
"Gimana kalo kita kerumahnya aja." Saran Akse. "Menurut Gue, mungkin dia udah pulang. Capek juga cari disini-sini aja tapi enggak ada hasilnya juga. Lo tau rumahnya, bukan Ges?." Sambungnya.
Mereka kumpul dikantin yang sudah sepi.
Reyla menyentikkan ibu jarinya dengan jari tengah, lalu menunjuk tepat wajah Akse. "Gue setuju sama nih anak."
"Enggak sampek nunjuk muka Gue juga kali." Akse mengibaskan jari Reyla, dan beralih menatap mereka. "Gimana menurut Lo semua?."
Mereka memandang Gesy yang diam aja. "Iya, Gue tau rumah Sasha. Satu mobil sama Gue aja Lo semua."
"Gue sama Skarle naik motor masing-masing aja biar nantik kalo udah ketemu langsung balik."
"Terserah Lo." Kata Gesy. "Lo berdua, mau ikut Gue, apa naik kendaraan masing-masing juga?."
"Gue ikut Lo ajalah. Haru ini Gue enggak bawak kendaraan."
"Gue sama, ikut Lo Ges."
Gesy mengangguk dan mereka berjalan menuju parkiran. Setelahnya, mereka melaju kerumah Sasha.
"Ini rumahnya?." Tanya Skarle ketika mereka sampai.
"Bukan, tapi kos'annya." Jawab Gesy.
"Kenapa ngekos?. Orang tuanya mana?." Kali ini Akse yang bertanya.
"Udah meninggal."
Mereka menutup mulutnya kaget. Pasalnya mereka tidak tau apa-apa tentang Sasha. Baru inilah mereka mengetahui kenyataan bahwa temannya itu yatim piyatuh.
Gesy berjalan mendekat kedepan pintu dan mengetuknya. "Assalamualaikum. Sasha , Sha Lo didalem?."
Gesy kembali mengetuk pintu kayu bercat coklat itu. jawabnya tetap sama, tidak ada sahutan dari dalam.
Ibu yang punya kos'an melihat depan pintu milik kosannya didatangi ramai orang, dan dia pun menghampirinya.
"Neng dan Aden ini temen-temennya Nak Sasha yah?."
"Iya buk, kami temannya Sasha. Apa Sasha ada dirumah buk?." Tanya Gesy sopan.
"Nak Sashanya belum pulang neng, tapi biasanya dia sehabis pulang sekolah kerja paruh waktu neng."
Mereka tidak percaya, ternyata salah satu sahabatnya membanting tulang setelah sepulang sekolah demi mencukupi kehidupan sehari-harinya.
"Ges, Lo tau kalo Sasha kerja?." Tanya Reyla dan semua menatap Gesy.
Gesy menatap Reyla. "Setau Gue, Dia kerja dikaffe bukannya jadi badut ditaman bermain."
"Saya boleh tau Sasha kerja dimana yah buk?." Tanya Liva.
"Ditaman bermain seperti pasar malem gitu didekat sini neng." Jawab ibu itu.
"Dan tadi juga ada yang nanyain Nak Sasha juga, seperti kalian."
"Kalo boleh tau siapa yah buk." Kali ini Gesy yang bertanya
__ADS_1
"Tadi ibu lihat kalo enggak salah pacarnya Nak Sasha, tapi ibu enggak tau itu siapa." Kata Ibu itu. "Kalo gitu saya permisi dulu ya." Ibu itu pun pergi meninggalkan mereka yang masih disana dengan wajah terbengong.
"Terimakasih buk, atas informasinya." Ucap mereka kompak.
"Setau Gue, Sasha enggak ada pacar deh gais." Gesy menatap teman-temannya.
"Yah gawat dong!." Kata Akse yang seperti ngagetin gitu.
"Gawat kenapa?." Jawab mereka kompak menatap Akse.
"Enggak ada peluang untuk Gue jadi pacarnya Sasha." Katanya menunduk lesu.
Mendengar itu mereka langsung gebuki Akse secara massal.
"Bisa-bisanya Lo halu disiang bolong kayak gini. Kita tuh lagi nyariin Sasha." Kata Gesy emosi.
"Tau nih, anak siapa sih Lo?."
"Yah anak Mak Bapak Gue lah. Masa anak tuyol."
"Bisa jadi tuh, Lo hampir mirip sama anak tuyol."
"Kok mala bahas yang gak ada gunanya sih Lo semua. Terpenting tuh kita harus nemuin Sasha."
"Kalo gitu kita ketempat kerjanya Sasha aja. Gue tau tempatnya dimana. Dijalan Agung dekat persimpangan." Kata Skarle.
Mereka bergegas menaiki kendaraannya dan tancap gas ketempat kerja Sasha.
Sesampainya disana, mereka melihat pria paruh baya mondar-mandir entah sedang menunggu siapa.
"Permisi pak, apakah disini ada karyawan yang bernama Sasha?."
"Saya pun dari tadi nungguin Dia, tapi sampek sekarang belum datang-datang juga."
Mereka saling menatap satu sama lain, mencara jawaban diantara mereka.
"Yaudah deh pak, kami permisi dulu. Terimakasih." Kata Skarle, lalu mereka meninggalkan tempat itu.
"Gimana nih gais?." Ucap Reyla
"Mungkin Sasha butuh waktu untuk sendiri." Kata Akse.
"Bisa jadi itu. Balik ajalah udah mau malam juga." Kata Reyla.
"Tapi gais..." Ucap Gesy.
"Lo tenang aja. Besok Lo bisa minta maaf sama Dia, sekarang biarkan dulu Sasha tenang." Liva menenangkan Gesy dengan memegang lengannya.
Dirumah Sakit...
"Assalamualaikum." Beno membuka pintu rumah sakit. "Gimana keadaannya Mi?."
"Waalaikumsalam. Masih kaya tadi, Sasha belum juga sadar." Kata Wina. "Bagaimana?. Udah ketemu sama orang tua Sasha!."
Beno menghembuskan nafas berat.
__ADS_1
"Apa terjadi sesuatu tadi Ben?."
"Dia yatim piyatuh Mi, kedua orang tuanya udah tiada."
Wina menutup mulutnya. "Inalilahi wainalilahirojiun, Kamu enggak main-mainkan Beno!."
Beno menggeleng. "Aku dikasih tau sendiri sama pemilik kos'annya."
Wina menatap Sasha iba dengan kehidupannya itu.
"Mami pulang aja, biar Aku aja yang jagain Dia."
"Berduaan!. Enggak boleh, kamu aja yang pulang, Mami yang akan jagain Sasha." Wina mengusap rambut Sasha.
"Aku nunggu disofa, Aku juga tau kami bukan mukhrim."
Wina tersenyum menatap anaknya itu. "Ternyata anak Mami udah besar rupanya." Wina berdiri dan mengambil tasnya yang diletakkan tadi diatas meja.
"Kamu jagain Sasha, kalo ada apa-apa kasih tau Mami, oke." Wina pun pergi menghilang dibalik pintu.
Beno memandang wajah Sasha sebentar, lalu berjalan kesofa. Belum lagi mendaratkan bokongnya, Handphone milik Sasha berdering dari dalam tas.
Tertera disana dengan nama Bos. Beno segera mengangkatnya, mana tau ada hal penting.
"Sasha, kamu dimana? Ini udah jam berapa? Kenapa kamu belum juga datang kesini!." Belum lagi bersapa, seseorang disebrang sana sudah ngomel-ngomel.
"Halo pak."
Juda dari sembarang sana kaget, pasalnya yang mengangkat telponnya seorang pria. Dia mengecek layar Handphonenya, mana tau dia salah mencet nomor. Ternyata tidak, ini beneran nomor karyawannya.
"Kamu siapa?."
"Maaf sebelumnya pak, saya teman pemilik Handphone ini."
"Sashanya mana?. Saya ingin bicara sama Dia."
"Sasha tadi mengalami kecelakaan, dan sekarang Dia koma dirumah sakit Mitra Medika pak."
"Dia dirumah sakit? Yasudah lekas siuman untuknya, kalo ada waktu saya akan menjenguknya. Saya tutup dulu telepon, selamat siang."
Ketika sambung berakhir, Beno meletakkan kembali Handphone Sasha ditasnya lagi.
"Woi bangun, mau sampek kapan Lo tudur terus kek gini, hah?." Kata Beno pelan berdiri disamping Sasha.
"Gue pikir Lo manusia kuat dan pemberani, kayak Lo waktu itu. Rupanya, itu semua cuman Lo jadiin sampul untuk nutupi diri Lo yang sebenernya." Beno melihat wajah dan bibir Sasha yang pucat.
"Mungkin kalo Gue jadi Lo, Gue enggak akan sekuat Lo, yang bisa nutupi semua kesedihan Lo dengan keberanian dan senyuman Lo. Gue enggak akan mungkin bisa."
"Selama ini Gue udah salah menilai Lo, maafin Gue yah!."
"Sekali lagi Maaf karna berlaku kasar sama Lo waktu pertama kita jumpa."
...# **BERSAMBUNG #...
Salam dari Author yang lagi galau** :'(
__ADS_1