
Keadaan Sasha sudah mulai membaik dan hari ini dia udah boleh pulang seperti yang dibilang dokter semalam.
"Udah semua?." Tanya Sasha memastikan sambil duduk dipinggir brangkar nunggui Beno membereskan semua barang-barang dan memperbaiki alat Arm Sling dilengan kirinya.
"Udah, tenang aja lo." Katanya dan Sasha hanya mengangguk.
Setelah selesai Sasha dan Beno keluar gedung rumah sakit dan menuju parkiran.
'Ternyata disini, setelah gue cari-cari.' Kata seseorang bersembunyi dibalik tembok memperhatikan mereka berdua.
Sasha menunggu didalam mobil, sedangkan Beno masih meletakkan semua barang dijok belakang mobil.
Setelah Beno selesai meletak semua barang dijok mobil, mereka melaju kerumah kosan dimana Sasha tinggal.
Sesampainya dikos'an Sasha.
"Neng dari mana aja kok baru nampak?, ibuk kira kamu udah nggak ngekos lagi." Kata pemilik kos yang melihat Sasha baru nampak.
"Saya habis kena musibah buk, dan ini saya baru pulang dari rumah sakit." Kata Sasha dengan senyumnya.
"Tapi kamu udah baikan, kan?." Kata Pemilik kos.
"Alhamdulillah udah mendingan kok buk, kalo gitu saya masuk dulu yah buk."
"Permisi buk." Kata Beno melewati ibu pemilik kos itu dan membuntuti Sasha dari Belakang.
"Barang-barang lo mau letak dimana?."
"Letak disana aja." Sasha menunjuk didekat pintu kamarnya.
Beno pun meletakkan kopernya disana, lalu duduk dilantai beralaskan karpet.
"Lo disini enggak ada temen atau yang deket sama lo, gitu?." Tanya Beno.
Sasha juga ikut duduk dikarpet dan menggeleng menatap Beno. "Rata-rata disini yang ngekos itu udah pada tamat dan kerja dikantoran." Katanya.
"Sekali pun jumpa waktu mereka libur doang, selebihnya enggak ada." Sambungnya.
"Ehh kamu mau minum apa?." Tanya Sasha.
"Lo ada minuman apa rupanya?."
"Air mineral doang, tapi niatnya aku mau bikinin teh manis hangat."
"Udah biar gue aja yang buat sendiri, tangan masih kaya gitu sok mau bergerak kesana kesini." Tutur Beno dan berjalan kearah dapur.
Sasha mengangguk dan memilih untuk merapikan pakaiannya yang dibawa dari rumah sakit.
"Gulanya dimana?."
"Itu ditoples dekat garam." Teriak Ku sambil membereskan pakaian dari dalam koper dan memindahkannya kedalam lemari pakaian.
"Yang ini kah?." Tanya Beno asal nyelonong masuk kedalam kamar Sasha.
"Akhh!!!..."
Beno langsung berbalik badan dan tak lupa menutup pintunya. "Gue enggak liat apa-apa."
"Ketuk dulu kalau masuk." Teriak Sasha dan membenarkan bajunya.
Awalnya Sasha ingin berganti baju, tapi ketika ingin membuka baju Beno tiba-tiba masuk dengan kondisi baju Sasha udah menggantung dileher dan segera ia membukanya dan memakai baju yang lain dengan susah payah.
__ADS_1
Untung aja posisi badan Sasha membelakangi pintu jadi Beno tidak melihat yang enggak-enggak.
Beno kembali kedapur dan menyelesaikan acara membuat minumannya dan kembali duduk dilantai. beralaskan tikar.
"Heh, apaan itu tadi?. Kenapa punggung itu sangat mulus dan terlihat sama gue." Ucap lirih Beno.
Beno memegangi kepalanya. "Jangan dipikirin Beno. Akhhh! bisa gila gue kalo gini caranya."
Ia mengalihkan pandangan kearah lain agar enggan memikirkan hal-hal yang aneh.
"Enggak buruk." Pikirnya dengan memperhatikan setiap sudut kosan Sasha.
Enggak lama Sasha keluar dari kamar dan duduk didekat Beno. Mereka berdua sama-sama canggung karna kejadian tadi, akhirnya mereka hanya diam saja.
Ketika mata Beno menjelajah setiap sudut ruangan, Beno nggak sengaja melihat figura yang menampakkan dua orang paruh bayah.
"Itu siapa?. Sorry kalo lancang." Tunjuk Beno.
Sasha yang hanya diam sambil memainkan jari pun mendongak menatap Beno. "Hah?."
"Ohh itu," Sasha berdiri dan berjalan mengambil figura tersebut dan kembali duduk disebelah Beno sambil memangku figura itu.
"Mereka berdua orang yang sangat berarti buat-ku. Kedua orangtua-ku yang selalu aku rindukan sejak lama."
"Rindukan?." Beno heran dengan kata itu. "Emang orangtua lo kemana?." Tanya Beno pura-pura enggak tau.
Sebenarnya dia ingin memastikan apakah tempo hari yang dibilang ibu pemilik kosan itu benar atau hanya sekedar ngarang aja.
Sasha mengelus kaca figura tersebut dengan sayang. "Mereka udah pergi jauh kesurga.
Sasha memandang Beno sambil tersenyum. "Tapi mereka akan selalu ada dihati dan pikiran-ku, doa-ku akan selalu bersama mereka."
"Ada. Tapi, kayanya mereka udah enggak mau nganggap aku." Kata Sasha.
"Kenapa?."
Sasha tampak berpikir. 'Apa aku ceritakan aja yah sama Beno kalo waktu aku kabur, aku sempat bertemu anggota keluarga-ku yang lain!.'
'Kalo dipikir ulang lebih baik enggak usah ajalah, aku nggak mau merepotkan dia lagi.'
"Soalnya kata pengurus panti waktu aku tinggal, anggota keluarga aku yang lain udah meninggal juga."
Beno mengangguk. 'Jadi nih orang sempat tinggal dipanti asuhan.' Pikir Beno karna mendengar ceritanya.
"Diminum dulu tehnya, mumpung masih hangat. Maaf cuman seadanya hehe."
"Iya, enggak masalah."
Ada panggilan masuk dari Wina, Maminya Beno. Sasha melirik Beno.
"Siapa?."
"Tante Wina."
"Angkat aja, tapi lost speaker." Sasha mengangguk dan segera mengangkat panggilannya.
Sasha: 'Halo, assalamualaikum tante.'
Wina: 'Waalaikumsalam. Sasha sayang, kamu udah sampek rumah belom?. anak tante ada usil sama kamu?. Kamu harus jaga kesehatan mulai sekarang yah nak.'
Masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang membuat mereka berdua pusing.
__ADS_1
Sasha: 'Udah kok tante, Sasha udah sampek dikos'an Sasha dianterin sama Kak Beno.'
Wina: 'Loh!. Kenapa enggak nginap aja dirumah tante? Sekalian Beno ada temennya.'
Sasha: 'Eh!. Enggak usah tante, aku kekos'an aku aja. Tante dan sekeluarga udah banyak banget bantuin aku."
Wina: 'Enggak, enggak bisa kaya gitu. Mana anak tante sekarang?. Tante mau marah sama tuh bocah."
Wina mengalihkan panggilan suara menjadi Video Call.
Sasha melerakkan Handphonenya didekat pas bunga agar wajah dan suara Sasha dan Beno tampak jelas.
Beno: 'Aku disini, ada apa Mih?.' Jawab Beno malas.
Wina: 'Pake segala tanya ada apa lagi. Kok kamu mala antar Sasha kekosannya?. Sekarang rapikan lagi baju-baju.'
Sasha: 'Beberan tante, aku udah lebih baik dan bisa jaga diri kok, tante tenang aja.'
Wina: 'Kaya mana mau tenang coba?. Orang kamu disana tinggal sendirian, kalo dirumah tantekan ada Beno yang jagain.'
Sasha: 'Tante tenang dulu yah, aku tinggal dikosan aja. Tapi, nanti ketika aku udah sembuh dan tante udah pulang aku akan berkunjung kerumah tante, aku janji.'
Sasha coba memberi pengertian kepada Wina, Maminya Beno, untuk tidak perlu khawatir.
Wina: 'Enggak, enggak...'
Belum lagi Wina selesai bicara Beno udah menyekanya.
Beno: 'Udahlah Mih, jangan maksa terus kalo dianya mau disini yah terserah dia.
Wina: 'Diam kamu, disuruh jagain orang sakit aja nggak becus.'
Beno: 'Lah! emang aku suster, suruh jagain orang sakit Mih?.'
Wina: 'Mungkin aja. Mana tau kamu mau jadi suster ketika tamat.'
Beno: 'Ogah aku jadi begituan.'
Wina: 'Yaudah kalo kamu mau disitu. Tapi, tugas Beno harus antar jemput Sasha setiap hari, paham.'
"Ujung-ujungnya aku juga yang disuruh." Gerutu Beno.
Wina: 'Kamu tadi ngomong apa nak?.'
Beno: 'Enggak, aku tadi bilang Mami cantik hari ini. Yaudah kalo gitu kami tutup dulu, bay bay Mah.'
Wina: Ehhh ehh tunggu dulu Mami belo...'
"Heh, emang yah Mami kalo udah ngomel nggak akan bisa berhenti. Tapi, eh!." Kaget Beno melihat Sasha. "Lo kenapa, hah?."
Sasha menghapus air matanya. "Gue cuman teringat waktu kecil gue juga pernah diomeli Mama kayak kamu. Tapi, sejak mereka meninggal, aku udah enggak akan pernah bisa ngerasain bagaimana rasanya dinasihati, diomeli kaya kamu tadi." Kata Sasha.
Sasha menatap Beno. "Kamu harus bersyukur mempunyai kedua orangtua yang perhatian dan perduli sama kamu. Kamu harus membahagiakan mereka kelak, kedua orangtua kamu orang baik bahkan sama orang yang enggak dikenal kaya aku."
Beno terpaku mendengar tuturan dari Sasha yang memang ada benarnya.
"Mungkin memang saat ini aku sangat bosen dengerin Mami ngomel, tapi suatu saat aku bakalan merindukan setiap ucapan mereka." Pikir Beno.
"Jadi, jangan pernah kamu patahkan hati mereka. Kalau suatu saat mereka udah enggak ada, kamu akan merindukan setiap perbuatan dan ucapan mereka yang diberikan untuk mu dari kamu kecil hingga kamu besar nanti."
...#BERSAMBUNG#...
__ADS_1