirik Sasha yang berusaha bangkit sari brangkar. "Mau ngapain?."
"Hah?." Sasha menatap Beno yang masih fokus sama gamesnya.
Beno meletakkan Handphonenya. "Gue tanya, Lo mau ngapain."
Sasha garuk-garuk kepala. "Ohh... aku mau kekamar kecil." Katanya sambil mengambil menggeret tiang infusnya.
"Sini Gue bantu." Beno mengambil alih tiang infus yang dipegang Sasha.
"Aku sendiri aja."
"Gak usah ngebantah."
Sasha hanya pasrah sambil menghela nafas. "Okey."
Beno mengantar Sasha sampai kedalam toilet yang ada dikamarnya.
"Ngapain masih disini?. Cepetan keluar aku udah gak tahan."
"Enggak tahan apa?." Beno menggoda Sasha dan berjalan mendekatinya dengan pandangan yang menatap mata Sasha dengan lekat.
Sasha yang ditatap seperti itu sedikit takut dan perlahan mundur dan!. "Akhh..."
Mata Sasha membulat karna kaget, ternyata ia terpeleset sabut yang ada dilantai.
Beno yang melihat itu dengan cepat menangkap pinggang Sasha agar tidak jatuh.
Hingga tubuh mereka saling bersentuhan. Wajah mereka sangat dekat, sampai-sampai nafas mereka bisa terasa sampai kepori-pori kulit.
Beno menatap bibir sedikit pucat Sasha, yang tidak diketahui sangat seksi. Ia menelan salifanya susah payah.
Beno memajukan wajahnya. Melihat Beno bertindak seperti itu, Sasha memejamkan matanya rapat-rapat dengan menggigit bibir bawahnya.
"Lain kali hati-hati." Kata Beno ditelinga Sasha. Suaranya begitu berat dan serak-serak basah.
Beno pun melangkah pergi dari dalam kamar mandi dan menutup pintunya.
"Kok Aku dek-dekan gini yah?." Tanya Sasha dengan memegangin dadanya yang berdetak sangat kencang.
__ADS_1
"Aduh tenang dong."
...~~~...