Kalexsa Alavo

Kalexsa Alavo
Part 65. Tiba-Tiba Nongol


__ADS_3

"Pagi,Sekarang kalian buka buku Fasion. Kalian pelajarin dulu, sekitaran 20 menit lagi kita akan ke Lab Fasion." Guru masuk kedalam kelas 10 MDL1.


"Baik buk."


Bu Melati melirik meja yang ditempati Sasha. "Kalexsa belum sekolah juga?. Udah hampir satu minggu lebih dia gak masuk, ada yang tau alasan dia gak masuk?."


"Dia lagi sakit buk, dan sekarang dia lagi dirawat dirumah sakit." Jelas Gesy.


"Kok bisa?. Sakit apa?."


"Kecelakaan buk."


Bu Melati mengangguk. "Kalian lanjutkan apa yang saya suruh. Saya pergi kekantor guru sebentar." Bu Melati melangkah pergi.


"Baik buk."


Akse dan skarle berbalik badan kemeja Gesy. "Lo tau dari mana Sasha lagi dirumah sakit sekarang?."


"Gue sama Reyla dan Liva yang selidiki." Kata Gesy. "Tau-taunya dia dirumah sakit sama keluarganya ketua osis."


"Siapa?. Kak Beno maksud lo." Skarle memastikan dan Gesy mengangguk.


"Serius, kenapa gak kasih tau kita berdua." Kata Akse.


"Yah ini udah gua kasih tau njir."


"Jangan ngegaslah e'ek, santai aja kali." Kata Akse.


"Nanti kita jenguk Sasha yok, gue mau lihat kondisinya." Ajak Skarle dan diangguki Akse.


"Hari ini gue gak bisa, ada urusan soalnya. Cobak lo tanyak sama tu dua curut."


"Ehh Reyla, lo nanti mau jenguk Sasha apa enggak?." Teriak Akse dari tempat duduknya.


"Gue gak bisa kalok hari ini, mau perawatan dulu gue."


"Yaelah, banyak kali gaya lo."


"Suka-suka gua, kenape lo yang ribet dah."


"Kalo lo Liv?."


"Sama, enggak bisa juga gua hari ini."


"Yaelah nape sih lu pada hah?. Tiba gue ajak pada ogahan."


"Besok aja selagi weekand, gimana?." Usul Gesy.


"Setuju." Jawab Reyla dan Liva.


"Kumpul dirumah gue, biar piginya barengan aja naik mobil gue." Saran Gesy.


"Janji lo pade ye, awas aja kalo tipu. Gue obrak-abrik tuh Make-up lu pada."


"Udah kaya mau razia Make-up aja lu. Iya-iya besok jenguk Sasha, puas lo?." Kata Reyla.


...~~~...


Waktu pulang sekolah...

__ADS_1


"Ben, ngebasket yok." Ajak Salah satu anggota Osis.


"Sorry gais gue gak bisa, next time aja oke." Kata Beno menyelempangkan tas ranselnya dipundak.


"Okelah kalo gitu."


Beno cabut berlari keparkiran sepeda motor. Ternyata disana ada Elga dan Danu.


"Buru-buru amat, mau kemana sih lo?."


Beno menaiki motornya dan memakai helmnya. "Mau kerumah sakitlah mau kemana lagi."


"Tiga hari ini dia dirumah sakit sendirian. Biasa Nyokap gue yang jagain dia, tapi karna orangtua gue keluar kota gue yang jagain." Lanjutnya.


"Lah gantian elo yang jadi babu sekarang?. Kualat lo kan!" Sindir Danu.


"Bukan masalah kualat atau apalah. Tapi ini amanah, ngerti gak lo. Udahlah gue mau cabut." Beno menancap gas pergi meninggalkan mereka diparkiran.


Dirumah sakit...


"Sus, saya boleh jalan-jalan ketaman?."


"Kami belum boleh keluar kamar kata Dokter karna perlu pemulihan untuk lengan kamu."


Sasha merengut. "Saya bosan sus dikamar terus enggak ngapa-ngapain, boleh ya sus."


"Belum boleh."


"Ada apa sus?."


"Ini Dok, pasien mau jalan-jalan ditaman, apa boleh Dok?."


Sasha tersenyum. "Baik Dok, yuk sus."


Sasha pun didorong menggunakan kursi roda mengelilingi area taman yang ada dirumah sakit.


"Sus aku mau nanya, suster kok kepikiran ingin jadi perawat?. Maaf kalo pertanyaan aku ini aneh sus." Tanya Sasha.


"Itu karna orang tua saya dulu punya penyakit, jadi saya kepikiran untuk jadi perawat agar selalu jaga kesehatan mereka." Jawab suster itu sambil terus mendorong kursi roda.


"Jadi orangtua suster udah sembuh?."


"Alhamdulillah sudah, mereka sangat bugar sekarang walau udah tidak muda lagi."


Sasha tersenyum senang mendengar itu. "Beruntung banget kedua orangtua suster, punya putri kaya suster. Yang perhatian dan menjaga kedua orangtuanya."


Tiba-tiba wajah Sasha murung dan kelihatan sedih. "Enggak kaya aku yang gak bisa mengurus dan memberi perhatian sebagai seorang anak untuk kedua orangtuanya."


Suster tampak heran. "Emang orangtua kamu kemana?."


Sasha memutar kepalanya menghadap Suster itu sambil tersenyum. "Mereka udah bahagia disurga dan ninggalin aku sendiri."


"Maafin saya, saya gak bermaksud."


"Enggak masalah kok, suster jangan sungkan."


"Walaupun orangtua kamu udah gak ada, tapi mereka masih ada dihati kamu dan kamu harus yakin itu."


"Yah, aku percaya itu. Mereka akan selalu ada dihati dan pikiranku sampai kapan pun."

__ADS_1


"Kamu mau balik atau masih mau berkeliling?." Suster mengalihkan percakapan agar tidak membuat Pasiennya semakin sedih.


"Kita kesana aja sus, yang dekat pohon cemara disana." Tunjuk Sasha.


Suster pun mendekat kearah yang disebutkan Sasha.


"Sus kapan yah aku dibolehin pulang?."


"Nanti kalo udah disuruh sama Dokter, kamu boleh pulang."


Suster disenggol oleh seseorang dari belakang dan suster tersebut menoleh.


"Biar saya aja yang jaga dia, suster bisa pergi." Kata orang itu dengan bisik-bisik, suster pun mengangguk dan pergi meninggalkan mereka berdua disana.


"Aku pengen kesekolah dan belajar bareng temen-temen aku. Pasti aku udah banyak banget ketinggalan materi." Keluh Sasha sedih, karena udah lama dia enggak masuk kesekolah.


Sasha heran kok suster itu diem aja gak merespon apa yang dia cakap. "Sus, kok diem aja?."


Beno mencondongkan badannya "Makanya jangan keluyuran aja kalo mau sembuh dan mau kembali keaktifitas lo." Katanya tepat ditelinga Sasha.


Sasha menghadap kesamping. "Loh, Kok jadi kamu susternya mana?."


Beno kembali menegakkan badannya sambil memasukkan tangannya keaku celana casualnya. "Udah gue usir."


Tadi sehabis dari sekolah dia ganti seragam dulu dan mandi, baru deh kembali kerumah sakit.


"Udah yuk balik kekamar lo, usah sore." Beno ingin mendorong kursi roda itu tapi ditahan oleh perkataan Sasha.


"Disini dulu aja. Lihat tuh pemandangannya juga bagus. Lagian aku bosen dikamar terus." Kata Sasha.


"Dan aku canggung kalo didalam kamar berduaan sama kamu." Timpal Sasha dengan suara kecil.


"Tadi lo bilang apa yang kalimat terakhir?."


"Hah?. Ohh aku enggak ada ngomong apa-apa kok cuman bosen aja."


Beno berjalan untuk berhadapan dengan Sasha. "Kenapa lo malu kalo berduaan sama gue kaya gini." Beno menekan sandaran tangan kursi roda Sasha.


Yang awalnya posisi badan Sasha tegak, kini badannya merosot kebawah karna menghindari Beno.


"Atau kaya gini." Beno mencondongkan badannya.


"Enggak-enggak ini terlalu dekat." Sasha mendorong pundak Beno dengan telunjuknya.


Beno kembali keposisi awal dan memandang wajah Sasha yang salah tingkah.


"A-aku mau kembali kekamar aja." Sasha gelagapan ketika usah disituasi dimana Beno melakukan tindakan-tindakan yang membuat jantungnya gak bisa diam.


"Tadi katanya canggung kalo dikamar berduaan sama gue!." Ledek Beno dengan senyum mengejek.


"Udah ahh aku balik sendiri aja." Belum sempat Sasha memegang roda kursi, tangannya dihalangi oleh Beno.


"Oke-oke sini aku dorongin sampai kekamar lo." Beno mendorongnya. "Lo lupa kalo tangan lo itu masih sakit, jadi enggak usah sok kuat."


Disepanjang jalan menuju kekamar Sasha Beno terus aja meledeki Sasha dan membuatnya gugup.


Apa lagi sepasang mata terus menatap mereka berdua yang terus aja membicarakan hal-hal yang aneh.


...~~~...

__ADS_1


__ADS_2