
Tiga hari setelah tabrakan...
Sasha belum sadar akibat kecelakaan yang dialaminya. Kata dokter semalam Sasha sudah melewati masa kritisnya dan tinggal menunggu dia sadarkan diri.
Beno dan juga keluarga yang mengurusnya selama tiga hari berturut-turut.
Beno merasa iba melihat Sasha dengan hidupnya. Gitu ditambah lagi dengan keadaannya yang kayak gini, dan itu karna Dia.
"Lo sebenernya sampek kapan mau kayak gini?. Udah napa bangun, udah tiga hari Lo gak makan, gak minum, ditambah lagi badan Lo yang gak mandi-mandi selama Lo sakit." Kata Beno yang hendak berangkat kesekolah." Kata Beno sambil meracau gak jelas.
Enggak lama Wina datang bersama Bram. "Beno Kamu berangkat sana, nanti telat. Papi juga berangkat, katanya tadi ada Metting jam 8 pagi."
"Iya-iya Papi gak lupa, makasih udah diingatkan lagi yah Mi." Lalu Bram beralih menatap anaknya yang sedang memperhatikan Sasha.
Gais, Author mau infoin kalian, kalo nama Bokapnya Beno itu BRAM yah, bukannya Firman supaya kalian enggak bingung.
Soalnya yang dipart sebelumnya Author buat nama Bapaknya Beno itu Firman dan itu bukan nama Bapaknya, oke. Author khilaf gais :v.
"Kasihan Dia, Papi turut prihatin dengan kondisinya." Kata Bram, Beno menoleh kearah Bram dan meng'iyakan perkataan Papinya itu.
"Papi sama Beno udah sana berangkat, biar Mami yang jagain."
"Kita berangkat dulu Mi." Beno menyalami punggung tangan Wina.
...___...
Disekolah...
Ternyata selama Sasha tidak masuk, semua orang menanyakan dimana keberadaan Sasha. Tepatnya menanyakan perihal tentang salah satu calon Wakil Ketua OSIS.
Karna waktu votting seharusnya semalam, dan diundur hari ini karna salah satu calon tidak ada, dan itu adalah Sasha.
Hari ini penentuannya, jika Sasha tidak datang juga, maka dia akan dinyatakan mundur menjadi Wakil Ketua OSIS.
Ketika pelajaran berlangsung, tiba-tiba Pak Durse masuk kekelas X MDL1. "Selamat pagi."
Kami otomatis langsung berdiri dan membalas ucapan salam Kepsek. "Pagi pak."
"Bagaimana?, apakah siswi atas nama Kalexsa sudah hadir pak?." Tanya Pak Durse kepada wali kelas X MDL1
"Maaf pak, tapi siswi tersebut selama dua hari ini tidak ada kabar pak, dan tidak hadir."
"Siapa teman sebangku Kalexsa?."
Gesy berdiri. "Saya pak teman sebangkunya."
__ADS_1
"Apa kamu tahu keadaannya dan dimana alamat rumahnya?,"
"Alamat rumahnya dijalan Agung nomor 80 dekat taman Laraska pak."
"Kalau bisa nanti kamu jenguk teman kamu yah, tanyakan bagaimana keadaannya kenapa dia tidak masuk sekolah."
"Gimana Gua mau tau keadaannya!. Gue aja kagak tau Sasha dimana, sejak Gue nginggung perasaannya." Pikir Gesy.
"Baik pak, nanti sepulang sekolah saya akan menjenguknya."
Pak Durse mengangguk. "Jadi saya mohon maaf karna teman kalian akan kami diskualifikasi atas partisipasi ini, bukannya saya menginginkan anak saya untuk bergabung diorganisasi sekolah. Tapi, ini juga tidak dipaksakan dan saya sudah kasi waktu lebih, tapi siswanya tidak datang juga."
"Saya selaku wali kelas, minta maaf karna siswi saya ini pak."
"Saya memahaminya pak, kalau gitu saya permisi, kalian lanjutkan pembelajaran kalian semua."
"Baik pak."
Ketika istirahat berlangsung....
"Aduh kasihan ya jadi Lo-Lo pada Haha." Ledek Firna datang menghampiri meja dikantin yang ditempati Gesy dan kawan-kawan.
"Pimpi jangan setinggi langit, jatoh nangis kan! Haha." Timpal Vista dengan memainkan rambutnya dengan jari.
"Lo bertiga maunya apa hah?." Kata Gesy berdiri menggebrak meja.
"Heh! jangan sementang Lo Wakil Ketua OSIS disini jangan kurang ajar ya Lo bertiga." Reyla menunjuk muka mereka bertiga.
"Terus Lo mau apa, hah?." Hera maju kehadapan Reyla dan mendorong bahunya.
"Ngelece ni orang emang, minta dikasih pelajaran." Reyla siap mencakar-cakar muka mereka satu persatu tapi ditahan oleh Liva.
"Yang ada Elo harus dikasih pelajaran." Firna menyiram minuman yang ada dimeja mereka.
Reyla menjerit spontan dan memegang baju dan roknya yang basah. "Kurang ajar. Rasain ini, biar mampus Lo." Reyla membuka tutup cabai dan melemparkan isinya keseragam Firna. Tapi tidak jadi ia lakukan, karna ada yang menghalangi.
"Kalian, berhenti." Teriak Lexy.
"Lo semua apa-apaan bertengkar dikantin kayak gini!. Urat malu Lo semua udah putus, hah?." Timpal Beno.
"Lo juga Fir, harusnya Lo jadi panutan disini karna Lo usah jadi Wakil ketua OSIS." Kata Beno menatap Firna.
"Bukan kita kali Ben, tapi mereka tuh." Tunjuk Firna
"Heh!. Mata Lo semua buta atau picek hah?. Jelas-jelas Lo yang bikin baju temen Gue basah karna Lo siram tadi, gak mau ngaku Lo." Kata Gesy nyolot gak terima difitnah kayak gitu.
__ADS_1
"Udah sekarang bubar gak malu kalian diliatin banyak orang." Lexy menunjuk seisi kantin yang dari tadi menatap perdebatan mereka.
"Gue mah kagak perlu malu, orang kepseknya bokap gue, ya gk gais." Kata Firna seakan dia yang berkuasa disana.
"Jangan sementang bokap Lo itu kepsek Lo jadi sesuka hati Lo ngelakuin apa aja. Gak diajarin atittut Lo ya sama nyokap bokap Lo?." Kata Reyla dengan bersedekap Dada.
"Percuma Bokap berpendidikan bisa jadi kepsek. Tapi punya anak yang gak ada isi otaknya sama sekali kayak Lo biken malu doang, heh." Gesy memandang Firna jijik dengan tertawa sinis.
"Cabut ajalah, e'nek Gue liat mukak senior kayak gini modelannya." Kata Gesy berjalan pergi keluar kantin dan diikuti oleh Liva dan Reyla.
"Kurang ajar tu orang, awas Lo Gue bales nanti."
Sedangkan dirumah sakit...
Wina mendapatkan telepon dan dia pun mengangkatnya diluar takut ngeganggu Sasha.
Ketika Wina keluar ruangan Sasha diinap, Sasha mulai siuman. Ia mengerjapkan matanya karna baru sadar setelah 3 hari.
"Aku dimana?." Tanya pada dirinya sendiri. "Aww kepalaku, sakit." Katanya sambil memegang kepalanya, dan baru menyadari kalau kepalanya diperban dengan tangan kanan diinfus.
"Siapa yang bawa aku kerumah sakit?." Sasha mulai mengingat-ingat apa yang terjadi padanya dan siapa yang membawanya.
"Ahh iya, waktu itu pergi sama Beno dan tertabrak mobil waktu tiba-tiba keluar gang." Pikirnya.
"Pasti dia, yang bawa aku kesini, mending aku pergi aja mempung gak ada siapa-siapa, aku enggak mau ngerepoti orang lagi."
Sasha mencopot infus ditangannya dan berusaha untuk bangkit dari brangkas dengan jalan agak sempoyongan menuju pintu.
Dilihatnya tidak ada suster atau dokter, Sasha segera keluar dari sana.
Wina sudah selesai dengan panggilannya dan kembali ruangan Sasha. "Sasha maaf yah tadi Tante tingg..."
"Loh! Sasha... kamu dimana sayang, Sasha." Teriak Wina panik karna tidak mendapatkan Sasha diatas brangkasnya.
"Sus, suster ada lihat pasien disini tidak, atas nama Sasha."
"Pasien disini kok buk."
"Tapi sekarang pasiennya gak ada sus."
Suster itu mencari-cari disetiap sudut ruangan, tetapi gak menemukan keberadaan Sasha dimana.
"Bagaimana nih sus, saya tidak mau tau pihak rumah sakit harus menemukan keberadaan Sasha."
Setelah berhasil, Sasha berjalan sambil menunggu angkutan lewat. Sasha berjalan diterik matahari masih dengan mengenakan baju rumah sakit.
__ADS_1
Berjalan dengan wajah pucat sambil memegangi kepalanya yang terasa semakin pusing dirasakannya, serta pandangan yang samar-samar.
...# BERSAMBUNG #...