Kalexsa Alavo

Kalexsa Alavo
Part 54. Kenapa Wina Membenci Firna?


__ADS_3

"Sayang, maaf yah buat kamu nggak nyaman." Kata Wina.


Aku bengong sambil melihat kearah Firna pergi. Banyak sekali pertanyaan diotak ku, tentang hubungan Firna dengan keluarga Beno.


"Sayang!." Panggil Wina dengan mengibaskan tangannya dimuka-Ku.


"Ehh iy--iya Tante, tadi Tante ngomong apa?."


Wina tertawa renyah kepada-ku. "Kamu kenal sama Firna?."


Aku mengangguk. "Dia kakak kelas Aku, sama kayak Kak Beno."


"Kamu pasti bingungkan kenapa Tante marah-marah sama usir Dia." Ucap Wina.


Aku hanya diam saja mendengar ucapan Tante Wina. Takutnya nanti Tante Wina tersindir atau semacamnya.


"Dia tuh ya, manusia nggak punya hati. Dulu Dia tuh pernah buat nyawa anak Tante hampir aja ilang, gara-gara ubahnya. Tante akan ceritakan sama kamu."


*FLESSBACK ONN.*


"Gue baru aja jadian loh sama senior kita. Itu loh yang jauh terkenal dari Lo." Katanya sambil menunjukkan jari manisnya.


"Alah palingan Lo cuman mau bikin Gue irikan!.Awas aja, Gue aduin Lo sama Om, kalok Lo main pacar-pacaran sekarang." Beno tersenyum licik.


"Yah.. iri bilang bos. Dasar jomblo nggak laku hahaha."


Beno melotot kearahnya. "Apa Lo bilang barusan hah?." Beno mengambil cincin itu dari jarinya dan berlari.


"Baliin Beno, resek Lo ahh." Firna berusaha mengejar tapi tidak bisa menggapainya.


"Kejer Gue kalok Lo bisa." Beno berlari sambil melirik kebelakang.


Nggak berhasil-berhasil, Firna mendorong punggung Beno. Tapi, ketika mendorong punggung Beno, Dia tidak sadar bahwa mereka dekat dengan tangga.


"BENOOO!!!!." Teriak Firna.


Beno terjatuh dari lantai satu hingga membuat Dia taksadarkan diri, darah dari kepalanya mengalir.


Firna sengera turun dan menghampirinya. "Ben, bangun Ben."


Firna berlari, keluar dari rumah mencari taksi. Setelah mendapatkannya, ia meminta tolong pada supir itu untuk menggotong Beno untuk kerumah sakit.


"Pak kerumah sakit mitra medika ya pak. Ngebut ya pak, cepetan pak."

__ADS_1


"Siap Mbak." Ucap pak supir.


Sesampai dirumah sakit, Firna turun dan memanggil para suster untuk membawa Beno kedalam dengan Bed dorong.


"Beno bertahan, Gue mohon." Ucap Firna mengikuti para suster itu mendorong Beno sambil memegang tangannya Beno.


"Maaf, mbak tidak boleh masuk. Dokter akan memeriksa pasien." Cegah suster perempuan.


Firna mondar-mandir didepan ruang IGD dengan harap-harap camas.


"Mama," Kata Firna. "Iya Gue harus telepon Mama." Firna merogo kantung celananya dan mengambil Handphonenya dengan tangan bergetar, karna pikirannya yang kepanik.


"Haa--halo Ma."


"Iya sayang. Tunggu! ada apa dengan suara kamu. Kamu nggak kenapa-napa, kan?." Jawab Lusi, Mamanya Firna.


"Aku nggak apa-apa Ma. Tapi... hiks." Firna mulai menangis karna ketakutannya.


"Tapi?, Tapi kenapa sayang, kamu jangan buat mama khawatir dong. Cepat ngomong ada apa?."


"Beno, Beno Ma, Beno hiks. Beno jatuh dari tangga, dan kepalanya bocor." Firna menahan tangisnya.


"Apa!!!.". Teriak Mamanya Firna dari sebrang telepon. "Kamu dirumah sakit mana sekarang? Biar Mama dan Papa kesana."


"Iya, Mama dan Papa akan segera kesana, kamu tenang yah." Lusi mematikan teleponnya dan segera kerumah sakit bersama suaminya Durse.


Beberapa menit, Lusi dan Durse sudah sampai dirumah sakit dan segera menghampiri anaknya yang sedang mondar-mandir didepan pintu IGD.


Firna yang melihat kedua orang tuanya, ia pun segera memeluk Lusi. "Ma Beno, pasti nggak apa-apa, kan?."


"Iya sayang, Beno pasti baik-baik aja." Lusi membelai rambut anaknya.


Tidak lama Dokter pun keluar. "Siapa keluarga atas nama Beno."


"Saya dok, saya anggota keluarga atas nama Beno." Ucap Durse.


"Baik, tolong bapak ikut keuangan saya." Ajak Dokter itu.


Durse mengikuti Dokter itu menuju ruangannya, dan Dokter itu menyilahkan Durse untuk duduk dikursi yang sudah disediakan, mereka pun saling hadap-hadapan.


"Ada apa dengan ponakan saya dok?." Tanya Durse.


"Saat ini pasien koma, Karna disebabkan Luka dikaki dan dikepala pasien, dan untung saja pasien segera dilarikan kerumah sakit. Kalau tidak," Dokter menggeleng. "Nyawanya mungkin tidak akan bisa kami tolong."

__ADS_1


"Kaki pasien mengalami kelumpuhan. Tetapi sifatnya tidak permanen, masih bisa disembuhkan secara bertahap, seperti sering latihan jalan."


"Terus kepalanya tidak ada yang perlu dikhawatirkan, kan dok?." Tanya Durse.


"Kondisi kepala pasien, sudah saya jahit. Kita hanya perlu berdoa, agar Beno segera melewati masa kritisnya."


"Terima Kasih Dok, kalau gitu saya permisi." Durse keluar ruangan, dan kembali ke IGD.


"Sebenarnya apa yang terjadi?. Kenapa Beno bisa jatuh dari tangga?." Bentak Durse pada anaknya itu. Firna hanya diam dan terus menangis sambil bersandar didinding dekat pintu IGD.


"Jawab Firna, apa kamu nggak punya mulut untuk bicara." Durse mulai marah.


Lusi bangkit dan menengkan suaminya dan memegang tangannya. "Tenang Pah, ini rumah sakit."


Durse terduduk dikursi tunggu didepan ruangan IGD.


Plakkk!!!


Tamparan mendarat dipipi Firna, ketika Wina dan Firman suaminya baru saja tiba dari perjalanan bisnis mereka diluar kota.


Durse memberitahukan kepada adiknya Firman kalau Beno, anaknya masuk rumah sakit. Mereka berdua pun segera pulang dan menuju rumah sakit tempat Beno dirawat.


"Apa yang telah kamu lakukan pada putra-ku, hah!." Wina melotot kearah Firna.


"Maafin Firna Tante, Firna nggak sengaja." Memegang kedua tangan Wina.


"Pergi Kalian dari sini." Usir Wina. "Kalian urus dan didik anak kalian berdua agar tidak mencelakakan orang lain."


"Wina kau sabarlah dulu, ini bukan sepenuhnya salah anak kami." Kata Lusi karna tidak terima anaknya dituduh seperti itu.


"Jadi maksudnya anak ku menjatuhkan dirinya sendiri keanak tangga, gitu." Wina geleng kepala mendengar tuturan kata Lusi.


"Jelas-jelas anak mu ini yang membuat anak ku kayak gini, masih tidak mau mengaku. Harusnya kau masih bersyukur anak mu tidak aku laporkan kepolisi atas kelakuannya. Karna kau kakak ipar ku, Aku tidak menjebloskannnya kepolisi." Sambung Wina melotot kearah Firna.


Firna melihat Wina yang melotot kearahnya. Dia takut kalau sampai dia masuk penjara.


Firman, Papanya Beno melihat kondisi Beno dari luar dengan muka yang pucat dan kepala yang dibalut perban.


"Tega kamu melaporkan keponakan-mu kesana!." Tunjuk Lusi kearah anaknya yang sedang menangis.


"Kenapa nggak, dia memang harus bertanggung jawab atas perbuatannya. Dia sudah bikin anak-ku koma dan nyawanya saat ini diujung tanduk, masih mau belain anak-mu ini." Tantang Wina, karna memang Firnalah yang salah.


"Sudah ayo Ma kita pulang saja, mereka hanya khawatir anak mereka kenapa-napa." Durse menarik Lusi dan Firna untuk pulang.

__ADS_1


*FLESSBACK OFF*


__ADS_2