Kalexsa Alavo

Kalexsa Alavo
Part 57. Tidak Terima


__ADS_3

"Siang menjelang sore pak."


"Cepet juga kamu yah, bagus." Katanya sambil tersenyum.


Sasha menanggapinya dengan ramah. "Saya akan bekerja keras hari ini pak."


"Lanjutkan apa yang memang pekerjaan kamu." Dia pun pergi.


Sasha pergi ketoilet untuk mengganti bajunya dengan baju badut gambar Doraemon yang diberikan oleh sesama rekan kerjanya yang bernama Kara.


Tetapi Kara tukang penjaga stand minuman didekat wahana komedi putar.


"Lo, gue denger-denger masih SMA. yah?."


"Iya mbak, saya masih SMA."


"Panggil kakak aja, kalo Lo panggil Gue mbak kayak kampungan gitu ceritanya. Nama Gue Kara."


Aku mengangguk paham. "Kak Kara sendiri kuliah atau, udah maried?."


"Maried sama siapa? Kebo. Pacar aja nggak punya." Katanya sambil tertawa ringan.


"Gue udah selesai kuliah, tapi cuman sampek S1 doang. Mau lanjut nggak ada biaya, apalah daya orang kayak kakak yang hanya hidup seadanya."


"Kakak tamatan S1?, tapi kok mau kerja jadi beginian?." Menunjuk


"Lo ngehina Gue?." Kara melirik ku sambil terduduk


"Bukan, bukan gitu maksud Aku kak."


"Iya-iya Gue paham maksud Lo." Kata Kara dengan mengibas-ngibaskan tangannya.


"Gue juga terpaksa kerja beginian demi mencukupi kebutuhan sehari-hari dan membantu orang tua. Lo tau, kan! kalo zaman sekarang cari kerja susah."


"Kok mala curhat, cus kerja. Udah mulai ramai tuh." Tunjuknya kearah luar.


Kami keluar berbarengan, dan Kara menuju kearah stand minumannya yang didekat komedi putar.


Sedangkan aku kearah yang banyak dikerumunin anak-anak didekat mandi bola.


Awalnya terasa berat bagi ku melakukan pekerjaan ini. Tapi, demi mencukupi kebutuhan sehari-hari, aku harus melakukannya.


Aku membuka penutup kepala badut. "Hadeh bajunya berat banget, huh." Keluh ku dengan mengatur nafas sambil duduk dibangku kosong.


Karna sudah sore menjelang malam pengunjung ada yang sebagian sudah pulang dan ada yang masih menetap.


"Nih minum dulu." Kara memberikan minuman dingin kepada Ku lalu duduk disamping-ku.


"Gimana? Susah enggak?."


Walaupun baru kenal, kami sangat akrab, seperti sekarang ini.


Aku menengak minuman itu sampai setengahnya. "Susah-susah gampang gitulah kak, mau gimana lagi jalananin aja." Sasha nyengir menatap Kara.


Kara mengangguk setuju. "Itulah nggak enaknya kerja kayak gini."


"Em...by the way, cita-cita Lo apa?." Katanya menatapku. "Enggak mungkin Lo nggak punya cita-cita, pasti ada dong."


Sasha menatap keatas sambil memainkan motol ditangannya. "Sejak kecil, cita-citaku jadi Model yang terkenal." Kataku dengan senyuman.


"Mungkin orang merasa impianku ini ketinggian. Tapi, yah itu kenyataannya." Tersenyum kearah Kara.

__ADS_1


"Wow Model?." Kara menatap ku dari atas kebawah dengan jari-jarinya memegang dagunya.


"Em... lumayanlah untuk calon seorang model kayak Lo." Katanya. "Tinggi badan Lo pas, berat badan ideal. Yah, nggak buruk-buruk amat lah."


"Lo harus kejar impian Lo itu. Gue yakin suatu saat nanti impian itu bakal jadi kenyataan. Dan hiraukan apa kata orang, ikuti kata hati Lo, ngerti!." Katanya tegas kepadaku.


Aku yang mendengar tutur kata Kara terharu. Dia seperti sosok ibu yang sedang menasihati anaknya.


"Makasih kak." Kataku tersenyum dan langsung memeluknya.


"Hais, Lo bau jangan peluk Gue." Mendorongku.


Aku pun melepaskan pelukanku. "Kalo kak Kara cita-citanya apa."


"Pilot."


Aku menutup mulutku dengan mata membesar menatapnya. "Kakak serius?."


"Lo tengok muka Gue, muka-muka orang iseng?." Katanya dengan wajah datar.


"Hehe enggak sih."


"Gue. pengen jadi pilot, biar bisa terbang satu dunia."


"Aku doain suatu saat, cita-cita kita berdua bakal terwujud. Kuncinya kita nggak boleh pantang menyerah. Semangat kak." Aku mengepalkan tanganku dan tersenyum kearahnya.


Kara membalas senyuman-ku dan mengangguk. "Semangat."


"Udah mulai ramai, Gue kerja dulu. Lo juga kerja yang bagus."


"Siap." Mengacungkan jari tanda oke.


...- - -...


Dengan gaya khasnya Firna. Dia mengibaskan rambutnya, menyombongkan diri kalau dia sebentar lagi bakalan jadi wakil ketua osis.


"Udah tua, tapi kayak anak kurang belayan gitu modelannya hahaha." Ledek Gesy yang berdiri didepan pintu kelas 10 MDL1.


"Ngelebihi adek Gue tau nggak sih gais." Timpal Reyla tersenyum sinis menatap kakak kelasnya itu.


Siapa lagi kalo bukan gengnya Firna anak kepsek.


"Ehh Lo pada mending dukung Sasha aja kali, jangan dukung tu orang. Palingan juga gandelin bokapnya." Kata Gesy menunjuk Tiga geng itu.


"Jaga mulut Lo. Asal Lo pada tau yah, Gue disini main fer, jadi tolong jaga mulut laknat Lo itu." Kata Firna melotot kearah Gesy.


"Masih juga adek'an kelas dah belagu sama senior." Kata Vista berjalan mendekat kearah Gesy dan mendorong bahu Gesy dengan telunjuknya.


"Ohh yah!. Terus kalo Gue enggak sopan, Lo pada mau apa." Gesy berjalan mendekat kearah mereka dengan bersedekap dada.


Kesetika Vista mundur beberapa langkah.


Temen Firna yang satu lagi nyengir. "Wah, ada yang nantangin. Sikat ajalah, belagu nih anak lama-lama ." Kata Hera, dia ingin menjambak rambut Gesy.


Dengan cepat Gesy mengelak. "Ets... Enggak kali berantem main jambak-jambaan." Gesy maju dan menontok pipi sebelah kanannya.


Bukk...


"Itu baru yang dinamakan berantem sungguhan. Atau Lo lupa kejadian waktu ditoilet waktu itu." Gesy mengingatkan kejadian waktu mereka ngebully sesama angkatannya ditoilet dan berujung bertengkar dengannya dan juga Sasha.


"Banyak bacot Lo."Jadilah mereka berkelahi.

__ADS_1


"We... we... ada yang berantem." Teriak seorang siswa kelas 2 berlari mengumumkan berita itu.


Seluruh siswa sekolah menggerubungi mereka berenam yang sedang berkelahi.


Sasha yang baru datang bingung melihat orang-orang berkumpul didekat kelasnya.


"Ada apa?." Tanya Sasha pada salah satu perempuan.


"Itu ada yang berantem. Kayaknya anak kelas 10 sama kelas 11."


Sasha berjalan mendekat. "Astaga, Gesy stop, udah berhenti. Reyla, Liva." Aku menarik Gesy agar berhenti.


"Mending Lo nggak usah ikut campur, ini juga gara-gara Lo, tau nggak!." Kata Firna melotot pada Sasha.


Sasha mengernyit keran. "Emang aku ada buat salah apa?." Pikir ku.


"Masalah Lo sama Gue, nggak usah bawa-bawa Dia, maju Lo." Tunjuk Gesy tepat diwajah Firna.


"Udah Lo yang nyarik gara-gara duluan, nyalahin orang lain lagi, dasar pengecut." Reyla mulai panas dengan ucapan Firna yang menuduh Sasha.


"Percuma senior, tapi kelakuannya kayak bocah, haha." Timpal Liva bersedekap dada, geleng kepala menatap Firna, Hera, dan Vista dari atas sampek bawah.


"Hidup Lo pada aja belom bener, mau ngajarin hidup orang. Ngaca woi, enggak punya kaca yah?." Vista membalas perkataan mereka.


"Sampah kayak Lo semua mending dibuang ajalah, menyemak tau nggak!." Kata Firna.


Sehingga perdebatan pun terjadi. Firna menjambak rambut Gesy dan mukanya pun terkena cakarannya.


"Bangsat, lepasin tangan kotor Lo itu. Jangan sementang Lo anak kepsek, Gue takut sama Lo, nggak akan." Teriak Gesy mencakar balik lengan Firna.


"Kalian, udah cukup, berhenti. Udah pada besar juga." Ucap Sasha.


"Diam!!." Teriak mereka berenam.


Sasha tersentak kaget dan mengerjapkan matanya, enggak percaya.


"Jambak teros tuh rambut nek lampir Ges." Teriak Akse menyemangati mereka yang sedang berantem.


"Reyla cakar tu mukak topeng, biar keliatan mukak aslinya haha." Timpal Skarle.


"Iya bener itu. Liva, Lo juga jangan mau kalah sikat teros tuh genter. Hajar senior cabe-cabean tuh pada. 10 MDL1." Kata Akse lagi menunjuk Vista.


"10 MDL1. 10 MDL1. 10 MDL1." Teriak satu angkatan kami.


Sasha beralih menatap kerumunan orang disana yang sedang mendukung orang berkelahi.


"Kalian kok pada nyorakin kayak gitu?, bantuin pisahin dong."


"Firna, Lo tenang. Ini disekolah, Lo jangan kayak preman disini." Beno yang baru saja datang menarik lengan sepupunya itu.


"Lepasin Gue, nih anak udah kurang ajar sama Gue, mala bawak-bawak bokap Gue, lepasin Ben." Firna berusaha menarik kembali tangannya yang cekal oleh Beno.


Beno melepaskan tangan Firna. "Oke, lakukan aja semau Lo sana. Gue bakalan panggil Bokap Lo, biar Lo kena masalah," Dengan bersedekap dada. "Kalian juga." Menunjuk mereka yang berkelahi.


"Oke-oke." Firna mengangkat tangannya pasrah. Dia tidak mau buat masalah untuk Bokapnya.


"Masalah ini belum selesai, camkan itu."


"Hih dasar gila. Udah nggak waras Lo yah." Ucap Gesy.


"Balik kekelas." Sasha marah dan langsung menarik teman-temannya itu.

__ADS_1


...~~~...


__ADS_2