Kalexsa Alavo

Kalexsa Alavo
Part 52. Kejadian yang aneh!


__ADS_3

"Loh!. Ngapain kamu disini?."


"Nyariin Lo." Kata Beno singkat.


"Lo kenal sama ni orang Sha." Tunjuk Zeki kepada Beno.


"Dia senior Aku kak disekolah."


"Jadi ada urusan apa dia nyariin Lo sampek sini?." Tanya Zeki.


Aku mengerdikkan bahu. "Ada apa kok kakak nyariin Aku malam-malam kayak gini?. Terus dari mana kakak tau Aku ada disini."


"Pertama, Gue nyariin Lo karna disuruh sama Mami Gue, tapi Gue gak tau rumah Lo dimana Mami tetap maksa suruh Gue jemput Lo. Yang kedua, Gue udah nyariin kesemua tempat dan terutama didepan minimarket ujung sana tempat Lo dan Gue ketemu. Gue pikir pasti rumah Lo nggak jauh dari situ jadi Gue mutusi mengitari daerah itu. Cukup lama akhirnya Gue laper, terpaksa Gue nyari makanan cepat saji dan keberuntungan diGue, Lo rupanya juga disini, kalau gitu ayo." Jelasnya dan mau menarik ku untuk segeRa pergi bersamanya.


Tapi ditahannya sebentar. "Dan Lo harus bayar utang Lo malem ini juga." Sambungnya dan langsung menari Ku.


"Kalm down! kalm down!, jangan tarik-tarik kayak gitu, santai aja." Ujar Jek memegang lengan Beno. Tapi tangan Jek ditepis olehnya.


"Bukan urusan Lo. Ayo buruan" Kata Beno masih menarik tangan ku kasar.


"Eits tunggu. Lo utang apaan sama ni orang Sha?." Tanya Zaki.


Beno berbalik dan menatap Zeki. "Banyak utangnya. Lo nggak usah ikut campur."


"Udah nggak usah perdulikan Aku kak, Aku baik-baik aja." Ujar Ku.


"Yah, tapi kan..."


"Kakak lanjut makan aja, Aku pergi dulu bye." Aku pun pergi dengan Beno, dengan tangan ku yang ditarik-tarik olehnya.


"Buruan napa, lemot banget Lo jadi orang." Kata Beno.


"Yah sabarlah. Ehh tunggu Gue belum bayar pesanan Gue tadi." Ucap Ku menghentikan Beno tepat dimeja kasir.


"Ribet deh Lo, burian."


Setelah membayar, Aku dan Beno sudah berada didepan warung tersebut.


"Naik." Suruhnya untuk naik keatas kereta miliknya.


Aku pun naik keatas motor. Aku berpegangan pada ujung bajunya saja, dan Dia pun melaju menyusuri malamnya kota Jakarta yang ramai dengan lalu lalang kendaraan lain.


"Tante Wina ada apa nyariin Aku?." Tanya ku sedikit keras.


"Mami Gue sakit, jadi Dia minta Lo temanin Dia." Jawab Beno sambil melirik ku dari kaca spion.


Aku mengangguk. "Terus soal utang itu, Gue harus ngapain?."


"Nanti aja kalau usah sampai rumah Gue kasih tau."


Hening, hanya ada suara klakson dari kendaraan lain.


Beno ternyata memperhatikan ku aja dari kaca spion sampai kurang memperhatikan jalan didepannya.

__ADS_1


"Awas!!!." Teriak Ku.


"Akhhh..." Teriak seseorang itu.


Beno segera merem keretanya. Untung saja nggak sampai tertabrak.


"Dek kalau jalan tuh hati-hati." Marah Beno kepada anak kecil itu.


Aku yang melihat Beno marah-marah pun segera turun dan menghampiri adik kecil itu yang hampir nangis karna Beno.


Aku menjajarkan badan ku dengannya melihat apakah Dia terluka apa tidak. "Dek ada ada yang sakit?." Tanya Ku.


"Hiks... nggak ada kok kak."


"Ehh! cup cup jangan nangis, orang tua kamu mana?. kenapa kamu dibiarkan sendirian seperti ini." Tanyaku padanya sambil menghapus air matanya. Aku mengamati sekitar.


"Inikan taman bermain." Pikirku.


Dari kejauhan ada dua orang paruh baya berlari menghampiri kami. "Nissa,"


"Sayang apa kamu nggak apa-apa nak?." Tanya Mama Nissa.


"Aku nggak apa-apa kok Pah. Cuman tadi hampir aja Nissa tertabrak."


"Aduh maaf yah dek, kami kurang menjaga anak kami." Ucap kedua orang tua anak itu.


"Iya nggak masalah Pak, Bu. Kami berdua pun juga minta maaf, karna hampir aja nabrak anak Ibu dan bapak." Jawab Ku.


Aku mengangguk dan mereka pun pergi


"Da dah kakak cantik." Ucap Nissa melambaikan tangan mungilnya kearah ku. Aku pun membalasnya dan tersenyum.


"Kalau dilihat-lihat, ni anak cantik juga sih." Batin Beno yang sedari tadi memandangi Ku.


"Udah?." Tanya Beno.


Aku berbalik melihatnya. "Kamu tuh bukannya minta maaf sama mereka."


"Tadi Lo udah minta maaf. Ngapain Gue lagi mesti minta maaf sama mereka."


"Ya, tapikan..."


Beno menjeda perkataan Ku. "Banyak cerita Lo, cepetan deh Lo naik. Kasian nyokap Gue nungguin."


Aku pun naik dengan muka jengkel. "Selalu aja nggak sabaran." Gerutu Ku


"Tadi Lo bilang apa?." Tanya Beno memutar kepalanya keberangkatan.


"Nggak ada, salah dengar kali kamu." Jawab Ku mengelak.


"Jangan kira Gue nggak dengar apa yang Lo bilang barusan, yah!." Sanggah Beno. Aku hanya mendengus kesal.


Diperjalanan Kami kembali diam aja males ngomong dengan Beno, dan Beno pun sama.

__ADS_1


"Tumben ni anak diam aja?." Pikirnya.


Tiba-tiba saja aku menempelkan kepala Ku dipanggang Beno. Dia kaget Aku bersender dipunggungnya, lalu Ia melihat ku dari arah spion.


"Lah bisa pula Dia tidur!."


Awalnya jari-jari tangan ku memegang ujung bajunya, tapi kali ini ditarik oleh Beno untuk memeluk pinggangnya agar tidak jatuh.


"Kenapa Gue merasa nyaman dipeluk kayak gini sama Dia?." Kata Beno tetap fokus kejalanan."Dan ini, kenapa jantung Gue berdetak lebih kencang dari sebelumnya. Perasaan apa ini sebenarnya?."


Sesampainya dirumahnya Beno, Ia turun dari atas motor dengan perlahan dengan tangannya memegangi ku.


Dia menggendong ku masuk. "Assalamualaikum."


"Loh, Beno itu Sasha kenapa?." Tanya Wina yang baru saja mau membukakan pintu, tapi sudah dibuka sama Beno dengan susah payah.


"Ketiduran, bikin repot aja nih anak." Katanya.


"Cepetan kamu bawa kekamar tamu, baringkan Dia disana." Ucap Wina.


Beno mengangguk dan membawa ku kekamar tamu yang berada dilantai bawah.


Dia membaringkan Ku perlahan diatas kasur. "Huh, nyusahin aja Lo." Dia menghela nafas.


Beno menarik selimut dan menupi badan ku dengan itu, lalu duduk sejenak disamping Ku sambil mengatur nafasnya.


"Kalau lagi tidur seperti Dia kelihatan cantik dan imut." Kata Beno memandang lekat wajah ku.


Dia menyebakkan helaian rambut yang menutup wajahku, lalu menatapku dengan jarak yang sangat dekat.


Aku sedikit terusik Dia ketika Dia menyebakkan rambut ku dan membuat ku terbangun.


"Ahh... Ngapain kamu dikamar Aku?". Teriak Ku kaget melihat Beno yang terlalu dekat menatap ku.


"Kamar Lo dari hongkong, ini rumah Gue kali." Teriak balik Beno.


Mendengar tuturnya Aku melihat sekitar. "Pantas aja beda." Pikir ku.


"Ihhh... Awas Aku mau turun. Akhhh..." Aku berdiri dan mendorongnya agar menjauh, tapi sialnya kaki ku tersandung. Aku mencari benda sekitar untuk ku pegang tapi Aku mala menarik kerah baju milik Beno.


Kami berdua jatuh ditempat tidur, dengan posisi Beno diatas tubuh ku.


Dan Cupp.


Bibir Beno nggak sengaja mencium kening ku. Aku membelalakkan mata, detak ku berdetak tak beraturan, begitu juga dengan Beno. Cukup lama adegan itu berlangsung, dan tak lama Wina masuk begitu aja.


"Beno kok lama...Astagfirullah Hal'azim." Teriak Wina.


...#BERSAMBUNG#...


*Jangan lupa untuk selalu dukung karya Aku yah ;)


See you*.

__ADS_1


__ADS_2