
"Kalian seharusnya nggak usah ngeladini mereka." Kata Sasha
"Mereka duluan yang nyari masalah sama kita, yakan gais?." Gesy menatap teman sekelasnya. Sasha melihat mereka mengangguk.
"Tapi, Kita semua akan kena masalah kalau berurusan dengan mereka, kalian harus pikirkan itu dulu sebelum bertindak."
"Kenapa?. Lo takut sama mereka?." Tanya Gesy. "Lo nggak perlu takut sama tikus kayak mereka. Merekalah yang harus takut sama kita."
"Mereka pikir, sementang senior bisa menjelek-jelekan dan menginjak-injak harga diri kita seperti tadi?." Sambung Gesy.
"Lo juga diremehkan sama mereka tadi Sha. Gue nggak terima sahabat Gue digituin sama sampah kayak mereka." Gesy menunjuk Sasha.
"Yang dikatakan Gesy bener Sha. Kita disini membela Lo." Kata Liva berusaha tenang.
"Aku terima kasih sama kalian karna membelaku dan mendukungku. Tapi, jangan sampai kalian terkena masalah hanya karna Aku, Aku mohon."
"Itu nggak bisa Sha, Gue nggak bisa diem aja."
"Gesy kalau kejadian ini kemakin larut dan parah, kita akan kena masalah."
Gesy menyisir rambutnya kebelakang dengan sela-sela jarinya sambil menatap keatas. "Sha, jangan bilang, Lo takut Beasiswa Lo dicabut?, cuman karna anak kepsek itu!." Sasha terdiam sesaat.
"Apa Gue bener?."
Sasha tetap diam. "Jawab pertanyaan Gue Sha." Teriak Gesy.
"Aku cuman nggak mau kalian semua kena masalah, itu doang." Kata Sasha lirih dan itu masih kedengaran dengan orang-orang didekat Sasha.
"Lo ada Gue. Kita disini sama Lo, jadi Lo nggak perlu takut sama mereka."
"Tapi Aku nggak mau kalian kena masalah cuman gara-gara Aku." Teriak Sasha menatap Gesy dengan nafas yang kembang-kempis. Mereka diam menatap Sasha.
Gesy diam sesaat menatap Sasha. "Oke fiks. Lo takut Beasiswa Lo dicabut cuman karena orang macam mereka."
"Aku mau ketoilet." Sasha tidak mau memperparah pertemanannya didalam kelas hancur cuman perselisihan Aku dan Gesy. Aku pun memutuskan pergi ketoilet, sejujurnya dia tersinggung dengan perkataan yang Gesy lontarkan untuknya.
Tidak lama seorang Guru masuk dan pelajaran pun dimulai tanpa kehadiran Sasha didalam kelas.
Gesy sama sekali tidak fokus pada pelajaran yang disampaikan oleh Guru tersebut. Dia menatap keluar jendela sana, memikirkan sahabatnya, Sasha.
Ketika Guru yang sedang mengajar itu permisi keluar sebentar karna ada urusan, Reyla dan Liva mendekati meja Gesy.
"Kenapa Sasha belum balik-balik juga yah?." Tanya Liva.
"Kebelet mungkin." Kata Gesy nggak mau ambil ribet.
"Nggak mungkin selama ini, usah hampir tiga jam soalnya!." Liva mulai khawatir.
"Apa perkataan Lo tadi nggak terlalu menyakiti perasaan Sasha, Ges?." Tanya Reyla menyilangkan kedua tangannya.
Akse dan Skarle berbalik badan dan menatap Gesy dan Reyla. "Kalo Gue jadi Sasha, udah males kali bekawan kayak Lo Ges." Kata Akse
"Soalnya Lo kalo ngomong kadang enggak ada filternya sama sekali." Sambung Akse.
Gesy tampak berpikir. "Apa Gue seketerlaluan itu gais?." Gesy menatap mereka meminta jawaban. Dan mereka mengangguk setuju.
Gesy berdiri. "Gue mau cari Sasha."
Dihalaman belakang sekolah, Sasha sedang duduk sendirian disana sedari tadi. Ucapan Gesy terus saja menghantui dirinya, seolah-olah suara itu seperti rekaman yang terus saja berputar.
Seseorang dari lantai dua gedung sekolah menatapnya. "Ngapain dia disana?." Pikirnya.
Lama Orang itu menatap Sasha, dan akhirnya dia meminta izin kepada Guru yang sedang mengajar dikelasnya.
__ADS_1
"Saya permisi ketoilet ya buk."
Guru itu mengangguk, lalu dia berjalan ketempat Sasha berada.
Orang itu berdiri tepat dihadapan Sasha. Buru-buru Sasha menghapus air matanya. "Ngapain kamu disini? Ini masih jam pelajaran!."
"Lo sendiri ngapain disini sendiri?." Tanya balik orang itu dan duduk disebelah Sasha.
Sasha diam tidak menjawab. "Kok kamu bisa tau Aku disini?."
Beno menunjuk kearah gedung sekolah lantai dua, Sasha mengikuti arah tangan Beno.
"Gue tau Lo dari sana."
Sasha mengangguk. Setelah itu tidak ada yang saling bicara.
Beno tau gadis disebelahnya sedang sedih. Dia tampak berpikir apa yang harus dilakukan. Dan Beno mendapatkan ide.
Beno berdiri. "Ikut Gue."
Sasha mendongak. "kemana?."
"Ikut aja ayo."
Sasha tampak menimbang-nimbang, apakah ia harus ikut atau nggak. Akhirnya dia mau ikut dengan Beno.
Beno berjalan terlebih dahulu dengan Sasha mengikutinya dibelakang. Hingga sampai diperkirakan sepeda motor.
"Naik." Kata Beno dengan memakai helmnya.
"Kamu ngajak Aku bolos, kak?." Tanya Sasha. "Nanti kita bakal kena masalah."
"Kalau nggak mau ikut ya sudah."
Lalu, mereka keluar melalui gerbang belakang. yang memang jarang dikunci.
Ternyata Sedari tadi ada orang yang sedang mengikuti dan mendengarkan percakapan mereka berdua, sampai mereka pergi entah kemana.
Beno berhenti ditaman dekat danau, dan mereka turun. Beno berjalan kepinggir danau, lalu duduk disana.
Sasha tidak tau, Beno mengajaknya kemana ini. Tapi, tempat ini sama sekali belum pernah ia kunjungi.
"Sini duduk." Ajak Beno.
Sasha mengikutinya dan duduk disamping Beno.
"Kenapa?." Tanya Beno ambigu dengan melempari batu kerikil kedalam danau
"Apanya?." Sasha bertanya balik menatap Beno.
Beno melirik Sasha. "Gue tau Lo ada masalah, makanya bolos kaya tadi."
Sasha diam menunduk. "Aku enggak apa-apa, kamu jangan khawatir." Kata Sasha dengan senyum dipaksa.
"Nggak usah dipaksa kalau memang ada masalah." Kata Beno.
"Gue akan dengerin kalo Lo mau cerita. Tapi, kalau enggak mau, yah Gue gak maksa." Beno mengangkat Bahu acuh.
Sasha menunduk diam termenung. "Apa aku nggak pantes mendapatkan Beasiswa disekolah itu?." Tanya Sasha.
"Lo pantas."
"Tapi Aku yang merasa nggak pantas mendapatkannya. Mereka bilang Aku takut sewaktu-waktu kehilangan Beasiswa itu." Kata Ku dengan suara pelan dan menunduk menyembunyikan kesedihan ku.
__ADS_1
"Apa Aku salah ingin menggapai cita-citaku. Aku bela-belain datang ke Jakarta demi menggapai itu dan membuat adik-adik panti tempat Aku tinggal bisa hidup bahagia kelak. Apa itu salah?." Aku menahan sekuat tenaga agar air mata ku tidak jatuh.
"Aku melakukan itu demi membuat mereka bahagia, tidak akam membuat merasa sedih dan kesusahan. Tapi kenyataannya, Aku membuat mereka sedih. Aku menyedihkan dan sangat menyedihkan." Tumpah sudah air mata Sasha.
"Aku hanya ingin membuat orang-orang disekitarku bahagia dan nyaman disisiku. Malah sebaliknya, Aku yang membuat mereka tidak nyaman."
"Jangan menyalahkan diri Lo seutuhnya."
Aku menengadahkan wajahku. "Itu memang kesalahanku dan juga kebodohanku." Teriak Sasha.
"Lo berhak mendapatkan Beasiswa itu, tidak usah dengarkan kata-kata mereka." Kata Beno. Karna Sasha pernah mengerjakan tugasnya dan hampir bener semua.
"Jangan membelaku, itu memang kenyataannya kak." Ucap Sasha lirih dengan memandang lurus kedepan.
"Gue tau Lo ada masalah. Tapi semua orang juga punya masalah dan bukan hanya Lo aja. Semua orang didunia ini siapa yang enggak punya masalah? Pasti mereka juga punya masalah." Kata Beno menatap Sasha.
"Aku kecewa sama sahabatku sendiri. Tapi entah kenapa! Aku enggak bisa menyalahkannya dan malah menyalahkan diriku."
Sasha berdiri dan hendak pergi, dia kesal dengan dirinya, karna Dia merasa kalau dirinya lemah.
"Lo mau kemana?." Beno bangkit dan mengejar Sasha.
"Jangan ikuti Aku Kak. Aku butuh ketenangan." Ucap Sasha tanpa melihat kebelakang dan berlari sekuat tenaga agar Beno tidak mengejarnya.
"Tapi Lo nggak tau daerah ini." Teriak Beno.
"Biarkan Aku sendiri, ku mohon!."
"Enggak bisa." Beno terus mengejar Sasha.
Sasha masuk kedalam gang sempit. Dia berjongkok memeluk lututnya dan membenamkan wajahnya disela-sela kaki dan tangannya.
Menangis disana dengan suara tertahan. Dia merasa sendiri sekarang, enggak ada yang mengerti dia saat ini.
Beno menghela napas lelah dengan nafas tersenggal-senggal sambil memegang lututnya. "Disini Lo rupanya."
"Mama, Papa kenapa kalian enggak ngajak Aku ikut bersama kalian. Dan mala meninggalkan Aku sendiri." Sasha berkata masih dengan posisi yang sama.
Beno mengernyit mendengar tutur kata Sasha, apa maksudnya. Pikir Beno.
"Kalian semua jahat, niggalin aku disini sendiri, didunia yang kejam tanpa bimbingan kalian."
"Ma, Pa. Aku bakal ikut bersama kalian semua, Aku ingin hidup bahagia bersama kalian disana." Air mata Sasha semakin deras mengalir.
Beno hanya mendengarkan setiap ucapan yang keluar dari mulut Sasha. Ada rasa kasihan dalam dirinya untuk gadis itu.
Sasha tiba-tiba saja berdiri dan berlari keluar gang, dan bersamaan mobil lewat dengan kencangnya.
Beno kaget. "Sasha awas!!!."
Telinga Sasha terasa tuli, tidak mendengarkan teriakan Beno untuk keselamatannya.
Tin...Tinn...
Sasha tertabrak, tubuhnya sampai terguling Keatap mobil itu.
"Tunggu Sasha. Ma, Pa." Saat itu pula Sasha memejamkan matamya.
"Sasha!!!." Beno berlari mendekati Sasha yang sudah tak sadarkan diri.
# **BERSAMBUNG #
Jangan lupa tetap dukung dan suport Author terus ya gaiss :)
__ADS_1
I Like You Friends <3**