
"Astagfirullah Hal'azim."
Kami tersentak kaget, Aku dan Beno segera bangkit. Aku duduk ditepi kasur dengan menundukkan kepala Ku malu. Sedangkan Beno, Dia berdiri disampingku.
"Mami kenapa tiba-tiba masuk?."
Wina berjalan mendekat, duduk disamping Ku. "Kenapa? kamu nggak mau mami tau kalau kamu lagi gangguin Sasha."
"Kamu tuh kalau suka sama Sasha bilang. Biar Mami buat acara tunangan untuk kamu dan Sasha." Kata Wina senyum-senyum dengan memegang tangan ku yang gemetaran.
Kami berdua kaget Wina mau buat pertunangan untuk ku dan Beno.
"Jangan!." Teriak kami berdua kompak.
Wina malah tertawa mendengar tutur kami. "Hahaha, Mami tau kalian itu sebenarnya mau, kan! Mami jodohin?."
"Mi apaan sih, ini kecelakaan. Tadi Dia kesandung terus Aku tangkap mala kami terjatuh dikasur. Udah itu aja." Jelasnya. Aku pun mengangguk menyetujui ucapannya.
"Dan Aku nggak mau Mami jodoh-jodohin kayak gini. Aku nggak suka sama Dia." Dia melirik ku.
"Kamu kira cuman kamu aja, Aku pun nggak akan suka sama kamu, mimpi aja kamu sana." Batin ku membalas tatapan Beno.
"Oke, oke!. Kalian mungkin saat ini belum saling suka. Tapi Mami yakin, suatu saat kalian akan suka dan saling menyayangi."
Aku menggeleng. "Nggak akan Tante."
"Kita lihat aja kedepannya sayang." Wina mengelus kepala Ku dan berjalan pergi keluar kamar.
"Gara-gara Lo nih." Tunjuk Beno.
"Yah, kamu juga sih, ngapain dekat-dekat kayak tadi." Kata Ku
"Ahh, terserah Lo deh." Beno meninggalkan ku dikamar itu sendiri.
Aku masih bingung. "Kok Aku bisa tertidur disini? Bukannya semalam Aku lagi diatas kereta sama Beno!." Gumam ku.
Baru ku sadari kalau sewaktu Diperjalanan Aku tertidur diatas motor. "Aku semalam ketiduran sewaktu kemari. Aduhhh bodohnya kamu Sasha, kok bisa sih kamu ketiduran segala."
"Dan pasti Dia yang menggendong ku sampai kesini. Malunya." Aku menutup muka ku yang memerah.
__ADS_1
Aku memilih keluar kamar dan melihat Tante Wina diruang tamu sedang memijit-mijit kepalanya.
"Tante ada apa yah nyariin Aku." Kata Ku menghampirinya.
"Sasha!," Wina menatapku. "Tante mau minta kamu temani Tante, karna Tante kurang enak badan."
"Ohh pantas saja tadi, Sasha lihat Tante mijit-mijit kepala. Sini Tante, biar Aku yang pijit Tante."
"Iya, makasih yah sayang kamu baik banget."
Aku hanya menanggapi dengan senyum, Aku mengambil minyak angin yang ada diatas meja dan ku tuang sedikit ditelapak tangan ku, lalu memijit pelipis Tante Wina secara perlahan.
...~~~...
Dibalkon kamar Beno, Dia sedang membayangkan kejadian tadi dengan Sasha.
"Kok bisa-bisanya Gue sampai mencium keningnya!". Beno berkacak pinggang menghadap langit.
"Dan hati Gue saat itu berdegup kencang?. Apa bener yang Mami katakan! Kalau aku suka sama Sasha. Tapi nggak mungkin Gue suka sama Dia." Beno bergulat dengan pikirannya sendiri.
"Ngapain Gue mikirin, yang ada bikin puyeng. Mendingan Gue mandi aja, biar bayang-bayang tu anak hilang dari pikiran Ku." kata Beno dan menuju kekamar mandi.
"Sayang!," Panggil Wina kepada Sasha dengan mata terpejam.
"Kamu emang nggak suka sama anak Tante? Dia tuh, kan ganteng dan kamu cantik, baik lagi. Cocoklah kalau kalian Tante Jodohin." Wina membahas tentang perkataannya dikamar tadi.
Aku bingung mau jawab apa. "Aku nggak sebaik yang tante kira kok. Diluar sana pasti masih ada yang lebih baik dan lebih cantik dari pada Aku."
Wina menggeleng. "Tante itu udah nyaman sama kamu, dan pilihan Tante pasti tepat untuk jodohin anak Tante Ke Kamu."
Semakin dilanjutin pembicaraan tentang perjodohan ini, Aku semakin kikuk dan mati kutu mau menjawab apa.
"Papanya Beno mana Tante?. Aku kok nggak nampak sedari tadi." Tanya ku mengalihkan pembicaraan
"Ahh Om lagi keluar kota."
"Sayang sekali yah Tante. Padahal Aku belum berkenalan dengan beliau." Kata Ku.
"Papanya Beno pasti suka juga sama kamu, kayak Tante hahaha."
__ADS_1
"Ahh Tante bisa aja."
Kami pun berbincang-bincang diselingi canda tawa disediap pembicaraan kami.
"Assalamualaikum Tante."
Seseorang tiba-tiba saja masuk menjeda obrolan kami. Aku dan Tante Wina kelihat kearah pintu siapa yang datang.
"Waalaikumsalam ngapain kamu kemari?." Tanya sinis Wina kepada orang itu.
"Tentu aja mau jengukin Tante, Mama Aku bilang kalau Tante lagi nggak enak badan. Jadi, Aku putuskan untuk jenguk Tante. Nih Aku bawakan buah juga untuk Tante." Katanya yang langsung saja duduk didepan Wina dengan tidak sopannya dan meletakkan buket buah diatas meja.
Wina melotot melihat sikapnya yang asal aja dirumah orang.
"Bukannya dia yang waktu itu membully anak kelas sebelah ku! Dan sepertinya Tante Wina dan Dia saling kenal.". Pikir ku melihatnya.
Yang sekarang ini datang kerumah Tante Wina ternyata Firna keponakannya Tante Wina, Anak dari kepala sekolah Pak Durse.
"Kenapa Dia bisa ada disini?." Batin orang itu melihatku sinis yang berada dibelakang pungging Tante Wina.
Pandangannya beralih menatap Wina "Gimana keadaan Tante apa udah mendingan?."
"Apa sebenarnya tujuan kamu kemari, nggak usah banyak basa-basi." Ucap Wina nggak senang melihat keberadaan Firna disini.
"Tentu aja untuk jenguk Tante kesayangan ku." Kata Firna tersenyum.
"Apa maksudnya Tante kesayangan!, Apa dia keponakan Tante Wina?. Tapi, kenapa sepertinya Tante Wina nggak suka dengan keberadaan Dia disini?."
"Heh! Kesayangan kata mu. Kamu hampir aja membuat nyawa anakku melayang karna ulah mu waktu dulu." Wina berdiri dari duduknya dan marah terhadapnya.
"Yah, itukan dulu tante. Lagian Papa sama Mama aku udah tanggung jawab."
"Enak kali kamu ngomong yah. Jangan sementang kamu keponakan saya, saya bisa memaafkan kamu begitu aja. Enggak akan." Gelengnya. "Pergi kamu sana." Teriak Wina.
Aku yang melihat pertengkaran mereka merasa tidak enak. "Jadi, dia keponaan Tante Wina!. Sepupuanlah kalok gitu sama Beno?." Kaget ku.
"Kenapa sih Tante tega banget sama Aku?. Padahal niat aku baik jengukin Tante." Kata Firna sedih.
"Udah-udah kamu jangan banyak dramatis dirumah saya. Cepetan kamu angkat kaki, pergi sana."
__ADS_1
Firna pun melangkah pergi, sebelum dia membuka pintu, dia menatap ku. Aku bingung kenapa dia menatap ku kayak nggak suka. Lalu, dia pergi dengan membanting pintu.
...# BERSAMBUNG #...